<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nathalia Sunaidi &#62;&#62; Hipnotis &#38; Hipnoterapis &#187; Ada</title>
	<atom:link href="http://nathaliasunaidi.com/tag/Ada/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nathaliasunaidi.com</link>
	<description>Hipnosis&#124;Hipnoterapi&#124;NLP&#124;EFT</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>7 ORANG BUTA PENEBAK GAJAH TELAH BERDAMAI&#8230;.(2)</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/7-orang-buta-penebak-gajah-telah-berdamai-2/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/7-orang-buta-penebak-gajah-telah-berdamai-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 04:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[atas]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dapat]]></category>
		<category><![CDATA[daun]]></category>
		<category><![CDATA[Demi]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dimana]]></category>
		<category><![CDATA[duduk]]></category>
		<category><![CDATA[ekor]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[GAJAH]]></category>
		<category><![CDATA[hasil]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hypnotherapy]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[juga]]></category>
		<category><![CDATA[kanan]]></category>
		<category><![CDATA[kasar]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok]]></category>
		<category><![CDATA[keras]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[konsep]]></category>
		<category><![CDATA[lain]]></category>
		<category><![CDATA[lebih]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Kuasa]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Pengasih]]></category>
		<category><![CDATA[Masa]]></category>
		<category><![CDATA[masing]]></category>
		<category><![CDATA[mereka]]></category>
		<category><![CDATA[nyata]]></category>
		<category><![CDATA[orang buta]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[raba]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[Sama]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sebenarnya]]></category>
		<category><![CDATA[sisi]]></category>
		<category><![CDATA[tangga]]></category>
		<category><![CDATA[telah]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Di lain tempat di desa lain dimana peradaban mereka lebih maju. Dimana orang-orang butanya tidak bertengkar lagi tentang apa itu gajah. Rupanya mereka telah melewati proses pematangan hidup. Melalui proses yang panjang juga mereka sekarang telah berevolusi ke kehidupan yang lebih beradab, “anak tangga kebenaran” yang kasar telah dilewati. Mereka memasuki masa peradaban yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di lain tempat di desa lain dimana peradaban mereka lebih maju. Dimana orang-orang butanya tidak bertengkar lagi tentang apa itu gajah. Rupanya mereka telah melewati proses pematangan hidup. Melalui proses yang panjang juga mereka sekarang telah berevolusi ke kehidupan yang lebih beradab, “anak tangga kebenaran” yang kasar telah dilewati. Mereka memasuki masa peradaban yang lebih maju. Mereka sekarang sudah dapat duduk bersama bertukar pikiran, berkonsultasi, berembuk, untuk mengatasi kekurangan masing-masing dan berdemokrasi dengan suara terbanyak untuk menentukan “anak tangga kebenaran” berikutnya. Masing-Masing orang buta mengutarakan apa yang mereka raba, mereka bertukar pendapat, dan mencoba merekontruksi kebenaran tentang apa itu &#8216;gajah&#8217;. Sementara desa-desa lain juga sedang mengalami proses yang sama. Tetapi karena mereka belum pernah melihat dengan matanya sendiri apa itu &#8216;gajah sebenarnya. Mereka masih merekontruksi, memasang-masang  sesuai logika pikiran.</p>
<p>Akhirnya &#8216;gajah&#8217; hasil rekontruksi masing-masing desa berbeda satu dengan lainnya. Desa pertama merekontruksi &#8216;gajah&#8217; dengan bentuk  dimana daun telinga gajah mereka trerpasang di sisi kanan kiri  badan gajah sehingga gajahnya seperti gajah yang bersayap. Sementara desa lain memasang gading gajah seperti tanduk di bagian atas depan gajah sehingga gajahnya bertanduk seperti kerbau. Sementara desa yang lain lagi memasang salah belalainya. Dimana belalainya dipasang kebagian belakang sebagai ekor, dan ekor yang kecil merupakan tali yang mengikat gajah.</p>
<p>Demikianlah masing-masing desa menghasilkan bentuk gajah yang berbeda dan masing-masing desa merasa mereka telah bekerja maksimal, mereka telah berpikir keras dan merasa hasil rekontruksi mereka paling benar. Disini terbentuklah “kebenaran kelompok (KEBENARAN KOLEKTIF)”. Kebenaran kelompok ini menghasilkan “ego kelompok” .</p>
<p>Dalam kehidupan nyata melalui proses demikianlah terbentuk “Kebenaran kolektif” berupa Konsep, dogma, moral, norma, etika, hukum, peraturan-peraturan dan hasil penafsiran dan ketetapan nilai kebenaran oleh lembaga keagamaan dan sebagainya. Produk-produk “kebenaran kolektif” manusia inilah yang menjadi pedoman hidup manusia-manusia diberbagai belahan bumi . Dan masing-masing mengembangkannya sesuai kondisi dan kebutuhan mereka masing-masing. Tentu masih banyak perbedaan nilai dari hasil “konsep”manusia yang mempunyai banyak keterbatasan. Dan nilai kebenaran ini tentu lebih berkualitas dibandingkan dengan kebenaran subjektif. Tetapi masih belum merupakan kebenaran sebenarnya, masih merupakan salah satu “anak tangga kebenaran” berikutnya untuk mencapai puncak kebenaran sebenarnya;  Tingkat kebenaran ini demikian adanya dan juga harus ada sebagai anak tangga untuk menapak kepuncak kebenaran. Kita hanya perlu menyadari keberadaan tingkat  kebenaran ini menjadikannya sebagai rujukan, bukan sebagai harga mati !  Kemudian melampauinya menggapai kebenaran sebenarnya.</p>
<p>Demikian peradaban dunia yag disebut “bumi” ini. Kita sekarang nampaknya terjebak dalam Keberadaan“anak tangga kebenaran” ini. Berbagai kelompok mengaku merekalah yang paling benar, merekalah penentu kebenaran seolah-olah mereka mewakili Tuhan dan semua harus ikut dengan mereka jika tidak mereka yang tidak tunduk dianggap melawan Tuhan. Pemberhentian  pada “anak tangga kebenaran” ini, pemberhentian pada “kebenaran kolektif” hasil “konsep” manusia ini telah menimbulkan banyak konflik, sungguh konflik yang luar biasa. Demi “kebenaran konsep” ini manusia dipersatukan dalam satu kelompok untuk berhadap-hadapan dengan kelompok lain, saling bermusuhan hingga saling membunuh. Dan ada kelompok yang membunuh atas nama Tuhan hasil konsep mereka. Bukankah Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang ? . Bagaimana mereka dapat meng”konsep”kan Tuhannya jadi pemarah dan pembunuh ? Ada yang mengkonsepkan Tuhan harus dibela !</p>
<p>Tetapi bukankan Tuhan itu  Maha Besar dan Maha Kuasa ?&#8230; Ah mungkin mereka belum menuju puncak kebenaran dan merasakan persatuan dengan Tuhan. Yang sebenarnya Maha Pengasih dan Penyayang. Maha Besar dan Maha Kuasa atas alam semesta ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/7-orang-buta-penebak-gajah-telah-berdamai-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>EFEK “JEMBATAN”, SEBUAH FAKTOR KESUKSESAN</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/efek-%e2%80%9cjembatan%e2%80%9d-sebuah-faktor-kesuksesan/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/efek-%e2%80%9cjembatan%e2%80%9d-sebuah-faktor-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:33:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[ajak]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[aksara]]></category>
		<category><![CDATA[bahwa]]></category>
		<category><![CDATA[banyak orang]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[definisi kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[efek]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[jembatan]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[jika]]></category>
		<category><![CDATA[john barth]]></category>
		<category><![CDATA[kaizen]]></category>
		<category><![CDATA[kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[nampak]]></category>
		<category><![CDATA[namun]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[paulo freire]]></category>
		<category><![CDATA[penemuan]]></category>
		<category><![CDATA[proses pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sebuah]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;tantangan yang sesungguhnya adalah  mengerjakan sesuatu yang belum diketahui,  karena ‘seorang tolol pun bisa mengajarkan  apa yang sudah dia ketahui!’” (John Barth, dalam The Sot-Weed Factor)
Pernahkah Anda berusaha keras demi tujuan tertentu? Entah melakukan tugas dalam pekerjaan ataupun juga upaya agar sukses dalam hidup. Setiap orang tentu ingin hidup sesuai dengan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>“&#8230;tantangan yang sesungguhnya adalah  mengerjakan sesuatu yang belum diketahui,  karena ‘seorang tolol pun bisa mengajarkan  apa yang sudah dia ketahui!’” (John Barth, dalam The Sot-Weed Factor)</em></p>
<p>Pernahkah Anda berusaha keras demi tujuan tertentu? Entah melakukan tugas dalam pekerjaan ataupun juga upaya agar sukses dalam hidup. Setiap orang tentu ingin hidup sesuai dengan apa yang telah direncanakan bukan? Sering kita dengar bahwa kerja keras adalah syarat utamanya. Namun ada sebuah faktor lain yang perlu kita perhatikan. Faktor itu adalah efek “jembatan”.</p>
<p>Sebelum mengetahui apa itu efek “jembatan”, saya ingin ajak Anda memahami proses belajar, karena dua hal ini berkaitan.</p>
<p>Jika kita menggali lebih dalam arti belajar, kita akan semakin memahami bahwa belajar itu memiliki arti kreatif dalam pola-pola tertentu. Seperti yang sering diingatkan Paulo Freire, “Belajar bukanlah mengkonsumsi ide, namun menciptakan dan terus menciptakan ide”. Proses pembelajaran mengarah pada keunikan dan penemuan pada hal-hal baru. Artinya, belajar itu sendiri adalah aktivitas yang kreatif.</p>
<p>Ada banyak definisi kreativitas, namun saya lebih suka memahami kreativitas secara praktis yaitu sebagai upaya pemecahan masalah (problem solving). Kreatif yang sekedar bentuk imajinasi tanpa memberi manfaat adalah kreativitas yang belum tuntas. Kreatif mesti mengarah pada pemecahan masalah. Namun sering juga istilah “masalah” dipahami secara negatif, sehingga membuat banyak orang menghindarinya. Kita boleh merasa tidak punya masalah, tapi itu bukan berarti bahwa masalah itu tidak ada. Manajeman Jepang menjelaskannya dalam sebuah frase “Kaizen”, yang terdiri dari aksara “kai” artinya perubahan, dan “zen” yang artinya baik. Filosofi Jepang melihat segalanya sebagai proses. Maksudnya, sesuatu itu hanya akan menjadi masalah, jika kita tidak mengenalnya yang, pada akhirnya, akan membuat keadaan semakin tidak teratasi. Nampak bahwa kreativitas, perbaikan, pemahaman, adalah istilah-istilah yang memiliki pengertian yang sama dan mengarah pada proses pembelajaran untuk memecahkan suatu masalah.</p>
<p>Dalam psikologi kontemporer, kreativitas juga sering dihubungkan dengan sinergi antara otak kanan dan kiri. Keduanya diyakini turut menentukan kesuksesan dalam hidup. Di antara otak kanan dan kiri ini ada sebuah faktor yang perlu kita ketahui, yaitu: efek “jembatan”.</p>
<p>Apa itu efek “jembatan”?</p>
<p>Penjelasan sederhananya adalah seperti ini.</p>
<p>Anda pasti pernah bekerja terlalu keras dan menjumpai masalah yang tidak bisa teratasi saat itu. Ketegangan dan kelelahan membuat pikiran tumpul, namun pada saat Anda tenang, pemecahan masalah akan muncul begitu saja. Hal itu sering terjadi ketika Anda memutuskan istirahat sejenak  atau memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan besok paginya. Ketika pikiran lebih fresh, masalah itu ternyata bisa teratasi dengan mudahnya dan hampir tidak membutuhkan usaha yang ekstra.</p>
<p>Dr. Bruce Goldberg menyebutkan bahwa kreativitas adalah fungsi otak kanan yang muncul dari pikiran bawah sadar. Karena berkaitan dengan bawah sadar, maka kreativitas itu sebenarnya tidak bisa dipaksakan bahkan juga direncanakan. Cetusan ide akan muncul dengan sendirinya ketika pikiran berada dalam kondisi yang tepat, yaitu pada saat pikiran tenang.</p>
<p>Dalam pikiran tenang itu, ada sebuah faktor yang membuat sebuah kreativitas itu bisa diwujudkan dalam suatu bentuk yang lebih bermanfaat. Inilah tambahan yang jarang dibahas dalam buku-buku psikologi pada umumnya. Saya mendapatkannya justru dalam buku psikologi anak, berjudul How to Bring Out Your Child’s Genius injust Ten Minutes a Day karya Pamela Hickein. Hickein menyinggung tentang Efek “Jembatan” (the “bridging” effect). Efek ini sesuai namanya berfungsi sebagai jembatan antara otak kanan dan kiri. Tanpa ada jembatan, maka imajinasi hanya sekedar imajinasi yang tidak bermanfaat. Beberapa pendidik meyakini bahwa Albert Einstein tidak mengalami efek “jembatan” hingga umur sembilan tahun. Namun belakangan kita tahu bahwa kemampuan otak kanan dan kiri yang terhubungan oleh faktor jembatan ini membuat Einstein menemukan teori relativitas.</p>
<p>Kreativitas bukan hanya berurusan dengan otak kanan yang terpisah dan tidak melibatkan fungsi otak kiri. Tony Buzan pernah menulis, “Kreativitas melibatkan penggunaan keterampilan mental otak kiri dan kanan&#8230;” Ide yang muncul dalam keadaan tenang segera ditanggapi oleh pemahaman akal yang ada pada otak kiri dan menjadi solusi dan penemuan yang menakjubkan. Otak kanan membutuhkan data dan proses pembelajaran logika dari Otak kiri.</p>
<p>Sebagai contoh, Anda bisa ingat kembali kisah Bill Gates muda yang sedang membaca majalah Popular Electronics pada Januari 1975 yang memuat laporan utama tentang mikrokomputer Altair 88000. Tiba-tiba saja terbersit sebuah visi bisnis yang akan menjadi tren di masa mendatang. Rupanya Bill Gates dan sahabatnya, Paul Allen, telah menantikan penggunaan PC yang membutuhkan sistem operasi komputer. Tanpa dukungan pembelajaran otak kiri sebelumnya mustahil Bill Gates memahami visi itu. Orang yang tidak didukung pengetahuan sebelumnya tentu hanya akan melihat Popular Electronics, sekedar informasi belaka tanpa ada tindak lanjut yang berarti.</p>
<p>Ada juga sebuah contoh lain, yaitu ketika Newton terilhami oleh jatuhnya buah apel dari pohonnya sebelum menemukan teori gravitasi. Tidak semua orang akan memberi respon yang sama ketika kejatuhan buah apel. Buah yang jatuh itu hanyalah pemicu, yang memungkinkan mengolah informasi menjadi suatu bentuk penemuan baru.</p>
<p>Dulu pada waktu psikologi terapan belum berkembang seperti sekarang ini, banyak orang hanya berfokus pada pembelajaran otak kiri. Namun sebaliknya, ketika otak kanan mulai dikenal luas, ada juga sebagian orang yang justru berlebihan dalam memahami otak kanan, sehingga justru melupakan pentingnya otak kiri. Dua pemahaman yang sepihak tentang otak ini tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Otak kanan tanpa otak kiri juga tidak berarti apa-apa. Efek “jembatan” menggarisbawahi pentingnya otak kanan dan kiri yang mampu bersinergi secara alami jika pikiran dalam kondisi tenang.</p>
<p>Dalam kehidupan bisnis maupun profesional yang begitu kompetitif, kreativitas semakin terasa dibutuhkan. Bahkan kreativitas dalam setiap anggota organisasi telah dipahami sebagai salah satu bagian penting dari strategi bisnis organisasi secara umum. Pada zaman sekarang, kreativitas adalah faktor kesuksesan yang tidak terelakkan. Dalam keadaan yang serba tidak pasti, tidak ada satupun acuan “pasti” yang bisa membuat Anda, dan perusahaan tempat Anda berkiprah bisa menjadi sukses. Ketidakpastian dalam hidup harus dilawan dengan ketidakpastian juga, dalam hal ini adalah kreativitas. Seperti apa bentuk kreativitas yang dimaksud ini? Jujur saja, sayapun tidak tahu. Anda akan tahu dengan sendirinya ketika keunikan itu muncul dalam pikiran Anda sendiri. Akan tiba saatnya efek “jembatan” terjadi, asalkan kita terus belajar dan tidak lupa untuk selalu tenang dalam menghadapi apapun. Rahasia kesuksesan bukan hanya kerja keras, tapi juga ketenangan diri yang juga berarti kemampuan menghadapi ketidakpastian dalam hidup.</p>
<div><span style="font-family: 'lucida grande'; line-height: normal; white-space: pre-wrap;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/efek-%e2%80%9cjembatan%e2%80%9d-sebuah-faktor-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari: Pendengar yang Baik</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:16:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[atap]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[bunyi]]></category>
		<category><![CDATA[butuh]]></category>
		<category><![CDATA[Cara]]></category>
		<category><![CDATA[ceria]]></category>
		<category><![CDATA[cerita konyol]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[di kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[foya]]></category>
		<category><![CDATA[galon]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[kaget]]></category>
		<category><![CDATA[Kali]]></category>
		<category><![CDATA[keran]]></category>
		<category><![CDATA[kosan]]></category>
		<category><![CDATA[lelucon]]></category>
		<category><![CDATA[mendengarkan]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi]]></category>
		<category><![CDATA[ORANG]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[sakit perut]]></category>
		<category><![CDATA[satu]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[selalu]]></category>
		<category><![CDATA[seperti]]></category>
		<category><![CDATA[sesuatu]]></category>
		<category><![CDATA[setiap hari]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[teman curhat]]></category>
		<category><![CDATA[tertawa]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[warung]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Tinggal beramai-ramai di kos-kosan selalu memberi kejutan dan tantangan tersendiri untuk saya, sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah yang berisi delapan kamar, setahun yang lalu. Saya belajar, meski menyenangkan dan seperti memiliki keluarga baru, tinggal bersama di bawah satu atap bukanlah hal yang mudah. Seringkali dibutuhkan usus yang panjang, berton-ton toleransi, bergalon-galon kesabaran, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tinggal beramai-ramai di kos-kosan selalu memberi kejutan dan tantangan tersendiri untuk saya, sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah yang berisi delapan kamar, setahun yang lalu. Saya belajar, meski menyenangkan dan seperti memiliki keluarga baru, tinggal bersama di bawah satu atap bukanlah hal yang mudah. Seringkali dibutuhkan usus yang panjang, berton-ton toleransi, bergalon-galon kesabaran, dan banyak lagi.</p>
<p>Saya yang menyukai keheningan, misalnya, harus rela jika suatu pagi terbangun dengan kaget karena suara keras tetangga sebelah, atau bunyi air dari keran yang diputar sampai pol. Saya yang membutuhkan suasana tenang untuk bekerja kadang harus merelakan pekerjaan saya tertunda akibat suara-suara berisik yang tidak bisa ditolerir telinga dan otak. Saya yang terbiasa mandi tanpa menggunakan alas kaki terpaksa ikut bersandal-jepit ria ketika mengetahui teman-teman saya menggunakan sandal di kamar mandi. Saya juga belajar membiasakan diri ketika tubuh yang sedang sakit tidak bisa mendapatkan istirahat secara optimal karena teman-teman serumah sibuk dengan aktivitas dan obrolan masing-masing.</p>
<p>Itu hal-hal sederhana yang membutuhkan adaptasi secara personal. Ada pula hal-hal lain yang meminta perhatian lebih, di luar yang biasa terjadi setiap hari. Salah satunya jika ada kawan yang sedang bermasalah dan butuh teman curhat. Tidak jarang, kegiatan sesederhana berjalan kaki ke warung menjadi ajang bagi-rasa yang memerlukan kesiapan telinga dan hati. Waktu istirahat di malam hari pun bisa menjelma menjadi ajang curhat massal. Memang tidak selalu hal seperti ini terjadi, banyak juga malam-malam ceria dimana kami berfoya-foya menghamburkan tawa, lelucon dan cerita-cerita konyol, terpingkal-pingkal sampai sakit perut, atau sekadar menghabiskan waktu bersama. Namun, ketika sesuatu yang serius terjadi pada salah satu di antara kami, diperlukan perhatian dan ‘penanganan’ yang lebih dari sekadar bercanda, tertawa, dan berkumpul. Di sinilah saya banyak belajar.</p>
<p>Sungguh, tidak mudah menjadi pendengar yang baik. Saya menemukan begitu banyak kendala. Mulai dari menahan lidah untuk tidak berkomentar, menunda opini, menjaga perhatian tetap tertuju pada lawan bicara (apalagi jika kisah yang sama sudah diulang puluhan kali), menyediakan diri untuk ‘hadir’ sepenuhnya bagi orang yang bersangkutan (karena keberadaan tak selalu sama dengan kehadiran – kita bisa bersama seseorang tanpa sepenuhnya hadir, dan sebaliknya, kita bisa hadir baginya tanpa perlu bersamanya), sampai mendengarkan tanpa merumuskan penilaian apa pun.</p>
<p>Awalnya, saya pikir saya bisa menjalaninya dengan mudah. Mendengarkan orang lain adalah salah satu keahlian saya; saya sudah terbiasa menghadapi orang yang ujug-ujug datang untuk curhat. Mulai dari sahabat, saudara, kerabat, orang tua, orang asing, kawan baru, sampai asisten rumah tangga teman saya.</p>
<p>Mendengarkan memang bukan sesuatu yang sulit. Namun mendengarkan tanpa menilai –sekadar hadir sepenuhnya bagi orang yang bersangkutan— yang menjadi salah satu kriteria dari Nonviolent Communication (Komunikasi Tanpa Kekerasan) adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.</p>
<p>Setelah beberapa kali mencoba mengaplikasikan Nonviolent Communication dalam kehidupan sehari-hari, saya menyadari sesuatu: kemampuan saya mendengarkan selama ini nyaris tidak ada gunanya. Cara saya menyampaikan perasaan dan kebutuhan pun masih terseret-seret. Saya mengira dapat menjadi pendengar dan komunikator yang baik dengan ‘jam terbang’ yang tinggi, namun nyatanya, cara saya berkomunikasi tetap butut. Berkomunikasi tanpa kekerasan ternyata tidak gampang.</p>
<p>Sudah beberapa bulan saya mencoba mempraktekkan jenis komunikasi ini (mendengarkan dan menyampaikan isi hati tanpa kekerasan), dan kemampuan saya masih setara dengan anak balita yang sedang belajar berjalan. Tertatih-tatih dan berulang kali terjerembab. Di awal masa belajar, saya bahkan sempat menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil dan protes kepada seorang sahabat yang pertama kali memperkenalkan pola komunikasi ini. Satu-satunya hal yang membuat saya bertahan adalah karena saya tersentuh oleh tindakan sahabat saya yang kerap bertanya, “Ingin didengarkan saja, atau ingin diberi saran?” ketika saya menghubunginya untuk curhat.</p>
<p>Bagi saya, pertanyaan itu keren.</p>
<p>Ia adalah orang pertama yang menanyakan hal seperti itu sepanjang sejarah percurhatan saya. Dia menyediakan telinganya untuk saya sampahi, dan pada saat yang sama memberikan saya ruang untuk memilih; apakah saya ingin mendengar opininya atau tidak. Saya selalu takjub dengan kemampuannya untuk tetap menjadi netral setelah sesi curhat panjang nan membosankan dengan masalah yang berkali-kali saya ulang seperti kaset rusak. Dia tidak ikut-ikutan marah dan menyumpahi orang yang saya kutuki, tidak terburu-buru mengungkapkan pendapat, dan tidak pernah menjatuhkan penilaian –apalagi penghakiman— atas kelebihan stok airmata yang dengan semena-mena saya tumpahkan kepadanya.</p>
<p>Hal-hal tersebut membuat saya bertahan. Bukan karena saya ingin mengikuti jejaknya, melainkan karena saya telah merasakan manfaat dari Komunikasi Tanpa Kekerasan. Saya tahu rasanya tidak didengarkan, karena itu, kini saya ingin mendengarkan. Saya ingin mendengarkan, karena saya telah didengarkan. Sesederhana itu.</p>
<p>Bukan sekali-dua saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dalam sesi curhat-ke-teman-dekat. Setelah berkali-kali menceritakan isi hati kepada beberapa orang yang cukup karib, saya mendapati, sebagai komunikator, ada kalanya saya hanya ingin didengar. Mungkin ini terdengar tidak adil bagi orang yang saya curhati karena terkesan ‘egois’, ‘ingin nyampah doang’, ‘nggak mau diberi input balik’, dan sebagainya. Seandainya saja saya bisa bilang kepada semua orang yang pernah menjadi tong sampah saya: saya senang dengan saran, masukan dan komentar kalian. Seandainya saya bisa berkata seperti itu. Kenyataannya, tidak.Bahkan, berkali-kali setelah mendengarkan masukan dan saran dari orang yang saya curhati, saya merasa menyesal sudah bercerita. Bukan karena saya tidak suka dengan isi sarannya, namun karena bukan itu yang saya butuhkan.</p>
<p>Saya menghargai setiap masukan, saran, komentar, koreksi, dan apa pun yang diberikan orang kepada saya, dan saya berterimakasih atas perhatian dan waktu yang mereka luangkan, namun ada kalanya saya hanya butuh didengarkan. Ada kalanya saya tidak butuh opini atau solusi. Saya hanya memerlukan telinga yang bisa menampung unek-unek saya, dan barangkali, bahu untuk ditangisi.</p>
<p>Itu sebabnya, kini saya sangat membatasi diri untuk mencurahkan isi hati kepada orang lain. Sangat sedikit orang yang saya percayai untuk menampung sampah-sampah batin saya. Bukan karena saya tidak menghargai predikat ‘saudara’, ‘sahabat’, atau ‘kawan baik’ di belakang nama begitu banyak orang yang cukup akrab dengan saya, melainkan karena saya membutuhkan orang yang bisa mendengarkan.</p>
<p>Jika saya memerlukan saran, saya akan mendatangi orang yang bisa dimintai saran. Jika saya memerlukan pendapat, saya akan menemui orang yang kompeten untuk memberi pendapat. Tapi hanya orang-orang tertentu yang saya percayai untuk mendengarkan. Seringkali, mereka tidak memiliki petuah berharga atau wejangan bijak untuk disampaikan, namun telinga dan hati mereka telah menolong saya menemukan jawaban dan solusi jauh melampaui yang dapat diutarakan bahasa. Kepada merekalah saya berhutang begitu banyak terima kasih.</p>
<p> <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya percaya, kita terlahir di dunia sebagai bayi yang tidak mengenal baik-buruk benar-salah. Pengkondisianlah yang memperkenalkan kepada kita apa itu hitam, apa itu putih. Apa itu baik, apa itu buruk. Dalam proses pendewasaan, kita diajar bahwa mengekspresikan perasaan dan kebutuhan seutuhnya bukanlah sesuatu yang baik. Beberapa dari kita bahkan telah begitu terbiasa menekan perasaan dan mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Tanpa disadari, perasaan dan kebutuhan yang tidak pernah diijinkan berekspresi itu menjelma menjadi penilaian dan penghakiman yang kita jatuhkan pada orang lain – entah melalui tutur kata, tindakan, maupun pemikiran.</p>
<p>Penilaian dan penghakiman tersebut akan memancing reaksi serupa dari orang-orang yang menerimanya dan memulai siklus yang terus berulang dalam hidup kita. Lingkaran setan yang tidak pernah ada ujungnya. Kita terus berputar di dalamnya, menjalani siklus yang sama sepanjang hayat, dan menyangka telah turut berpartisipasi dalam perdamaian dunia. Kita mengira, dengan menempatkan perasaan dan kebutuhan di urutan kesekian, kita telah memberikan sumbangsih untuk terciptanya kerukunan dan persatuan.</p>
<p>Bagi saya, perdamaian dunia tidak ditandai dengan berakhirnya peperangan. Perdamaian dunia tidak diawali dengan gencatan senjata dari kubu-kubu yang bertikai. Perdamaian dunia dapat dimulai dari diri kita sendiri, dengan menghentikan siklus kekerasan yang selama ini memerangkap kita dan begitu banyak orang yang terhubung dengan kita. Cara menghentikan siklus itu adalah dengan jujur kepada perasaan dan kebutuhan yang kita miliki. Cara memutuskan lingkaran setan itu adalah dengan berhenti menjatuhkan penilaian dan mulai berdiam diri. Sekadar bernafas dan memperhatikan bisa jadi hadiah paling berharga yang bisa kita berikan bagi seseorang. Sekadar hadir dan mendengarkan bisa menjadi sumbangan terbesar kita untuk terciptanya kerukunan dan persatuan yang bukan cuma slogan. Pertanyaannya, bersediakah kita?</p>
<p>Mungkin kedengarannya berlebihan, namun saat ini, rasanya saya akan lebih memilih duduk bersama orang-orang sederhana yang bersedia menyediakan hati dan telinga untuk semata hadir dan mendengarkan, daripada mereka yang kemampuan berpikirnya menyaingi kecepatan cahaya, sanggup merangkai sejuta makna dan merangkumnya dalam kalimat-kalimat bijak, serta sigap memberi berbagai petuah dan masukan tanpa diminta.</p>
<p>Kita sudah kelebihan stok orang pintar dan orang bijaksana. Kita butuh lebih banyak pendengar yang baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aceh oh Aceh (Hypnotherapy Trauma Healing di negeri serambi Mekkah)</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/aceh-oh-aceh-hypnotherapy-trauma-healing-di-negeri-serambi-mekkah/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/aceh-oh-aceh-hypnotherapy-trauma-healing-di-negeri-serambi-mekkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 17:53:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[Betty]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dasyat]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dua]]></category>
		<category><![CDATA[habis]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kadang]]></category>
		<category><![CDATA[kail]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[katakan]]></category>
		<category><![CDATA[kepedihan]]></category>
		<category><![CDATA[lantai]]></category>
		<category><![CDATA[lsm]]></category>
		<category><![CDATA[maha]]></category>
		<category><![CDATA[Mekkah]]></category>
		<category><![CDATA[mereka]]></category>
		<category><![CDATA[pagi]]></category>
		<category><![CDATA[pasrah]]></category>
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>
		<category><![CDATA[ruangan]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[selama]]></category>
		<category><![CDATA[semua]]></category>
		<category><![CDATA[Serambi]]></category>
		<category><![CDATA[sesi]]></category>
		<category><![CDATA[terasa]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>
		<category><![CDATA[training]]></category>
		<category><![CDATA[Trauma]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>
		<category><![CDATA[ypb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Kepergian saya ke Aceh karena diminta oleh LSM Kail dan YPB untuk trauma healing di training leadership masyarakat Aceh. Selama dua hari di Aceh saya mengalami banyak sekali pembelajaran kehidupan. Pembaca, kadang kehidupan bisa memberikan kepedihan yang sangat dasyat. Tujuannya supaya kita dibersihkan dan mengambil hikmah yang merupakan hadiah terbesar dari sebuah perjalanan kehidupan. 
 
 Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;">Kepergian saya ke Aceh karena diminta oleh LSM Kail dan YPB untuk trauma healing di training leadership masyarakat Aceh. Selama dua hari di Aceh saya mengalami banyak sekali pembelajaran kehidupan. Pembaca, kadang kehidupan bisa memberikan kepedihan yang sangat dasyat. Tujuannya supaya kita dibersihkan dan mengambil hikmah yang merupakan hadiah terbesar dari sebuah perjalanan kehidupan. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Dalam dua hari sesi saya kepada peserta training di Aceh, saya habis-habisan membimbing mereka untuk melepaskan semua beban dan kepedihan hidup mereka yang teramat dasyat. Hampir dari semua peserta merupakan korban tsunami. Keluarga dekat mereka – istri, anak, orang tua, keluarga dan teman – ada yang meninggal dalam tragedi yang maha dasyat itu. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;">Pagi harinya, di airport Jakarta, ada seorang ibu yang menanyakan tujuan saya pergi ke Aceh. Saya katakan kepadanya saya mau trauma healing masyarakat Aceh. Dia bertanya, “Sudah bertahun-tahun berlalu, apa orang Aceh masih trauma?” Pembaca, jawabannya”Ya, mereka masih trauma – bahkan sangat mendalam.”</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;">Dalam sesi hari pertama, saya lakukan Affect Bridging khusus untuk pelepasan trauma. Dasyat! Teriakan dan rintihan tangis kepedihan memenuhi seluruh ruangan training. Seluruh peserta menumpahkan semua trauma yang maha dasyat yang selama ini terpendam di relung hati yang sangat dalam. Ada yang bersimpuh, memukul lantai dan tubuhnya bergetar dasyat menunjukkan ketakutan dan kepedihan yang sangat traumatis. Hampir dua jam mereka menumpahkan semua emosi itu. Setelah semua tangisan mereda – ketika ruangan menjadi hening – lemas dan pasrah memenuhi nuansa seisi ruangan. Kemudian saya lanjutkan dengan Superconcious Mind Tapping – ya, waktunya mereka berdialog dengan Tuhan dalam kepasrahan yang terasa sangat tepat ini. Seketika terdengar lantunan orang-orang mengaji memuliakan nama Tuhan. Begitu indah&#8230; Terdengar bisikan, “Ya, Allah. Saya mengerti. Ya, Allah. Saya paham.” Para peserta training berdialog secara pribadi dengan Allah, Sang Pencipta. Hikmah sedang diberikan dalam kepasrahan batin. Air mata saya pun mengalir – terharu bahagia. Setiap kali saya membimbing orang-orang ke Superconsciuos Mind – terasa sekali nuansa spiritual yang mengharukan nan indah dan saya pun kerap kali menitikkan air mata.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Hari kedua pun berlanjut. Luar biasa perubahan yang terjadi dengan para peserta. Mereka menjadi berani berbicara dengan percaya diri. Satu hari sebelumnya, mereka bergetar ketika diminta memperkenalkan diri di depan ruangan. Setelah pelepasan trauma, percaya diri mereka meroket. Mereka bisa memimpin games, menyanyi dan menari di depan ruangan. “Hati menjadi lega, bu. Jadi merasa bebas dan berani berekspresi.” ungkap salah seorang pemudi Aceh peserta training.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;">Namun, perjalanan sesi hypnotherapy masih berlanjut. Di hari kedua ini saya lanjutkan dengan sesi hypnotherapy untuk menyempurnakan Stages of Development di alam bawah sadar mereka. Tubuh mereka bergerak mengikuti bimbingan saya. Tangisan mulai kembali mengisi ruangan. Kepedihan dan peristiwa traumatis si janin, bayi, si kecil dan si dewasa di alam bawah sadar mereka sedang dilepaskan. Dalam kepiluan tangis yang mendalam – dua orang tumbang pingsan. Ibu Betty, seorang psikolog dan juga pendiri Kapeta Foundation – sebuah komunitas pencegah HIV/AIDS, yang juga sebagai salah satu instruktur dalam training di Aceh ini mengatakan, “Kepiluan dan beban yang terlalu berat bisa membuat seseorang hysteria. Dan pingsan adalah salah satu jenis hysteria yang mendalam.” Betapa kekecewaan hidup yang tidak dilepaskan bisa membuat seseorang sangat menderita! </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Dua hari sesi trauma healing telah selesai. Luar biasa efek kelegaan yang dirasakan oleh para peserta. Wajah mereka ceria dan penuh senyum. Canda dan tawa mengisi seisi ruangan. Bahkan ada seorang peserta yang sudah mulai berani untuk mengungkapkan isi hatinya kepada saya. “Bu, saya suka menulis. Saya mau bisa menjadi penulis seperti ibu.” Terasa sekali mereka tidak lagi terkungkung oleh masa lalu dan mulai bisa menatap masa depan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;">Pembaca, luar biasa pengalaman dua hari saya di Aceh. Dari pengalaman tersebut saya langsung merenungkan betapa luar biasanya sumbangsih teman-teman anggota LSM. Jika bukan mereka yang mau turun langsung ke desa-desa untuk mendidik langsung masyarakat Indonesia, siapa lagi yang sanggup melakukannya? Tak dipungkiri, sebagian besar dari kita sepanjang saat berkutat menggapai kesuksesan hidup yang rasanya tidak pernah berujung. Sehingga kadang sampai tidak sempat untuk menengok ke kiri dan kanan untuk membantu saudara-saudara kita yang berada nun jauh di desa-desa Indonesia. Jadi, rasanya sangat pantas kita ucapkan “Salut!” untuk teman-teman anggota LSM di seluruh Indonesia. Teruslah berkarya untuk sesama! </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>By the way, next project LSM Kail adalah membimbing masyarakat pedalaman Papua. Jadi tunggu reportase saya berikutnya dari Papua!</p>
<div><span style="font-family: Arial; line-height: normal;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/aceh-oh-aceh-hypnotherapy-trauma-healing-di-negeri-serambi-mekkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Mengirim Naskah ke Endorser</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 07:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Hirata]]></category>
		<category><![CDATA[bagi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita komedi]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dika]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[endorsement]]></category>
		<category><![CDATA[Endorser]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kali]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Karina]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[kening]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[membuat]]></category>
		<category><![CDATA[namun]]></category>
		<category><![CDATA[napas]]></category>
		<category><![CDATA[naskah]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[oleh]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[plis]]></category>
		<category><![CDATA[saking]]></category>
		<category><![CDATA[sambil]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[Serta]]></category>
		<category><![CDATA[siapa]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[Teenlit]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[tiga]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Semua penulis yang sudah menerbitkan buku –atau bercita-cita menerbitkan buku— pasti tidak asing dengan kata ‘endorsement’, kecuali dia tinggal di ujung dunia. Beberapa tahun lalu, sebelum kata ini sering digunakan, istilah yang familiar di telinga kita adalah ‘paperback comment’.
Selain memberi nilai tambah bagi sebuah karya, endorsement dari seseorang yang ‘sudah punya nama’ –apalagi yang termasuk kategori ‘Penulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua penulis yang sudah menerbitkan buku –atau bercita-cita menerbitkan buku— pasti tidak asing dengan kata ‘<a style="font-style: italic; color: #000000;" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Endorsement_%28advertising%29">endorsement</a>’, kecuali dia tinggal di ujung dunia. Beberapa tahun lalu, sebelum kata ini sering digunakan, istilah yang familiar di telinga kita adalah ‘<span style="font-style: italic;">paperback comment</span>’.</p>
<p>Selain memberi nilai tambah bagi sebuah karya, <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari seseorang yang ‘sudah punya nama’ –apalagi yang termasuk kategori ‘Penulis Dewa’— sanggup membuat orang tergoda membeli, atau minimal, mengundang rasa penasaran terhadap buku yang bersangkutan. Siapa yang tidak tertarik mengambil buku yang sampul depannya memuat <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Andrea_Hirata">Andrea Hirata</a> atau <a style="color: #000000;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Lestari">Dewi Lestari</a>? Siapa penikmat novel remaja yang tidak terpancing mengambil <span style="font-style: italic;">teenlit</span> yang memajang <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://www.sittakarina.com/">Sitta Karina</a>? Siapa penyuka cerita komedi yang tidak tertarik dengan buku yang di-<span style="font-style: italic;">endorse</span> oleh <a style="color: #000000;" href="http://radityadika.com/">Raditya Dika</a>?</p>
<p>Sebagai orang yang sudah menerbitkan buku, saya tahu rasanya mengirim naskah kepada penulis-penulis senior; memohon kesediaan mereka untuk memberi sepatah-dua patah kata bagi ‘calon anak’ saya, berharap-harap cemas menanti hasilnya, dan sebagainya. Di sisi lain, sebagai orang yang pernah menjadi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk beberapa buku –serta menjadi ‘perantara’ bagi mereka yang ingin mendapatkan<span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://www.dee-idea.blogspot.com/">Ibu ini</a>— saya juga berkesempatan membaca berbagai naskah dengan genre dan penulisan yang sangat bervariasi.</p>
<p>Menerima dan membaca naskah merupakan kegiatan yang menarik, namun tak selalu menyenangkan. Ada kalanya saya mendapatkan ‘naskah emas’ yang memikat perhatian. Saya sanggup <span style="font-style: italic;">begadang</span> semalam suntuk dan melewatkan jam makan hanya untuk menamatkan naskah tersebut. Saya pernah membaca naskah yang sama sebanyak tiga kali dalam sebulan karena jatuh cinta dengan isi dan cara penulisannya. Namun tidak jarang pula saya menerima naskah yang membuat kening berkerut-kerut saking standarnya, saking mentahnya, atau saking <span style="font-style: italic;">absurd</span>-nya. Jenis naskah yang terakhir ini biasanya membuat saya menarik napas panjang sambil membatin, “<span style="font-style: italic;">Duh bo&#8230; plis deh</span>,” sebelum menutupnya tanpa menamatkan bab pertama.</p>
<p>Kedengaran belagu? Mungkin, tapi memang itu yang terjadi.</p>
<p>Selain konten, ada hal-hal lain yang memicu keengganan saya untuk membaca sebuah naskah sampai tamat (boro-boro mengomentari, kalau membaca aja nggak selesai). Kemalasan adalah salah satunya. Sisanya adalah beberapa faktor eksternal yang akan saya uraikan di bawah ini.<br />
Apa yang saya tuliskan di sini adalah hasil dari pengamatan pribadi dan bertukar pikiran dengan sesama rekan penulis –maupun figur publik— yang pernah menjadi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk sebuah buku. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tips pertama: pastikan naskah yang kamu kirim ke <span style="font-style: italic;">endorser</span> sudah diterima terlebih dahulu oleh penerbit. Menggunakan <span style="font-style: italic;">endorsement</span>untuk ‘menjual’ naskah ke penerbit memang bukan sesuatu yang salah, namun ini bisa jadi sesuatu yang menyebalkan bagi <span style="font-style: italic;">endorser</span>. Pertama, karena tidak adanya kepastian terbit. Kedua, ada waktu dan energi yang harus diluangkan oleh <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk membaca dan mengomentari karya kamu. Ketidakpastian tersebut akan membuat usaha yang dilakukan <span style="font-style: italic;">endorser</span> tampak sia-sia.</p>
<p>Kedua, yakinlah bahwa ketika karya kamu diterima oleh penerbit, karya tersebut memiliki ‘kekuatan’ dan nilai plus yang menjadikannya layak terbit. Pahami juga bahwa setiap penulis mempunyai ciri khas dan kelebihan masing-masing. Karena itu, miliki rasa percaya diri dan hindari mencantumkan kalimat-kalimat berikut dalam permohonan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> kamu: “Saya tahu tulisan saya tidak sebagus Mbak…”, “Memang tulisan ini tidak sebanding dengan karya Mbak…”, dan sebagainya. Saya tidak tahu dengan penulis lain, namun permohonan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> semacam ini membuat saya kehilangan minat untuk membaca naskah. Jika<span style="font-style: italic;"> endorser</span> yang bersangkutan merasa cocok dengan karyamu, ia akan memberikan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dengan senang hati. Tanpa kamu perlu ‘merendah’.</p>
<p>Ketiga, jangan mengirimkan naskah dengan tenggat waktu yang terlalu sempit. Dua minggu sampai satu bulan adalah tenggat yang cukup ideal bagi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk membaca dan mengomentari calon bukumu, apalagi jika kamu mengirim naskah kepada ‘Penulis Dewa’ yang punya segudang kesibukan. Sadari bahwa mereka memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada membaca naskahmu. <span style="font-style: italic;">And for the love of God</span>, jangan donder. Saya pernah menerima <span style="font-style: italic;">draft</span> dari seseorang yang mengirimkan <span style="font-style: italic;">e-mail</span> dua hari sekali untuk menanyakan apakah <span style="font-style: italic;">draft</span> tersebut sudah dibaca. Kali ketiga ia mengirim<span style="font-style: italic;"> e-mail</span>, saya tidak lagi membalasnya. <span style="font-style: italic;">It’s just annoying</span>. Saya hanya tersenyum masam mendengar alasan yang diajukannya: “Minggu depan sudah mau naik cetak, Mbak.” Sebagai orang yang pernah menerbitkan buku, saya tahu ada tenggat waktu yang cukup panjang dari diterimanya naskah oleh penerbit, proses produksi (<span style="font-style: italic;">editing, lay-outing</span>, desain <span style="font-style: italic;">cover</span>, dsb), sampai naik cetak. Keseluruhan proses tersebut bisa makan waktu 3 sampai 5 bulan. <span style="font-style: italic;">Kemane aje lo, baru ngirim </span>draft<span style="font-style: italic;"> seminggu terakhir</span>?</p>
<p>Keempat, kirimlah naskah yang sudah ‘matang’, dalam arti sudah melalui proses <span style="font-style: italic;">editing</span> setidaknya satu kali. Selain memudahkan<span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk menilai naskah tersebut secara keseluruhan, tindakan ini menunjukkan bahwa kamu menghargai <span style="font-style: italic;">endorser</span>. Kesalahan ketik dan kesalahan tata bahasa adalah sesuatu yang sangat lazim terjadi, dan saya rasa <span style="font-style: italic;">endorser</span> tidak akan mempermasalahkan hal ini. Namun isi naskah yang masih ‘mentah’ dan kasar akan sangat mengganggu untuk dibaca. Tunjukkan bahwa kamu menghargai <span style="font-style: italic;">endorser</span>yang sudah bersedia meluangkan waktu dan energi untuk membaca naskahmu.</p>
<p>Kelima, gunakan <span style="font-style: italic;">font</span> yang nyaman dibaca dan spasi yang tidak melelahkan mata. Hal ini juga bisa diterapkan untuk mengirim naskah ke penerbit. Saya pernah menerima naskah yang ditulis dengan <span style="font-style: italic;">font</span> Arial Narrow dan spasi <span style="font-style: italic;">single</span> yang panjangnya lebih dari 400 halaman. Saya berusaha membacanya sebanyak tiga kali dan akhirnya menyerah sebelum menyelesaikan bab pertama.</p>
<p>Keenam, kirimkan naskahmu kepada orang yang tepat. Jangan mengirimkan naskah novel pop kepada penulis cerita komedi. Jangan mengirimkan naskah kumpulan blog remaja kepada penulis fiksi ilmiah. Dan demi Tuhan, jangan mengirimkan naskah cerita horor murahan atau drama-komedi berbau seks kepada siapa pun. Kasihanilah kami.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Last but not least</span>, berbesar hatilah jika naskahmu ditolak oleh calon<span style="font-style: italic;"> endorser</span>. Tidak usah <span style="font-style: italic;">ngambek</span>. Tidak perlu membujuk calon<span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk mempertimbangkan ulang keputusannya dengan berkali-kali menghubunginya. Mereka tentu memiliki pertimbangan tersendiri untuk memberikan (atau tidak memberikan) <span style="font-style: italic;">endorsement</span>. <span style="font-style: italic;">It’s nothing personal</span>. Naskah saya pernah ditolak oleh beberapa penulis. Saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang mereka berikan untuk membaca dan membalas <span style="font-style: italic;">e-mail</span> saya, lalu mencari penulis lain yang bersedia meng-<span style="font-style: italic;">endorse</span> buku saya. Sesederhana itu.</p>
<p>Sekarang, izinkan saya menghancurkan secercah harapan yang kamu miliki. Tips-tips di atas tidak menjamin kamu akan memperoleh<span style="font-style: italic;">endorsement</span> sesuai harapan, bahkan tidak menjamin naskahmu akan dibaca oleh calon <span style="font-style: italic;">endorser</span>.</p>
<p>Tips-tips tersebut hanya bentuk lain dari<span style="font-style: italic;"> uneg-uneg</span> yang saya (dan beberapa rekan penulis) miliki dari pengalaman menerima dan membaca naskah yang dikirimkan kepada kami. Sama seperti perjuangan untuk menerbitkan buku, ada banyak hal yang menentukan keberhasilan seseorang dalam mendapatkan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> – salah satunya keberuntungan. Saran yang bisa saya berikan adalah: lakukan yang terbaik yang kamu bisa, silangkan jari-jarimu, dan berharaplah keberuntungan ada di pihakmu. Kalaupun tidak, <span style="font-style: italic;">well</span>, akan selalu ada kesempatan lain, selama kamu terus menulis. <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selamat berburu <span style="font-style: italic;">endorsement</span>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TUJUH &#8216;ORANG BUTA&#8217; MENEBAK &#8216;GAJAH&#8217; (1)</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 05:01:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[belalai gajah]]></category>
		<category><![CDATA[berkesimpulan]]></category>
		<category><![CDATA[bernama]]></category>
		<category><![CDATA[bulat]]></category>
		<category><![CDATA[BUTA]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita humor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita klasik]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dapat]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[ekor]]></category>
		<category><![CDATA[GAJAH]]></category>
		<category><![CDATA[geli]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kaki gajah]]></category>
		<category><![CDATA[Kami]]></category>
		<category><![CDATA[kasur]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kesempatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesimpulan]]></category>
		<category><![CDATA[kipas]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>
		<category><![CDATA[Maka]]></category>
		<category><![CDATA[meraba]]></category>
		<category><![CDATA[mereka]]></category>
		<category><![CDATA[Nilai]]></category>
		<category><![CDATA[ORANG]]></category>
		<category><![CDATA[orang buta]]></category>
		<category><![CDATA[perut]]></category>
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>
		<category><![CDATA[punggung]]></category>
		<category><![CDATA[seperti]]></category>
		<category><![CDATA[Seri]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[tiang]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Seri kebenaran relatif 3
Ada suatu cerita klasik dari zaman dulu yang dapat membantu kita memahami apa sebenarnya “KEBENARAN”. Dengan perjalanan pencariannya. Cerita ini bernama “TUJUH ORANG BUTA MENEBAK GAJAH”. Cerita ini telah diceritakan turun temurun tetapi telah mengalami penurunan nilai dan cerita ini sekarang lebih diceritakan sebagai cerita humor. 10 tahun lalu ketika kuliah perdana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-63" href="http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/andriadi/"></a>Seri kebenaran relatif 3</p>
<p>Ada suatu cerita klasik dari zaman dulu yang dapat membantu kita memahami apa sebenarnya “KEBENARAN”. Dengan perjalanan pencariannya. Cerita ini bernama “TUJUH ORANG BUTA MENEBAK GAJAH”. Cerita ini telah diceritakan turun temurun tetapi telah mengalami penurunan nilai dan cerita ini sekarang lebih diceritakan sebagai cerita humor. 10 tahun lalu ketika kuliah perdana saya sebagai mahasiswa kedokteran , seorang dosen menuturkan cerita ini kepada kami. Kami ketawa terbahak-bahak melihat kebodohan manusia dalam cerita tersebut. sepuluh tahun kemudian,setelah memahami pesan cerita ini ternyata ketawa kami sepuluh tahun yang lalu sebenarnya menertawakan diri sendiri; sebagai manusia yang sedang melakukan perjalanan pencarian kebenaran&#8230;10 tahun ; suatu pencarian waktu yang panjang !</p>
<p>Diceritakan pada zaman dulu disuatu desa ada 7 orang buta yang tidak pernah melihat gajah, diberi kesempatan mengikuti lomba menebak &#8216;bentuk gajah&#8217; itu seperti apa? Pada saat bersamaan mereka dituntun menuju gajah dan disuruh meraba gajah dan menebak gajah itu seperti apa. <br />
Peserta pertama mendapat tempat yang dapat meraba bagian kaki gajah. Dan berkesimpulan gajah itu seperti “tiang besar” karena memang kaki gajah itu seperti tiang yang besar.<br />
Peserta kedua mendapat tempat yang dapat meraba bagian ekor gajah dan berkesimpulan gajah itu seperti “tali”.<br />
Peserta ketiga memdapat tempat yang dapat meraba bagian perut gajah yang bulat dan berkesimpulan gajah itu seperti “tong”.<br />
Peserta keempat mendapat kesempatan meraba daun telinga gajah yang lebar dan berkesimpulan gajah itu seperti “kipas”.<br />
Peserta kelima meraba gading gajah dan berkesimpulan gajah itu seperti “tanduk”.<br />
Peserta keenam meraba belalai gajah dan berkesimpulan gajah itu seperti “pipa air”.<br />
Dan peserta ke tujuh meraba bagian punggung gajah dan berkesimpulan gajah seperti “kasur”.<br />
Orang yang pernah melihat gajah menahan geli dan ketawa melihat kesimpulan mereka. </p>
<p>Ketika pengumuman pemenang. Dan dinyatakan tidak ada yang menang karena kesimpulan mereka &#8217;salah&#8217; , ketujuh peserta melakukan protes karena mereka merasa benar. “kami telah menyatakan kesimpulan sesuai apa yang kami raba , kalian tidak dapat membohongi kami, kami lebih percaya hasil raba kami dari pada keterangan kalian “. Maka terjadilah kekacauan karena penyelengara lomba tidak dapat memjelaskan dengan jelas bentuk gajah itu seperti apa kepada ketujuh orang buta. Penyelenggara perlombaan mencoba menjelaskan kesimpulan mereka “salah” dengan mengkonfrontasikan ketujuh orang buta. Situasi tambah kacau ternyata kesimpulan ketujuh orang buta ini tidak sama dan masing-masing mepertahankan kesimpulan mereka. <br />
“Bagaimana dia menyatakan gajah itu seperti ‘tiang besar’ sedangkan yang saya raba seperti ‘kipas’”. Yang lain protes “ Saya benar-benar meraba gajah itu seperti ‘tanduk’ kenapa dia menyebutnya seperti ‘tali’ “. Semua ngotot dengan kesimpulan masim-masing dan akhir terjadi pertengkaran yang tidak berkesudahan.</p>
<p>Cerita diatas hanya sebuah perumpamaan bahwa pada dasarnya manusia selalu diawali dengan kebodohan dan ketidaktahuan tentang “Kebenaran”. Di ibaratkan &#8216;gajah&#8217; itu demikian adanya sebagaimana ciptaan Tuhan. &#8216;Gajah&#8217; disini melambangkan “KEBENARAN”.<br />
Kebenaran sebenarnya sangat besar tidak dapat dipahami dengan sesaat.,dinilai dari satu sisi saja. &#8216;Orang buta&#8217; dicerita ini melambangkan “KETERBATASAN” kita untuk memahami &#8220;kebenaran” yang besar dan malah abstrak. Disini ada nilai “Kebenaran” yang sangat subyektif dari ketujuh orang buta.<br />
Disebut kebenaran karena memang benar berdasarkan panca indra yang dimiliki manusia yang masih terbatas fungsinya. Nilai “kebenaran” ini sangat kasar dan sangat tergantung kepada kualitas manusianya. Kebenaran ini menimbulkan “EGO PERORANGAN” <br />
Tetapi bagaimanapun Kebenaran tingkat ini memang adanya dan merupakan bagian dari “Hukum Keberadaan” yang disebabkan kebodohan dan ketidaktahuan yang melekat dalam diri setiap manusia sejak lahir.Tingkat ini merupakan “anak tangga pertama” untuk menapak kenilai “kebenaran” berikutnya. Kebenaran ditingkat ini saya sebut “KEBENARAN SUBJEKTIF”. Nilai kebenaran ini sangat tergantung kulitas pengetahuan dan interpretasi subjek dan bersifat relatif, dan tentu bukan kebenaran sebenarnya kecuali subjeknya orang sempurna. Andai kita menyadari kelemahan dan keterbatasan kita dan menyadari keberadaan serta mempunyai pengetahuan tentang “TINGKATAN atau KUALITAS KEBENARAN ” maka kita tidak akan “PARKIR” lama di tingkat kebenaran ini. Tentu kita akan menapaknya kemudian “MELEWATI dan MELAMPAUI” tingkat “kebenaran Subjektif” ini dengan cepat, tidak perlu 10 tahun atau seumur hidup !</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak dijumpai orang-orang yang hidup dengan kebenaran subjektif ini. Mereka berhenti ditingkat kebenaran ini. Mereka selalu merasa diri mereka paling benar, ego mereka sangat tinggi. Dan nilai moral, etika , peraturan dan hukum; yang merupakan nilai kebenaran kolektif tidak berlaku bagi dia. Dan untuk mempertahan nilai kebenaran ini mereka siap mempertaruhkan nyawanya. Kita sering membaca di koran sipolan membunuh temamnya sendiri hanya masalah hutang Rp.5000,- . Anak membunuh orang tua karena tidak diberi uang. Berjalan ditengah jalan, diklakson malah marah. Dikedai kopi berdebat kusir hingga berantam , dan sebagainya. </p>
<p>Bagi mereka yang belum mengalami pencerahan akan tidak pernah sadar akan keberadaan mereka di tingkat kebenaran yang sangat kasar ini dan berhenti disini, maka sebenarnya hidup mereka sangat tidak nyaman, penuh dengan konflik dan cobaan.<br />
Ketika seseorang setelah mengalami proses pematangan hidup yang panjang melalui berbagai konflik dan percobaan, tiba-tiba menyadari ada kebenaran yang lebih tinggi maka mereka akan meninggalkan tingkat kebenaran yang kasar ini menuju kebenaran yang lebih tinggi. Kebanyakkan orang memerlukan masa yang panjang untuk mengalami pencerahan. Mungkin seumur hidupnya. Sungguh suatu kesia-siaan waktu yang panjang !<br />
Sementara sebagian orang dengan cepat mengalami pencerahan dan melanjutkan pencarian kebenaran, berhenti sebentar di “anak tangga kebenaran” dan siap menapak anak tangga kebenaran berikutnya&#8230; (Bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahami Permainan Pikiran Anda</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/pahami-permainan-pikiran-anda/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/pahami-permainan-pikiran-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 14:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[Anda]]></category>
		<category><![CDATA[apa]]></category>
		<category><![CDATA[Bad Mood]]></category>
		<category><![CDATA[bakul]]></category>
		<category><![CDATA[Banyak]]></category>
		<category><![CDATA[bapak]]></category>
		<category><![CDATA[bara]]></category>
		<category><![CDATA[batu]]></category>
		<category><![CDATA[begitu]]></category>
		<category><![CDATA[benci]]></category>
		<category><![CDATA[bidang]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[Gagal]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[juga]]></category>
		<category><![CDATA[kamar]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[lama lama]]></category>
		<category><![CDATA[logika]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[mudah]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[nasi]]></category>
		<category><![CDATA[orang terkaya di dunia]]></category>
		<category><![CDATA[padam]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[Rejeki]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[terasa]]></category>
		<category><![CDATA[terus]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[Tiger Wood]]></category>
		<category><![CDATA[tumpah]]></category>
		<category><![CDATA[Yan]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Entah mengapa perasaannya menjadi bad mood setiap kali Parjo mendengar tentang tetangganya yang memiliki bakul nasi yang penuh – di dadanya terasa getir dengan air mata yang rasanya mau tumpah keluar. Sebuah perasaan yang membuat beku dan dingin. “Saya benci perasaan ini! Perasaan gagal yang langsung bisa menghilangkan nafsu makan. Setiap saat rasa ini muncul saya selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-53" href="http://nathaliasunaidi.com/pahami-permainan-pikiran-anda/mind-2/"></a>Entah mengapa perasaannya menjadi <em>bad mood</em> setiap kali Parjo mendengar tentang tetangganya yang memiliki bakul nasi yang penuh – di dadanya terasa getir dengan air mata yang rasanya mau tumpah keluar. Sebuah perasaan yang membuat beku dan dingin. “Saya benci perasaan ini! Perasaan gagal yang langsung bisa menghilangkan nafsu makan. Setiap saat rasa ini muncul saya selalu mencoba untuk melawannya dengan segala cara – dengan menghibur diri, pakai logika atau apa pun. Tapi perasaan ini tak kunjung padam.” amarah Parjo tentang perasaannya.</p>
<p> </p>
<p>Di luar kamar, ibunya yang sedang menampi beras mendengar keluh-kesah Parjo. Dia menasehati Parjo, “Jika kau membandingkan dirimu dengan dia. Mengapa kau tidak sekalian saja membandingkan dirimu dengan Bapak kepala desa? Atau dengan orang terkaya di dunia saja sekalian yang bakul nasinya mencapai ratusan atau ribuan buah karena dia kaya raya? Mengapa dia – si Parmin, tetangga kita? Membuat kamu terhambat saja. Setiap orang memiliki rejekinya sendiri. Masing-masing orang memiliki bakul nasinya sendiri-sendiri. Kau tidak perlu memperdulikan bakul nasi dia. Isi saja bakul nasimu. Lama-lama juga penuh. Dibanding kau terus-menerus melihat bakul nasi Parmin yang penuh. Malah mencari-cari penyebab kenapa bakul nasinya lebih penuh dibanding kamu. Ya, karena sebelumnya dia sudah mengisinya duluan dan lebih banyak. Kamu sebaliknya, malah kelupaan ngisi bakul nasimu karena terlalu mengurusi dan kepingin bakul nasi kamu penuh seperti dia. Tahu tidak, dia ngisi bakul nasinya lebih dulu dari kamu. Dia sudah mulai duluan sebelum kamu mulai. Sekarang waktunya kamu mulai mengisi bakul nasi kamu supaya penuh juga seperti dia. Ayo, mulai isi bakul nasi kamu. Tidak ada rahasia apa pun. Cuma perlu dikerjakan, isi bakul nasimu sekarang!”</p>
<p> </p>
<p>Setelah mendengar nasehat ibunya, perasaan Parjo menjadi lebih terhibur. Entah karena merasa ada yang memahami atau memang karena dia telah menerima konsep bahwa setiap orang memiliki rejeki masing-masing. Tapi di dalam hatinya yang terdalam, Parjo tidak bisa menjamin perasaan itu tidak akan muncul lagi bila dia mendengar bakul nasi Parmin yang lebih penuh. Parjo&#8230; Parjo&#8230; gitu aja kok pusing?</p>
<p> </p>
<p>Cerita si Parjo di atas bisa membuat kita berkomentar “Parjo, gitu aja kok pusing?”. Tapi apakah Anda tahu kalau ternyata setiap orang sepanjang waktu merasakan seperti yang Parjo rasakan – termasuk Anda dan saya. Siang tadi seorang pemilik tambang batu bara datang ke sesi hypnotherapy saya. Di wawancara awal, dia mengeluhkan tentang kondisi pertambangan batu bara yang sedang lesu. “Padahal saya sudah investasikan semua tabungan saya di tambang ini. Malah anjlok lagi.” keluhnya. Dia menceritakan latar belakangnya terjun di bidang batu bara. “Saya memiliki usaha lain yang sangat berkembang pesat. Tapi saya melihat seorang teman yang lebih sukses. Ternyata dia berkecimpung di bidang batu bara. Tergiur profit yang besar dan pekerjaan yang tidak begitu rumit, saya memutuskan untuk terjun di bidang ini. Tapi nyatanya tidak mudah juga. Banyak hal yang perlu diatasi.” Kemudian dia bertanya kepada saya, “Apa ada yang salah dengan saya? Saya melihat teman saya mudah sukses di bidang ini, tapi saya kok tidak begitu mudah?”</p>
<p> </p>
<p>Pembaca, jika Anda mau memeriksa ke sekeliling atau ke dalam diri Anda. Pertanyaan pengusaha batu bara itu juga kerap kali ditanyakan oleh diri ini dan orang-orang lainnya. Pernahkah Anda mengalami seperti yang dialami si pengusaha batu bara di atas? Anda melihat orang-orang kelihatannya mudah berhasil dalam usahanya namun begitu Anda terjun jadinya tidak begitu mudah malah rumit? Tidak sesuai dengan imajinasi Anda. Sehingga membuat Anda pun bertanya, “Apa yang salah di dalam diri saya? Apa saya tidak pantas untuk sukses? Apa saya orang yang sial?” Perhatikan ini, tidak ada yang salah dengan diri Anda! Saya ulangi sekali lagi – Anda baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan diri Anda. Semua itu hanyalah permainan pikiran Anda. Semua kemudahan yang Anda lihat dari orang lain hanyalah iklan dari pikiran Anda. Pikiran Anda mengeluarkan imajinasi yang membuat Anda terbuai oleh biusannya yang memabukkan sekaligus menipu. Kembali ke cerita si pengusaha batu bara di atas. Saya menjawab si pengusaha itu seperti ini, “Semua itu iklan di pikiran Anda. Begitu Anda melihat kesuksesan teman Anda, pikiran Anda langsung memunculkan imajinasi tentang betapa enaknya kesuksesan itu. Lalu Anda membandingkan dengan usaha Anda saat itu yang perlu kerja keras. Lalu pikiran itu melalui iklannya seolah menggoda Anda untuk masuk ke bidang itu. Namun, begitu Anda masuk, ternyata tidak mudah dan butuh kerja keras juga. Membuat Anda merasa ada yang salah dengan bidangnya. Lalu pikiran Anda mulai berpikir lagi untuk pindah bidang lainnya yang bisa lebih mudah. Jika Anda mengikuti permainan pikiran itu, Anda akan pindah bidang lagi. Namun, hal yang sama akan berulang kembali. Ternyata, bidang baru itu pun tidak semudah itu. Perlu kerja keras juga.” Pembaca, itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Tidak ada yang semudah itu. Setiap hal memerlukan kerja keras. Namun karena sifat dari pikiran kita yang selalu mau menghindari pain dan mengejar pleasure maka dia akan terus <em>craving</em> mencari kemudahan-kemudahan yang sebenarnya tidak pernah ada.</p>
<p> </p>
<p>Tapi bagaimana pikiran kita bisa memiliki persepsi yang salah terhadap kejadian di luar diri kita? Menurut NLP Model of Communication, informasi-informasi yang ada di luar diri kita terlalu banyak untuk bisa diterima oleh pikiran kita. Karena itu pikiran kita melakukan <em>distortion, generalization </em>dan<em> deletion</em>. Saya menyadari Anda telah mengetahui ada begitu banyak informasi yang harus diterima oleh sistem saraf kita. Menurut riset sistem saraf manusia menerima sekitar 2 juta bits informasi dalam satu detik. Padahal hanya 7 bits per detik yang bisa diterima oleh <em>conscious mind</em> kita. Lalu apa yang terjadi dengan sisanya? Pikiran kita melakukan penyaringan dengan melakukan <em>distortion, generalization </em>dan<em> deletion.</em> Wow, pantas saja banyak sekali persepsi salah yang masuk ke dalam pikiran manusia! Tidak heran kita hidup di dunia yang penuh dengan imajinasi yang salah! Bagi Anda yang bertanya apa itu <em>distortion, generalization </em>dan<em> deletion</em>, saya akan menjelaskannya.</p>
<p> </p>
<p><em>Distortion</em>: Penyaringan yang dilakukan oleh pikiran kita sehingga informasi yang masuk kita sesuaikan dengan apa yang kita inginkan atau percayai. </p>
<p><em>Generalization</em>: Pikiran kita melakukan generalisasi berdasarkan dua atau tiga pengalaman yang pernah kita alami.</p>
<p><em>Deletion</em>: Kita memfokuskan pikiran kita hanya pada sebagian informasi yang ada. </p>
<p> </p>
<p>Pembaca, mari kita membahas apa yang terjadi dengan si Parjo dan klien saya sesuai dengan NLP Model of Communication. Saat si Parjo mendengar kalau tetangganya – si Parmin – memiliki bakul nasi yang penuh, Parjo berpendapat si Parmin menyebabkan perasaannya tidak enak. Dia telah terkena <em>distorsi</em> karena dia mempercayai situasi di luar diri menyebabkan dia menderita. Pembaca, saya tidak tahu pendapat Anda tapi menurut saya banyak sekali orang-orang bahkan mungkin diri kita sendiri yang cenderung menylahkan pihak luar atas kegagalan dan kekecewaan hidup kita. Jika demikian maka kita semua terkena filter pikiran yang bernama<em> distorsi</em>. Karena kita mempercayai apa yang mau kita percayai sehingga kejadian-kejadian di luar kita pakai untuk memperkuat persepsi kita yang salah itu. Yan paling menarik, ternyata si Parjo juga terkena <em>deletion</em>. Dia hanya fokus pada kesuksesan Parmin tanpa memperhatikan kerja keras yang Parmin sudah lakukan. Jika Anda memiliki persepsi banyak orang yang mudah sekali mencapai sukses dan ketika Anda terjun menjadi tidak mudah. Pembaca, jangan tertipu oleh <em>filter deletion.</em> Pikiran kita cenderung hanya mau fokus pada imajinasi yang nikmat. Silahkan perhatikan juga PR di balik kesuksesan orang lainn. Ternyata ujung-ujungnya adalah kerja keras dan belajar tanpa henti. Klien saya – si pengusaha batu bara – juga terkena permainan pikiran yang bernama deletion. Permainan pikiran itu membuat dia hanya fokus pada kesuksesan temannya. Dia men-delete semua kerja keras dan tetek-bengek yang rumit di balik kesuksesan tersebut. </p>
<p> </p>
<p>Banyak orang mengatakan mau bisa menjadi seperti Tiger Wood – pemain golf yang sangat sukses. Kebanyakan orang sepanjang waktu hanya melihat sisi enaknya saja dari kesuksesan Tiger Wood – memiliki banyak uang, terkenal, dipuja banyak fans, dan lain-lain. Sehingga jika ditanya “Apa kamu mau menjadi Tiger Wood?” Saya yakin mayoritas orang akan menjawab, “Mau!” Siapa yang tidak mau menjadi terkenal dan kaya raya? Pembaca. Saya tahu Anda sudah menyadari hampir setiap orang sepanjang waktu terkena permainan pikiran yang bernama deletion. Karena Tiger Wood bisa sukses besar sepert itu karena setiap harinya dia bangun di waktu subuh untuk latihan memukul ribuan bola! Itulah kunci kesuksesannya! Saya rasa jika setiap orang bisa melakukan kerja keras dan latihan yang sama dengan Tiger Wood, besar kemungkinannya dia bisa sehebat Tiger Wood. Namun, seberapa banyak orang yang mengetahui strategi keberhasilannya? Dan jika tahu, seberapa banyak orang yang mau melakukannya?</p>
<p> </p>
<p>Pembaca, untuk bisa keluar dari permainan pikiran, Anda perlu mengetahui cara kerja pikiran. Hypnotherapy dan NLP merupakan bidang yang mendalami pikiran, cara kerjanya dan juga cara membuat pikiran kita selalu dalam kondisi optimal untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan.</p>
<p> </p>
<p>Tips untuk bisa memiliki pikiran yang positif tapi komprehensif:</p>
<p><span>•<span> </span></span>Setiap kali muncul pikiran yang membuat perasaan Anda kecewa atau menderita, langsung tanyakan pertanyaan lebih detil untuk <em>cracking</em> persepsi salah itu. Contoh: “Semua orang mengatakan saya jelek.” Solusi: Tanyakan pada diri Anda sendiri, tepatnya berapa orang yang mengatakan Anda jelek? Biasanya hanya satu atau dua orang tapi Anda sudah mengklaim semua orang mengatakan Anda jelek.</p>
<p><span>•<span> </span></span>Terus berusaha, jangan menyerah. Kebanyakan orang merasa trauma atas kegagalan masa lalu sehingga tidak mau berusaha. Mereka terkena penyakit mental learned helplessness (artikel tentang learned helplessness akan dimuat di Majalah Luar Biasa atau di <a href="http://www.nathaliainstitute.com/"><span>www.nathaliainstitute.com</span></a>). Biasanya setelah dua atau tiga kali mengalami kegagalan, kita akan menganggap selamanya kita tidak akan pernah berhasil. Jangan terkena generalisasi! Lakukan lagi! Hari ini adalah hari baru dengan peluang dan kondisi baru.</p>
<p><span>•<span> </span></span>Semua orang sukses telah mengerjakan PR-nya. Kini giliran Anda mengerjakan PR Anda menuju kesuksesan. Tidak ada kemudahan atau jalan pintas ke kesuksesan. Dan tidak ada yang salah dengan diri Anda, Anda baik-baik saja. Hanya saja Anda belum mengerjakan PR sebanyak orang sukses.</p>
<p><span>•<span> </span></span>Berdoalah. Doa adalah penetapan tujuan yang maha dasyat karena direstui dan dirodhoi oleh Tuhan Maha Kasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/pahami-permainan-pikiran-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Homeostatis di Subconscious Mind, Si Penghambat Kesuksesan Tanpa Batas</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/homeostatis-di-subconscious-mind-si-penghambat-kesuksesan-tanpa-batas/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/homeostatis-di-subconscious-mind-si-penghambat-kesuksesan-tanpa-batas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 06:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[aliran]]></category>
		<category><![CDATA[ampuh]]></category>
		<category><![CDATA[Batas]]></category>
		<category><![CDATA[batin]]></category>
		<category><![CDATA[bersalin]]></category>
		<category><![CDATA[bhikkhu]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[darah]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[Di Thailand]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[diri saya]]></category>
		<category><![CDATA[duduk]]></category>
		<category><![CDATA[Homeostatis]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[Kami]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[ketenangan]]></category>
		<category><![CDATA[lagi]]></category>
		<category><![CDATA[Lima]]></category>
		<category><![CDATA[Maka]]></category>
		<category><![CDATA[masuk]]></category>
		<category><![CDATA[Milton Erickson]]></category>
		<category><![CDATA[oksigen]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[resep]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[sauna]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>
		<category><![CDATA[sekali]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>
		<category><![CDATA[tenang]]></category>
		<category><![CDATA[tersebut]]></category>
		<category><![CDATA[Thailand]]></category>
		<category><![CDATA[thiland]]></category>
		<category><![CDATA[tumbuh tumbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu saya, suami dan beberapa teman mencoba sauna jenis baru yaitu sauna tradisi Thailand di sebuah tempat meditasi. Sauna ini bukan sembarang sauna karena uapnya berasal dari tumbuh-tumbuhan dan akar-akaran resep Thailand yang sangat ampuh untuk mengobati berbagai penyakit. Di Thailand sendiri, tempat-tempat meditasi menyediakan juga sauna sejenis ini. Tujuannya untuk kesehatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-24" href="http://nathaliasunaidi.com/homeostatis-di-subconscious-mind-si-penghambat-kesuksesan-tanpa-batas/freedom11/"></a>Beberapa hari yang lalu saya, suami dan beberapa teman mencoba sauna jenis baru yaitu sauna tradisi Thailand di sebuah tempat meditasi. Sauna ini bukan sembarang sauna karena uapnya berasal dari tumbuh-tumbuhan dan akar-akaran resep Thailand yang sangat ampuh untuk mengobati berbagai penyakit. Di Thailand sendiri, tempat-tempat meditasi menyediakan juga sauna sejenis ini. Tujuannya untuk kesehatan dan melatih ketenangan pikiran saat bersauna. Nah, setelah bersauna biasanya baru dilanjutkan dengan bermeditasi. “Rasa hangat dan uap tumbuhan-tumbuhan membuat aliran darah dan oksigen lebih lancar. Jika badan lebih sehat, batin akan lebih tenang saat meditasi.”, begitu kata bhikkhu di tempat meditasi yang berasal dari Thiland.</p>
<p>Dengan percaya diri, saya bersalin dan bersiap-siap masuk sauna. Saya sudah sering sauna di tempat fitness. Jadi rasanya sudah terbiasa. Sedangkan dua teman saya ini seumur-umur belum pernah sauna jadi mereka sedikit takut.</p>
<p>Begitu saya membuka pintu sauna, terlihat asap di dalam ruangan tersebut dengan bau ramuan yang kental. Saya duduk dan&#8230; ampun deh&#8230; sauna yang ini kelas berat, pikir saya. Sauna di tempat fitness yang biasanya saya masuki tida ada seujung kukunya dibandingkan yang ini. Ruangannya panas sekali dan ramuannya menyengat. Teman saya yang baru masuk, langsung mau keluar lagi. Saya katakan, “Coba dulu. Duduk dulu.” Dia mulai duduk. Kami bertiga duduk dengan sangat tersiksa. Keringat mengucur sangat deras. Kami sangat meminimkan pergerakan tubuh. Karena semakin bergerak maka panasnya akan semakin terasa. Wuih, ini seperti direbus. Teman yang satu tidak tahan dan langsung keluar. Saya pun sudah tidak tahan dan ingin keluar. Tapi saya katakan di dalam pikiran, “Lima menit lagi. Bertahan dulu.” Setelah lima menit kami keluar. Ketika keluar, kepala terasa melayang. Jantung berdetak sangat cepat. Kami duduk terdiam menunggu detak jantung kembali normal.</p>
<p>Kemudian, seorang pengurus mengatakan “Masuk lagi. Satu kali belum sehat. Racun di tubuh belum keluar.” “Ha? Masuk lagi? Insane!” pikir saya dalam hati sambil bertatapan dengan teman-teman saya seolah mereka bisa membaca pikiran saya. Dengan lunglai kami bertiga masuk lagi. “Here we go!” teriak saya dalam hati. Penyiksaan dimulai lagi. Di kedua kali ini kami hanya bertahan lima menit. Lalu langsung keluar. Kepala kembali terasa melayang. Jantung berdetak cepat.</p>
<p>Setelah beristirahat sejenak. Ada di dalam bagian diri saya yang mengatakan untuk mencobanya sekali lagi. Saya mengajak salah seorang teman saya untuk masuk ke ruang sauna lagi. Anehnya, di momen ketiga ini, nafas kami sudah mulai panjang. Kami mulai beradaptasi. Rasa panas sudah tidak begitu terasa. Kami belajar bernafas panjang lewat hidung dan menghembuskan lewat mulut. Di dalam ruang sauna yang panas itu kami bisa duduk bermeditasi. Pikiran menjadi tenang. Ajaib, pikir saya. Bagaimana bisa berubah drastis? Tubuh dan pikiran seolah cepat sekali menyesuaikan diri. Dari yang sangat tersiksa karena terasa seperti direbus menjadi bisa duduk diam bermeditasi dengan tenang. Setelah sepuluh menit, kami putuskan untuk keluar karena di luar ada rombongan lain yang mengantri ingin mencoba. Setelah sauna, kami lanjutkan dengan duduk bermeditasi di ruangan meditasi yang terbuka. Pikiran menjadi cepat sekali tenangnya. Tarikan nafas menjadi lebih panjang dan sangat melegakan. Efektif juga sauna tersebut untuk melatih ketenangan, kata saya dalam hati.</p>
<p>Para pembaca, mengapa bisa di momen pertama kali saya masuk ke ruang sauna tradisi Thailand saya mengalami rasa tersiksa yang amat sangat? Yang membuat saya langsung ingin kabur dari situasi tersebut? Pernahkan Anda mengalami hal yang saya rasakan? Ketika melakukan sesuatu yang benar-benar baru dan asing, tubuh dan pikiran Anda melakukan penolakan yang amat dasyat?  Itu karena subconscious mind kita memiliki sifat homestatis, yaitu keengganan untuk berubah. Sifat itu yang membuat kita setiap kali melakukan hal yang baru, kita akan mengalami penolakan dari diri kita sendiri. Subconscious mind resists to change! Homeostatis inilah biang keladinya penghambat kesuksesan hidup kita. Dengan cara apa pun sifat ini menentang kita untuk berubah. Begitu sampai di zona nyaman maka perubahan adalah sesuatu yang sangat  dimusuhi oleh subconscious mind.</p>
<p>Milton Erickson sangat paham akan sifat homeostatis ini sebagai sifat subconscious mind yang menolak perubahan. Maka dia suka sekali memasukkan dirinya sendiri ke sebuah situasi yang mengharuskan dia melakukan action. Di suatu hari, Erickson sedang berjalan-jalan dan dia melihat sebuah pabrik. Dari luar terdengar suara pabrik tersebut sangat bising. Erickson adalah seseorang yang memiliki keingintahuan yang sangat besar. Dan dia suka sekali mempelajari komunikasi antar manusia. Dia berpikir, “Bagaimana pekerja-pekerja pabrik tersebut bisa berkomunikasi dalam suara bising tersebut? Saya juga mau mencobanya.” Lalu dia masuk ke pabrik tersebut. Di dalamnya agak gelap dengan suara bising yang amat sangat. Ada suara palu memukul-mukul besi dan suara mesin yang bergemuruh. Erickson meminta ijin kepada pimpinan pabrik untuk bisa menginap semalam di pabrik yang beroperasi 24 jam tersebut. Di malam harinya, Erickson tidak bisa tidur. Suara bising di pabrik tersebut terasa hampir membuatnya gila. Kemudian dia berpikir, “Andaikan saya bisa mengeluarkan suara ini dari kepala saya.” Kemudian, entah mengapa suara-suara tersebut seolah keluar dari kepalanya. Dan dia bisa tertidur dengan nyenyak. Di momen itu Erickson menemukan sebuah konsep tentang teknik yang sekarang banyak digunakan dalam NLP (Neuro Linguistic Programming). Teknik tersebut  menjadi dasar berbagai teknik NLP dalam melepaskan hambatan-hambatan mental dan menciptakan behaviour of excellence untuk kesuksesan tanpa batas.</p>
<p>Pembaca, Erickson paham sekali tentang sifat homeostatis subconscious mind. Subconscious mind enggan berubah jika tidak dipaksa. Karena itu dia memasukkan dirinya ke situasi bising di pabrik tersebut untuk mendesak subconsciousnya menemukan solusi dan action. Dan begitu kita take action, keajaiban terjadi. Subconscious mind sesungguhnya fast learner. Asalkan kita mau action, subconscious mind dengan sendirinya menemukan cara dan solusi dari situasi yang kita alami. Andaikan saat itu Erickson tidak memasukkan dirinya ke situasi mendesak di pabrik bising tersebut maka dia tidak menemukan teknik yang sekarang banyak digunakan untuk menciptakan behaviour of excellence dalam NLP. Banyak para graduates hypnotherapist saya yang tercengang ketika mereka bisa melakukan sesi hypnotherapy dengan sangat baik seolah sudah alami. “Padahal awalnya sangat takut dan enggan untuk mengikuti training karena takut tidak mampu. Namun, setelah dilakukan, ternyata saya baru menyadari bisa menyembuhkan orang menggunakan hypnotherapy dengan mudahnya.” komentar salah seorang graduate yang berhasil di sesi praktek. Ya, begitu kita putuskan untuk take action maka subconscious akan beradaptasi dan belajar dengan sangat cepat.</p>
<p>Sifat homeostatis inilah yang menjadi penghambat diri kita untuk mau take action. Kita selalu dipermainkan oleh homeostatis subconscious mind. Dia selalu menghambat kita untuk berubah. Pikiran kita akan membuat banyak skenario dan rasa sakit supaya kita tidak melakukan perubahan. Saat pertama kali fitness, tubuh akan ngilu-ngilu yang bisa membuat kita kapok melakukan lagi. Saat awal-awal berhenti merokok, mulut terasa asam dan pikiran gelisah. Mau mulai usaha baru, jantung berdetak cepat, keringat dingin dan pikiran diliputi rasa takut. Pindah ke rumah baru, jadi sulit tidur di malam hari. Makan makanan baru membuat perut mules dan lain-lain. Semua itu reaksi-reaksi penolakan sifat homeostatis subconscious mind yang tidak mau berubah. Jika hal itu diikuti terus-menerus maka diri kita sendirilah yang menghentikan potensi kesuksesan kita yang tanpa batas.</p>
<p>Lalu bagaimana untuk bisa mengalahkan sifat homestatis subconscious mind ini? Sederhana, yang perlu Anda lakukan adalah TAKE ACTION. Take action tidak cukup hanya sekali. Lakukanlah minimum tiga kali baru subconscious mind mulai beradaptasi. Dan begitu sudah beradaptasi, miracle akan terjadi. Seperti pengalaman saya di sauna, di momen pertama mencoba seluruh tubuh dan pikiran saya menolak. Namun, di momen ketiga, seperti ajaib seluruh sistem tubuh sudah bisa beradaptasi dengan cepat. Setelah take action, BERTAHANLAH sampai terbiasa. Katakan kepada diri Anda sendiri untuk mau bertahan sebentar lagi, jangan menyerah dulu. Anda akan terkesima betapa subconscious mind memiliki potensi tanpa batas jika kita mau bertahan sebentar lagi. Begitu subconscious mind mulai mahir dan terbiasa maka dia akan mulai dirambati kembali sifat homeostatis. Action kita akan menciptakan zona nyaman yang baru. Dan jika kita tidak belajar hal baru lagi maka homeostatis akan mematikan potensi kita lagi. Karena itu kita perlu terus belajar dan take action untuk hal-hal baru yang positif maka kita akan menemukan betapa subconscious mind merupakan sahabat terbaik meraih kesuksesan tanpa batas. Salam perubahan dan selamat berubah ke arah yang lebih baik setiap saatnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/homeostatis-di-subconscious-mind-si-penghambat-kesuksesan-tanpa-batas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Learned Helplessness Penyakit Mental Orang yang Gagal</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/learned-helplessness-penyakit-mental-orang-yang-gagal/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/learned-helplessness-penyakit-mental-orang-yang-gagal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 06:03:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[american psychiatric association]]></category>
		<category><![CDATA[Anda]]></category>
		<category><![CDATA[banyak orang]]></category>
		<category><![CDATA[bapak]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dsm iv]]></category>
		<category><![CDATA[Gagal]]></category>
		<category><![CDATA[hypnotherapist]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[juga]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[kian]]></category>
		<category><![CDATA[konvensi]]></category>
		<category><![CDATA[kredit bank]]></category>
		<category><![CDATA[learned helplessness]]></category>
		<category><![CDATA[lesu]]></category>
		<category><![CDATA[mana mana]]></category>
		<category><![CDATA[notabene]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[phk]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog]]></category>
		<category><![CDATA[richard harte]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[santai]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sekaligus]]></category>
		<category><![CDATA[seluruh dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Tapi]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yakin]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak tahu apakah Anda pernah mendengar penyakit mental ini – “learned helplessness” – sebelumnya? Tapi yang saya tahu penyakit mental ini sedang menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Lanjutkan membaca artikel ini untuk mencari tahu apakah Anda juga sedang terjangkiti “learned helplessness” dan bagaimana mencegahnya.
 
Kemarin – di hari keempat saya ikut konvensi hypnotherapist dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya tidak tahu apakah Anda pernah mendengar penyakit mental ini – “learned helplessness” – sebelumnya? Tapi yang saya tahu penyakit mental ini sedang menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Lanjutkan membaca artikel ini untuk mencari tahu apakah Anda juga sedang terjangkiti “learned helplessness” dan bagaimana mencegahnya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Kemarin – di hari keempat saya ikut konvensi hypnotherapist dunia di Marlborough, USA – instruktur saya, Dr. Richard Harte – seorang psikolog sekaligus hypnotherapist – membahas sebentar tentang “learned helplessness” di kelas. Dia mengatakan “learned helplessness” dinyatakan sebagai salah satu penyakit mental terbesar yang diidap masyarakat Amerika saat ini. “Learned helplessness” merupakan salah satu penyakit mental yang terdaftar dalam DSM-IV (Diagnostic and Statistic Manual) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya yakin Anda telah mengetahui Amerika tengah krisis. Hampir sebagian besar warganya mengalami depresi karena ekonomi yang tengah merosot tajam. PHK terjadi di mana-mana.  Banyak orang kehilangan rumah karena tidak bisa lagi membayar pinjaman kredit bank. Mereka mengencangkan ikat pinggang dengan tidak mau membelanjakan uangnya yang notabene menjadi penyebab perekonomian kian lesu. Semua orang sepanjang waktu mengeluhkan tentang gaji yang sangat minimum namun tetap menjalankan pekerjaannya malah bersyukur karena tidak di-PHK. Mereka tetap bertahan di dalam “pain” yang sedang mereka alami. “Inescapable” membuat mereka merasakan “helpless”. Inilah “learned helplessness” yang tengah dialami masyarakat Amerika.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Pembaca, saya tidak tahu apakah Anda memperhatikan kondisi pesimis ini. Yang saya temukan, hampir setiap orang di Amerika yang saya temui membicarakan keadaan ekonomi yang kian lesu. Seorang bapak berusia hampir lima puluh tahun yang kebetulan bersama saya saat makan siang memulai obrolan santai kami dengan membicarakan kondisi politik Amerika dan merembet ke keluhan kesulitan ekonomi yang sedang dialami sebagian besar masyarakat Amerika – atau lebih tepatnya kesulitan ekonomi yang sedang dialaminya. Menanggapi keluhannya, seorang kawan yang juga memiliki bidang bisnis yang sama dengan bapak itu mensharingkan keberhasilan strategi barunya kepada kami. Saya tahu dia sedang melemparkan solusi keberhasilannya kepada bapak itu. Sayang sekali, si bapak menanggapinya dengan berbagai alasan mengapa dia tidak bisa menjalankan strategi itu. Bapak itu sedang merasa “unescapable”. Dia tengah mengalami “learned helplessness”. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Beberapa hari sebelumnya – ketika saya di dalam pesawat menuju Boston – saya ngobrol dengan teman sebangku saya, pria Amerika berusia hampir enam puluh tahun. Dia memulai obrolan kami dengan hal yang sama – betapa kondisi negara itu sedang krisis dan sulit. Lucunya, di tengah obrolan kami, terdengar suara dari perutnya. Dia langsung berkomentar, “Walaupun saya lapar, saya tidak mau membeli makanan di dalam pesawat. Di luar saya bisa hemat lima dollar untuk makanan yang sama.” Saat itu, di internal diri saya, bercampur antara lucu dan kasihan. Dia mau mengorbankan kesehatan perutnya untuk menghemat lima dollar. Saya jadi bertanya-tanya apakah kondisi negaranya begitu buruk atau ada sesuatu yang terjadi di dalam pola pikir masyarakat Amerika? Saya tahu sebagian orang menikmati perbincangan yang membahas tentang keluhan dan alasan kesulitan hidup yang sedang mereka alami. Saya yakin Anda pun menyadari hal itu. Tapi bagi saya sayang sekali waktu berjam-jam dihabiskan hanya untuk memvalidasi dan memperkuat sugesti yang berupa keluhan-keluhan negatif ke alam bawah sadar kita. Jadi saya ingin mengubah arah pembicaraan kami. “Don&#8217;t you have any other alternatives to overcome this bad situation?” Saya yakin Anda tahu saya sedang mengubah arah pembicaraan kami ke hal yang lebih solutif. Sayangnya, penyakit “learned helplessness” juga tengah menjalarinya. Dia menjawab pertanyaan saya dengan berbagai keluhan negatif lainnya. Tidak ada seorang pun yang sempurna, saya paham pepatah itu dan menyadari bapak itu dan saya pun tidak sempurna. Tapi rasanya habis juga energi saya mendengarkan berbagai keluhan negatif si bapak. Jadi saya hentikan obrolan kami yang memiliki energi negatif itu. “That&#8217;s it” kata saya di dalam hati dan saya pasang earphone di telinga saya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya tidak tahu dan juga bertanya-tanya – apakah saya sedang sial atau memang hampir semua masyarakat di negara paman Sam ini lagi terus mengeluh? Saya suka sekali bersosialisasi. Sangat penting bagi saya untuk terus belajar berkomunikasi dengan berbagai tipe orang. Jadi saya sering ngobrol dengan orang-orang yang saya temui – di mall, lagi menunggu kereta, di toilet, di jalan, dll. Dan hampir setiap orang yang saya temui membuka obrolan dengan keluhan hidupnya dan kondisi sulit Amerika saat ini. Saya tidak tahu, mungkin saya yang sedang sial bertemu orang-orang yang mengeluh.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya pikir penyakit “learned helpnessness” yang membuat orang-orang menjadi lumpuh secara mental dan tidak bisa bangkit dari keterpurukan ini hanya terjangkit di Amerika. Namun, kenyataannya hampir seluruh dunia sedang mengalami penyakit mental ini. Siang tadi, teman training saya – suami istri dari Jepang – bercerita  setiap harinya di Jepang pasti ada kereta yang berhenti di tengah rel karena ada warga Jepang yang bunuh diri dengan melompat ke arah kereta. “Karena itu hypnotherapy sangat bisa membantu orang-orang Jepang. Negara kami sedang depresi. Kami menggunakan hypnotherapy ini sebagai wujud dedikasi kami untuk membantu menyelamatkan kehidupan.” mereka menceritakan motivasi mereka menjadi hypnotherapist kepada saya. Walah, “learned helpnessness” juga sedang terjangkit di Jepang! Malah dalam stadium mematikan nyawa.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya tahu jika Anda membaca berita di koran atau menonton televisi, Anda akan dibombardir berita-berita yang melaporkan kondisi ekonomi dunia yang sedang krisis. Ya, hampir di seluruh dunia sedang mengalami krisis ekonomi. Anda sebutkan saja nama beberapa negara maka hampir sebagian besarnya juga dalam krisis. Di kelas training NLP yang saya adakan, ada seorang psikolog yang berasal dari Abu Dhabi mengikuti training saya. Di sela-sela pengajaran, saya mengobrol dengan ibu psikolog itu. Obrolan kami melebar ke kondisi ekonomi di Abu Dhabi. Ya, saya tahu Anda sudah bisa menebak cerita ibu itu, Abu Dhabi juga juga sedang mengalami krisis ekonomi. Di tempat penghasil minyak itu pun tidak luput dari krisis. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seiring membaca tulisan ini, saya tahu Anda mulai bertanya-tanya tentang apa itu “learned helplessness”. Saya akan menjelaskannya dengan menceritakan kisah ditemukannya “learned helplessness” sehingga Anda bisa menikmatinya dan sekaligus memahaminya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Apa itu “learned helpnessness”?</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Martin Seligman – seorang psikolog dari Amerika – menemukan penyakit “learned helplessness” berdasarkan eksperimennya di tahun 1967. Eksperimen ini sangat menarik. Seligman melakukan eksperimen kepada tiga grup anjing yang diikat selama beberapa waktu dan kemudian dilepas. Grup anjing pertama hanya diikat dan kemudian dilepaskan. Grup kedua secara sengaja disakiti dengan diberikan besi di tubuhnya lalu disetrum. Tapi anjing-anjing itu bisa menghentikan setruman dengan menekan pengungkit. Nah, kepada grup ketiga dilakukan penyetruman yang sama tapi pengungkitnya tidak bisa menghentikan setruman itu. Grup ketiga bergantung kepada grup kedua untuk menghentikan aliran setrum itu sehingga seolah setruman itu akan berakhir secara acak. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Setruman dilakukan secara konsisten kepada grup kedua dan ketiga. Selang beberapa lama, hal ini ini membuat grup anjing ketiga menjadi shock dan merasa “inescapeable”. Grup ketiga belajar menjadi helpless dan masuk depresi. Sedangkan grup pertama dan kedua dengan cepat pulih dari pengalaman buruk itu.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Setelah beberapa saat diikat, para anjing itu mulai dilepas. Cara melepasnya pun menarik, semua anjing ditaruh di kotak yang ada sengatan listriknya. Tapi dengan sangat mudah anjing tersebut bisa keluar dari kotak tersebut karena partisinya sangat rendah. Di saat bersamaan, sengatan listrik dinyalakan. Semua anjing kesakitan. Anjing-anjing yang berasal dari grup pertama dan kedua dengan sangat mudah melompat keluar dari kotak yang ada sengatan listriknya. Uniknya, hampir semua anjing dari grup ketiga – yang sebelumnya disetrum tanpa bisa ada daya untuk menghentikan setruman – hanya berbaring dengan pasrah dan mengeluh, hanya bisa melolong panjang. Anjing-anjing tersebut semestinya dengan sangat mudah keluar dari kotak tersebut. Tapi mereka memilih untuk tidak melakukannya. Saya tidak tahu apa pendapat Anda tentang ini, tapi bagi saya sangat aneh dan mencengangkan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Dari eksperimennya, Seligman menyimpulkan anjing-anjing dari grup ketiga mempelajari behaviour tertentu akibat kekerasan pengalaman buruk yang dialaminya – saat disetrum tanpa ada kuasa untuk menghentikannya. Pengalaman buruk itu – entah bagaimana caranya – mengubah behaviour alami mereka untuk bisa survive dalam hidupnya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Kemudian, di akhir tahun 1960, Seligman menyampaikan dari 150 anjing yang berada di grup ketiga – sepertiganya tidak menjadi “helpless”. Mereka bisa keluar dari kotak yang ada sengatan listriknya. Dia menyimpulkan anjing-anjing yang tidak memiliki penyakit “learned helplessness” akibat pengalaman buruknya bisa survive dan keluar dari situasi yang menyakitkan itu. Behaviour positif itu dikorelasikan oleh Seligman sebagai sikap optimisme di dalam diri manusia.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">“Learned helplessness” didefinisikan sebagai kondisi manusia atau binatang yang belajar untuk bereaksi tidak berdaya walaupun dihadapannya terdapat kesempatan. Itu terjadi karena manusia atau binatang tersebut menghindari rasa sakit karena pernah mengalami pengalaman buruk yang serupa sebelumnya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>“Learned helplessness” di Indonesia</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Setelah memahami bagaimana “learned helplessness” didefinisikan maka – saya tidak tahu dengan Anda – tapi saya bisa mulai melihat gejala penyakit ini dialami juga oleh banyak orang di sekitar saya. Penyakit mental ini juga sudah mewabah di negara kita tercinta, Indonesia.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Entah apakah Anda juga menemukannya dalam hidup Anda, tapi saya sebagai hypnotherapist hampir setiap hari berhubungan dengan klien-klien yang di antaranya telah terjangkit penyakit “learned helplessness” yang bisa mematikan. Seorang anak ABG datang ke sesi hypnotherapy dan mengatakan kepada saya dia sudah dua kali bunuh diri tapi diselamatkan oleh orang tuanya. Sudah beberapa bulan dia depresi akibat pacarnya yang telah menidurinya memutuskan hubungan pacaran yang telah mereka jalin selama dua tahun. “Saya merasa telah hancur. Tidak ada jalan keluar. Lebih baik mati.” katanya. Dia telah terjangkit penyakit “learned helplessness” stadium mematikan akibat pengalaman cinta yang menyakitkan. Seorang ibu berwajah kuyu datang ke saya. Jika Anda menjadi saya, saya yakin Anda pun bisa mengetahui ibu itu habis menangis karena matanya sangat bengkak. “Tahun lalu saya pernah menenggak satu botol obat tapi tidak mati. Teman saya menemukan saya dan membawa saya ke rumah sakit. Suami saya menikah lagi dengan kolega bisnisnya. Dan anak saya menyalahkan saya karena itu.” tangis si ibu. Seorang pramugara – yang baru saja di-PHK memilih untuk meninggalkan istri dan anak-anaknya karena malu tidak bisa memberi nafkah – datang ke sesi hypnotherapy untuk melepaskan kekecewaannya yang mendalam dan mencari solusi dari alam bawah sadarnya. “Saya tidak bisa keluar dari situasi ini. Saya merasa lumpuh dan tidak berdaya.” keluhnya ke saya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Kisah nyata di atas hanyalah sebagian kecil dari kisah ribuan klien hypnotherapy yang sudah saya tangani dalam lima tahun ini. Dan hampir sebagian besarnya diawali dari kondisi “learned helplessness”. Dan jika Anda mau memperhatikan kehidupan Anda dan sekitar, menurut Anda apakah “learned helplessness” juga sedang dialami masyarakat Indonesia? Entah apakah Anda juga melihatnya, tapi saya menyadari betapa sekarang orang-orang dengan mudahnya merasakan ketidakberdayaan karena pengalaman pahit hidup yang yang telah mereka alami. Bahkan saat Anda sedang membaca tulisan ini sekarang, Anda bisa mulai teringat orang-orang, teman atau keluarga yang sedang berada dalam kesulitan hidup tapi tidak berdaya untuk mencari jalan keluar untuk kehidupan yang lebih baik. Sayang sekali&#8230; Saya yakin Anda juga mulai bertanya-tanya apakah saya dan juga Anda sedang terjangkiti penyakit mental ini juga? Saya tahu pertanyaan itu membuat Anda merasakan rasa terdesak untuk mempelajari “learned helplessness” lebih lanjut supaya bisa melakukan pencegahannya sekarang.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Apa yang membuat seseorang bisa terjangkit penyakit mental “learned helplessness”?</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Orang-orang yang mengalami “learned helplessness” adalah orang-orang yang tengah mengalami berbagai hambatan dan kesulitan dalam hidup tapi tidak memiliki solusi untuk keluar dari situasi tersebut. Ini membuat mereka menjadi orang yang gagal menghadapi rintangan hidup menuju kesuksesan. Ada hal yang membuat saya bertanya dalam hal ini, mengapa ada kisah-kisah sukses orang-orang yang bisa mengatasi keterpurukan dan meraih kemenangan? Namun, mengapa ada orang-orang yang gagal dan sungguh tidak berdaya untuk “survive” dalam kehidupannya? Padahal kita semua hidup di dunia yang sama. Di sebuah dunia yang didalamnya terdapat berbagai rintangan dan kesulitan. Memang begitulah sifat dunia ini apa adanya. Dunia menghadirkan berbagai kesulitan untuk kita lewati seperti ujian di sekolah supaya kita naik kelas.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Ternyata, dalam risetnya, Seligman menemukan ada beberapa kesamaan cara pandang terhadap pengalaman masa lalu orang-orang yang mengalami “learned helplessness”. Dia menyebutnya tiga komponen utama cara pandang seseorang. Sangat penting untuk Anda mengetahui hal ini untuk bisa menghindarinya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Permanence</strong><br />
Pernahkah Anda mengalami kegagalan dan menganggap Anda juga akan gagal di bidang-bidang lainnya? Sehingga Anda takut dan enggan untuk berusaha lagi. Jika demikian maka Anda terkena belief negatif yang bernama permanence. Saya jadi teringat sebuah cerita tentang katak yang terkena belief keliru yang bernama permanence. Seekor katak ditaruh di sebuah toples yang bertutup. Si katak ingin sekali keluar dari toples itu. Oleh karena itu dia melompat tinggi-tinggi dengan harapan bisa keluar. Namun, setiap kali melompat kepalanya terbentur tutup toples. “Auw!” begitulah teriakan sakitnya jika dia bisa berteriak. Dia berusaha beberapa kali namun terbentur terus. Akhirnya sepanjang saat dia berdiam diri, tidak pernah mencoba lagi. Dia habiskan hidupnya tanpa pernah melompat lagi dan meninggal di toples itu. Padahal selang beberapa hari setelah lompatan terakhirnya tutup toples itu dibuka oleh seseorang. Andaikan si katak mencoba sekali lagi saja, dia pasti sudah melompat keluar. Tapi dia tidak pernah berusaha lagi seumur hidupnya. Dia terkena “learned helplessness”.<br />
Permanence merupakan belief yang salah yang menganggap kejadian masa lalu adalah permanen atau tidak bisa berubah. Walaupun sebenarnya tidak ada yang abadi namun orang-orang yang terkena belief salah ini menganggap semuanya permanen. Karena belief salah ini orang tersebut cenderung berhenti berusaha karena merasa tidak ada gunanya. Jika cara pandang ini berlanjut maka dia akan berakhir menjadi “learned helplessness”.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Personalization</strong><br />
Dalam training perusahaan yang saya lakukan beberapa waktu lalu, saya bertanya kepada para peserta, “Siapa yang paling sering menghujat diri kita?” Jawaban mereka bervariasi. Ada yang bilang orang tua, suami/istri atau musuh. Anda pun bisa menjawab pertanyaan di atas dengan berbagai jawaban lainnya, namun yang paling sering menghujat diri kita adalah diri kita sendiri. Aneh tapi itulah kenyataannya. Pernahkah Anda mengamati kata-kata apa yang Anda katakan kepada diri Anda ketika Anda tidak lancar bicara di rapat, menumpahkan air di depan klien penting, gagal presentasi dan berbagai momen memalukan lainnya? Kata yang paling sering digunakan adalah “Saya bego” disusul dengan “Saya selalu gagal” disertai berbagai makian kepada diri sendiri. Jika saat membaca ini Anda merasakan cerita saya seperti menggambarkan diri Anda maka ini pertanda untuk Anda mulai mengubah kata-kata Anda kepada diri sendiri menjadi lebih suportif.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Memang penting untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang kita lakukan. Namun orang dengan “learned helplessness” selalu menyalahkan dirinya sendiri untuk segalanya. Ini mengindikasikan rasa rendah diri dan depresi. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Pervasiveness</strong><br />
Cara pandang ketiga yang bisa mengantarkan seseorang ke “learned helplessness” adalah pervasiveness, yaitu kecenderungan untuk men-generalisasi sebuah hal negatif ke keseluruhan hal dalam kehidupan. Contohnya, “Usaha saya sebelumnya gagal maka saya orang yang selalu sial”, “Tidak ada yang menyayangi saya karena saya tidak diundang ke pesta Tessa”, “Anak saya gagal di ujian matematika maka saya orang tua yang gagal”, dll. Tidak ada kegagalan dalam hidup ini, yang ada hanyalah feedback. Namun orang dengan learned helplessness cenderung menghubung-hubungkan kejadian kecil menjadi sebuah kegagalan di keseluruhan hidupnya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Dengan mengetahui ketiga komponen di atas berarti Anda mulai menyadari bahwa tidak ada yang abadi. Segala sesuatu terus berubah termasuk keadaan hidup Anda. Ini membuat Anda mau terus berusaha karena bisa jadi penutup toples Anda sudah terangkat sekarang. Anda pun mulai memahami tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Dan tidak seorang pun semestinya menghakimi orang lain termasuk Anda kepada diri Anda sendiri. Saya dapat merasakan Anda mulai mengubah kata-kata Anda menjadi lebih mendukung dan positif kepada diri Anda sendiri. Anda tidak lagi memandang ketidakberhasilan dalam hidup Anda sebagai noda hitam namun sebagai pembelajaran kehidupan menuju keberhasilan. Dan dengan Anda menghindari ketiga cara pandang di atas maka Anda sedang menjauh dari terkena “learned helplessness” penyakit mental orang yang gagal.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Tips untuk terhindar dari penyakit mental “learned helplessness”:</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Terus berusaha. Jangan berhenti!</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong> </strong><br />
Yang lalu telah berlalu. Hari ini dan esok adalah hari yang baru. Anda bisa memilih berdiam diri dan meratapi nasib masa lalu atau Anda bisa bangkit dan berusaha lagi. Semuanya itu pilihan Anda. Anda tidak perlu memutuskannya sekarang. Namun, setelah Anda mengetahui bahwa tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini termasuk kegagalan Anda pun tidak abadi, Anda mulai memikirkan untuk action lagi sekarang menuju kesuksesan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Belajar.</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong> </strong><br />
Anda bisa saja mengikuti ujian SMU dengan ilmu pengetahuan SD namun besar kemungkinannya Anda akan gagal di ujian tersebut. Kalimat ini berkesan sederhana namun banyak sekali orang-orang yang menghadapi tantangan baru dalam kehidupannya dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang sudah <em>jadul</em> (jaman dulu). Dan ketika terus-menerus gagal, orang-orang itu akan meratapi nasib, menyalahkan yang lain dan trauma untuk mencoba. Cara terbaik menghadapi “learned helplessness” adalah dengan terus belajar. Bodoh jika mencoba mendaki gunung memakai benang jahit lalu terus-menerus mengulanginya walaupun gagal. Cara yang terbaik adalah menemukan metode mendaki gunung yang efektif dengan belajar dari yang ahli yang telah sampai di puncak gunung. Walaupun asosiasi di atas terkesan lucu namun banyak orang terus-menerus berambisi untuk mencapai kesuksesan dengan menggunakan cara-cara yang tidak efektif. Mereka tidak belajar dari ahlinya. Bahkan mereka berhenti belajar. Jaman berubah maka strategi menghadapi kesulitan di jaman ini pun perlu Anda ubah. Isi alam bawah sadar dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan/skill. Ibarat seorang petarung yang memperlengkapi dirinya dengan berbagai senjata cadangan untuk menghadapi pertarungan kehidupan. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>State of excellence.</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Anti dari “learned helplessness” adalah “learned optimism”. Untuk bisa selalu berada di kondisi optimis, Anda perlu menguasai mood Anda. Sekarang sudah bukan jamannya lagi bekerja mengikuti mood. Jika mood sedang baik maka Anda baru bisa berproduktivitas. Sebaliknya, jika mood sedang buruk maka produktivitas Anda nol. Anda bisa memilih untuk menghadapi rintangan kesuksesan berdasarkan mood atau Anda bisa sepanjang waktu menciptakan state of excellence (kondisi luar biasa). Ada berbagai cara untuk menciptakan state of excellence, diantaranya adalah hypnotherapy dan NLP, dua bidang yang saya kuasai dan saya ajarkan ke orang-orang yang membutuhkannya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Kumpulkan wisdom.</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Apakah Anda pernah bermain game petualangan di playstation atau komputer? Seorang petualang dalam game itu akan mengumpulkan poin atau permata jika telah melewati suatu rintangan. Semakin banyak atau poin yang dikumpulkan, si petualang akan menjadi semakin kuat dan nyawanya bertambah untuk modal menghadapi level berikutnya. Dengan memahami arti di balik game itu, Anda jadi bisa menemukan kemiripannya dengan kehidupan ini. Hidup adalah sebuah perjalanan mengumpulkan poin wisdom. Wisdom ibarat lentera penerang dan penguat dalam kehidupan ini. Jika suatu saat kita terjebak masuk ke dalam goa gelap, kita tetap memiliki cahaya dan kekuatan untuk meneruskan perjalanan kita. Dan wisdom bisa kita kumpulkan dari pengalaman kesuksesan kita atau pengalaman kegagalan hidup. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Lakukan terapi.</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Jika Anda telah melakukan berbagai pencegahan tapi gejala “learned helplessness” masih berlanjut maka cara yang terbaik adalah datang ke terapi. Metode terapi yang saya gunakan kepada para klien saya adalah hypnotherapy dan terapi NLP karena hypnotherapy dan NLP sangat efektif untuk mengubah cara pandang seseorang terhadap pengalaman masa lalu dan kehidupan. Maka Anda pun bisa mengatasi gejala “learned helplessness” dengan mendatangi hypnotherapist atau ahli terapi lainnya yang Anda percayai. Selamat mencoba!</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Dimuat di majalah LUAR BIASA! edisi Oktober 2009</p>
<div><span style="font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/learned-helplessness-penyakit-mental-orang-yang-gagal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
