Pelatihan hipnoterapi 100 jam

Sebuah Pohon yang Bernama Visi Hidup

“…pengejaran kesuksesan, dengan cara-cara

model lama, bisa sangat membuat stres.”

(Thomas J. Leonard, Pendiri Coachville)

 

Saya pernah diberitahu seorang psikolog yang juga masih kerabat dekat keluarga saya. Waktu itu dia bercerita bahwa anak pintar itu butuh penyeimbang dalam hal kecerdasan emosinya. Karena itu ada sekolah khusus untuk anak-anak pintar, yang bertujuan selain memberikan pelajaran dengan bobot yang lebih daripada yang lain, juga untuk memperhatikan kecerdasan emosinya. Orang yang pandai justru sering terjebak oleh emosinya sendiri. Penjelasan ini membuat saya dan istri berhati-hati dalam mendidik anak semata wayang kami. 

 

Belakangan saya menyadari bahwa bukan anak saya saja yang butuh pembelajaran emosi. Saya sendiripun masih butuh berbenah diri dalam masalah emosi ini.

 

Jika di runtut dari pengalaman, sejak kuliah, saya memiliki kebiasaan membaca buku, dari banyak disiplin ilmu seperti: filsafat, psikologi, politik, sosial, bahkan sastra, walaupun kuliah yang saya jalani adalah teknik informatika. Pada waktu itu, saya merasa tertantang untuk mempelajari semua dasar filosofi mengingat saya juga aktif dalam organisasi sosial keagamaan sebagai tempat bereksperimen dalam mengasah potensi diri. Saya merasa pengetahuan dan pengalaman ini akan membuat saya sukses di dunia kerja nantinya. 

 

Namun ketika memasuki dunia kerja selama lima tahun pertama, saya justru mengalami kebuntuan. Kepandaian selalu menimbulkan hasrat untuk mengatur keadaan, akibatnya saya justru merasakan kerepotan dengan pengetahuan yang telah saya kumpulkan sebelumnya itu. Saya merasa menderita dan tidak mencapai kesuksesan pada waktu yang pernah saya rencanakan sebelumnya.

 

Penderitaan yang saya alami ini membuat saya belajar bahwa banyak pengetahuan cenderung membuat saya banyak keinginan. Keinginan dan citra diri yang berlebihan (self important) adalah akar dari ketidakbahagiaan dalam hidup. Setelah menyadari hal ini, selama beberapa tahun saya banyak berdiam diri dan tidak melakukan hal-hal menantang lagi. Saya hanya bertahan dan mengikuti rutinitas kerja begitu saja.

 

Hingga pada satu titik, saya bertanya pada diri sendiri. Apakah ada cara hidup bahagia tapi dengan tetap melibatkan aktivitas yang aktif? Jika dulu saya sering terjebak pada visi yang saya buat sendiri, yang berakhir dalam penderitaan. Lalu, apakah bisa seseorang berjuang demi sebuah visi tapi tetap bahagia?

 

Sambil meraba-raba dan seiringan dengan waktu semakin jelas bahwa kemungkinan visi yang membahagiakan itu ada. Pada tahun 2006, saya memberanikan diri untuk memiliki visi hidup kembali, setelah banyak mengikuti retret-retret meditasi. Visi yang membahagiakan tidak lain adalah sebuah visi yang altruistik. 

 

Apakah altruistik itu?

 

Altruistik berasal dari sebuah kata ‘’altrui ” dalam bahasa Perancis, yang berarti ‘’bagi atau untuk orang lain”. Pertama kali kata ini digunakan oleh Auguste Comte, filosof Perancis abad ke-19. Secara teoritis, etika altruisme adalah lawan dari egoisme –yang adalah segala pemikiran yang berpusat pada kepentingan diri. 

 

Sehubungan dengan visi hidup, saya mengartikan altruistik sebagai ketulusan dalam beraktivitas baik pada waktu proses maupun setelah mencapai visi tersebut. Ketulusan ini akan ada dengan sendirinya jika kita tidak lagi banyak berkutat pada kepentingan diri. Altrustik adalah sebuah cara pandang yang melampaui kepentingan diri, yang tidak tergantung apakah tujuan hidup itu tercapai atau tidak. Jika kita mengamati biografi orang-orang besar –seperti: Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, Dalai Lama, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Romo Mangunwijaya, dll–, mereka semua memiliki sifat altrustik. Karena itu mereka selalu tampak tenang dan bahagia, dan bukan hanya itu, mereka bermanfaat bagi orang lain. 

 

Upaya mencapai kesuksesan perlu dipahami dalam konteks visi hidup yang saya jelaskan ini. Ibarat kita menanam sebuah pohon. Tanggungjawab kita hanyalah menggali lubang untuk menaruh benih, menanaminya dengan benar, menyiraminya, memberi pupuk dan menjaganya dari serangan hama dan serangga. Apakah pohon itu tumbuh atau tidak, itu terserah padanya. Itu bukanlah urusan kita. Bahkan upaya untuk menarik-nariknya, meregangkannya dengan membuatnya mampu tumbuh lebih cepat adalah sama sekali tidak berguna. 

 

Jika kita bandingkan dengan apa yang kita alami, seringkali penderitaan muncul karena keinginan sesaat untuk menggapai visi setelah sebuah visi belum lama ditentukan.  Kita harus menyadari bahwa tumbuh kembangnya sebuah benih menjadi sebuah pohon adalah proses yang alami dan butuh waktu. Thich Nhat Hanh, seorang guru meditasi Zen, pernah memberi sebuah ilustrasi. Ketika mencuci piring, janganlah berpikir piring itu akan bersih. Mengapa? Karena dengan mencuci piring dengan baik dan benar, maka dengan sendirinya piring itu akan bersih. Intinya, keinginan yang terlalu menggebu-gebu membuat kita lupa pada proses pencapaiannya. Kita mesti belajar untuk selalu tulus dan bahagia dalam merawat visi, dari pada banyak berkutat pada nafsu tercapainya sebuah visi. Jika waktunya telah tiba, visi itu akan terwujud dengan sendirinya tanpa “paksaan” dari pihak kita.  

 

Jadi, jika Anda terus merasa menderita dalam hidup, entah itu mengenai pekerjaan, maupun upaya menggapai cita-cita, semua itu hanya ada satu penyebab. Itu tidak lain adalah minimnya ketulusan dalam menanam sebuah pohon yang bernama visi hidup. Sebodoh-bodohnya orang dalam berusaha,  sepanjang mampu bertahan dalam fase “trial and error”, suatu saat dia akan mencapai buah kesuksesannya. Hanya saja, setiap orang mencapainya dalam jangka waktu yang berbeda, tergantung dari situasi dan kondisinya. Saya selalu berpendapat bahwa kebahagiaan adalah salah satu faktor efektivitas penting yang paling sering dilupakan.  Bahagia akan membuat energi lebih tercurahkan pada visi hidup, sebagai hasilnya Anda bisa menikmati hidup jauh sebelum visi itu tercapai. Kenyataannya, dengan hidup bahagia, Anda dapat belajar banyak hal dengan lebih baik pula. Karena itu, tunggu apalagi. Berbahagialah! 

 

Victor Alexander Liem, 

Penulis buku USING NO WAY AS WAY!

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Filed Under: Artikel Tetap

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.