Magnet
By admin on Nov 20, 2009 with Comments 0
Hukum Mencipta dan Memperbesar Magnet Diri
Seorang penjual kue yang telah jenuh dengan hidupnya merasa putus asa, mendapat kesempatan bertemu dengan ‘murid ke tiga’ yang tercerahkan.
“Guru saya sudah bekerja keras mencari duit, dari pagi sampai malam saya bekerja terus, semua memang menghasilkan, tetapi kenapa saya tidak kaya-kaya ?. Rasanya semua pas-pas saja untuk bertahan hidup saya. Begitu saya mulai menabung pasti ada kejadian yang membuat tabunganku terkuras. Saya jadi putus asa. Saya sudah 20 tahun menjual kue. Sedangkan di rumah saya punya ibu yang sakit-sakitan yang menjadi beban saya. saya harus bagaimana ?” Dunia rasanya tidak adil, kami yang miskin tetap miskin sedangkan yang kaya makin kaya. Bahkan banyak diantaranya bermatapencaharian dengan tidak benar, tatapi mereka dapat kaya. Tuhan memang tidak adil kepada saya..!”
” Tuhan Maha Adil kawanku, hanya kamu yang belum memahami. Saya tahu anda telah bekerja dengan keras sepanjang hari. Kamu tetap pada pendirianmu bermatapencaharian yang benar. Bahkan anda penuh bakti kepada ibumu. Semua ini telah membuahkan hasil kawan…!”
“Hasilnya mana guru ? Saya merasa tidah mendapat apa yang saya inginkan.”
“Memang benar, apa diberikan Tuhan kadang berbeda dengan yang kamu inginkan .Karena Ia Maha Tahu..Bersyukurlah kamu…karena dengan bersyukur maka akan terbuka mata batinmu untuk melihat… semua proses pengabdianmu, kerja kerasmu telah membuahkan hasil.Tentu ia datang tidak dalam bentuk uang. Dan jika datang dalam bentuk uang, kamu juga belum siap menampungnya. Karena “WADAH UANG” kamu masih kecil. Akibat tertutupnya mata batinmu anda tidak bersyukur dengan anugrah yang telah kamu dapat. Sebenarnya karena semua kerja keras dan pengabdianmu juga kamu telah diberi kesempatan bertemu dengan saya. Itu anugrah yang luar biasa, jika kamu dapat memanfaatkan kesempatan ini maka hidupmu akan berubah. Pulanglah… dan pecahkan “WADAH UANG” kamu yang kecil itu, dan ganti dengan yang lebih besar. Kemudian murid ke tiga masuk dalam hening tanpa mau bicara lagi.. Karena guru itu tahu, penjelaskan lebih lanjut tidak akan bermanfaat. ia yang belum tahu harus mengalami kesalahan untuk menemukan yang benar.”
Penjual kue dalam kebingungan. dalam kondisi ngerti dann tidak mengerti pulang meninggalkan gurunya.
“Satu tahun kemudian. Penjual kue mendatangi ‘murid ke tiga’ lagi. ” Guru.. saya telah memecahkan ‘wadah Uang’ saya tetapi saya merasa tidak terjadi perubahan apapun pada kehidupan saya, masih tetap seperti sebelumnya.. bahkan sekarang saya binggung. Karena dalam kondisi sekarang jika ibuku masuk rumah sakit. saya pasti tidak dapat membiayainya lagi.”
“Kawan…’Wadah Uang’ yang mana yang kamu pecahkan ?”
” ‘Wadah Uang’ yang dirumah saya, guru. Itu tabungan saya satu-satunya yang saya pertahankan untuk menjaga-jaga, jika ibuku sakit keras dan saya siap membiayainya. Semuanya telah saya tanamkan kedalam usaha jual kue saya. memang ada kemajuan. Perputaran usaha membesar, Pendapatanpun bertambah. Tetapi selalu aja ada kejadian yang menyebabkan uang saya habis. Dan hasilnya tetap sama guru”
“Kawanku… saya tidak menyuruh kamu memecahkan ‘Wadah Uang’; tabunganmu. Yang perlu dipecahkan adalah ‘Wadah Uang’ yang ada dalam dalam dirimu !”
“Baiklah tindakan bodohmu juga bermanfaat. Paling tidak sekarang kamu sudah tahu bukan ‘wadah Uang’ di luar yang perlu di pecahkan, tetapi ‘ Wadah Uang’ yang ada di dalam dirimu. Mari saya jelaskan !”
Maka ‘murid ke tiga’ menjelaskan tentang ‘Magnet diri’ yang ada dalam diri kita kepada penjual kue tersebut. Akhirnya ia menyadari keberadaan ‘Magnet diri’. (Baca tulisan saya tentang “Magnet diri” di notes saya).
“Jika demikian guru.. maka bagaimana dengan kami yang miskin yang belum cukup, dapat memiliki dan memperbesar ‘magnet diri’, sedangkan untuk kehidupan sehari-hari saja kadang tidak cukup. Bagaimana kami membuat karma baik dengan menyumbang ?. Kami merasa tidak mampu. Kami berpikir yang nyumbang-nyumbang seharusnya mereka yang telah kaya, dan seharusnya membagikan sebahagian kekayaannya kepada kami yang miskin supaya ada keadilan…” Inilah mental atau pola pikir penghambat bagi mereka yang secara ekonomi tidak mampu. Mereka seperti terperangkap dalam suatu wadah yang mereka ciptakan sendiri dan tak berdaya. akhirnya selalu mengharapkan bantuan dari luar.
“Tuhan Maha Adil kawanku. Tuhan telah memberikan semua bekal yang dibutuhan Manusia dalam perjalanan sekolah di planet bumi ini. Tuhan tidak akan dapat memberimu langsung dalam bentuk materi atau uang karena itu bukan dimensinNYA. Ia Yang Maha Agung telah menanamkan percikan diriNYA kedalam diri kita, dengan demikian kita juga memiliki KemulianNYA sebagai manusia. Salah satunnya adalah kemampuan ‘mencipta’ sesuai citraNYA.”
“Coba kamu perhatikan; Seorang yang mengalami gangguan jiwa pun diberi Tuhan bekal untuk hidup. Banyak diantaranya tanpa ada yang mengurus, mereka tetap dapat bertahan hidup. Dan Perhatikan juga mereka yang duduk di kedai kopi sepanjang bertahun-tahun, tidak bekerja tetapi dapat tetap bertahan hidup. bahkan diantaranya ketika bekalnya betul-betul kandas tiba-tiba ia mendapat rezeki nomplok untuk melanjutkan hidupnya.Tetapi ini semua sungguh suatu kehidupan yang sia-sia.”
“Artinya sejak lahir manusia telah dibekali ‘magnet diri’ untuk menarik ‘materi’ sebagai kebutuhan dasar perjalanan dirinya. Banyak diantara kita secara sadar atau tidak sadar telah membuat sebuat benteng berupa ‘WADAH’ menutupi ‘magnet diri’. Pola pikiran dan mental yang menyatakan; ’saya tidak mampu, saya tidak kaya, saya miskin, saya tak punya sesuatu untuk dibagi, saya tak mungkin bisa berbuat amal karena untuk makan saya aja tidak cukup, saya belum cukup kaya untuk mulai membagi, belum saatnya, nanti setelah saya kaya, dan sebagainya. Semua pola pikir mental tersebut seperti ‘Wadah’ yang kita bangun, dan telah menkungkung dan menghambat perkembangan dan membesarnya ‘magnet diri’. ‘Magnet diri’ seolah terkurung dalam ‘wadah uang’… inilah ‘Wadah Uang’ dalam diri kita yang harus kita pecahkan,bukan yang di luar…” Dengan mental dan pola pikir demikian, mereka selalu beranggapan harus ada ‘Materi’ dulu baru bisa mulai memberi dan setelah memberi baru bisa dapat kebahagiaan. Dengan demikian mereka yang berpola pikir sempit sudah pasti akan terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang tidak berkesudahan.Jika sudut pandang mereka demikian maka tentu mereka senantiasa merasakan Tuhan tidak adil, karena mereka tidak punya kesempatan memperbesar ‘magnet dirinya’
“Tuhan Maha Adil, kawanku. Tuhan telah memberikan kepada umat manusia seperangkat alat yang sederhana tetapi mempunyai kemampuan ‘mencipta’. Semua awalnya tak ada, kemudian menjadi ada. Semuanya semula tak berwujud, kemudian menjadi berwujud. Dari “tak ada” bumi dan jagad raya dicipta Tuhan menjadi ‘ada’. Demikian kemapuan ‘mencipta’ telah diberikan kepada umatnya yang merupakan ciptaan sesuai citraNYA di bumi. Maka mereka yang telah sadar, yang mengalami pencerahan, dan menemukan jati diri dapat memperbesar magnetnya dengan ‘hukum penciptaan’ ini.
Dalam ‘kebahagian’ yang luar bisa, Tuhan mencipta jagad raya , bumi berserta isinya, dan menjadikan manusia sebagai pengembala dan pemimpin dunia ciptaanNYA. Manusia juga telah dibekali kemampuan mencipta sesuai dimensi keberadaannya. sehingga dunia ciptaanNYA dapat tumbuh dan berkembang dan diisi dengan karya-karya manusia. Awalnya semua peralatan dan kebutuhan hidup manusia tidak ‘ada’ atau tidak berwujud..kemudian dari pikiran (energi) muncul ide (tak benbentuk). Kemudian ide dituangkan dalam ‘bentuk’… terciptalah rumah, mobil, sepeda, pesawat dan sebagainya. Untuk Ia Yang Maha Ada ‘merasakan’ dan ‘mengalami’ pertumbuhan dan perkembangan ciptaanya yang merupakan diriNYA sendiri.
Dalam ‘kebahagian murni’ pula ; kebahagiaan yang berasal dari dalam, karena pencerahan atau hukum alam dipahami ( bukan kebahagian dirangsang dari kebendaan di luar), sifat-sifat kemuliaan manusia muncul. Sifat ‘cinta’, ‘kasih’, ‘keiklasan’, ‘rela berkorban’, ‘empati’, dan sebagainya yang timbul sangat murni. Timbul kebahagian memberi. Inilah pemberian dalam kualitas paling tinggi yang di miliki manusia, mulai dari senyuman, uluran tangan membantu, pancaran kasih dan tebaran cinta, empati, perduli dengan sekelilingnya dan siap membantu tanpa pamrih (tidak ada materi dapat membantu dengan tenaga), dan sebagainya akan menghasilkan kerja ‘bakti’ yang dapat memperbesar “magnet diri” yg kemudian menarik materi. Inilah ‘hukum penciptaan’. Dari tak berwujud (energi kebahagiaan murni) menjadi berwujud (materi).Dengan demikian ‘magnet dirinya’ akan membesar. Dan jika ia mengikuti hukum penciptaan terus menerus maka ia kan keluar dari linkaran kemiskinan tersebut.
Hukum penciptan ini juga telah nyatakan dalam persamaan hukum relatifitas dari Albert Einstein
E = m. c^2. Semua ‘keberadaan’ di dunia berlaku hukum tersebut. Tak kecuali dimensi manusia. Dalam spiitual persamaan ini disebut “hukum keberadaan”. Keberadaan manusia juga dinyatakan dengan tegas, bahwa manusia terdiri dari tiga unsur pembentuk keberadaannya yang disebut Tri Tungga yaitu:
E = energi (energi pikiran), m = materi (tubuh fisik) dan c^2 ketetapan kecepatan cahaya yang tidak berubah/konstan (nur, jiwa atau roh yang bersifat abadi). Dan hukum penciptaan dinyatakan dengan m = E/c^2. Yang artinya energi pikiran yang murni jika dibagi, diurus, diurai, ditangani oleh jiwa (Penemuan jati diri) akan menghasilkan materi.
” Jadi kamu harus memecahkan ‘Wadah Uang’ kamu yang kecil itu, dan gantikan dengan ‘Wadah uang’ yang lebih besar.. Selalu tanamkan kedalam batinmu dan bangunlah pola pikir : MANUSIA ADALAH POTENSIAL MURNI YANG BERKEMAMPUAN MENCIPTA, MERUBAH YANG TAK BERWUJUD MENJADI BERWUJUD.”
Penjual kue akhirnya menyadari ketidaktahuannya hingga ia menyalahkan Tuhan. Antara menguasai atau tidak uraian di atas, yang disebut orang awam sangat dalam, padahal itulah kewajaran seharusnya manusia berada sejak diciptakan. Sang penjual kue telah melakukan langkah besar awalnya. Ia sekarang menjadi orang yang mudah senyum, suka membantu,iklas, perduli sekeliling, ramah, aktif dalam kegiatan sosial, walau belum cukup materi untuk membagi ia membagi tenaganya.Ia mulai memutarkan roda yang akan mengelinding memperbesar “Magnet dirinya”. kemudian alam berkewajiban mengisi “magnet diri” yang telah besar. Maka tanpa sadar ia terbawa dalam lingkungan yang baru yang penuh dengan persahabatan. dan dari teman-teman datanglah ribuan “kesempatan”. Maka keluarlah dia dari lingkaran kemiskinan yang telah membelenggunya. Suatu hari ia akan menjadi orang yang tangannya di atas… hilang sudah pola pikir mengharapkan belas kasihan orang lain.
Filed Under: Artikel Tetap
About the Author:

