Hipnoterapi Sangat Efektif untuk Korban KDRT

Hari ini salah satu klien korban KDRT suami. Dia dipukul sampai biru itu sudah biasa, sering dicekik. Suaminya selalu bilang dia yang memicu emosinya. Walaupun beberapa tahun ini sudah tidak terjadi KDRT lagi karena suaminya sudah sadar, tapi si istri masih menyimpan amarah. Alhasil si istri jadi emosian dan yang jadi korban adalah anaknya. Atas dasar itulah dia datang ke sesi hipnoterapi saya. Supaya bisa kontrol emosinya yang meledak-ledak kepada anaknya.

Saat wawancara dia cerita anaknya dulu sering menyaksikan KDRT suaminya ke dirinya. Saat itu anaknya berusia 7 tahun, anaknya sampai bilang ke mamanya, “Kok mama masih mau sama papa. Papa pukulin mama terus. Tinggalin aja.”

Jelas anak perempuannya yang sekarang berusia 9 tahun harus dihipnoterapi untuk melepaskan trauma dan rasa benci ke papanya.

Ternyata masa kecil si istri, papanya dia juga suka KDRT ke mamanya. Setiap anak, terutama anak perempuan, yang mempunyai papa suka KDRT harus dihipnoterapi. Karena entah mengapa mereka cenderung mendapatkan suami kelak yang juga KDRT. Dengan anak tersebut dihipnoterapi maka dia memutuskan pola lingkaran KDRT tersebut.

Daftar sesi hipnoterapi hub. 081380349282

Kita Hidup. Kita Mencintai. Kita Bahagia

Wajib Dibaca Oleh Anda yang Sedang Mencari Tujuan Hidup dan Belum Menemukannya.

By Nathalia Sunaidi

Viktor Frankl dalam bukunya Man’s Search For Meaning menuliskan kisah nyata pengalamannya selama di kamp konsentrasi Auschwitz pada Perang Dunia 2. Bukunya yang diterbitkan tahun 1946 mengisahkan penderitaannya selama dalam penyiksaan,
“Kami tersandung di kegelapan, melewati batu-batu besar dan melalui genangan air besar, di sepanjang jalan yang menuju kamp. Para penjaga yang terus meneriaki kami dan membawa kami dengan gagang senapan mereka. Siapa pun dengan kaki yang sangat sakit menopang dirinya di lengan tahanan lainnya. Hampir tidak ada kata yang diucapkan; Angin begitu dingin. “

Di paragraph berikutnya, Frankl menuliskan apa yang membuatnya tetap waras dan tetap bertahan hidup dalam siksaan yang sangat berat di kamp,
“Tapi pikiranku mengingat bayangan istriku, membayangkannya dengan ketajaman luar biasa. Kudengar dia menjawabku, melihatnya tersenyum, penampilannya yang menggembirakan. Nyata atau tidak, penampilannya pun lebih bercahaya dari matahari yang mulai naik.”

Di setiap siksaan yang dideranya, di pikirannya hanya melihat bayangan istrinya dan dia menjadi bahagia. Bayangan itu membuatnya terus bertahan dan hidup. Dia mengatakan keselamatannya adalah karena cinta dan dicintai.

Masa lalu saya kurang baik. Di usia SMP beberapa kali mencoba bunuh diri tapi selamat karena mengingat ajaran guru Buddha.

Pertengkaran-pertengkaran hebat orang tua, perselingkuhan-perselingkuhan papi dan teriakan-teriakan menjadi makanan saya sehari-hari sejak kecil. I was so damage.

Mungkin karena itulah saya menjadi hipnoterapis. Karena hipnoterapi yang menyembuhkan saya dan membuat saya tetap hidup. Maka saya menjadi bukti nyata betapa hipnoterapi bisa menyelamatkan sebuah kehidupan dan membuatnya indah.

Dari penderitaan yang pernah saya alami, saya jadi memahami ketika klien-klien datang karena ingin bunuh diri, ketika merasakan tidak ada pilihan lain selain mengakhiri hidup. Saya pernah di kondisi yang sama. Tapi saya bisa melewatinya. I survived.

Atas dasar itulah saya memiliki keyakinan yang kuat setiap orang bisa meraih kebahagiaannya. People can heal themselves and can be a healer for other people because they have survived. You just need to be survived. That’s it.

Lalu bagaimana bisa survive? Anda membutuhkan cinta atau cinta kasih untuk bertahan. We need love. We need compassion. Kita menggunakan image kasih sayang sebagai pegangan saat hidup begitu berat. Itulah yang dilakukan Viktor Frankl, dia berpegangan pada kasih sayang istrinya dan dia survived melewati keadaan terberat hidupnya.

Saya ingat pagi itu ketika saya SMU, kelas kami kedatangan seorang biarawati. Dia berdiri di depan kelas, dia tersenyum, senyum yang paling indah yang pernah saya lihat. Lalu dia memeluk satu-persatu anak-anak yang masuk kelas. Saya dipeluknya. Waktu seakan berhenti saat saya di pelukannya. Beberapa detik itu saya merasakan betapa saya sangat disayangi olehnya. Rasa kasih sayang yang sangat asing bagi batin saya waktu itu dan batin saya menikmatinya.

Ketika hidup saya sangat berat, saya membayangkan lagi momen beberapa detik itu ketika saya dipeluk dengan penuh kasih sayang oleh seseorang yang bahkan saya tidak tahu namanya. Kasih sayang dalam pelukannya menyelamatkan batin saya berkali-kali. Sampai akhirnya saya menemukan hipnoterapi. Saya menyembuhkan diri saya dan memperbaiki segala damage di batin saya dengan hipnoterapi.

Jadi apa tujuan hidup ini? Dalam buku Man’s Search For meaning, jika saya boleh mengutip tulisan Viktor Frankl maka tujuan hidup baginya adalah: cinta adalah tujuan tertinggi yang bisa dicita-citakan manusia.

Bagi saya tujuan hidup adalah bisa mencintai dengan tulus walau hanya beberapa detik karena cinta kasih itu mungkin menyelamatkan keseluruhan hidupnya dan hidup kita. Tujuan hidup kita adalah kita hanya perlu bertahan melewati segala kondisi. Berpegangan pada cinta kasih saat terasa begitu berat. Dan kita akan menjadi inspirasi atau penyembuh bagi orang lainnya karena kita telah berhasil melewati semuanya dengan baik.