Pelatihan hipnoterapi 100 jam

Learned Helplessness Penyakit Mental Orang yang Gagal

Saya tidak tahu apakah Anda pernah mendengar penyakit mental ini – “learned helplessness” – sebelumnya? Tapi yang saya tahu penyakit mental ini sedang menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Lanjutkan membaca artikel ini untuk mencari tahu apakah Anda juga sedang terjangkiti “learned helplessness” dan bagaimana mencegahnya.

 

Kemarin – di hari keempat saya ikut konvensi hypnotherapist dunia di Marlborough, USA – instruktur saya, Dr. Richard Harte – seorang psikolog sekaligus hypnotherapist – membahas sebentar tentang “learned helplessness” di kelas. Dia mengatakan “learned helplessness” dinyatakan sebagai salah satu penyakit mental terbesar yang diidap masyarakat Amerika saat ini. “Learned helplessness” merupakan salah satu penyakit mental yang terdaftar dalam DSM-IV (Diagnostic and Statistic Manual) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association.

 

Saya yakin Anda telah mengetahui Amerika tengah krisis. Hampir sebagian besar warganya mengalami depresi karena ekonomi yang tengah merosot tajam. PHK terjadi di mana-mana.  Banyak orang kehilangan rumah karena tidak bisa lagi membayar pinjaman kredit bank. Mereka mengencangkan ikat pinggang dengan tidak mau membelanjakan uangnya yang notabene menjadi penyebab perekonomian kian lesu. Semua orang sepanjang waktu mengeluhkan tentang gaji yang sangat minimum namun tetap menjalankan pekerjaannya malah bersyukur karena tidak di-PHK. Mereka tetap bertahan di dalam “pain” yang sedang mereka alami. “Inescapable” membuat mereka merasakan “helpless”. Inilah “learned helplessness” yang tengah dialami masyarakat Amerika.

 

Pembaca, saya tidak tahu apakah Anda memperhatikan kondisi pesimis ini. Yang saya temukan, hampir setiap orang di Amerika yang saya temui membicarakan keadaan ekonomi yang kian lesu. Seorang bapak berusia hampir lima puluh tahun yang kebetulan bersama saya saat makan siang memulai obrolan santai kami dengan membicarakan kondisi politik Amerika dan merembet ke keluhan kesulitan ekonomi yang sedang dialami sebagian besar masyarakat Amerika – atau lebih tepatnya kesulitan ekonomi yang sedang dialaminya. Menanggapi keluhannya, seorang kawan yang juga memiliki bidang bisnis yang sama dengan bapak itu mensharingkan keberhasilan strategi barunya kepada kami. Saya tahu dia sedang melemparkan solusi keberhasilannya kepada bapak itu. Sayang sekali, si bapak menanggapinya dengan berbagai alasan mengapa dia tidak bisa menjalankan strategi itu. Bapak itu sedang merasa “unescapable”. Dia tengah mengalami “learned helplessness”. 

 

Beberapa hari sebelumnya – ketika saya di dalam pesawat menuju Boston – saya ngobrol dengan teman sebangku saya, pria Amerika berusia hampir enam puluh tahun. Dia memulai obrolan kami dengan hal yang sama – betapa kondisi negara itu sedang krisis dan sulit. Lucunya, di tengah obrolan kami, terdengar suara dari perutnya. Dia langsung berkomentar, “Walaupun saya lapar, saya tidak mau membeli makanan di dalam pesawat. Di luar saya bisa hemat lima dollar untuk makanan yang sama.” Saat itu, di internal diri saya, bercampur antara lucu dan kasihan. Dia mau mengorbankan kesehatan perutnya untuk menghemat lima dollar. Saya jadi bertanya-tanya apakah kondisi negaranya begitu buruk atau ada sesuatu yang terjadi di dalam pola pikir masyarakat Amerika? Saya tahu sebagian orang menikmati perbincangan yang membahas tentang keluhan dan alasan kesulitan hidup yang sedang mereka alami. Saya yakin Anda pun menyadari hal itu. Tapi bagi saya sayang sekali waktu berjam-jam dihabiskan hanya untuk memvalidasi dan memperkuat sugesti yang berupa keluhan-keluhan negatif ke alam bawah sadar kita. Jadi saya ingin mengubah arah pembicaraan kami. “Don’t you have any other alternatives to overcome this bad situation?” Saya yakin Anda tahu saya sedang mengubah arah pembicaraan kami ke hal yang lebih solutif. Sayangnya, penyakit “learned helplessness” juga tengah menjalarinya. Dia menjawab pertanyaan saya dengan berbagai keluhan negatif lainnya. Tidak ada seorang pun yang sempurna, saya paham pepatah itu dan menyadari bapak itu dan saya pun tidak sempurna. Tapi rasanya habis juga energi saya mendengarkan berbagai keluhan negatif si bapak. Jadi saya hentikan obrolan kami yang memiliki energi negatif itu. “That’s it” kata saya di dalam hati dan saya pasang earphone di telinga saya.

 

Saya tidak tahu dan juga bertanya-tanya – apakah saya sedang sial atau memang hampir semua masyarakat di negara paman Sam ini lagi terus mengeluh? Saya suka sekali bersosialisasi. Sangat penting bagi saya untuk terus belajar berkomunikasi dengan berbagai tipe orang. Jadi saya sering ngobrol dengan orang-orang yang saya temui – di mall, lagi menunggu kereta, di toilet, di jalan, dll. Dan hampir setiap orang yang saya temui membuka obrolan dengan keluhan hidupnya dan kondisi sulit Amerika saat ini. Saya tidak tahu, mungkin saya yang sedang sial bertemu orang-orang yang mengeluh.

 

Saya pikir penyakit “learned helpnessness” yang membuat orang-orang menjadi lumpuh secara mental dan tidak bisa bangkit dari keterpurukan ini hanya terjangkit di Amerika. Namun, kenyataannya hampir seluruh dunia sedang mengalami penyakit mental ini. Siang tadi, teman training saya – suami istri dari Jepang – bercerita  setiap harinya di Jepang pasti ada kereta yang berhenti di tengah rel karena ada warga Jepang yang bunuh diri dengan melompat ke arah kereta. “Karena itu hypnotherapy sangat bisa membantu orang-orang Jepang. Negara kami sedang depresi. Kami menggunakan hypnotherapy ini sebagai wujud dedikasi kami untuk membantu menyelamatkan kehidupan.” mereka menceritakan motivasi mereka menjadi hypnotherapist kepada saya. Walah, “learned helpnessness” juga sedang terjangkit di Jepang! Malah dalam stadium mematikan nyawa.

 

Saya tahu jika Anda membaca berita di koran atau menonton televisi, Anda akan dibombardir berita-berita yang melaporkan kondisi ekonomi dunia yang sedang krisis. Ya, hampir di seluruh dunia sedang mengalami krisis ekonomi. Anda sebutkan saja nama beberapa negara maka hampir sebagian besarnya juga dalam krisis. Di kelas training NLP yang saya adakan, ada seorang psikolog yang berasal dari Abu Dhabi mengikuti training saya. Di sela-sela pengajaran, saya mengobrol dengan ibu psikolog itu. Obrolan kami melebar ke kondisi ekonomi di Abu Dhabi. Ya, saya tahu Anda sudah bisa menebak cerita ibu itu, Abu Dhabi juga juga sedang mengalami krisis ekonomi. Di tempat penghasil minyak itu pun tidak luput dari krisis. 

 

Seiring membaca tulisan ini, saya tahu Anda mulai bertanya-tanya tentang apa itu “learned helplessness”. Saya akan menjelaskannya dengan menceritakan kisah ditemukannya “learned helplessness” sehingga Anda bisa menikmatinya dan sekaligus memahaminya.

 

Apa itu “learned helpnessness”?

 

Martin Seligman – seorang psikolog dari Amerika – menemukan penyakit “learned helplessness” berdasarkan eksperimennya di tahun 1967. Eksperimen ini sangat menarik. Seligman melakukan eksperimen kepada tiga grup anjing yang diikat selama beberapa waktu dan kemudian dilepas. Grup anjing pertama hanya diikat dan kemudian dilepaskan. Grup kedua secara sengaja disakiti dengan diberikan besi di tubuhnya lalu disetrum. Tapi anjing-anjing itu bisa menghentikan setruman dengan menekan pengungkit. Nah, kepada grup ketiga dilakukan penyetruman yang sama tapi pengungkitnya tidak bisa menghentikan setruman itu. Grup ketiga bergantung kepada grup kedua untuk menghentikan aliran setrum itu sehingga seolah setruman itu akan berakhir secara acak. 

 

Setruman dilakukan secara konsisten kepada grup kedua dan ketiga. Selang beberapa lama, hal ini ini membuat grup anjing ketiga menjadi shock dan merasa “inescapeable”. Grup ketiga belajar menjadi helpless dan masuk depresi. Sedangkan grup pertama dan kedua dengan cepat pulih dari pengalaman buruk itu.

 

Setelah beberapa saat diikat, para anjing itu mulai dilepas. Cara melepasnya pun menarik, semua anjing ditaruh di kotak yang ada sengatan listriknya. Tapi dengan sangat mudah anjing tersebut bisa keluar dari kotak tersebut karena partisinya sangat rendah. Di saat bersamaan, sengatan listrik dinyalakan. Semua anjing kesakitan. Anjing-anjing yang berasal dari grup pertama dan kedua dengan sangat mudah melompat keluar dari kotak yang ada sengatan listriknya. Uniknya, hampir semua anjing dari grup ketiga – yang sebelumnya disetrum tanpa bisa ada daya untuk menghentikan setruman – hanya berbaring dengan pasrah dan mengeluh, hanya bisa melolong panjang. Anjing-anjing tersebut semestinya dengan sangat mudah keluar dari kotak tersebut. Tapi mereka memilih untuk tidak melakukannya. Saya tidak tahu apa pendapat Anda tentang ini, tapi bagi saya sangat aneh dan mencengangkan.

 

Dari eksperimennya, Seligman menyimpulkan anjing-anjing dari grup ketiga mempelajari behaviour tertentu akibat kekerasan pengalaman buruk yang dialaminya – saat disetrum tanpa ada kuasa untuk menghentikannya. Pengalaman buruk itu – entah bagaimana caranya – mengubah behaviour alami mereka untuk bisa survive dalam hidupnya.

 

Kemudian, di akhir tahun 1960, Seligman menyampaikan dari 150 anjing yang berada di grup ketiga – sepertiganya tidak menjadi “helpless”. Mereka bisa keluar dari kotak yang ada sengatan listriknya. Dia menyimpulkan anjing-anjing yang tidak memiliki penyakit “learned helplessness” akibat pengalaman buruknya bisa survive dan keluar dari situasi yang menyakitkan itu. Behaviour positif itu dikorelasikan oleh Seligman sebagai sikap optimisme di dalam diri manusia.

 

“Learned helplessness” didefinisikan sebagai kondisi manusia atau binatang yang belajar untuk bereaksi tidak berdaya walaupun dihadapannya terdapat kesempatan. Itu terjadi karena manusia atau binatang tersebut menghindari rasa sakit karena pernah mengalami pengalaman buruk yang serupa sebelumnya. 

 

“Learned helplessness” di Indonesia

 

Setelah memahami bagaimana “learned helplessness” didefinisikan maka – saya tidak tahu dengan Anda – tapi saya bisa mulai melihat gejala penyakit ini dialami juga oleh banyak orang di sekitar saya. Penyakit mental ini juga sudah mewabah di negara kita tercinta, Indonesia.  

 

Entah apakah Anda juga menemukannya dalam hidup Anda, tapi saya sebagai hypnotherapist hampir setiap hari berhubungan dengan klien-klien yang di antaranya telah terjangkit penyakit “learned helplessness” yang bisa mematikan. Seorang anak ABG datang ke sesi hypnotherapy dan mengatakan kepada saya dia sudah dua kali bunuh diri tapi diselamatkan oleh orang tuanya. Sudah beberapa bulan dia depresi akibat pacarnya yang telah menidurinya memutuskan hubungan pacaran yang telah mereka jalin selama dua tahun. “Saya merasa telah hancur. Tidak ada jalan keluar. Lebih baik mati.” katanya. Dia telah terjangkit penyakit “learned helplessness” stadium mematikan akibat pengalaman cinta yang menyakitkan. Seorang ibu berwajah kuyu datang ke saya. Jika Anda menjadi saya, saya yakin Anda pun bisa mengetahui ibu itu habis menangis karena matanya sangat bengkak. “Tahun lalu saya pernah menenggak satu botol obat tapi tidak mati. Teman saya menemukan saya dan membawa saya ke rumah sakit. Suami saya menikah lagi dengan kolega bisnisnya. Dan anak saya menyalahkan saya karena itu.” tangis si ibu. Seorang pramugara – yang baru saja di-PHK memilih untuk meninggalkan istri dan anak-anaknya karena malu tidak bisa memberi nafkah – datang ke sesi hypnotherapy untuk melepaskan kekecewaannya yang mendalam dan mencari solusi dari alam bawah sadarnya. “Saya tidak bisa keluar dari situasi ini. Saya merasa lumpuh dan tidak berdaya.” keluhnya ke saya. 

 

Kisah nyata di atas hanyalah sebagian kecil dari kisah ribuan klien hypnotherapy yang sudah saya tangani dalam lima tahun ini. Dan hampir sebagian besarnya diawali dari kondisi “learned helplessness”. Dan jika Anda mau memperhatikan kehidupan Anda dan sekitar, menurut Anda apakah “learned helplessness” juga sedang dialami masyarakat Indonesia? Entah apakah Anda juga melihatnya, tapi saya menyadari betapa sekarang orang-orang dengan mudahnya merasakan ketidakberdayaan karena pengalaman pahit hidup yang yang telah mereka alami. Bahkan saat Anda sedang membaca tulisan ini sekarang, Anda bisa mulai teringat orang-orang, teman atau keluarga yang sedang berada dalam kesulitan hidup tapi tidak berdaya untuk mencari jalan keluar untuk kehidupan yang lebih baik. Sayang sekali… Saya yakin Anda juga mulai bertanya-tanya apakah saya dan juga Anda sedang terjangkiti penyakit mental ini juga? Saya tahu pertanyaan itu membuat Anda merasakan rasa terdesak untuk mempelajari “learned helplessness” lebih lanjut supaya bisa melakukan pencegahannya sekarang.

 

Apa yang membuat seseorang bisa terjangkit penyakit mental “learned helplessness”?

 

Orang-orang yang mengalami “learned helplessness” adalah orang-orang yang tengah mengalami berbagai hambatan dan kesulitan dalam hidup tapi tidak memiliki solusi untuk keluar dari situasi tersebut. Ini membuat mereka menjadi orang yang gagal menghadapi rintangan hidup menuju kesuksesan. Ada hal yang membuat saya bertanya dalam hal ini, mengapa ada kisah-kisah sukses orang-orang yang bisa mengatasi keterpurukan dan meraih kemenangan? Namun, mengapa ada orang-orang yang gagal dan sungguh tidak berdaya untuk “survive” dalam kehidupannya? Padahal kita semua hidup di dunia yang sama. Di sebuah dunia yang didalamnya terdapat berbagai rintangan dan kesulitan. Memang begitulah sifat dunia ini apa adanya. Dunia menghadirkan berbagai kesulitan untuk kita lewati seperti ujian di sekolah supaya kita naik kelas.

 

Ternyata, dalam risetnya, Seligman menemukan ada beberapa kesamaan cara pandang terhadap pengalaman masa lalu orang-orang yang mengalami “learned helplessness”. Dia menyebutnya tiga komponen utama cara pandang seseorang. Sangat penting untuk Anda mengetahui hal ini untuk bisa menghindarinya. 

Permanence
Pernahkah Anda mengalami kegagalan dan menganggap Anda juga akan gagal di bidang-bidang lainnya? Sehingga Anda takut dan enggan untuk berusaha lagi. Jika demikian maka Anda terkena belief negatif yang bernama permanence. Saya jadi teringat sebuah cerita tentang katak yang terkena belief keliru yang bernama permanence. Seekor katak ditaruh di sebuah toples yang bertutup. Si katak ingin sekali keluar dari toples itu. Oleh karena itu dia melompat tinggi-tinggi dengan harapan bisa keluar. Namun, setiap kali melompat kepalanya terbentur tutup toples. “Auw!” begitulah teriakan sakitnya jika dia bisa berteriak. Dia berusaha beberapa kali namun terbentur terus. Akhirnya sepanjang saat dia berdiam diri, tidak pernah mencoba lagi. Dia habiskan hidupnya tanpa pernah melompat lagi dan meninggal di toples itu. Padahal selang beberapa hari setelah lompatan terakhirnya tutup toples itu dibuka oleh seseorang. Andaikan si katak mencoba sekali lagi saja, dia pasti sudah melompat keluar. Tapi dia tidak pernah berusaha lagi seumur hidupnya. Dia terkena “learned helplessness”.
Permanence merupakan belief yang salah yang menganggap kejadian masa lalu adalah permanen atau tidak bisa berubah. Walaupun sebenarnya tidak ada yang abadi namun orang-orang yang terkena belief salah ini menganggap semuanya permanen. Karena belief salah ini orang tersebut cenderung berhenti berusaha karena merasa tidak ada gunanya. Jika cara pandang ini berlanjut maka dia akan berakhir menjadi “learned helplessness”.

 

Personalization
Dalam training perusahaan yang saya lakukan beberapa waktu lalu, saya bertanya kepada para peserta, “Siapa yang paling sering menghujat diri kita?” Jawaban mereka bervariasi. Ada yang bilang orang tua, suami/istri atau musuh. Anda pun bisa menjawab pertanyaan di atas dengan berbagai jawaban lainnya, namun yang paling sering menghujat diri kita adalah diri kita sendiri. Aneh tapi itulah kenyataannya. Pernahkah Anda mengamati kata-kata apa yang Anda katakan kepada diri Anda ketika Anda tidak lancar bicara di rapat, menumpahkan air di depan klien penting, gagal presentasi dan berbagai momen memalukan lainnya? Kata yang paling sering digunakan adalah “Saya bego” disusul dengan “Saya selalu gagal” disertai berbagai makian kepada diri sendiri. Jika saat membaca ini Anda merasakan cerita saya seperti menggambarkan diri Anda maka ini pertanda untuk Anda mulai mengubah kata-kata Anda kepada diri sendiri menjadi lebih suportif.

Memang penting untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang kita lakukan. Namun orang dengan “learned helplessness” selalu menyalahkan dirinya sendiri untuk segalanya. Ini mengindikasikan rasa rendah diri dan depresi. 

 

Pervasiveness
Cara pandang ketiga yang bisa mengantarkan seseorang ke “learned helplessness” adalah pervasiveness, yaitu kecenderungan untuk men-generalisasi sebuah hal negatif ke keseluruhan hal dalam kehidupan. Contohnya, “Usaha saya sebelumnya gagal maka saya orang yang selalu sial”, “Tidak ada yang menyayangi saya karena saya tidak diundang ke pesta Tessa”, “Anak saya gagal di ujian matematika maka saya orang tua yang gagal”, dll. Tidak ada kegagalan dalam hidup ini, yang ada hanyalah feedback. Namun orang dengan learned helplessness cenderung menghubung-hubungkan kejadian kecil menjadi sebuah kegagalan di keseluruhan hidupnya.

 

Dengan mengetahui ketiga komponen di atas berarti Anda mulai menyadari bahwa tidak ada yang abadi. Segala sesuatu terus berubah termasuk keadaan hidup Anda. Ini membuat Anda mau terus berusaha karena bisa jadi penutup toples Anda sudah terangkat sekarang. Anda pun mulai memahami tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Dan tidak seorang pun semestinya menghakimi orang lain termasuk Anda kepada diri Anda sendiri. Saya dapat merasakan Anda mulai mengubah kata-kata Anda menjadi lebih mendukung dan positif kepada diri Anda sendiri. Anda tidak lagi memandang ketidakberhasilan dalam hidup Anda sebagai noda hitam namun sebagai pembelajaran kehidupan menuju keberhasilan. Dan dengan Anda menghindari ketiga cara pandang di atas maka Anda sedang menjauh dari terkena “learned helplessness” penyakit mental orang yang gagal.

 

Tips untuk terhindar dari penyakit mental “learned helplessness”:

 

Terus berusaha. Jangan berhenti!

 
Yang lalu telah berlalu. Hari ini dan esok adalah hari yang baru. Anda bisa memilih berdiam diri dan meratapi nasib masa lalu atau Anda bisa bangkit dan berusaha lagi. Semuanya itu pilihan Anda. Anda tidak perlu memutuskannya sekarang. Namun, setelah Anda mengetahui bahwa tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini termasuk kegagalan Anda pun tidak abadi, Anda mulai memikirkan untuk action lagi sekarang menuju kesuksesan.

 

Belajar.

 
Anda bisa saja mengikuti ujian SMU dengan ilmu pengetahuan SD namun besar kemungkinannya Anda akan gagal di ujian tersebut. Kalimat ini berkesan sederhana namun banyak sekali orang-orang yang menghadapi tantangan baru dalam kehidupannya dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang sudah jadul (jaman dulu). Dan ketika terus-menerus gagal, orang-orang itu akan meratapi nasib, menyalahkan yang lain dan trauma untuk mencoba. Cara terbaik menghadapi “learned helplessness” adalah dengan terus belajar. Bodoh jika mencoba mendaki gunung memakai benang jahit lalu terus-menerus mengulanginya walaupun gagal. Cara yang terbaik adalah menemukan metode mendaki gunung yang efektif dengan belajar dari yang ahli yang telah sampai di puncak gunung. Walaupun asosiasi di atas terkesan lucu namun banyak orang terus-menerus berambisi untuk mencapai kesuksesan dengan menggunakan cara-cara yang tidak efektif. Mereka tidak belajar dari ahlinya. Bahkan mereka berhenti belajar. Jaman berubah maka strategi menghadapi kesulitan di jaman ini pun perlu Anda ubah. Isi alam bawah sadar dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan/skill. Ibarat seorang petarung yang memperlengkapi dirinya dengan berbagai senjata cadangan untuk menghadapi pertarungan kehidupan. 

 

State of excellence.

Anti dari “learned helplessness” adalah “learned optimism”. Untuk bisa selalu berada di kondisi optimis, Anda perlu menguasai mood Anda. Sekarang sudah bukan jamannya lagi bekerja mengikuti mood. Jika mood sedang baik maka Anda baru bisa berproduktivitas. Sebaliknya, jika mood sedang buruk maka produktivitas Anda nol. Anda bisa memilih untuk menghadapi rintangan kesuksesan berdasarkan mood atau Anda bisa sepanjang waktu menciptakan state of excellence (kondisi luar biasa). Ada berbagai cara untuk menciptakan state of excellence, diantaranya adalah hypnotherapy dan NLP, dua bidang yang saya kuasai dan saya ajarkan ke orang-orang yang membutuhkannya.

 

Kumpulkan wisdom.

Apakah Anda pernah bermain game petualangan di playstation atau komputer? Seorang petualang dalam game itu akan mengumpulkan poin atau permata jika telah melewati suatu rintangan. Semakin banyak atau poin yang dikumpulkan, si petualang akan menjadi semakin kuat dan nyawanya bertambah untuk modal menghadapi level berikutnya. Dengan memahami arti di balik game itu, Anda jadi bisa menemukan kemiripannya dengan kehidupan ini. Hidup adalah sebuah perjalanan mengumpulkan poin wisdom. Wisdom ibarat lentera penerang dan penguat dalam kehidupan ini. Jika suatu saat kita terjebak masuk ke dalam goa gelap, kita tetap memiliki cahaya dan kekuatan untuk meneruskan perjalanan kita. Dan wisdom bisa kita kumpulkan dari pengalaman kesuksesan kita atau pengalaman kegagalan hidup. 

 

Lakukan terapi.

 

Jika Anda telah melakukan berbagai pencegahan tapi gejala “learned helplessness” masih berlanjut maka cara yang terbaik adalah datang ke terapi. Metode terapi yang saya gunakan kepada para klien saya adalah hypnotherapy dan terapi NLP karena hypnotherapy dan NLP sangat efektif untuk mengubah cara pandang seseorang terhadap pengalaman masa lalu dan kehidupan. Maka Anda pun bisa mengatasi gejala “learned helplessness” dengan mendatangi hypnotherapist atau ahli terapi lainnya yang Anda percayai. Selamat mencoba!

 

Dimuat di majalah LUAR BIASA! edisi Oktober 2009


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Filed Under: Artikel Nathalia SunaidiFeaturedHipnosis dan HipnoterapiNeuro Linguistic Programming

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.