<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nathalia Sunaidi &#62;&#62; Hipnotis &#38; Hipnoterapis &#187; ORANG</title>
	<atom:link href="http://nathaliasunaidi.com/tag/ORANG/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nathaliasunaidi.com</link>
	<description>Hipnosis&#124;Hipnoterapi&#124;NLP&#124;EFT</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Buku Journey to My Past Lives</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/buku-journey-to-my-past-lives/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/buku-journey-to-my-past-lives/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 06:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Product]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Andy]]></category>
		<category><![CDATA[Andy F. Noya]]></category>
		<category><![CDATA[atau]]></category>
		<category><![CDATA[Banyak]]></category>
		<category><![CDATA[banyak orang]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[biku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Colorado]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dapat]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[Harta Karun]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[jati diri]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[kalifornia]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[kuat]]></category>
		<category><![CDATA[kulit]]></category>
		<category><![CDATA[laki laki]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu]]></category>
		<category><![CDATA[life regression]]></category>
		<category><![CDATA[Nathalia]]></category>
		<category><![CDATA[Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[nelayan]]></category>
		<category><![CDATA[ORANG]]></category>
		<category><![CDATA[percaya]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan]]></category>
		<category><![CDATA[putri]]></category>
		<category><![CDATA[RAFAEL
Apakah]]></category>
		<category><![CDATA[Rafael
Hypnotherapist]]></category>
		<category><![CDATA[romy rafael]]></category>
		<category><![CDATA[seluruh dunia]]></category>
		<category><![CDATA[siapa]]></category>
		<category><![CDATA[sungguh]]></category>
		<category><![CDATA[tekun]]></category>
		<category><![CDATA[Thailand]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Sadarkah Anda, kehidupan lalu menyimpan harta karun yang tak ternilai? Dengan metode hipnoterapi Anda dapat melakukan perjalanan spiritual dan menyelami misteri reinkarnasi (kehidupan lalu) Anda. Buku ini menyuguhkan kisah-kisah fantastis sebagai hasil perjalanan reinkarnasi penulisnya. Buku ini akan membantu Anda menyelami kehidupan lalu serta menemukan jati diri Anda. Inilah buku yang selama ini Anda cari-cari. Pasti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Sadarkah Anda, kehidupan lalu menyimpan harta karun yang tak ternilai? Dengan metode hipnoterapi Anda dapat melakukan perjalanan spiritual dan menyelami misteri reinkarnasi (kehidupan lalu) Anda. Buku ini menyuguhkan kisah-kisah fantastis sebagai hasil perjalanan reinkarnasi penulisnya. Buku ini akan membantu Anda menyelami kehidupan lalu serta menemukan jati diri Anda. Inilah buku yang selama ini Anda cari-cari. <strong>Pasti memikat Anda!</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>RINGKASAN ISI BUKU</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Journey to My Past Lives adalah buku yang berisi 12 kisah hasil penelusuran kehidupan lalu Nathalia Sunaidi, seorang hipnoterapis muda berbakat, dengan menggunakan metode hipnoterapi. Dalam penelusuran tersebut, akhirnya ia mengetahui bahwa dirinya pernah hidup sebagai biku Jing Un, nelayan di Thailand, jadi budak kulit hitam di Kalifornia, laki-laki Indian, sebagai putri orang Belanda, pernah hidup<br />
di Colorado, dll.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Yang paling menarik, ternyata kehidupan lalu tersebut mempunyai kaitan (koneksi) yang kuat dengan kehidupan Nathalia yang sekarang. Dari penulusuran itulah, ia mendapat pemahaman akan hukum sebab akibat, serta mendapatkan banyak pelajaran berharga yang bisa meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan merevolusi pikirannya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Nah, buku ini hendak mengajak orang untuk mengenali kehidupan lalu mereka, dan mengambil pelajaran dari dalamnya. Dengan bantuan seorang hipnoterapis, atau tekun berlatih sendiri dengan bimbingan buku ini, siapa saja bisa masuk ke kehidupan lalu yang sungguh menakjubkan.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>PENGANTAR ROMY RAFAEL</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Apakah itu Past Life Regression?</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Apakah Anda percaya dengan reinkarnasi?</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Apakah Anda percaya jika Anda adalah orang lain?</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Apakah Anda dulunya memiliki kehidupan sebelum kehidupan ini?</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Dari beberapa pertanyaan di atas, pertanyaan yang paling penting sesungguhnya adalah, bagaimana Past Life Regression (PLR) dapat membantu Anda?</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Reinkarnasi adalah kepercayaan yang banyak dipercayai dan dialami oleh banyak orang di seluruh dunia. Dan, semua kepercayaan tersebut memiliki dampak yang positif, yang dapat dimanfaatkan untuk<br />
proses penyembuhan di dalam suatu terapi.</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Banyak sekali orang mencari jalan dan cara untuk mengetahui siapa, apa, dan bagaimana kehidupan mereka sebelum kehidupan yang sekarang. Nah, sedikit banyak buku ini akan mencoba menjawab tentang<br />
pertanyaan kompleks di atas.</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Dan, sebagian besar dari Anda mungkin tidak akan percaya dengan Past Life Regression. Tapi, sebagian orang juga percaya bahwa jikalau kita meninggal, maka jiwa kita akan berlanjut menempati tubuh yang berbeda.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Dalam budaya berbagai bangsa di belahan dunia ini, banyak sekali diceritakan tentang kehidupan lalu dalam mitologi-mitologi mereka. Makanya tercipta suatu ide dan konsep, bahwa setelah kematian ada sesuatu yang indah, yaitu jiwa kita akan terus hidup di alam kehidupan lainnya sebagai orang yang berbeda.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Itu artinya, setelah kita meninggal, jiwa kita tetap berlanjut menempati tubuh yang berbeda-beda. Sampai akhirnya nanti, tubuh atau wadah biologis yang ditempati tersebut menjadi tua dan sudah tidak layak lagi untuk ditempati.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Jika hal ini terjadi, maka jiwa yang ada di dalamnya akan meninggalkan tubuh tersebut untuk kembali lagi menempati tubuh baru yang berbeda. Dan, siklus ini terus terjadi sampai akhir zaman. Menurut mitologi yang ada, hal ini terjadi agar jiwa yang ada di dalamnya dapat terus belajar dan berkembang dalam setiap kehidupan baru yang dialaminya. Hal ini terjadi untuk satu tujuan, yaitu memperoleh jiwa yang lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Mungkin, Anda membaca buku ini karena Anda atau orang yang Anda kenal percaya terhadap kehidupan sebelum kehidupan yang sekarang. Saat ini, ada cara yang unik untuk mengetahui kehidupan lalu Anda. Percaya atau tidaknya Anda terhadap kehidupan lalu ini, saya sarankan supaya Anda membuka pikiran terlebih dahulu, dan kemudian mengeksplorasi buku Nathalia Sunaidi ini dengan pikiran terbuka.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Romy Rafael</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Hypnotherapist</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>www.romyrafael.com</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>PUJIAN UNTUK BUKU INI</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Buku ini cenderung kontroversial. Tidak semua pihak—bahkan mungkin<br />
tidak banyak—orang yang bisa memahami, apalagi menerima jalan pikiran<br />
Nathalia. Namun, buku ini mampu menggoda pikiran kita untuk mencari<br />
jawaban atas pertanyaan: siapakah aku ini?”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Andy F. Noya</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Pemimpin Redaksi Metro TV dan Host Kick Andy</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Petualangan ke dunia masa lampau memang bukan sesuatu yang gampang<br />
dimengerti atau dijalani oleh setiap manusia. Tetapi, hal itu bukan<br />
berarti sesuatu yang tidak ada atau tidak bisa dilakukan. Mengetahui<br />
masa lalu untuk kebaikan adalah baik adanya. Tetapi, jauh lebih penting<br />
bila pengetahuan masa lalu itu bisa menjadi landasan untuk berjuang<br />
meraih keberhasilan di masa depan. Dibutuhkan kejernihan hati dalam<br />
menyimak buku <em>Journey to My Past Lives </em>ini agar dapat memperoleh pengetahuan dan manfaat yang positif dari petualangan masa lampau Nathalia yang luar biasa ini.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Andrie Wongso</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Motivator dan Penulis Buku-buku Bestseller</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Jendela-jendela yang sesekali dapat membuka, baik dari kehidupan<br />
lampau maupun masa datang, patut dimaknai sebagai elemen yang<br />
memperkaya kehidupan spiritualitas kita hari ini. Tidak terpaku dan<br />
terikat padanya, melainkan belajar melaluinya. Eksplorasi Nathalia<br />
merupakan bukti bahwa waktu sesungguhnya sirkular. Dan, linearitas<br />
merupakan ilusi yang memungkinkan permainan bernama Hidup ini berlaku.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Dewi Lestari</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Penulis Serial “Supernova”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Aku menemukan sesuatu yang membuat aku takjub. Memasuki masa lalu<br />
dapat menjadi sebuah perjalanan spiritual yang mengagumkan dan penuh<br />
makna. Sebuah perjalanan yang menguatkan mental dan merevolusi pikirian<br />
ke arah yang lebih baik.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Ade Tri Marganingsih</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Redaktur Pelaksana MATABACA</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Buku istimewa dan berharga yang dapat meningkatkan level kesadaran kita menuju pencerahan spiritual.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Adi W. Gunawan</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>The Re-Educator &amp; Mind Navigator dan Penulis Bestseller</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>“Hypnosis: The Art of Subconscious Communication”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“<em>Self discovery</em>! Sering kali pandangan kita mengenai diri<br />
sendiri sangat berbeda dengan pandangan orang lain mengenai diri kita.<br />
Dari buku ini, kita diajak belajar mengetahui siapa diri kita<br />
sesungguhnya. The minute you surrender, you might just get exactly what<br />
you looking for. Highly recommended for your journey to find the<br />
purpose of your life.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Alexandra Dewi</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Managing Director Sun Hope Indonesia</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Co-Author “I Beg Your Prada”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Buku ini sangat menarik karena membuka jalan bagi Anda untuk mengenali potensi diri sendiri.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Andrea Hirata</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Penulis Novel Tetralogi “Laskar Pelangi”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Setiap jiwa sejujurnya sedang bertumbuh. Dan masa lalu lengkap<br />
dengan dinamikanya, sejauh bisa mengolahnya, adalah bahan-bahan<br />
pertumbuhan yang mengagumkan.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Gede Prama</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Penulis 22 Buku Inspirasi</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“<em>Journey to My Past Lives </em>menawarkan pengalaman membaca<br />
yang tidak biasa. Nathalia akan mengajak Anda berpetualang ke<br />
lorong-lorong hidup Anda yang paling rapat dan tersembunyi sekalipun.<br />
Bersiaplah!”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Jessica Huwae</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Penulis “Soulmate.com” dan Managing Director SPICE!</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Perjalanan ke kehidupan lampau memberikan sebuah refleksi<br />
konstruktif dan korektif untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia<br />
itu sendiri. Banyak hal yang dapat diperbaiki dan disempurnakan setelah<br />
menyaksikan ‘video kehidupan masa lalu itu’. Nathalia telah menuliskan<br />
transkrip video kehidupan lampaunya yang menarik itu untuk menjadi<br />
bahan renungan buat kita dengan satu pesan tunggal bahwa, kehidupan<br />
lampau itu ada dan nyata adanya. Galilah video Anda dengan panduan buku<br />
ini!”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Ponijan Liaw</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Penulis Buku Bestseller “The Art of Communication that Works”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>dan Penulis Pendamping “Simplify Your Life with Zen”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Buku ini lain daripada yang lain. Baru pertama kali di Indonesia.<br />
Dalam menulis pengalaman regresinya, Nathalia tidak sekadar<br />
menyampaikan reportase, tapi juga mampu menangkap makna pembelajaran<br />
dalam setiap babak kehidupan lalunya. Terlebih lagi hal ini dia lakukan<br />
sendiri melalui auto-hypnosis. Tentu saja, ini harus dilandasi dengan<br />
keberanian untuk mau melihat sisi negatif pada dirinya. Hanya mereka<br />
yang berbekal kesadaran spiritual yang tinggi sajalah yang bisa<br />
melakukannya. Selamat dan sukses!”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Sumarsono Wuryadi, LRM</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Counsellor &amp; Holistic Therapist</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Saraswati Inner Studies &amp; Klinik Sanjiwani</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">No related posts.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/buku-journey-to-my-past-lives/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari: Pendengar yang Baik</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:16:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[atap]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[bunyi]]></category>
		<category><![CDATA[butuh]]></category>
		<category><![CDATA[Cara]]></category>
		<category><![CDATA[ceria]]></category>
		<category><![CDATA[cerita konyol]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[di kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[foya]]></category>
		<category><![CDATA[galon]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[kaget]]></category>
		<category><![CDATA[Kali]]></category>
		<category><![CDATA[keran]]></category>
		<category><![CDATA[kosan]]></category>
		<category><![CDATA[lelucon]]></category>
		<category><![CDATA[mendengarkan]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi]]></category>
		<category><![CDATA[ORANG]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[sakit perut]]></category>
		<category><![CDATA[satu]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[selalu]]></category>
		<category><![CDATA[seperti]]></category>
		<category><![CDATA[sesuatu]]></category>
		<category><![CDATA[setiap hari]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[teman curhat]]></category>
		<category><![CDATA[tertawa]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[warung]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Tinggal beramai-ramai di kos-kosan selalu memberi kejutan dan tantangan tersendiri untuk saya, sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah yang berisi delapan kamar, setahun yang lalu. Saya belajar, meski menyenangkan dan seperti memiliki keluarga baru, tinggal bersama di bawah satu atap bukanlah hal yang mudah. Seringkali dibutuhkan usus yang panjang, berton-ton toleransi, bergalon-galon kesabaran, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tinggal beramai-ramai di kos-kosan selalu memberi kejutan dan tantangan tersendiri untuk saya, sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah yang berisi delapan kamar, setahun yang lalu. Saya belajar, meski menyenangkan dan seperti memiliki keluarga baru, tinggal bersama di bawah satu atap bukanlah hal yang mudah. Seringkali dibutuhkan usus yang panjang, berton-ton toleransi, bergalon-galon kesabaran, dan banyak lagi.</p>
<p>Saya yang menyukai keheningan, misalnya, harus rela jika suatu pagi terbangun dengan kaget karena suara keras tetangga sebelah, atau bunyi air dari keran yang diputar sampai pol. Saya yang membutuhkan suasana tenang untuk bekerja kadang harus merelakan pekerjaan saya tertunda akibat suara-suara berisik yang tidak bisa ditolerir telinga dan otak. Saya yang terbiasa mandi tanpa menggunakan alas kaki terpaksa ikut bersandal-jepit ria ketika mengetahui teman-teman saya menggunakan sandal di kamar mandi. Saya juga belajar membiasakan diri ketika tubuh yang sedang sakit tidak bisa mendapatkan istirahat secara optimal karena teman-teman serumah sibuk dengan aktivitas dan obrolan masing-masing.</p>
<p>Itu hal-hal sederhana yang membutuhkan adaptasi secara personal. Ada pula hal-hal lain yang meminta perhatian lebih, di luar yang biasa terjadi setiap hari. Salah satunya jika ada kawan yang sedang bermasalah dan butuh teman curhat. Tidak jarang, kegiatan sesederhana berjalan kaki ke warung menjadi ajang bagi-rasa yang memerlukan kesiapan telinga dan hati. Waktu istirahat di malam hari pun bisa menjelma menjadi ajang curhat massal. Memang tidak selalu hal seperti ini terjadi, banyak juga malam-malam ceria dimana kami berfoya-foya menghamburkan tawa, lelucon dan cerita-cerita konyol, terpingkal-pingkal sampai sakit perut, atau sekadar menghabiskan waktu bersama. Namun, ketika sesuatu yang serius terjadi pada salah satu di antara kami, diperlukan perhatian dan ‘penanganan’ yang lebih dari sekadar bercanda, tertawa, dan berkumpul. Di sinilah saya banyak belajar.</p>
<p>Sungguh, tidak mudah menjadi pendengar yang baik. Saya menemukan begitu banyak kendala. Mulai dari menahan lidah untuk tidak berkomentar, menunda opini, menjaga perhatian tetap tertuju pada lawan bicara (apalagi jika kisah yang sama sudah diulang puluhan kali), menyediakan diri untuk ‘hadir’ sepenuhnya bagi orang yang bersangkutan (karena keberadaan tak selalu sama dengan kehadiran – kita bisa bersama seseorang tanpa sepenuhnya hadir, dan sebaliknya, kita bisa hadir baginya tanpa perlu bersamanya), sampai mendengarkan tanpa merumuskan penilaian apa pun.</p>
<p>Awalnya, saya pikir saya bisa menjalaninya dengan mudah. Mendengarkan orang lain adalah salah satu keahlian saya; saya sudah terbiasa menghadapi orang yang ujug-ujug datang untuk curhat. Mulai dari sahabat, saudara, kerabat, orang tua, orang asing, kawan baru, sampai asisten rumah tangga teman saya.</p>
<p>Mendengarkan memang bukan sesuatu yang sulit. Namun mendengarkan tanpa menilai –sekadar hadir sepenuhnya bagi orang yang bersangkutan— yang menjadi salah satu kriteria dari Nonviolent Communication (Komunikasi Tanpa Kekerasan) adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.</p>
<p>Setelah beberapa kali mencoba mengaplikasikan Nonviolent Communication dalam kehidupan sehari-hari, saya menyadari sesuatu: kemampuan saya mendengarkan selama ini nyaris tidak ada gunanya. Cara saya menyampaikan perasaan dan kebutuhan pun masih terseret-seret. Saya mengira dapat menjadi pendengar dan komunikator yang baik dengan ‘jam terbang’ yang tinggi, namun nyatanya, cara saya berkomunikasi tetap butut. Berkomunikasi tanpa kekerasan ternyata tidak gampang.</p>
<p>Sudah beberapa bulan saya mencoba mempraktekkan jenis komunikasi ini (mendengarkan dan menyampaikan isi hati tanpa kekerasan), dan kemampuan saya masih setara dengan anak balita yang sedang belajar berjalan. Tertatih-tatih dan berulang kali terjerembab. Di awal masa belajar, saya bahkan sempat menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil dan protes kepada seorang sahabat yang pertama kali memperkenalkan pola komunikasi ini. Satu-satunya hal yang membuat saya bertahan adalah karena saya tersentuh oleh tindakan sahabat saya yang kerap bertanya, “Ingin didengarkan saja, atau ingin diberi saran?” ketika saya menghubunginya untuk curhat.</p>
<p>Bagi saya, pertanyaan itu keren.</p>
<p>Ia adalah orang pertama yang menanyakan hal seperti itu sepanjang sejarah percurhatan saya. Dia menyediakan telinganya untuk saya sampahi, dan pada saat yang sama memberikan saya ruang untuk memilih; apakah saya ingin mendengar opininya atau tidak. Saya selalu takjub dengan kemampuannya untuk tetap menjadi netral setelah sesi curhat panjang nan membosankan dengan masalah yang berkali-kali saya ulang seperti kaset rusak. Dia tidak ikut-ikutan marah dan menyumpahi orang yang saya kutuki, tidak terburu-buru mengungkapkan pendapat, dan tidak pernah menjatuhkan penilaian –apalagi penghakiman— atas kelebihan stok airmata yang dengan semena-mena saya tumpahkan kepadanya.</p>
<p>Hal-hal tersebut membuat saya bertahan. Bukan karena saya ingin mengikuti jejaknya, melainkan karena saya telah merasakan manfaat dari Komunikasi Tanpa Kekerasan. Saya tahu rasanya tidak didengarkan, karena itu, kini saya ingin mendengarkan. Saya ingin mendengarkan, karena saya telah didengarkan. Sesederhana itu.</p>
<p>Bukan sekali-dua saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dalam sesi curhat-ke-teman-dekat. Setelah berkali-kali menceritakan isi hati kepada beberapa orang yang cukup karib, saya mendapati, sebagai komunikator, ada kalanya saya hanya ingin didengar. Mungkin ini terdengar tidak adil bagi orang yang saya curhati karena terkesan ‘egois’, ‘ingin nyampah doang’, ‘nggak mau diberi input balik’, dan sebagainya. Seandainya saja saya bisa bilang kepada semua orang yang pernah menjadi tong sampah saya: saya senang dengan saran, masukan dan komentar kalian. Seandainya saya bisa berkata seperti itu. Kenyataannya, tidak.Bahkan, berkali-kali setelah mendengarkan masukan dan saran dari orang yang saya curhati, saya merasa menyesal sudah bercerita. Bukan karena saya tidak suka dengan isi sarannya, namun karena bukan itu yang saya butuhkan.</p>
<p>Saya menghargai setiap masukan, saran, komentar, koreksi, dan apa pun yang diberikan orang kepada saya, dan saya berterimakasih atas perhatian dan waktu yang mereka luangkan, namun ada kalanya saya hanya butuh didengarkan. Ada kalanya saya tidak butuh opini atau solusi. Saya hanya memerlukan telinga yang bisa menampung unek-unek saya, dan barangkali, bahu untuk ditangisi.</p>
<p>Itu sebabnya, kini saya sangat membatasi diri untuk mencurahkan isi hati kepada orang lain. Sangat sedikit orang yang saya percayai untuk menampung sampah-sampah batin saya. Bukan karena saya tidak menghargai predikat ‘saudara’, ‘sahabat’, atau ‘kawan baik’ di belakang nama begitu banyak orang yang cukup akrab dengan saya, melainkan karena saya membutuhkan orang yang bisa mendengarkan.</p>
<p>Jika saya memerlukan saran, saya akan mendatangi orang yang bisa dimintai saran. Jika saya memerlukan pendapat, saya akan menemui orang yang kompeten untuk memberi pendapat. Tapi hanya orang-orang tertentu yang saya percayai untuk mendengarkan. Seringkali, mereka tidak memiliki petuah berharga atau wejangan bijak untuk disampaikan, namun telinga dan hati mereka telah menolong saya menemukan jawaban dan solusi jauh melampaui yang dapat diutarakan bahasa. Kepada merekalah saya berhutang begitu banyak terima kasih.</p>
<p> <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya percaya, kita terlahir di dunia sebagai bayi yang tidak mengenal baik-buruk benar-salah. Pengkondisianlah yang memperkenalkan kepada kita apa itu hitam, apa itu putih. Apa itu baik, apa itu buruk. Dalam proses pendewasaan, kita diajar bahwa mengekspresikan perasaan dan kebutuhan seutuhnya bukanlah sesuatu yang baik. Beberapa dari kita bahkan telah begitu terbiasa menekan perasaan dan mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Tanpa disadari, perasaan dan kebutuhan yang tidak pernah diijinkan berekspresi itu menjelma menjadi penilaian dan penghakiman yang kita jatuhkan pada orang lain – entah melalui tutur kata, tindakan, maupun pemikiran.</p>
<p>Penilaian dan penghakiman tersebut akan memancing reaksi serupa dari orang-orang yang menerimanya dan memulai siklus yang terus berulang dalam hidup kita. Lingkaran setan yang tidak pernah ada ujungnya. Kita terus berputar di dalamnya, menjalani siklus yang sama sepanjang hayat, dan menyangka telah turut berpartisipasi dalam perdamaian dunia. Kita mengira, dengan menempatkan perasaan dan kebutuhan di urutan kesekian, kita telah memberikan sumbangsih untuk terciptanya kerukunan dan persatuan.</p>
<p>Bagi saya, perdamaian dunia tidak ditandai dengan berakhirnya peperangan. Perdamaian dunia tidak diawali dengan gencatan senjata dari kubu-kubu yang bertikai. Perdamaian dunia dapat dimulai dari diri kita sendiri, dengan menghentikan siklus kekerasan yang selama ini memerangkap kita dan begitu banyak orang yang terhubung dengan kita. Cara menghentikan siklus itu adalah dengan jujur kepada perasaan dan kebutuhan yang kita miliki. Cara memutuskan lingkaran setan itu adalah dengan berhenti menjatuhkan penilaian dan mulai berdiam diri. Sekadar bernafas dan memperhatikan bisa jadi hadiah paling berharga yang bisa kita berikan bagi seseorang. Sekadar hadir dan mendengarkan bisa menjadi sumbangan terbesar kita untuk terciptanya kerukunan dan persatuan yang bukan cuma slogan. Pertanyaannya, bersediakah kita?</p>
<p>Mungkin kedengarannya berlebihan, namun saat ini, rasanya saya akan lebih memilih duduk bersama orang-orang sederhana yang bersedia menyediakan hati dan telinga untuk semata hadir dan mendengarkan, daripada mereka yang kemampuan berpikirnya menyaingi kecepatan cahaya, sanggup merangkai sejuta makna dan merangkumnya dalam kalimat-kalimat bijak, serta sigap memberi berbagai petuah dan masukan tanpa diminta.</p>
<p>Kita sudah kelebihan stok orang pintar dan orang bijaksana. Kita butuh lebih banyak pendengar yang baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TUJUH &#8216;ORANG BUTA&#8217; MENEBAK &#8216;GAJAH&#8217; (1)</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 05:01:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[belalai gajah]]></category>
		<category><![CDATA[berkesimpulan]]></category>
		<category><![CDATA[bernama]]></category>
		<category><![CDATA[bulat]]></category>
		<category><![CDATA[BUTA]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita humor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita klasik]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dapat]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[ekor]]></category>
		<category><![CDATA[GAJAH]]></category>
		<category><![CDATA[geli]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kaki gajah]]></category>
		<category><![CDATA[Kami]]></category>
		<category><![CDATA[kasur]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kesempatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesimpulan]]></category>
		<category><![CDATA[kipas]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>
		<category><![CDATA[Maka]]></category>
		<category><![CDATA[meraba]]></category>
		<category><![CDATA[mereka]]></category>
		<category><![CDATA[Nilai]]></category>
		<category><![CDATA[ORANG]]></category>
		<category><![CDATA[orang buta]]></category>
		<category><![CDATA[perut]]></category>
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>
		<category><![CDATA[punggung]]></category>
		<category><![CDATA[seperti]]></category>
		<category><![CDATA[Seri]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[tiang]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Seri kebenaran relatif 3
Ada suatu cerita klasik dari zaman dulu yang dapat membantu kita memahami apa sebenarnya “KEBENARAN”. Dengan perjalanan pencariannya. Cerita ini bernama “TUJUH ORANG BUTA MENEBAK GAJAH”. Cerita ini telah diceritakan turun temurun tetapi telah mengalami penurunan nilai dan cerita ini sekarang lebih diceritakan sebagai cerita humor. 10 tahun lalu ketika kuliah perdana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-63" href="http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/andriadi/"></a>Seri kebenaran relatif 3</p>
<p>Ada suatu cerita klasik dari zaman dulu yang dapat membantu kita memahami apa sebenarnya “KEBENARAN”. Dengan perjalanan pencariannya. Cerita ini bernama “TUJUH ORANG BUTA MENEBAK GAJAH”. Cerita ini telah diceritakan turun temurun tetapi telah mengalami penurunan nilai dan cerita ini sekarang lebih diceritakan sebagai cerita humor. 10 tahun lalu ketika kuliah perdana saya sebagai mahasiswa kedokteran , seorang dosen menuturkan cerita ini kepada kami. Kami ketawa terbahak-bahak melihat kebodohan manusia dalam cerita tersebut. sepuluh tahun kemudian,setelah memahami pesan cerita ini ternyata ketawa kami sepuluh tahun yang lalu sebenarnya menertawakan diri sendiri; sebagai manusia yang sedang melakukan perjalanan pencarian kebenaran&#8230;10 tahun ; suatu pencarian waktu yang panjang !</p>
<p>Diceritakan pada zaman dulu disuatu desa ada 7 orang buta yang tidak pernah melihat gajah, diberi kesempatan mengikuti lomba menebak &#8216;bentuk gajah&#8217; itu seperti apa? Pada saat bersamaan mereka dituntun menuju gajah dan disuruh meraba gajah dan menebak gajah itu seperti apa. <br />
Peserta pertama mendapat tempat yang dapat meraba bagian kaki gajah. Dan berkesimpulan gajah itu seperti “tiang besar” karena memang kaki gajah itu seperti tiang yang besar.<br />
Peserta kedua mendapat tempat yang dapat meraba bagian ekor gajah dan berkesimpulan gajah itu seperti “tali”.<br />
Peserta ketiga memdapat tempat yang dapat meraba bagian perut gajah yang bulat dan berkesimpulan gajah itu seperti “tong”.<br />
Peserta keempat mendapat kesempatan meraba daun telinga gajah yang lebar dan berkesimpulan gajah itu seperti “kipas”.<br />
Peserta kelima meraba gading gajah dan berkesimpulan gajah itu seperti “tanduk”.<br />
Peserta keenam meraba belalai gajah dan berkesimpulan gajah itu seperti “pipa air”.<br />
Dan peserta ke tujuh meraba bagian punggung gajah dan berkesimpulan gajah seperti “kasur”.<br />
Orang yang pernah melihat gajah menahan geli dan ketawa melihat kesimpulan mereka. </p>
<p>Ketika pengumuman pemenang. Dan dinyatakan tidak ada yang menang karena kesimpulan mereka &#8217;salah&#8217; , ketujuh peserta melakukan protes karena mereka merasa benar. “kami telah menyatakan kesimpulan sesuai apa yang kami raba , kalian tidak dapat membohongi kami, kami lebih percaya hasil raba kami dari pada keterangan kalian “. Maka terjadilah kekacauan karena penyelengara lomba tidak dapat memjelaskan dengan jelas bentuk gajah itu seperti apa kepada ketujuh orang buta. Penyelenggara perlombaan mencoba menjelaskan kesimpulan mereka “salah” dengan mengkonfrontasikan ketujuh orang buta. Situasi tambah kacau ternyata kesimpulan ketujuh orang buta ini tidak sama dan masing-masing mepertahankan kesimpulan mereka. <br />
“Bagaimana dia menyatakan gajah itu seperti ‘tiang besar’ sedangkan yang saya raba seperti ‘kipas’”. Yang lain protes “ Saya benar-benar meraba gajah itu seperti ‘tanduk’ kenapa dia menyebutnya seperti ‘tali’ “. Semua ngotot dengan kesimpulan masim-masing dan akhir terjadi pertengkaran yang tidak berkesudahan.</p>
<p>Cerita diatas hanya sebuah perumpamaan bahwa pada dasarnya manusia selalu diawali dengan kebodohan dan ketidaktahuan tentang “Kebenaran”. Di ibaratkan &#8216;gajah&#8217; itu demikian adanya sebagaimana ciptaan Tuhan. &#8216;Gajah&#8217; disini melambangkan “KEBENARAN”.<br />
Kebenaran sebenarnya sangat besar tidak dapat dipahami dengan sesaat.,dinilai dari satu sisi saja. &#8216;Orang buta&#8217; dicerita ini melambangkan “KETERBATASAN” kita untuk memahami &#8220;kebenaran” yang besar dan malah abstrak. Disini ada nilai “Kebenaran” yang sangat subyektif dari ketujuh orang buta.<br />
Disebut kebenaran karena memang benar berdasarkan panca indra yang dimiliki manusia yang masih terbatas fungsinya. Nilai “kebenaran” ini sangat kasar dan sangat tergantung kepada kualitas manusianya. Kebenaran ini menimbulkan “EGO PERORANGAN” <br />
Tetapi bagaimanapun Kebenaran tingkat ini memang adanya dan merupakan bagian dari “Hukum Keberadaan” yang disebabkan kebodohan dan ketidaktahuan yang melekat dalam diri setiap manusia sejak lahir.Tingkat ini merupakan “anak tangga pertama” untuk menapak kenilai “kebenaran” berikutnya. Kebenaran ditingkat ini saya sebut “KEBENARAN SUBJEKTIF”. Nilai kebenaran ini sangat tergantung kulitas pengetahuan dan interpretasi subjek dan bersifat relatif, dan tentu bukan kebenaran sebenarnya kecuali subjeknya orang sempurna. Andai kita menyadari kelemahan dan keterbatasan kita dan menyadari keberadaan serta mempunyai pengetahuan tentang “TINGKATAN atau KUALITAS KEBENARAN ” maka kita tidak akan “PARKIR” lama di tingkat kebenaran ini. Tentu kita akan menapaknya kemudian “MELEWATI dan MELAMPAUI” tingkat “kebenaran Subjektif” ini dengan cepat, tidak perlu 10 tahun atau seumur hidup !</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak dijumpai orang-orang yang hidup dengan kebenaran subjektif ini. Mereka berhenti ditingkat kebenaran ini. Mereka selalu merasa diri mereka paling benar, ego mereka sangat tinggi. Dan nilai moral, etika , peraturan dan hukum; yang merupakan nilai kebenaran kolektif tidak berlaku bagi dia. Dan untuk mempertahan nilai kebenaran ini mereka siap mempertaruhkan nyawanya. Kita sering membaca di koran sipolan membunuh temamnya sendiri hanya masalah hutang Rp.5000,- . Anak membunuh orang tua karena tidak diberi uang. Berjalan ditengah jalan, diklakson malah marah. Dikedai kopi berdebat kusir hingga berantam , dan sebagainya. </p>
<p>Bagi mereka yang belum mengalami pencerahan akan tidak pernah sadar akan keberadaan mereka di tingkat kebenaran yang sangat kasar ini dan berhenti disini, maka sebenarnya hidup mereka sangat tidak nyaman, penuh dengan konflik dan cobaan.<br />
Ketika seseorang setelah mengalami proses pematangan hidup yang panjang melalui berbagai konflik dan percobaan, tiba-tiba menyadari ada kebenaran yang lebih tinggi maka mereka akan meninggalkan tingkat kebenaran yang kasar ini menuju kebenaran yang lebih tinggi. Kebanyakkan orang memerlukan masa yang panjang untuk mengalami pencerahan. Mungkin seumur hidupnya. Sungguh suatu kesia-siaan waktu yang panjang !<br />
Sementara sebagian orang dengan cepat mengalami pencerahan dan melanjutkan pencarian kebenaran, berhenti sebentar di “anak tangga kebenaran” dan siap menapak anak tangga kebenaran berikutnya&#8230; (Bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
