<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nathalia Sunaidi &#62;&#62; Hipnotis &#38; Hipnoterapis &#187; membaca</title>
	<atom:link href="http://nathaliasunaidi.com/tag/membaca%20buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nathaliasunaidi.com</link>
	<description>Hipnosis&#124;Hipnoterapi&#124;NLP&#124;EFT</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tips Mengirim Naskah ke Endorser</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 07:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Hirata]]></category>
		<category><![CDATA[bagi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita komedi]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dika]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[endorsement]]></category>
		<category><![CDATA[Endorser]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kali]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Karina]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[kening]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[membuat]]></category>
		<category><![CDATA[namun]]></category>
		<category><![CDATA[napas]]></category>
		<category><![CDATA[naskah]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[oleh]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[plis]]></category>
		<category><![CDATA[saking]]></category>
		<category><![CDATA[sambil]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[Serta]]></category>
		<category><![CDATA[siapa]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[Teenlit]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[tiga]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Semua penulis yang sudah menerbitkan buku –atau bercita-cita menerbitkan buku— pasti tidak asing dengan kata ‘endorsement’, kecuali dia tinggal di ujung dunia. Beberapa tahun lalu, sebelum kata ini sering digunakan, istilah yang familiar di telinga kita adalah ‘paperback comment’.
Selain memberi nilai tambah bagi sebuah karya, endorsement dari seseorang yang ‘sudah punya nama’ –apalagi yang termasuk kategori ‘Penulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua penulis yang sudah menerbitkan buku –atau bercita-cita menerbitkan buku— pasti tidak asing dengan kata ‘<a style="font-style: italic; color: #000000;" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Endorsement_%28advertising%29">endorsement</a>’, kecuali dia tinggal di ujung dunia. Beberapa tahun lalu, sebelum kata ini sering digunakan, istilah yang familiar di telinga kita adalah ‘<span style="font-style: italic;">paperback comment</span>’.</p>
<p>Selain memberi nilai tambah bagi sebuah karya, <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari seseorang yang ‘sudah punya nama’ –apalagi yang termasuk kategori ‘Penulis Dewa’— sanggup membuat orang tergoda membeli, atau minimal, mengundang rasa penasaran terhadap buku yang bersangkutan. Siapa yang tidak tertarik mengambil buku yang sampul depannya memuat <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Andrea_Hirata">Andrea Hirata</a> atau <a style="color: #000000;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Lestari">Dewi Lestari</a>? Siapa penikmat novel remaja yang tidak terpancing mengambil <span style="font-style: italic;">teenlit</span> yang memajang <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://www.sittakarina.com/">Sitta Karina</a>? Siapa penyuka cerita komedi yang tidak tertarik dengan buku yang di-<span style="font-style: italic;">endorse</span> oleh <a style="color: #000000;" href="http://radityadika.com/">Raditya Dika</a>?</p>
<p>Sebagai orang yang sudah menerbitkan buku, saya tahu rasanya mengirim naskah kepada penulis-penulis senior; memohon kesediaan mereka untuk memberi sepatah-dua patah kata bagi ‘calon anak’ saya, berharap-harap cemas menanti hasilnya, dan sebagainya. Di sisi lain, sebagai orang yang pernah menjadi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk beberapa buku –serta menjadi ‘perantara’ bagi mereka yang ingin mendapatkan<span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://www.dee-idea.blogspot.com/">Ibu ini</a>— saya juga berkesempatan membaca berbagai naskah dengan genre dan penulisan yang sangat bervariasi.</p>
<p>Menerima dan membaca naskah merupakan kegiatan yang menarik, namun tak selalu menyenangkan. Ada kalanya saya mendapatkan ‘naskah emas’ yang memikat perhatian. Saya sanggup <span style="font-style: italic;">begadang</span> semalam suntuk dan melewatkan jam makan hanya untuk menamatkan naskah tersebut. Saya pernah membaca naskah yang sama sebanyak tiga kali dalam sebulan karena jatuh cinta dengan isi dan cara penulisannya. Namun tidak jarang pula saya menerima naskah yang membuat kening berkerut-kerut saking standarnya, saking mentahnya, atau saking <span style="font-style: italic;">absurd</span>-nya. Jenis naskah yang terakhir ini biasanya membuat saya menarik napas panjang sambil membatin, “<span style="font-style: italic;">Duh bo&#8230; plis deh</span>,” sebelum menutupnya tanpa menamatkan bab pertama.</p>
<p>Kedengaran belagu? Mungkin, tapi memang itu yang terjadi.</p>
<p>Selain konten, ada hal-hal lain yang memicu keengganan saya untuk membaca sebuah naskah sampai tamat (boro-boro mengomentari, kalau membaca aja nggak selesai). Kemalasan adalah salah satunya. Sisanya adalah beberapa faktor eksternal yang akan saya uraikan di bawah ini.<br />
Apa yang saya tuliskan di sini adalah hasil dari pengamatan pribadi dan bertukar pikiran dengan sesama rekan penulis –maupun figur publik— yang pernah menjadi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk sebuah buku. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tips pertama: pastikan naskah yang kamu kirim ke <span style="font-style: italic;">endorser</span> sudah diterima terlebih dahulu oleh penerbit. Menggunakan <span style="font-style: italic;">endorsement</span>untuk ‘menjual’ naskah ke penerbit memang bukan sesuatu yang salah, namun ini bisa jadi sesuatu yang menyebalkan bagi <span style="font-style: italic;">endorser</span>. Pertama, karena tidak adanya kepastian terbit. Kedua, ada waktu dan energi yang harus diluangkan oleh <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk membaca dan mengomentari karya kamu. Ketidakpastian tersebut akan membuat usaha yang dilakukan <span style="font-style: italic;">endorser</span> tampak sia-sia.</p>
<p>Kedua, yakinlah bahwa ketika karya kamu diterima oleh penerbit, karya tersebut memiliki ‘kekuatan’ dan nilai plus yang menjadikannya layak terbit. Pahami juga bahwa setiap penulis mempunyai ciri khas dan kelebihan masing-masing. Karena itu, miliki rasa percaya diri dan hindari mencantumkan kalimat-kalimat berikut dalam permohonan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> kamu: “Saya tahu tulisan saya tidak sebagus Mbak…”, “Memang tulisan ini tidak sebanding dengan karya Mbak…”, dan sebagainya. Saya tidak tahu dengan penulis lain, namun permohonan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> semacam ini membuat saya kehilangan minat untuk membaca naskah. Jika<span style="font-style: italic;"> endorser</span> yang bersangkutan merasa cocok dengan karyamu, ia akan memberikan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dengan senang hati. Tanpa kamu perlu ‘merendah’.</p>
<p>Ketiga, jangan mengirimkan naskah dengan tenggat waktu yang terlalu sempit. Dua minggu sampai satu bulan adalah tenggat yang cukup ideal bagi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk membaca dan mengomentari calon bukumu, apalagi jika kamu mengirim naskah kepada ‘Penulis Dewa’ yang punya segudang kesibukan. Sadari bahwa mereka memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada membaca naskahmu. <span style="font-style: italic;">And for the love of God</span>, jangan donder. Saya pernah menerima <span style="font-style: italic;">draft</span> dari seseorang yang mengirimkan <span style="font-style: italic;">e-mail</span> dua hari sekali untuk menanyakan apakah <span style="font-style: italic;">draft</span> tersebut sudah dibaca. Kali ketiga ia mengirim<span style="font-style: italic;"> e-mail</span>, saya tidak lagi membalasnya. <span style="font-style: italic;">It’s just annoying</span>. Saya hanya tersenyum masam mendengar alasan yang diajukannya: “Minggu depan sudah mau naik cetak, Mbak.” Sebagai orang yang pernah menerbitkan buku, saya tahu ada tenggat waktu yang cukup panjang dari diterimanya naskah oleh penerbit, proses produksi (<span style="font-style: italic;">editing, lay-outing</span>, desain <span style="font-style: italic;">cover</span>, dsb), sampai naik cetak. Keseluruhan proses tersebut bisa makan waktu 3 sampai 5 bulan. <span style="font-style: italic;">Kemane aje lo, baru ngirim </span>draft<span style="font-style: italic;"> seminggu terakhir</span>?</p>
<p>Keempat, kirimlah naskah yang sudah ‘matang’, dalam arti sudah melalui proses <span style="font-style: italic;">editing</span> setidaknya satu kali. Selain memudahkan<span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk menilai naskah tersebut secara keseluruhan, tindakan ini menunjukkan bahwa kamu menghargai <span style="font-style: italic;">endorser</span>. Kesalahan ketik dan kesalahan tata bahasa adalah sesuatu yang sangat lazim terjadi, dan saya rasa <span style="font-style: italic;">endorser</span> tidak akan mempermasalahkan hal ini. Namun isi naskah yang masih ‘mentah’ dan kasar akan sangat mengganggu untuk dibaca. Tunjukkan bahwa kamu menghargai <span style="font-style: italic;">endorser</span>yang sudah bersedia meluangkan waktu dan energi untuk membaca naskahmu.</p>
<p>Kelima, gunakan <span style="font-style: italic;">font</span> yang nyaman dibaca dan spasi yang tidak melelahkan mata. Hal ini juga bisa diterapkan untuk mengirim naskah ke penerbit. Saya pernah menerima naskah yang ditulis dengan <span style="font-style: italic;">font</span> Arial Narrow dan spasi <span style="font-style: italic;">single</span> yang panjangnya lebih dari 400 halaman. Saya berusaha membacanya sebanyak tiga kali dan akhirnya menyerah sebelum menyelesaikan bab pertama.</p>
<p>Keenam, kirimkan naskahmu kepada orang yang tepat. Jangan mengirimkan naskah novel pop kepada penulis cerita komedi. Jangan mengirimkan naskah kumpulan blog remaja kepada penulis fiksi ilmiah. Dan demi Tuhan, jangan mengirimkan naskah cerita horor murahan atau drama-komedi berbau seks kepada siapa pun. Kasihanilah kami.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Last but not least</span>, berbesar hatilah jika naskahmu ditolak oleh calon<span style="font-style: italic;"> endorser</span>. Tidak usah <span style="font-style: italic;">ngambek</span>. Tidak perlu membujuk calon<span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk mempertimbangkan ulang keputusannya dengan berkali-kali menghubunginya. Mereka tentu memiliki pertimbangan tersendiri untuk memberikan (atau tidak memberikan) <span style="font-style: italic;">endorsement</span>. <span style="font-style: italic;">It’s nothing personal</span>. Naskah saya pernah ditolak oleh beberapa penulis. Saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang mereka berikan untuk membaca dan membalas <span style="font-style: italic;">e-mail</span> saya, lalu mencari penulis lain yang bersedia meng-<span style="font-style: italic;">endorse</span> buku saya. Sesederhana itu.</p>
<p>Sekarang, izinkan saya menghancurkan secercah harapan yang kamu miliki. Tips-tips di atas tidak menjamin kamu akan memperoleh<span style="font-style: italic;">endorsement</span> sesuai harapan, bahkan tidak menjamin naskahmu akan dibaca oleh calon <span style="font-style: italic;">endorser</span>.</p>
<p>Tips-tips tersebut hanya bentuk lain dari<span style="font-style: italic;"> uneg-uneg</span> yang saya (dan beberapa rekan penulis) miliki dari pengalaman menerima dan membaca naskah yang dikirimkan kepada kami. Sama seperti perjuangan untuk menerbitkan buku, ada banyak hal yang menentukan keberhasilan seseorang dalam mendapatkan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> – salah satunya keberuntungan. Saran yang bisa saya berikan adalah: lakukan yang terbaik yang kamu bisa, silangkan jari-jarimu, dan berharaplah keberuntungan ada di pihakmu. Kalaupun tidak, <span style="font-style: italic;">well</span>, akan selalu ada kesempatan lain, selama kamu terus menulis. <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selamat berburu <span style="font-style: italic;">endorsement</span>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
