EFEK “JEMBATAN”, SEBUAH FAKTOR KESUKSESAN
By admin on Oct 20, 2009 with Comments 0
“…tantangan yang sesungguhnya adalah mengerjakan sesuatu yang belum diketahui, karena ‘seorang tolol pun bisa mengajarkan apa yang sudah dia ketahui!’” (John Barth, dalam The Sot-Weed Factor)
Pernahkah Anda berusaha keras demi tujuan tertentu? Entah melakukan tugas dalam pekerjaan ataupun juga upaya agar sukses dalam hidup. Setiap orang tentu ingin hidup sesuai dengan apa yang telah direncanakan bukan? Sering kita dengar bahwa kerja keras adalah syarat utamanya. Namun ada sebuah faktor lain yang perlu kita perhatikan. Faktor itu adalah efek “jembatan”.
Sebelum mengetahui apa itu efek “jembatan”, saya ingin ajak Anda memahami proses belajar, karena dua hal ini berkaitan.
Jika kita menggali lebih dalam arti belajar, kita akan semakin memahami bahwa belajar itu memiliki arti kreatif dalam pola-pola tertentu. Seperti yang sering diingatkan Paulo Freire, “Belajar bukanlah mengkonsumsi ide, namun menciptakan dan terus menciptakan ide”. Proses pembelajaran mengarah pada keunikan dan penemuan pada hal-hal baru. Artinya, belajar itu sendiri adalah aktivitas yang kreatif.
Ada banyak definisi kreativitas, namun saya lebih suka memahami kreativitas secara praktis yaitu sebagai upaya pemecahan masalah (problem solving). Kreatif yang sekedar bentuk imajinasi tanpa memberi manfaat adalah kreativitas yang belum tuntas. Kreatif mesti mengarah pada pemecahan masalah. Namun sering juga istilah “masalah” dipahami secara negatif, sehingga membuat banyak orang menghindarinya. Kita boleh merasa tidak punya masalah, tapi itu bukan berarti bahwa masalah itu tidak ada. Manajeman Jepang menjelaskannya dalam sebuah frase “Kaizen”, yang terdiri dari aksara “kai” artinya perubahan, dan “zen” yang artinya baik. Filosofi Jepang melihat segalanya sebagai proses. Maksudnya, sesuatu itu hanya akan menjadi masalah, jika kita tidak mengenalnya yang, pada akhirnya, akan membuat keadaan semakin tidak teratasi. Nampak bahwa kreativitas, perbaikan, pemahaman, adalah istilah-istilah yang memiliki pengertian yang sama dan mengarah pada proses pembelajaran untuk memecahkan suatu masalah.
Dalam psikologi kontemporer, kreativitas juga sering dihubungkan dengan sinergi antara otak kanan dan kiri. Keduanya diyakini turut menentukan kesuksesan dalam hidup. Di antara otak kanan dan kiri ini ada sebuah faktor yang perlu kita ketahui, yaitu: efek “jembatan”.
Apa itu efek “jembatan”?
Penjelasan sederhananya adalah seperti ini.
Anda pasti pernah bekerja terlalu keras dan menjumpai masalah yang tidak bisa teratasi saat itu. Ketegangan dan kelelahan membuat pikiran tumpul, namun pada saat Anda tenang, pemecahan masalah akan muncul begitu saja. Hal itu sering terjadi ketika Anda memutuskan istirahat sejenak atau memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan besok paginya. Ketika pikiran lebih fresh, masalah itu ternyata bisa teratasi dengan mudahnya dan hampir tidak membutuhkan usaha yang ekstra.
Dr. Bruce Goldberg menyebutkan bahwa kreativitas adalah fungsi otak kanan yang muncul dari pikiran bawah sadar. Karena berkaitan dengan bawah sadar, maka kreativitas itu sebenarnya tidak bisa dipaksakan bahkan juga direncanakan. Cetusan ide akan muncul dengan sendirinya ketika pikiran berada dalam kondisi yang tepat, yaitu pada saat pikiran tenang.
Dalam pikiran tenang itu, ada sebuah faktor yang membuat sebuah kreativitas itu bisa diwujudkan dalam suatu bentuk yang lebih bermanfaat. Inilah tambahan yang jarang dibahas dalam buku-buku psikologi pada umumnya. Saya mendapatkannya justru dalam buku psikologi anak, berjudul How to Bring Out Your Child’s Genius injust Ten Minutes a Day karya Pamela Hickein. Hickein menyinggung tentang Efek “Jembatan” (the “bridging” effect). Efek ini sesuai namanya berfungsi sebagai jembatan antara otak kanan dan kiri. Tanpa ada jembatan, maka imajinasi hanya sekedar imajinasi yang tidak bermanfaat. Beberapa pendidik meyakini bahwa Albert Einstein tidak mengalami efek “jembatan” hingga umur sembilan tahun. Namun belakangan kita tahu bahwa kemampuan otak kanan dan kiri yang terhubungan oleh faktor jembatan ini membuat Einstein menemukan teori relativitas.
Kreativitas bukan hanya berurusan dengan otak kanan yang terpisah dan tidak melibatkan fungsi otak kiri. Tony Buzan pernah menulis, “Kreativitas melibatkan penggunaan keterampilan mental otak kiri dan kanan…” Ide yang muncul dalam keadaan tenang segera ditanggapi oleh pemahaman akal yang ada pada otak kiri dan menjadi solusi dan penemuan yang menakjubkan. Otak kanan membutuhkan data dan proses pembelajaran logika dari Otak kiri.
Sebagai contoh, Anda bisa ingat kembali kisah Bill Gates muda yang sedang membaca majalah Popular Electronics pada Januari 1975 yang memuat laporan utama tentang mikrokomputer Altair 88000. Tiba-tiba saja terbersit sebuah visi bisnis yang akan menjadi tren di masa mendatang. Rupanya Bill Gates dan sahabatnya, Paul Allen, telah menantikan penggunaan PC yang membutuhkan sistem operasi komputer. Tanpa dukungan pembelajaran otak kiri sebelumnya mustahil Bill Gates memahami visi itu. Orang yang tidak didukung pengetahuan sebelumnya tentu hanya akan melihat Popular Electronics, sekedar informasi belaka tanpa ada tindak lanjut yang berarti.
Ada juga sebuah contoh lain, yaitu ketika Newton terilhami oleh jatuhnya buah apel dari pohonnya sebelum menemukan teori gravitasi. Tidak semua orang akan memberi respon yang sama ketika kejatuhan buah apel. Buah yang jatuh itu hanyalah pemicu, yang memungkinkan mengolah informasi menjadi suatu bentuk penemuan baru.
Dulu pada waktu psikologi terapan belum berkembang seperti sekarang ini, banyak orang hanya berfokus pada pembelajaran otak kiri. Namun sebaliknya, ketika otak kanan mulai dikenal luas, ada juga sebagian orang yang justru berlebihan dalam memahami otak kanan, sehingga justru melupakan pentingnya otak kiri. Dua pemahaman yang sepihak tentang otak ini tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Otak kanan tanpa otak kiri juga tidak berarti apa-apa. Efek “jembatan” menggarisbawahi pentingnya otak kanan dan kiri yang mampu bersinergi secara alami jika pikiran dalam kondisi tenang.
Dalam kehidupan bisnis maupun profesional yang begitu kompetitif, kreativitas semakin terasa dibutuhkan. Bahkan kreativitas dalam setiap anggota organisasi telah dipahami sebagai salah satu bagian penting dari strategi bisnis organisasi secara umum. Pada zaman sekarang, kreativitas adalah faktor kesuksesan yang tidak terelakkan. Dalam keadaan yang serba tidak pasti, tidak ada satupun acuan “pasti” yang bisa membuat Anda, dan perusahaan tempat Anda berkiprah bisa menjadi sukses. Ketidakpastian dalam hidup harus dilawan dengan ketidakpastian juga, dalam hal ini adalah kreativitas. Seperti apa bentuk kreativitas yang dimaksud ini? Jujur saja, sayapun tidak tahu. Anda akan tahu dengan sendirinya ketika keunikan itu muncul dalam pikiran Anda sendiri. Akan tiba saatnya efek “jembatan” terjadi, asalkan kita terus belajar dan tidak lupa untuk selalu tenang dalam menghadapi apapun. Rahasia kesuksesan bukan hanya kerja keras, tapi juga ketenangan diri yang juga berarti kemampuan menghadapi ketidakpastian dalam hidup.
Filed Under: Artikel Tetap
About the Author:

