<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nathalia Sunaidi &#62;&#62; Hipnotis &#38; Hipnoterapis &#187; Artikel Nathalia Sunaidi</title>
	<atom:link href="http://nathaliasunaidi.com/category/artikel-nathalia-sunaidi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nathaliasunaidi.com</link>
	<description>Hipnosis&#124;Hipnoterapi&#124;NLP&#124;EFT</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Teknik Hipnotis</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/teknik-hipnotis/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/teknik-hipnotis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[belajar hipnotis gratis]]></category>
		<category><![CDATA[belajar ilmu hipnotis]]></category>
		<category><![CDATA[cara hipnotis orang]]></category>
		<category><![CDATA[teknik hipnotis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Rahasia Teknik Hipnotis
Oleh Nathalia Sunaidi
Sederhananya, Hipnosis adalah kondisi peralihan kesadaran yang ditandai dengan meningkatnya kemudahan menerima sugesti.Untuk menguasai Hipnosis, langkah paling pertama yang anda lakukan adalah mempelajari bagaimana melakukan induksi kepada subjek. Menguasai teknik induksi dalam Hipnosis merupakan hal yang paling mendasar untuk pengembangan anda menjadi seorang Hipnotis.
Agar sebuah induk berhasil dengan sempurna, anda perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="color: #ff0000;">Rahasia Teknik Hipnotis</span></h1>
<p>Oleh <a href="http://nathaliasunaidi.com/nathalia-sunaidi/">Nathalia Sunaidi</a></p>
<p>Sederhananya, Hipnosis adalah kondisi peralihan kesadaran yang ditandai dengan meningkatnya kemudahan menerima sugesti.Untuk menguasai Hipnosis, langkah paling pertama yang anda lakukan adalah mempelajari bagaimana melakukan induksi kepada subjek. Menguasai teknik induksi dalam Hipnosis merupakan hal yang paling mendasar untuk pengembangan anda <a href="http://nathaliasunaidi.com/belajar-hipnotis/">menjadi seorang Hipnotis.</a></p>
<p>Agar sebuah induk berhasil dengan sempurna, anda perlu mendapatkan izin dari subjek. Sehingga “mengharapkan” untuk di Hipnosis.Satu hal yang perlu anda ketahui, ada begitu banyak teknik Hipnosis. Dari semua teknik yang ada, semuanya bagus, tidak ada yang benar atau salah, berhasil atau tidaknya teknik tersebut tergantung apakah operator atau Hipnotis melakukannya dengan keyakinan dan percaya diri.</p>
<p>Semua metode induksi memiliki tujuan yang sama, yaitu memusatkan perhatian subjek sehingga mampu menghilangkan pikiran-pikiran yang menganggu kecuali satu focus terhadapsugesti yang diberikan oleh Hipnotis.</p>
<p>Salah satu teknik induksi yang sering digunakan adalah teknik perintah langsung (Direct). Teknik ini menggunakan kalimat sugesti sederhana yang di baca berulang-ulang.Hipnotis memerintahkan subjek untuk menatap ke satu titik secara terus menerus, kemudian Hipnotis meminta subjek untuk manarik nafas secara dalam dan buang perlahan-lahan dan membiarkan kelopak matanya menutup.</p>
<p>Sedangkan teknik induksi tidak langsung, baik Verbal maupun tidak verbal, banyak digunakan oleh <a href="http://nathaliasunaidi.com/belajar-hipnotis/">Hipnoterapis Profesional.</a> Melalui sebuah cerita, Hipnotis mampu membuat subjek menutup mata dengan sendirinya.</p>
<p><a href="http://nathaliasunaidi.com/hipnotis/">Seorang Hipnotis</a> harus mampu melakukan induksi secara penuh tanpa membuat subjek terganggu. Akan timbul masalah-masalah mental yang  serius, seperti sangat kebingungan, hilangnya ingatan jangka pendek dan lain-lain jika subjek bangun di tengah induksi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/teknik-hipnotis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hipnotis</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/hipnotis/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/hipnotis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 08:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[belajar hipnotis]]></category>
		<category><![CDATA[hipnosis]]></category>
		<category><![CDATA[hipnotis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Panduan Menjadi Hipnotis
Metode penyembuhan melalui metode yang alami selalu menjadi pilihan masyarakat.Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan merekan, banyak orang belajar dan menjadi praktisi kesehatan dan Hipnosis adalah salah satu yang paling popular. Mungkin anda pernah bertanya-tanya bagaimana menjadi seorang Hipnotis?
Untuk mengubah pola-pola kebiasaan pikiran, perasaan dan Perilaku yang tidak sehat, diperlukan sebuah tehnik yang bisa mengubah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="color: #ff0000;">Panduan Menjadi Hipnotis</span></h1>
<p>Metode penyembuhan melalui metode yang alami selalu menjadi pilihan masyarakat.Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan merekan, banyak orang belajar dan menjadi praktisi kesehatan dan Hipnosis adalah salah satu yang paling popular. Mungkin anda pernah bertanya-tanya bagaimana menjadi seorang <a title="Hipnotis atau Hipnosis" href="http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/">Hipnotis?</a></p>
<p>Untuk mengubah pola-pola kebiasaan pikiran, perasaan dan Perilaku yang tidak sehat, diperlukan sebuah tehnik yang bisa mengubah dengan cepat dan efektif. Hipnosis merupakan kumpulan tehnik-tehnik terapi bicara (talk therapy) yang menggunakan trans dan sugesti.Karena hipnosis bisa menyelesaikan berbagai akar permasalahan yang ada di alam bawah sadar, maka Hipnosis sering menghasilkan terapi yang cepat, dramatis dan permanen.</p>
<p>Praktisi <a title="Hipnotis atau Hipnosis" href="http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/">Hipnosis</a> dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu merekan yang memiliki lisensi dalam berbagai disiplin ilmu kesehatan seperti obat dan psikoterapi yang menggunakan Hipnosis dalam prakteknya.Lalu ada orang-orang yang mempraktekkan hipnotisme sebagai profesi yang terpisah dan berbeda, yang sering menggunakan gelar Certified Hypnotist, hipnoterapis atau Consulting Hypnotist. Tips dalam artikel ini terutama ditujukan kepada orang-orang di kelompok kedua.</p>
<p>Untuk menjadi seorang Hipnotis, anda tidak memerlukan bakat khusus atau bawaan lahir, tetapi anda bisa mempelajarinya melalui pelatihan Hipnosis. Jika anda tertarik <a title="Hipnotis" href="http://nathaliasunaidi.com/belajar-hipnotis/">mempelajari Hipnosis dan menjadi seorang Hipnotis</a>, berikut saran untuk anda :</p>
<p><strong>Mendapatkan pelatihan yang baik.</strong></p>
<p>Ada banyak pelatihan Hipnosis atau Hipnoterapi yang klaim bahwa hanya dengan 1-2 hari pelatihan, anda bisa menjadi Hipnotis yang handal.</p>
<p>Jika anda ingin <a title="Hipnotis" href="http://nathaliasunaidi.com/belajar-hipnotis/">menjadi Hipnotis </a>atau Hipnoterapis yang professional dan handal, sebaiknya ikut pelatihan Hipnosis dengan standar minimum 100 jam tatap muka di kelas, sesuai dengan standarisasi yang ditetapkan organisasi Hipnosis yang terkemuka seperti National Guild of Hypnotists (NGH), International Medical, Dental Hypnosis Association (IMDHA) dan the International Association of Counselors and Therapists (IACT).</p>
<p><strong>Ingin membantu orang lain dengan tulus.</strong></p>
<p>Fokus utama dari seorang <a title="Hipnotis atau Hipnosis" href="http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/">Hipnotis</a> adalah kesejahteraan dan kebahagiaan klien, walaupun anda juga menghasilkan pendapatan yang sangat tinggi sebagai seorang Hipnotis. Memiliki sifat Melayani adalah kunci kesuksesan seorang Hipnotis. Dalam kondisi trans, orang bisa menjadi lebih peka, sehingga bisa merasakan ketulusan anda sebagai seorang Hipnotis. Uang akan mengikuti anda jika anda menjadi s<a title="Hipnotis" href="http://nathaliasunaidi.com/belajar-hipnotis/">eorang Hipnotis </a>yang tulus.</p>
<p><strong>Mendapatkan manfaat untuk diri sendiri dan keluarga. </strong></p>
<p>Sebagai seorang <a title="Hipnotis atau Hipnosis" href="http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/">Hipnotis</a>, anda telah mempelajari ilmu yang sangat berharga yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi masalah  yang anda dan keluarga anda hadapi.</p>
<p>Seperti yang diketahui, seseorang dalam kondisi terhipnosis akan menjadi lebih sadar dan peka, jika anda adalah seorang hipnotis yang tidak sehat, sehingga membatasi kemampuan anda untuk membantu klien. Sebelum membantu orang lain, gunakanlah ilmu Hipnosis yang anda pelajari untuk membantu diri anda sendiri dan keluarga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/hipnotis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Hipnotis</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/belajar-hipnotis/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/belajar-hipnotis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 19:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[belajar hipnotis]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan hipnotis]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia hipnotis]]></category>
		<category><![CDATA[teknik hipnotis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Belajar Teknik Hipnotis
Sederhananya, Hipnosis adalah kondisi peralihan kesadaran yang ditandai dengan meningkatnya kemudahan menerima sugesti.Untuk menguasai Hipnosis, langkah paling pertama yang anda lakukan adalah mempelajari bagaimana melakukan induksi kepada subjek. Menguasai teknik induksi dalam Hipnosis merupakan hal yang paling mendasar untuk pengembangan anda menjadi seorang Hipnotis.
Agar sebuah induk berhasil dengan sempurna, anda perlu mendapatkan izin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="color: #ff0000;">Belajar Teknik Hipnotis</span></h1>
<p>Sederhananya, <a title="Hipnotis atau Hipnosis" href="http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/">Hipnosis</a> adalah kondisi peralihan kesadaran yang ditandai dengan meningkatnya kemudahan menerima sugesti.Untuk menguasai Hipnosis, langkah paling pertama yang anda lakukan adalah mempelajari bagaimana melakukan induksi kepada subjek. Menguasai teknik induksi dalam Hipnosis merupakan hal yang paling mendasar untuk pengembangan anda menjadi seorang Hipnotis.</p>
<p>Agar sebuah induk berhasil dengan sempurna, anda perlu mendapatkan izin dari subjek. Sehingga “mengharapkan” untuk di Hipnosis.Satu hal yang perlu anda ketahui, ada begitu banyak teknik Hipnosis. Dari semua teknik yang ada, semuanya bagus, tidak ada yang benar atau salah, berhasil atau tidaknya teknik tersebut tergantung apakah operator atau <a title="Hipnotis atau Hipnosis" href="http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/">Hipnotis</a> melakukannya dengan keyakinan dan percaya diri.</p>
<p>Semua metode induksi memiliki tujuan yang sama, yaitu memusatkan perhatian subjek sehingga mampu menghilangkan pikiran-pikiran yang menganggu kecuali satu focus terhadapsugesti yang diberikan oleh Hipnotis.</p>
<p>Salah satu teknik induksi yang sering digunakan adalah teknik perintah langsung (Direct). Teknik ini menggunakan kalimat sugesti sederhana yang di baca berulang-ulang.Hipnotis memerintahkan subjek untuk menatap ke satu titik secara terus menerus, kemudian Hipnotis meminta subjek untuk manarik nafas secara dalam dan buang perlahan-lahan dan membiarkan kelopak matanya menutup.</p>
<p>Sedangkan teknik induksi tidak langsung, baik Verbal maupun tidak verbal, banyak digunakan oleh Hipnoterapis Profesional. Melalui sebuah cerita, Hipnotis mampu membuat subjek menutup mata dengan sendirinya.</p>
<p>Seorang <a title="Hipnotis atau Hipnosis" href="http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/">Hipnotis</a> harus mampu melakukan induksi secara penuh tanpa membuat subjek terganggu. Akan timbul masalah-masalah mental yang  serius, seperti sangat kebingungan, hilangnya ingatan jangka pendek dan lain-lain jika subjek bangun di tengah induksi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/belajar-hipnotis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hipnotis atau Hipnosis?</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 04:40:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[hipnosis]]></category>
		<category><![CDATA[hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[hipnoterapis]]></category>
		<category><![CDATA[hipnotis]]></category>
		<category><![CDATA[jerman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Hipnotis atau hipnosis, penggunaan kedua kata tersebut memang seringkali membuat bingung. Banyak orang menggunakan kata hipnotis tapi sebenarnya yang dimaksud adalah hipnosis. Banyak orang yang menanyakan kepada saya tentang perbedaan kata hipnotis dan hipnosis. Tak bosan-bosannya pula saya menerangkannya kepada mereka. Karena itu artikel ini saya tuliskan untuk memberikan pemahaman tentang perbedaan kata hipnotis dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hipnotis atau hipnosis, penggunaan kedua kata tersebut memang seringkali membuat bingung. Banyak orang menggunakan kata hipnotis tapi sebenarnya yang dimaksud adalah hipnosis. Banyak orang yang menanyakan kepada saya tentang perbedaan kata hipnotis dan hipnosis. Tak bosan-bosannya pula saya menerangkannya kepada mereka. Karena itu artikel ini saya tuliskan untuk memberikan pemahaman tentang perbedaan kata hipnotis dan hipnosis.</p>
<p>Hipnosis merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani – yaitu hypnos. Dalam mitologi Yunani, Hypnos adalah dewa tidur. Dia memiliki saudara kembar yang bernama Thanatos yang berarti kematian. Ibu Hypnos adalah dewi Nyx yang berarti malam.</p>
<p>Nama hipnosis diperkenalkan oleh James Braid (1796 – 1860) yang merupakan murid Mesmer (1734 &#8211; 1815). Mesmer adalah seorang dokter dari Jerman yang membuka gerbang sejarah hipnosis. Mesmer memakai hipnosis untuk menyembuhkan para pasiennya. Keefektifan penggunaan hipnosis dalam prakteknya membuatnya kebanjiran pasien. Hal tersebut membuat iri para dokter lainnya yang prakteknya menjadi sepi karena fenomena Mesmer. Para dokter tersebut mengadu ke raja dan akhirnya Mesmer diasingkan dengan tuduhan melakukan praktek yang menyimpang. Saat itu Mesmer menyebut hipnosis dengan nama Animal Magnetism.</p>
<p>Setelah Mesmer meninggal dunia, James Braid – muridnya – mengetahui kedasyatan hipnosis untuk penyembuhan. Dia pun menggunakan hipnosis untuk prakteknya. Namun, supaya tidak dituduh malpraktek seperti Mesmer maka dia mengganti nama Animal Magnetism dengan hipnosis. Braid mengambilnya dari bahasa Yunani yang seringkali diartikan sebagai tidur. Braid menganggap seseorang yang memasuki hipnosis hampir sama dengan kondisi tidur. Namun, belakangan dia menyadari kalau kondisi hipnosis berbeda dengan tidur. Seseorang yang memasuki hipnosis tidaklah tidur! Malah sedang dalam kondisi sangat terfokus. Maka Braid mengganti nama hipnosis dengan Monodeism yang berarti satu fokus. Namun, nama hipnosis sudah terlanjur menjadi trend sampai sekarang.</p>
<p>Lalu apa yang dimaksud dengan hipnotis? Hipnotis adalah sebutan untuk seseorang yang melakukan hipnosis kepada orang lainnya. Seorang hipnotis adalah seseorang yang mengantarkan orang lain memasuki kondisi hipnosis. Jadi kata hipnotis dan hipnosis memiliki arti yang berbeda.</p>
<p>Seorang hipnotis bisa mengantarkan seseorang ke kondisi hipnosis untuk diberikan sugesti. Namun, seorang hipnotis belum bisa melakukan terapi kepada klien. Karena untuk bisa melakukan hipnoterapi, seseorang perlu mengikuti pendidikan advance untuk mendapat sertifikasi sebagai hipnoterapis. Jadi hipnotis adalah sebutan bagi seseorang yang baru saja mengikuti pendidikan dasar di bidang hipnosis. Jika seorang hipnotis meneruskan pendidikannya maka dia akan menjadi seorang hipnoterapis. Di p<a title="Pelatihan Hipnoterapi 100 Jam" href="http://nathaliainstitute.com/category/event/" target="_self">elatihan hipnoterapi profesional</a>, para murid akan diajarkan berbagai teknik hipnoterapetik untuk mempersiapkan dirinya <a title="Menajadi Hipnoterapis Professional" href="http://nathaliainstitute.com/menjadi-hipnoterapis-profesional/" target="_self">menjadi hipnoterapis profesional.</a></p>
<div><span style="font-family: 'lucida grande'; line-height: normal; white-space: pre-wrap;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Relationship Therapy untuk Si Otak Kanan</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/relationship-therapy-untuk-si-otak-kanan/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/relationship-therapy-untuk-si-otak-kanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 15:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[arah]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[habis]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[Hari]]></category>
		<category><![CDATA[hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[hipnoterapis]]></category>
		<category><![CDATA[hpnotis]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[Jika Tidak]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Kira Kira]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Korban]]></category>
		<category><![CDATA[lagi]]></category>
		<category><![CDATA[Marah]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi]]></category>
		<category><![CDATA[Muak]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Gila]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[Otak Kiri Dan Otak Kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>
		<category><![CDATA[Suami Istri]]></category>
		<category><![CDATA[suaminya]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[Tapi]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[walah walah]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Selama tiga hari berturut-berturut ini saya kedatangan klien yang menjadi korban suami yang terlalu otak kiri.
Dua hari lalu klien saya adalah seorang istri yang berusia 80 tahun. Setiap kali dia mendengar suara suaminya, dia akan terkena panik. Jantungnya berdetak kencang dan langsung sakit maag. Dia sangat tertekan sampai-sampai di malam hari sering muncul pikiran untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama tiga hari berturut-berturut ini saya kedatangan klien yang menjadi korban suami yang terlalu otak kiri.</p>
<p>Dua hari lalu klien saya adalah seorang istri yang berusia 80 tahun. Setiap kali dia mendengar suara suaminya, dia akan terkena panik. Jantungnya berdetak kencang dan langsung sakit maag. Dia sangat tertekan sampai-sampai di malam hari sering muncul pikiran untuk keluar dari rumahnya dengan membawa tas. Katanya kalau dia tidak ingat Tuhan, dia sudah mengikuti pikiran itu. Dan bisa-bisa dia menjadi orang gila yang berjalan tanpa arah di jalanan.</p>
<p>Kemarin, klien saya adalah seorang istri yang berusia 50 tahun. Dia tidak bisa lagi disentuh oleh suaminya. Dia merasa muak dan mau marah setiap kali suaminya menyentuhnya. Hal itu membuat suaminya marah besar karena si istri tidak mau lagi diajak berhubungan suami istri.</p>
<p>Hari ini, klien saya adalah seorang istri yang kira-kira berusia 30 tahun. Alasan dia datang ke sesi hipnoterapi saya karena dia merasa tidak bahagia dalam perkawinannya. Dia merasa hambar dan bosan hidup. Walah… walah… setelah saya terapi dengan Wisdom Therapy®, ternyata dia menjadi menderita karena suaminya yang sangat otak kiri.</p>
<p>Pembaca, mungkin Anda bertanya-tanya ada apa dengan si otak kiri dan otak kanan dalam hubungan perkawinan. Jawabannya, bisa menjadi bencana yang meretakkan rumah tangga bila tidak tahu cara komunikasi di antara mereka. Banyak pasangan suami istri yang datang ke sesi hipnoterapi saya untuk bercerai. Ya, mereka bilang mereka jadi bercerai atau tidak tergantung dari sesi tersebut. Wah, saya jadi sport jantung! Tapi, setelah dibicarakan ternyata masalah mereka hanya karena yang satu otak kiri habis dan yang satunya otak kanan habis.</p>
<p>Pembaca, jika Anda sedang melakukan terapi dengan pasangan suami istri yang sedang bertengkar maka Anda perlu memisahkan mereka. Jika tidak, ruangan terapi Anda akan menjadi seperti konser musik rock – penuh teriakan. Karena itu saya meminta si istri duluan yang masuk ke ruang terapi. Saya menuliskan pembicaraan ini supaya Anda bisa paham tentang si otak kiri dan otak kanan. Si istri bercerita kalau suaminya sudah cinta lagi kepadanya. “Dia sudah tidak pernah lagi bilang ‘I love you’ ke saya. Sudah jarang memegang tangan dan memeluk mesra. Puncaknya, di ulang tahun perkawinan kami, dia memberi saya hadiah dengan melemparnya ke meja makan. Kemudian dia langsung tidur. Perkawinan kami sudah hambar. Saya mau cerai.” Lalu saya minta suaminya yang gantian masuk. Si suami bercerita kalau istrinya sudah tidak menghargainya lagi. “Dia selalu bilang saya tidak lagi mencintainya. Saya masih mencintainya, buktinya saya masih menikahinya. Jika tidak cinta, kan saya sudah ceraikan. Saya berminggu-minggu lembur supaya bisa membelikan dia cincin berlian. Tapi ketika saya kasih, dia malah menangis dan minta cerai. Saya pusing.”</p>
<p>Kemudian, suami istri itu saya jelaskan tentang komunikasi otak kiri dan kanan. Jelas sekali si suami adalah otak kiri habis dan si istri adalah otak kanan habis. Pembaca, si otak kanan membutuhkan pasangannya mengatakan ‘I love you’ secara berkala. Dia butuh disentuh, dibelai dan dipeluk mesra. Jika tidak, maka dia akan merasakan hambar. Si istri klien saya mengatakan kepada suaminya, “Saya lebih memilih kamu membelikan saya bunga mawar yang harganya lima ribu perak tapi kamu memberinya dengan kata-kata indah dan pelukan. Dibandingkan kamu berikan saya cincin berlian tapi kamu lemparkan ke meja makan.” Si suami menjawab, “Kamu tidak menghargai usaha saya. Saya memberikan hidup saya untuk bekerja keras menafkahi kamu. Saya lembur untuk beli cincin berlian. Tapi kamu lebih mau bunga seharga lima ribu perak.” Keduanya saling mencitai tapi terus saling menyakiti hanya karena perbedaan komunikasi otak kiri dan otak kanan.</p>
<p><strong style="font-weight: bold;">Pembaca, inilah ciri khas si otak kiri:</strong></p>
<ul>
<li>Katanya-katanya tanpa basa basi sehingga cenderung terdengar kasar. Itu terjadi karena dia tidak begitu memakai hati. Tapi cenderung memakai logika. Contoh, “Kamu terlihat gendut memakai baju itu. Cepat ganti!” </li>
<li>Menunjukkan cinta dengan kerja keras atau melakukan kewajiban dengan baik. Bukan dengan kata-kata mesra. </li>
<li>Kurang bisa romantis tapi cenderung praktis. Contoh: Tidak membelikan bungan mawar tapi malah membelikan mesin cuci sebagai hadiah karena dianggap itu lebih dibutuhkan. </li>
<li>Tidak tahan mendengarkan curhat. Malah cenderung memarahi orang yang sedang curhat karena dianggap salah.</li>
<li>Menjadi galak terutama jika karier atau kondisi finansialnya sedang bermasalah. </li>
<li>Disiplin dan memegang teguh komitmen. </li>
</ul>
<p><strong style="font-weight: bold;">Ciri khas si otak kanan:</strong></p>
<ul>
<li>Selalu ingin disayang, dibelai, dipeluk atau diperhatikan. </li>
<li>Membutuhkan pasangannya mengatakan ‘I love you’ secara berkala. </li>
<li>Hatinya sensitif sehingga mudah terluka oleh kata-kata kasar .</li>
<li>Selalu ingin curhat panjang lebar kepada pasangannya. Kurang disiplin dan kurang bisa komitmen.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Dalam hal ini otak kiri bukanlah selalu pria, banyak wanita juga dominan otak kiri. Jadi otak kiri atau otak kanan tidak mengenal jenis kelamin tertentu.</p>
<p>Pasangan yang dominan otak kanan akan mengalami banyak sekali luka di hati jika pasangan yang satunya adalah si otak kiri. Kata-kata yang kasar, perlakuan yang dingin, seringkali si otak kiri menjadi galak dan emosional jika kondisi finansial sedang bermasalah – semua itu membuat luka batin bagi si otak kanan. Jika otak kanan sudah terluka hatinya maka munculnya berbagai masalah seperti yang terjadi dengan ketiga klien saya di atas. Karena itu, sangat penting bagi si otak kanan untuk melakukan relationship therapy untuk melepaskan semua luka batinnya. Tujuannya, supaya si otak kanan ceria dan bahagia kembali.</p>
<p>Ketiga klien saya di atas menangis dengan begitu pilu melepaskan luka batinnya. Ada yang pernah dibentak sangat kasar oleh si otak kiri. Ada yang selalu dipotong ketika sedang bicara oleh si otak kiri, “Stop. Tahu apa kamu tentang bisnis? Kamu tidak mengerti apa-apa.” Ada yang selalu dikritik dengan pedas. Dan masih banyak lag. Hal-hal kecil yang menyakitkan itu membuat hati otak kanan carut marut dengan luka. Mereka perlu melepaskan semua beban itu dan menyembuhkan hatinya. Setelah saya lakukan Wisdom Therapy®, ketiganya terasa lega dan bisa mencintai pasangannya dengan mesra lagi.</p>
<p><strong style="font-weight: bold;">Tips melindungi hati bagi si otak kanan:</strong></p>
<ul>
<li>Semua perkataan otak kiri yang terdengar kasar, jangan dimasukkan ke hati. Karena si otak kiri sama sekali tidak berniat menyakiti hati. Dia hanya menyampaikan isi pikirannya secara logika. </li>
<li>Jangan berkeinginan mengubah si otak kiri menjadi sangat romantis. Tapi pahamilah, dia sangat mencintai Anda dengan bekerja keras dan memenuhi kewajibannya. </li>
<li>Cara mencintai si otak kiri adalah dengan perbuatan bukan melalui kata-kata indah. </li>
<li>Jangan curhat ke otak kiri karena dia akan merasa penat. Jika orang curhat kepadanya, otak analisanya akan bekerja untuk mencari solusi. Dia akan memberikan Anda solusi dan menasehati Anda. </li>
<li>Jika otak kiri menjadi galak, periksalah kondisi keuangan atau kariernya. Dia galak kepada Anda bukan karena dia benci Anda tapi biasanya dia sedang bermasalah. </li>
<li>Jika hati Anda sudah terlalu terluka, maka cara yang terbaik adalah dengan datang ke sesi terapi.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/relationship-therapy-untuk-si-otak-kanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci Kesuksesan Sesi Hipnoterapi</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/kunci-kesuksesan-sesi-hipnoterapi/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/kunci-kesuksesan-sesi-hipnoterapi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 17:35:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[hipnosis]]></category>
		<category><![CDATA[hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[hipnotis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari seorang klien datang ke sesi hipnoterapi saya. Setelah selesai proses hipnosis dia mengatakan kepada saya kalau dia tidak merasa ter-hipnosis karena dia tidak tertidur. Padahal di awal sesi saya telah memberikan penjelasan tentang hipnosis – yaitu kondisi relaks terfokus. Bukan kondisi tidur pulas. Dia tetap ngotot kalau hipnosis harusnya tidur benaran. Usut punya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari seorang klien datang ke sesi hipnoterapi saya. Setelah selesai proses <a title="hipnotis atau hipnosis" href="http://nathaliasunaidi.com/hipnotis-atau-hipnosis/" target="_self">hipnosis</a> dia mengatakan kepada saya kalau dia tidak merasa ter-hipnosis karena dia tidak tertidur. Padahal di awal sesi saya telah memberikan penjelasan tentang hipnosis – yaitu kondisi relaks terfokus. Bukan kondisi tidur pulas. Dia tetap ngotot kalau hipnosis harusnya tidur benaran. Usut punya usut, ternyata dia pernah dihipnosis oleh hipnoterapis lain. Dan hasilnya dia tidur. Setelah hampir setengah jam dia dibangunkan oleh hipnoterapis itu. Lalu hipnoterapis itu mengatakan sesi hipnosis telah selesai dengan sukses dan sugesti telah dimasukkan ke alam bawah sadarnya. Ketika klien itu bertanya apakah dia ketiduran karena dia sama sekali tidak ingat dimasukkan sugesti oleh si hipnoterapis. Si hipnoterapis menjawab memang seperti itulah hipnosis – yaitu klien tidur dan sugesti dimasukkan ke alam bawah sadar. </p>
<p><span> </span>Lalu saya tanya ke si klien apa dia mengalami perubahan setelah sesi hipnosis dengan si hipnoterapis itu. Dia menjawab tidak ada perubahan apa-apa. Saya menjawab, “Tentu saja. Karena kamu ketiduran. Dan itu menjadi tidur siang termahal kamu!” jawab saya kepada si klien. Weleh&#8230; weleh&#8230; masih ada saja hipnoterapis yang menyamakan hipnosis dengan tidur – entah karena dia tidak paham atau untuk menutupi kegagalan sesinya. Dan masih ada juga klien yang percaya.<span> </span></p>
<p><span> </span>Pembaca dan para hipnoterapis, Anda perlu menguasai teknik induksi hipnosis supaya kejadian di atas tidak terjadi pada sesi hipnosis Anda. Hipnosis bukanlah untuk meninabobokan klien – melainkan mengantarkan klien ke level sonambulism – yaitu kedalaman hipnosis stage 4 menurut Arons Depth Scale. Setelah klien berada di somnambulism barulah proses transformasi bisa dilakukan. Artinya, barulah klien bisa mengalami perubahan positif dari sesi hipnoterapi Anda. </p>
<p><span> </span>Pembaca, mengapa klien sesi hipnotherapy saya sangatlah penuh dengan daftar antrian berbulan-bulan? Padahal saya tidak pernah mengiklankan sesi hipnoterapi saya. Rahasianya, karena sesi hipnoterapi saya berhasil. Klien saya berubah menjadi lebih baik. Mereka keluar dari ruang terapi saya dengan membawa hasil. Sehingga mereka merekomendasikan sebanyak-banyaknya orang untuk datang ke sesi hipnoterapi saya. Apa rahasia sesi saya berhasil? Karena saya menguasai induksi hipnosis yang mengantarkan klien mencapai level sonambulism. Lalu saya pun sangat menguasai berbagai teknik-teknik hipnoterapetik – yaitu teknik terapi yang memfasilitasi transformasi bagi klien. </p>
<p>Hipnoterapi bukanlah sekedar menghipnosis klien – itu pun tanpa tahu klien telah mencapai kedalaman apa karena tidak ada depth level test. Lalu setelah kira-kira klien tersebut terlihat terhipnosis langsung dibacakan sugesti. Setelah itu klien dibangunkan dan dinyatakan terapi berhasil. Jika hipnoterapi cuma seperti itu maka seorang anak SD pun bisa melakukannya. Dan jika hipnoterapi hanya seperti itu maka pantas saja para klien tidak mau kembali lagi ke Anda atau merekomendasikan orang-orang ke Anda. Karena klien itu merasakan gagal dan tidak ada perubahan.</p>
<p>Hipnoterapi adalah seni terapi. <a title="Menjadi Hipnoterapis Profesional" href="http://nathaliainstitute.com/menjadi-hipnoterapis-profesional/" target="_self">Seorang hipnoterapis handal </a>perlu menguasai teknik induksi modern yang bisa mengantarkan klien ke level somnambulism dalam waktu kurang dari empat menit. Itu supaya klien tidak perlu membayar sesi tidurnya saat dihipnosis. Setelah itu hipnoterapis profesional perlu menguasai berbagai teknik hipnoterapetik, seperti part-therapy, chair therapy, regression, abreaction management, hypno-NLP, EFT, desensitizing dan masih banyak lagi – yang tidak mungkin satu-persatu saya jelaskan di sini karena terlalu teknis. Tapi semua teknik hipnoterapetik saya jelaskan secara komprehensif dan mendalam dalam training 100 jam saya. Belum lagi hipnoterapis perlu menguasai abreaction management untuk menangani klien yang mengalami luapan emosi seperti menangis histeris, muntah atau shaking. Karena jika hipnoterapis tidak bisa menangani abreaction dengan benar maka hipnoterapis itu malah akan membuat klien semakin traumatis. </p>
<p> </p>
<p>Mengapa harus mencapai somnambulism? </p>
<p> </p>
<p>Karena di stage somnambulism ini alam bawah sadar sudah bisa merespon pada sugesti halusinasi. Maksud halusinasi ini bukanlah halusinasi yang terjadi pada orang-orang yang terganggu mentalnya. Melainkan mengacu pada persepsi atau program yang tertanam di alam bawah sadar. Contohnya, seseorang yang merasa ketakutan untuk berbicara di depan umum biasanya memiliki persepsi negatif tentang reaksi para penonton. Di alam bawah sadarnya terputar sebuah persepsi yang terhalusinasi berupa para penonton akan menertawakannya atau mengejeknya. Persepsi yang terhalusinasi itu membuat dia ketakutan bicara di depan umum. Untuk bisa melepaskan persepsi negatif yang terhalusinasi di alam bawah sadarnya maka dia perlu memasuki kedalaman hipnosis somnambulism. Artinya, di kedalaman tersebut hipnoterapis bisa melakukan berbagai hipnoterapetik untuk melepaskan program-program atau emosi negatif yang terhalusinasi di alam bawah sadar klien. Proses hipnoterapetik untuk melepaskan persepsi negatif tersebut bisa dengan regresi untuk menemukan ISE (Initial Sensitizing Event) atau momen pertama kali program negatif itu tertanam di alam bawah sadar, part-therapy, chair therapy atau teknik-teknik hipnoterapetik lainnya.</p>
<p>Setelah program negatif itu dilepaskan barulah alam bawah sadar bisa dimasukkan program positif yang baru atau diberikan sugesti. Sebelum program lama yang negatif dilepaskan maka sugesti akan sia-sia. Seperti bila Anda ingin menuangkan air putih di sebuah gelas maka gelas itu perlu kosong dulu. Kalau gelasnya masih ada kopinya maka air putih yang Anda tuangkan di gelas itu akan tumpah dan sia-sia. Seperti itu juga sugesti yang dimasukkan tanpa melakukan proses hipnoterapetik melepaskan program yang salah di alam bawah sadar.</p>
<p> </p>
<p>Apa yang menyebabkan klien bisa tertidur dalam sesi hipnoterapi?</p>
<p> </p>
<p>Jawabannya, karena induksi hipnosis yang digunakan terlalu lama sehingga membuat klien ketiduran. Induksi progresif relaksasi sangat panjang sehingga bukannya membuat klien memasuki hipnosis malah meninabobokan klien ke alam tidur – dan itu menjadi tidur siang yang sangat mahal karena harus bayar. </p>
<p>Induksi progresif relaksasi sudah menjadi induksi jadul (jaman dulu) yang sudah tidak dipakai lagi oleh para hipnoterapis modern. Alasannya, karena bisa menidurkan klien sehingga sesi hipnoterapi tidak sampai ke hipnoterapetik – yaitu memfasilitasi transformasi. Alasan lainnya, induksi progresif relaksasi tidak ada depth level test-nya. Sehingga hipnoterapis tidak tahu klien sudah memasuki level hipnosis sedalam apa.</p>
<p>Jika Anda menguasai teknik induksi modern yang bisa mengantarkan setiap klien ke level somnambulism dan Anda sangat mahir di berbagai proses hipnoterapetik, pastilah klien akan antri untuk datang ke sesi hipnoterapi Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/kunci-kesuksesan-sesi-hipnoterapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STOP Child Abuse NOW!</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 07:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[abuse]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[celana]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[elegan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hypnotherapy]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[jejak]]></category>
		<category><![CDATA[jelas]]></category>
		<category><![CDATA[juang]]></category>
		<category><![CDATA[kaca]]></category>
		<category><![CDATA[Kata]]></category>
		<category><![CDATA[kesedihan]]></category>
		<category><![CDATA[ketat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah menarik]]></category>
		<category><![CDATA[klien]]></category>
		<category><![CDATA[Mama]]></category>
		<category><![CDATA[Melati]]></category>
		<category><![CDATA[memiliki]]></category>
		<category><![CDATA[mencari]]></category>
		<category><![CDATA[nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[penampilan wanita]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan]]></category>
		<category><![CDATA[problem]]></category>
		<category><![CDATA[Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<category><![CDATA[sesi]]></category>
		<category><![CDATA[setiap hari]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang bisa menjadi penderitaan terberat dalam hidup ini? Pertanyaan ini seolah menggantung di kepala saya setelah sekian tahun melakukan hypnotherapy. Selama itu juga ribuan klien telah saya antarkan ke subconscious mind—tempat mengendonnya berbagai akar problem kehidupan. Setiap dari mereka datang dengan membawa beragam penderitaan hidup dan semuanya mengklaim bahwa problem merekalah yang terberat.
 Pagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><a rel="attachment wp-att-80" href="http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/stop_child_abuse_by_ronalhene-1-366x300/"></a>Apa yang bisa menjadi penderitaan terberat dalam hidup ini? Pertanyaan ini seolah menggantung di kepala saya setelah sekian tahun melakukan hypnotherapy. Selama itu juga ribuan klien telah saya antarkan ke subconscious mind—tempat mengendonnya berbagai akar problem kehidupan. Setiap dari mereka datang dengan membawa beragam penderitaan hidup dan semuanya mengklaim bahwa problem merekalah yang terberat.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Pagi itu Melati masuk ke ruang praktek saya setelah temannya selesai sesi dengan saya. Problem dua wanita cantik ini tergurat jelas dari tatapan mata mereka yang berkaca-kaca sebagai bukti guratan child abuse yang mereka alami. Jika Anda telah menemui ribuan orang dengan problem kehidupan— seperti para klien yang selalu saya temui setiap hari—Anda akan menemukan betapa kesedihan yang mendalam akan meninggalkan jejak air mata abadi di pancaran mata walaupun mereka tidak sedang menangis.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Melati, seorang ibu cantik di usia empat puluhan. Dia datang dengan memakai kemeja dan celana bahan yang sepertinya sangat nyaman karena tidak terlalu ketat tapi bisa membuat lekuk tubuh terlihat jelas. Pakaian tipe itu selalu menjadi favorit saya karena menggambarkan penampilan wanita menengah atas yang elegan. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Dia datang ke sesi hypnotherapy dengan problem awal yang terdengarnya cukup ringan—hanya ingin mengatasi rasa tidak percaya diri dan meningkatkan semangat dalam mencari uang. Walaupun saya tahu, jika menyangkut tentang rasa tidak percaya diri maka akan ada kisah menarik dibelakangnya. Ya, berdasarkan pengalaman saya, problem tidak percaya diri biasanya mengakar pada pengalaman masa lalu yang tidak mengenakkan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Melati mengatakan dia tidak memiliki semangat dalam mencari uang bahkan dia tidak pernah memiliki semangat di hidupnya. Hidupnya seperti mengalir begitu saja. “Saya hanya mengalir. Tidak ada rasa exciting atau apa pun. Terasa datar saja hidup saya. Saya ingin memiliki semangat dan daya juang dalam hidup.”</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>“Well, ayo kita mulai saja sesi hypnotherapy.” Kata saya kepada Melati. Pikir saya, paling sesi ini akan menjadi sesi sugesti yang singkat karena problem yang ditangani ringan.  Tapi seperti biasa, setiap sesi hypnotherapy akan menghadirkan kejutan yang kadang membuat saya mengatakan “Here we go! Waktunya naik roller coaster.”—tentunya saya mengatakannya di dalam hati saya. Alam hualam, Melati memasuki momen child abuse yang penuh teror.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>“Mama, saya ingin main. Jangan disuruh cari uang terus. Tolong, jangan dipukul lagi. Ini kulit dan daging bukan batu. Kulit saya memar dan berdarah. Sakit. Kuping saya biru dan bengkak karena dijewer.” Melati memasuki usia lima tahun. Ayahnya yang sakit keras memaksa ibunya untuk mengambil alih keuangan keluarga. Melati kecil diharuskan menjaga toko—mencari uang—sepanjang hari. “Saya benci mencari uang. Saya ingin main. Ma, tolong jangan ikat saya. Jangan kurung saya.” Melati terus menangis histeris menandakan kesedihan yang tertanam begitu mendalam. Dari momen ini tidak heran Melati tidak memiliki semangat mencari uang. Malah dia benci mencari uang. “Ma, kamu pukul saya terus, apa kamu tidak sayang saya? Kamu pukul saya, saya tidak berdaya. Kamu bunuh saya pun, saya tidak berdaya. Buat apa berjuang? Saya menangis sampai berjam-jam pun, kamu tidak akan memenuhi permintaan saya untuk disayangi. Semuanya sia-sia. Saya hanya bisa pasrah. Buat apa berjuang?” Inilah akar Melati tidak memiliki daya juang. Tidakkah kalian menemukan polanya? Melati kecil merasakan tidak ada gunanya berjuang karena tidak akan berhasil. Di sinilah awal program Melati tidak memiliki daya juang. Dia melepaskan semangat juangnya di usia lima tahun.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Melati masih lebih beruntung dibanding temannya. Dia hanya kehilangan daya juang—hasrat untuk hidup dan cita-cita akibat child abuse ini. Tapi temannya hidup dalam ketakutan selama puluhan tahun dan mengkonsumsi obat penenang selama bertahun-tahun. Setiap hari hidupnya dipenuhi rasa ketakutan yang menterornya. Dia tidak bisa keluar rumah sendirian bahkan tidak bisa berada sendirian. Setiap menitnya, perasaan hatinya gelisah dalam ketakutan tanpa tahu penyebabnya. Bisakah kalian bayangkan hidup seperti itu selama puluhan tahun? Inilah tipikal symptom akibat child abuse. Momen abuse itu menorehkan teror yang mendalam sehingga teror itu menjadi membekas dan menjadi program hidup.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Jenis-jenis child abuse:</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Sexual Abuse</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">o<span style="white-space: pre;"> </span>Ringan, seperti menyentuh dada dan  paha. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">o<span style="white-space: pre;"> </span>Ekstrim, yaitu ketika anak diperkosa secara anal, vaginal atau oral. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">o<span style="white-space: pre;"> </span>Penyiksaan sexual, yaitu ketika anak dipegangi atau diikat dan dimasukkan benda asing ke mulutnya atau ke kemaluannya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Physical Abuse</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Jewer telinga dan cubit.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Mengangkat anak dan digoyang keras sampai anak itu merasa pusing, tidak sadarkan diri, mengalami kerusakan otak atau meninggal.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Memukuli dengan ikat pinggang, papan, dompet, tali, dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Melempar anak ke tempat tidur, tembok, tangga, dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Mengikat tangan dan kaki anak ke tempat tidur, toilet, pohon, dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Menyundut dengan rokok.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Mencekik.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Diabaikan</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Seorang anak diabaikan dengan dibiarkan sendirian di boxnya/tempat tidurnya atau ditinggal  sendirian selama berhari-hari dengan sedikit atau tanpa makanan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Emotional Abuse</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Emotional abuse memang tidak meninggalkan bekas luka fisik tapi meninggalkan bekas luka yang sangat dalam secara psikologis seorang anak.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 35.5px; text-indent: 0.5px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Kata-kata kasar yang sering diucapkan seorang dewasa kepada seorang anak dianggap sebagai emotional abuse, seperti: “Apakah kamu bodoh?”, “Lihat diri kamu. Jorok!”, “Anak pungut.”, &#8220;Anak setan&#8221;, &#8220;Tidak punya otak, ya!&#8221;, dsb.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Percayalah, setiap abuse yang Anda lakukan terhadap anak Anda akan menorehkan goresan luka. Luka itu akan terus terasa sakit bahkan sampai si anak tumbuh dewasa. Hentikan child abuse walaupun itu hanya jeweran telinga atau memasukkan si anak ke ruangan gelap. Pola pendidikan tanpa kasih sayang hanya akan menciptakan anak-anak yang penuh luka batin.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Saat ini Melati sedang memulai usaha barunya di bidang tata boga. Dia telah memaafkan sang mama dan mulai merasakan kembali semangat hidupnya. Sedangkan temannya masih membutuhkan sesi hypnotherapy lanjutan untuk melepaskan kesedihan masa kecilnya yang mendalam.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"> “Sayangi saya. Peluk saya. Belai saya.” Itulah tangis Melati kecil yang juga merupakan suara hati setiap anak-anak. Maka tataplah mata anak-anak Anda dan bertanyalah di dalam diri—“Sudahkah saya mencintai mereka atau malah saya telah menorehkan teror terbesar di masa kecil mereka?” Saya harap jawabannya adalah Anda telah mengasihi mereka dan bukannya gumpalan penyesalan di dada Anda karena telah meng-abuse mereka. Anak-anak membutuhkan kasih sayang untuk bisa bertumbuh sebagai pribadi penuh cita-cita dan semangat hidup.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Dari kasus Melati saya menemukan jawaban dari pertanyaan saya. Penderitaan terberat dalam hidup ini adalah ketika tidak ada cinta untuk diberikan, tidak ada pelukan kasih sayang dan kata-kata untuk dijelaskan. </p>
<div style="text-indent: 36px;"><span style="font-family: Arial; line-height: normal;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahami Permainan Pikiran Anda</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/pahami-permainan-pikiran-anda/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/pahami-permainan-pikiran-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 14:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[Anda]]></category>
		<category><![CDATA[apa]]></category>
		<category><![CDATA[Bad Mood]]></category>
		<category><![CDATA[bakul]]></category>
		<category><![CDATA[Banyak]]></category>
		<category><![CDATA[bapak]]></category>
		<category><![CDATA[bara]]></category>
		<category><![CDATA[batu]]></category>
		<category><![CDATA[begitu]]></category>
		<category><![CDATA[benci]]></category>
		<category><![CDATA[bidang]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[Gagal]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[juga]]></category>
		<category><![CDATA[kamar]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[lama lama]]></category>
		<category><![CDATA[logika]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[mudah]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[nasi]]></category>
		<category><![CDATA[orang terkaya di dunia]]></category>
		<category><![CDATA[padam]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[Rejeki]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[terasa]]></category>
		<category><![CDATA[terus]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[Tiger Wood]]></category>
		<category><![CDATA[tumpah]]></category>
		<category><![CDATA[Yan]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Entah mengapa perasaannya menjadi bad mood setiap kali Parjo mendengar tentang tetangganya yang memiliki bakul nasi yang penuh – di dadanya terasa getir dengan air mata yang rasanya mau tumpah keluar. Sebuah perasaan yang membuat beku dan dingin. “Saya benci perasaan ini! Perasaan gagal yang langsung bisa menghilangkan nafsu makan. Setiap saat rasa ini muncul saya selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-53" href="http://nathaliasunaidi.com/pahami-permainan-pikiran-anda/mind-2/"></a>Entah mengapa perasaannya menjadi <em>bad mood</em> setiap kali Parjo mendengar tentang tetangganya yang memiliki bakul nasi yang penuh – di dadanya terasa getir dengan air mata yang rasanya mau tumpah keluar. Sebuah perasaan yang membuat beku dan dingin. “Saya benci perasaan ini! Perasaan gagal yang langsung bisa menghilangkan nafsu makan. Setiap saat rasa ini muncul saya selalu mencoba untuk melawannya dengan segala cara – dengan menghibur diri, pakai logika atau apa pun. Tapi perasaan ini tak kunjung padam.” amarah Parjo tentang perasaannya.</p>
<p> </p>
<p>Di luar kamar, ibunya yang sedang menampi beras mendengar keluh-kesah Parjo. Dia menasehati Parjo, “Jika kau membandingkan dirimu dengan dia. Mengapa kau tidak sekalian saja membandingkan dirimu dengan Bapak kepala desa? Atau dengan orang terkaya di dunia saja sekalian yang bakul nasinya mencapai ratusan atau ribuan buah karena dia kaya raya? Mengapa dia – si Parmin, tetangga kita? Membuat kamu terhambat saja. Setiap orang memiliki rejekinya sendiri. Masing-masing orang memiliki bakul nasinya sendiri-sendiri. Kau tidak perlu memperdulikan bakul nasi dia. Isi saja bakul nasimu. Lama-lama juga penuh. Dibanding kau terus-menerus melihat bakul nasi Parmin yang penuh. Malah mencari-cari penyebab kenapa bakul nasinya lebih penuh dibanding kamu. Ya, karena sebelumnya dia sudah mengisinya duluan dan lebih banyak. Kamu sebaliknya, malah kelupaan ngisi bakul nasimu karena terlalu mengurusi dan kepingin bakul nasi kamu penuh seperti dia. Tahu tidak, dia ngisi bakul nasinya lebih dulu dari kamu. Dia sudah mulai duluan sebelum kamu mulai. Sekarang waktunya kamu mulai mengisi bakul nasi kamu supaya penuh juga seperti dia. Ayo, mulai isi bakul nasi kamu. Tidak ada rahasia apa pun. Cuma perlu dikerjakan, isi bakul nasimu sekarang!”</p>
<p> </p>
<p>Setelah mendengar nasehat ibunya, perasaan Parjo menjadi lebih terhibur. Entah karena merasa ada yang memahami atau memang karena dia telah menerima konsep bahwa setiap orang memiliki rejeki masing-masing. Tapi di dalam hatinya yang terdalam, Parjo tidak bisa menjamin perasaan itu tidak akan muncul lagi bila dia mendengar bakul nasi Parmin yang lebih penuh. Parjo&#8230; Parjo&#8230; gitu aja kok pusing?</p>
<p> </p>
<p>Cerita si Parjo di atas bisa membuat kita berkomentar “Parjo, gitu aja kok pusing?”. Tapi apakah Anda tahu kalau ternyata setiap orang sepanjang waktu merasakan seperti yang Parjo rasakan – termasuk Anda dan saya. Siang tadi seorang pemilik tambang batu bara datang ke sesi hypnotherapy saya. Di wawancara awal, dia mengeluhkan tentang kondisi pertambangan batu bara yang sedang lesu. “Padahal saya sudah investasikan semua tabungan saya di tambang ini. Malah anjlok lagi.” keluhnya. Dia menceritakan latar belakangnya terjun di bidang batu bara. “Saya memiliki usaha lain yang sangat berkembang pesat. Tapi saya melihat seorang teman yang lebih sukses. Ternyata dia berkecimpung di bidang batu bara. Tergiur profit yang besar dan pekerjaan yang tidak begitu rumit, saya memutuskan untuk terjun di bidang ini. Tapi nyatanya tidak mudah juga. Banyak hal yang perlu diatasi.” Kemudian dia bertanya kepada saya, “Apa ada yang salah dengan saya? Saya melihat teman saya mudah sukses di bidang ini, tapi saya kok tidak begitu mudah?”</p>
<p> </p>
<p>Pembaca, jika Anda mau memeriksa ke sekeliling atau ke dalam diri Anda. Pertanyaan pengusaha batu bara itu juga kerap kali ditanyakan oleh diri ini dan orang-orang lainnya. Pernahkah Anda mengalami seperti yang dialami si pengusaha batu bara di atas? Anda melihat orang-orang kelihatannya mudah berhasil dalam usahanya namun begitu Anda terjun jadinya tidak begitu mudah malah rumit? Tidak sesuai dengan imajinasi Anda. Sehingga membuat Anda pun bertanya, “Apa yang salah di dalam diri saya? Apa saya tidak pantas untuk sukses? Apa saya orang yang sial?” Perhatikan ini, tidak ada yang salah dengan diri Anda! Saya ulangi sekali lagi – Anda baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan diri Anda. Semua itu hanyalah permainan pikiran Anda. Semua kemudahan yang Anda lihat dari orang lain hanyalah iklan dari pikiran Anda. Pikiran Anda mengeluarkan imajinasi yang membuat Anda terbuai oleh biusannya yang memabukkan sekaligus menipu. Kembali ke cerita si pengusaha batu bara di atas. Saya menjawab si pengusaha itu seperti ini, “Semua itu iklan di pikiran Anda. Begitu Anda melihat kesuksesan teman Anda, pikiran Anda langsung memunculkan imajinasi tentang betapa enaknya kesuksesan itu. Lalu Anda membandingkan dengan usaha Anda saat itu yang perlu kerja keras. Lalu pikiran itu melalui iklannya seolah menggoda Anda untuk masuk ke bidang itu. Namun, begitu Anda masuk, ternyata tidak mudah dan butuh kerja keras juga. Membuat Anda merasa ada yang salah dengan bidangnya. Lalu pikiran Anda mulai berpikir lagi untuk pindah bidang lainnya yang bisa lebih mudah. Jika Anda mengikuti permainan pikiran itu, Anda akan pindah bidang lagi. Namun, hal yang sama akan berulang kembali. Ternyata, bidang baru itu pun tidak semudah itu. Perlu kerja keras juga.” Pembaca, itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Tidak ada yang semudah itu. Setiap hal memerlukan kerja keras. Namun karena sifat dari pikiran kita yang selalu mau menghindari pain dan mengejar pleasure maka dia akan terus <em>craving</em> mencari kemudahan-kemudahan yang sebenarnya tidak pernah ada.</p>
<p> </p>
<p>Tapi bagaimana pikiran kita bisa memiliki persepsi yang salah terhadap kejadian di luar diri kita? Menurut NLP Model of Communication, informasi-informasi yang ada di luar diri kita terlalu banyak untuk bisa diterima oleh pikiran kita. Karena itu pikiran kita melakukan <em>distortion, generalization </em>dan<em> deletion</em>. Saya menyadari Anda telah mengetahui ada begitu banyak informasi yang harus diterima oleh sistem saraf kita. Menurut riset sistem saraf manusia menerima sekitar 2 juta bits informasi dalam satu detik. Padahal hanya 7 bits per detik yang bisa diterima oleh <em>conscious mind</em> kita. Lalu apa yang terjadi dengan sisanya? Pikiran kita melakukan penyaringan dengan melakukan <em>distortion, generalization </em>dan<em> deletion.</em> Wow, pantas saja banyak sekali persepsi salah yang masuk ke dalam pikiran manusia! Tidak heran kita hidup di dunia yang penuh dengan imajinasi yang salah! Bagi Anda yang bertanya apa itu <em>distortion, generalization </em>dan<em> deletion</em>, saya akan menjelaskannya.</p>
<p> </p>
<p><em>Distortion</em>: Penyaringan yang dilakukan oleh pikiran kita sehingga informasi yang masuk kita sesuaikan dengan apa yang kita inginkan atau percayai. </p>
<p><em>Generalization</em>: Pikiran kita melakukan generalisasi berdasarkan dua atau tiga pengalaman yang pernah kita alami.</p>
<p><em>Deletion</em>: Kita memfokuskan pikiran kita hanya pada sebagian informasi yang ada. </p>
<p> </p>
<p>Pembaca, mari kita membahas apa yang terjadi dengan si Parjo dan klien saya sesuai dengan NLP Model of Communication. Saat si Parjo mendengar kalau tetangganya – si Parmin – memiliki bakul nasi yang penuh, Parjo berpendapat si Parmin menyebabkan perasaannya tidak enak. Dia telah terkena <em>distorsi</em> karena dia mempercayai situasi di luar diri menyebabkan dia menderita. Pembaca, saya tidak tahu pendapat Anda tapi menurut saya banyak sekali orang-orang bahkan mungkin diri kita sendiri yang cenderung menylahkan pihak luar atas kegagalan dan kekecewaan hidup kita. Jika demikian maka kita semua terkena filter pikiran yang bernama<em> distorsi</em>. Karena kita mempercayai apa yang mau kita percayai sehingga kejadian-kejadian di luar kita pakai untuk memperkuat persepsi kita yang salah itu. Yan paling menarik, ternyata si Parjo juga terkena <em>deletion</em>. Dia hanya fokus pada kesuksesan Parmin tanpa memperhatikan kerja keras yang Parmin sudah lakukan. Jika Anda memiliki persepsi banyak orang yang mudah sekali mencapai sukses dan ketika Anda terjun menjadi tidak mudah. Pembaca, jangan tertipu oleh <em>filter deletion.</em> Pikiran kita cenderung hanya mau fokus pada imajinasi yang nikmat. Silahkan perhatikan juga PR di balik kesuksesan orang lainn. Ternyata ujung-ujungnya adalah kerja keras dan belajar tanpa henti. Klien saya – si pengusaha batu bara – juga terkena permainan pikiran yang bernama deletion. Permainan pikiran itu membuat dia hanya fokus pada kesuksesan temannya. Dia men-delete semua kerja keras dan tetek-bengek yang rumit di balik kesuksesan tersebut. </p>
<p> </p>
<p>Banyak orang mengatakan mau bisa menjadi seperti Tiger Wood – pemain golf yang sangat sukses. Kebanyakan orang sepanjang waktu hanya melihat sisi enaknya saja dari kesuksesan Tiger Wood – memiliki banyak uang, terkenal, dipuja banyak fans, dan lain-lain. Sehingga jika ditanya “Apa kamu mau menjadi Tiger Wood?” Saya yakin mayoritas orang akan menjawab, “Mau!” Siapa yang tidak mau menjadi terkenal dan kaya raya? Pembaca. Saya tahu Anda sudah menyadari hampir setiap orang sepanjang waktu terkena permainan pikiran yang bernama deletion. Karena Tiger Wood bisa sukses besar sepert itu karena setiap harinya dia bangun di waktu subuh untuk latihan memukul ribuan bola! Itulah kunci kesuksesannya! Saya rasa jika setiap orang bisa melakukan kerja keras dan latihan yang sama dengan Tiger Wood, besar kemungkinannya dia bisa sehebat Tiger Wood. Namun, seberapa banyak orang yang mengetahui strategi keberhasilannya? Dan jika tahu, seberapa banyak orang yang mau melakukannya?</p>
<p> </p>
<p>Pembaca, untuk bisa keluar dari permainan pikiran, Anda perlu mengetahui cara kerja pikiran. Hypnotherapy dan NLP merupakan bidang yang mendalami pikiran, cara kerjanya dan juga cara membuat pikiran kita selalu dalam kondisi optimal untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan.</p>
<p> </p>
<p>Tips untuk bisa memiliki pikiran yang positif tapi komprehensif:</p>
<p><span>•<span> </span></span>Setiap kali muncul pikiran yang membuat perasaan Anda kecewa atau menderita, langsung tanyakan pertanyaan lebih detil untuk <em>cracking</em> persepsi salah itu. Contoh: “Semua orang mengatakan saya jelek.” Solusi: Tanyakan pada diri Anda sendiri, tepatnya berapa orang yang mengatakan Anda jelek? Biasanya hanya satu atau dua orang tapi Anda sudah mengklaim semua orang mengatakan Anda jelek.</p>
<p><span>•<span> </span></span>Terus berusaha, jangan menyerah. Kebanyakan orang merasa trauma atas kegagalan masa lalu sehingga tidak mau berusaha. Mereka terkena penyakit mental learned helplessness (artikel tentang learned helplessness akan dimuat di Majalah Luar Biasa atau di <a href="http://www.nathaliainstitute.com/"><span>www.nathaliainstitute.com</span></a>). Biasanya setelah dua atau tiga kali mengalami kegagalan, kita akan menganggap selamanya kita tidak akan pernah berhasil. Jangan terkena generalisasi! Lakukan lagi! Hari ini adalah hari baru dengan peluang dan kondisi baru.</p>
<p><span>•<span> </span></span>Semua orang sukses telah mengerjakan PR-nya. Kini giliran Anda mengerjakan PR Anda menuju kesuksesan. Tidak ada kemudahan atau jalan pintas ke kesuksesan. Dan tidak ada yang salah dengan diri Anda, Anda baik-baik saja. Hanya saja Anda belum mengerjakan PR sebanyak orang sukses.</p>
<p><span>•<span> </span></span>Berdoalah. Doa adalah penetapan tujuan yang maha dasyat karena direstui dan dirodhoi oleh Tuhan Maha Kasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/pahami-permainan-pikiran-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Homeostatis di Subconscious Mind, Si Penghambat Kesuksesan Tanpa Batas</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/homeostatis-di-subconscious-mind-si-penghambat-kesuksesan-tanpa-batas/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/homeostatis-di-subconscious-mind-si-penghambat-kesuksesan-tanpa-batas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 06:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[aliran]]></category>
		<category><![CDATA[ampuh]]></category>
		<category><![CDATA[Batas]]></category>
		<category><![CDATA[batin]]></category>
		<category><![CDATA[bersalin]]></category>
		<category><![CDATA[bhikkhu]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[darah]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[Di Thailand]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[diri saya]]></category>
		<category><![CDATA[duduk]]></category>
		<category><![CDATA[Homeostatis]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[Kami]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[ketenangan]]></category>
		<category><![CDATA[lagi]]></category>
		<category><![CDATA[Lima]]></category>
		<category><![CDATA[Maka]]></category>
		<category><![CDATA[masuk]]></category>
		<category><![CDATA[Milton Erickson]]></category>
		<category><![CDATA[oksigen]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[resep]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[sauna]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>
		<category><![CDATA[sekali]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>
		<category><![CDATA[tenang]]></category>
		<category><![CDATA[tersebut]]></category>
		<category><![CDATA[Thailand]]></category>
		<category><![CDATA[thiland]]></category>
		<category><![CDATA[tumbuh tumbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu saya, suami dan beberapa teman mencoba sauna jenis baru yaitu sauna tradisi Thailand di sebuah tempat meditasi. Sauna ini bukan sembarang sauna karena uapnya berasal dari tumbuh-tumbuhan dan akar-akaran resep Thailand yang sangat ampuh untuk mengobati berbagai penyakit. Di Thailand sendiri, tempat-tempat meditasi menyediakan juga sauna sejenis ini. Tujuannya untuk kesehatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-24" href="http://nathaliasunaidi.com/homeostatis-di-subconscious-mind-si-penghambat-kesuksesan-tanpa-batas/freedom11/"></a>Beberapa hari yang lalu saya, suami dan beberapa teman mencoba sauna jenis baru yaitu sauna tradisi Thailand di sebuah tempat meditasi. Sauna ini bukan sembarang sauna karena uapnya berasal dari tumbuh-tumbuhan dan akar-akaran resep Thailand yang sangat ampuh untuk mengobati berbagai penyakit. Di Thailand sendiri, tempat-tempat meditasi menyediakan juga sauna sejenis ini. Tujuannya untuk kesehatan dan melatih ketenangan pikiran saat bersauna. Nah, setelah bersauna biasanya baru dilanjutkan dengan bermeditasi. “Rasa hangat dan uap tumbuhan-tumbuhan membuat aliran darah dan oksigen lebih lancar. Jika badan lebih sehat, batin akan lebih tenang saat meditasi.”, begitu kata bhikkhu di tempat meditasi yang berasal dari Thiland.</p>
<p>Dengan percaya diri, saya bersalin dan bersiap-siap masuk sauna. Saya sudah sering sauna di tempat fitness. Jadi rasanya sudah terbiasa. Sedangkan dua teman saya ini seumur-umur belum pernah sauna jadi mereka sedikit takut.</p>
<p>Begitu saya membuka pintu sauna, terlihat asap di dalam ruangan tersebut dengan bau ramuan yang kental. Saya duduk dan&#8230; ampun deh&#8230; sauna yang ini kelas berat, pikir saya. Sauna di tempat fitness yang biasanya saya masuki tida ada seujung kukunya dibandingkan yang ini. Ruangannya panas sekali dan ramuannya menyengat. Teman saya yang baru masuk, langsung mau keluar lagi. Saya katakan, “Coba dulu. Duduk dulu.” Dia mulai duduk. Kami bertiga duduk dengan sangat tersiksa. Keringat mengucur sangat deras. Kami sangat meminimkan pergerakan tubuh. Karena semakin bergerak maka panasnya akan semakin terasa. Wuih, ini seperti direbus. Teman yang satu tidak tahan dan langsung keluar. Saya pun sudah tidak tahan dan ingin keluar. Tapi saya katakan di dalam pikiran, “Lima menit lagi. Bertahan dulu.” Setelah lima menit kami keluar. Ketika keluar, kepala terasa melayang. Jantung berdetak sangat cepat. Kami duduk terdiam menunggu detak jantung kembali normal.</p>
<p>Kemudian, seorang pengurus mengatakan “Masuk lagi. Satu kali belum sehat. Racun di tubuh belum keluar.” “Ha? Masuk lagi? Insane!” pikir saya dalam hati sambil bertatapan dengan teman-teman saya seolah mereka bisa membaca pikiran saya. Dengan lunglai kami bertiga masuk lagi. “Here we go!” teriak saya dalam hati. Penyiksaan dimulai lagi. Di kedua kali ini kami hanya bertahan lima menit. Lalu langsung keluar. Kepala kembali terasa melayang. Jantung berdetak cepat.</p>
<p>Setelah beristirahat sejenak. Ada di dalam bagian diri saya yang mengatakan untuk mencobanya sekali lagi. Saya mengajak salah seorang teman saya untuk masuk ke ruang sauna lagi. Anehnya, di momen ketiga ini, nafas kami sudah mulai panjang. Kami mulai beradaptasi. Rasa panas sudah tidak begitu terasa. Kami belajar bernafas panjang lewat hidung dan menghembuskan lewat mulut. Di dalam ruang sauna yang panas itu kami bisa duduk bermeditasi. Pikiran menjadi tenang. Ajaib, pikir saya. Bagaimana bisa berubah drastis? Tubuh dan pikiran seolah cepat sekali menyesuaikan diri. Dari yang sangat tersiksa karena terasa seperti direbus menjadi bisa duduk diam bermeditasi dengan tenang. Setelah sepuluh menit, kami putuskan untuk keluar karena di luar ada rombongan lain yang mengantri ingin mencoba. Setelah sauna, kami lanjutkan dengan duduk bermeditasi di ruangan meditasi yang terbuka. Pikiran menjadi cepat sekali tenangnya. Tarikan nafas menjadi lebih panjang dan sangat melegakan. Efektif juga sauna tersebut untuk melatih ketenangan, kata saya dalam hati.</p>
<p>Para pembaca, mengapa bisa di momen pertama kali saya masuk ke ruang sauna tradisi Thailand saya mengalami rasa tersiksa yang amat sangat? Yang membuat saya langsung ingin kabur dari situasi tersebut? Pernahkan Anda mengalami hal yang saya rasakan? Ketika melakukan sesuatu yang benar-benar baru dan asing, tubuh dan pikiran Anda melakukan penolakan yang amat dasyat?  Itu karena subconscious mind kita memiliki sifat homestatis, yaitu keengganan untuk berubah. Sifat itu yang membuat kita setiap kali melakukan hal yang baru, kita akan mengalami penolakan dari diri kita sendiri. Subconscious mind resists to change! Homeostatis inilah biang keladinya penghambat kesuksesan hidup kita. Dengan cara apa pun sifat ini menentang kita untuk berubah. Begitu sampai di zona nyaman maka perubahan adalah sesuatu yang sangat  dimusuhi oleh subconscious mind.</p>
<p>Milton Erickson sangat paham akan sifat homeostatis ini sebagai sifat subconscious mind yang menolak perubahan. Maka dia suka sekali memasukkan dirinya sendiri ke sebuah situasi yang mengharuskan dia melakukan action. Di suatu hari, Erickson sedang berjalan-jalan dan dia melihat sebuah pabrik. Dari luar terdengar suara pabrik tersebut sangat bising. Erickson adalah seseorang yang memiliki keingintahuan yang sangat besar. Dan dia suka sekali mempelajari komunikasi antar manusia. Dia berpikir, “Bagaimana pekerja-pekerja pabrik tersebut bisa berkomunikasi dalam suara bising tersebut? Saya juga mau mencobanya.” Lalu dia masuk ke pabrik tersebut. Di dalamnya agak gelap dengan suara bising yang amat sangat. Ada suara palu memukul-mukul besi dan suara mesin yang bergemuruh. Erickson meminta ijin kepada pimpinan pabrik untuk bisa menginap semalam di pabrik yang beroperasi 24 jam tersebut. Di malam harinya, Erickson tidak bisa tidur. Suara bising di pabrik tersebut terasa hampir membuatnya gila. Kemudian dia berpikir, “Andaikan saya bisa mengeluarkan suara ini dari kepala saya.” Kemudian, entah mengapa suara-suara tersebut seolah keluar dari kepalanya. Dan dia bisa tertidur dengan nyenyak. Di momen itu Erickson menemukan sebuah konsep tentang teknik yang sekarang banyak digunakan dalam NLP (Neuro Linguistic Programming). Teknik tersebut  menjadi dasar berbagai teknik NLP dalam melepaskan hambatan-hambatan mental dan menciptakan behaviour of excellence untuk kesuksesan tanpa batas.</p>
<p>Pembaca, Erickson paham sekali tentang sifat homeostatis subconscious mind. Subconscious mind enggan berubah jika tidak dipaksa. Karena itu dia memasukkan dirinya ke situasi bising di pabrik tersebut untuk mendesak subconsciousnya menemukan solusi dan action. Dan begitu kita take action, keajaiban terjadi. Subconscious mind sesungguhnya fast learner. Asalkan kita mau action, subconscious mind dengan sendirinya menemukan cara dan solusi dari situasi yang kita alami. Andaikan saat itu Erickson tidak memasukkan dirinya ke situasi mendesak di pabrik bising tersebut maka dia tidak menemukan teknik yang sekarang banyak digunakan untuk menciptakan behaviour of excellence dalam NLP. Banyak para graduates hypnotherapist saya yang tercengang ketika mereka bisa melakukan sesi hypnotherapy dengan sangat baik seolah sudah alami. “Padahal awalnya sangat takut dan enggan untuk mengikuti training karena takut tidak mampu. Namun, setelah dilakukan, ternyata saya baru menyadari bisa menyembuhkan orang menggunakan hypnotherapy dengan mudahnya.” komentar salah seorang graduate yang berhasil di sesi praktek. Ya, begitu kita putuskan untuk take action maka subconscious akan beradaptasi dan belajar dengan sangat cepat.</p>
<p>Sifat homeostatis inilah yang menjadi penghambat diri kita untuk mau take action. Kita selalu dipermainkan oleh homeostatis subconscious mind. Dia selalu menghambat kita untuk berubah. Pikiran kita akan membuat banyak skenario dan rasa sakit supaya kita tidak melakukan perubahan. Saat pertama kali fitness, tubuh akan ngilu-ngilu yang bisa membuat kita kapok melakukan lagi. Saat awal-awal berhenti merokok, mulut terasa asam dan pikiran gelisah. Mau mulai usaha baru, jantung berdetak cepat, keringat dingin dan pikiran diliputi rasa takut. Pindah ke rumah baru, jadi sulit tidur di malam hari. Makan makanan baru membuat perut mules dan lain-lain. Semua itu reaksi-reaksi penolakan sifat homeostatis subconscious mind yang tidak mau berubah. Jika hal itu diikuti terus-menerus maka diri kita sendirilah yang menghentikan potensi kesuksesan kita yang tanpa batas.</p>
<p>Lalu bagaimana untuk bisa mengalahkan sifat homestatis subconscious mind ini? Sederhana, yang perlu Anda lakukan adalah TAKE ACTION. Take action tidak cukup hanya sekali. Lakukanlah minimum tiga kali baru subconscious mind mulai beradaptasi. Dan begitu sudah beradaptasi, miracle akan terjadi. Seperti pengalaman saya di sauna, di momen pertama mencoba seluruh tubuh dan pikiran saya menolak. Namun, di momen ketiga, seperti ajaib seluruh sistem tubuh sudah bisa beradaptasi dengan cepat. Setelah take action, BERTAHANLAH sampai terbiasa. Katakan kepada diri Anda sendiri untuk mau bertahan sebentar lagi, jangan menyerah dulu. Anda akan terkesima betapa subconscious mind memiliki potensi tanpa batas jika kita mau bertahan sebentar lagi. Begitu subconscious mind mulai mahir dan terbiasa maka dia akan mulai dirambati kembali sifat homeostatis. Action kita akan menciptakan zona nyaman yang baru. Dan jika kita tidak belajar hal baru lagi maka homeostatis akan mematikan potensi kita lagi. Karena itu kita perlu terus belajar dan take action untuk hal-hal baru yang positif maka kita akan menemukan betapa subconscious mind merupakan sahabat terbaik meraih kesuksesan tanpa batas. Salam perubahan dan selamat berubah ke arah yang lebih baik setiap saatnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/homeostatis-di-subconscious-mind-si-penghambat-kesuksesan-tanpa-batas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Learned Helplessness Penyakit Mental Orang yang Gagal</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/learned-helplessness-penyakit-mental-orang-yang-gagal/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/learned-helplessness-penyakit-mental-orang-yang-gagal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 06:03:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[american psychiatric association]]></category>
		<category><![CDATA[Anda]]></category>
		<category><![CDATA[banyak orang]]></category>
		<category><![CDATA[bapak]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dsm iv]]></category>
		<category><![CDATA[Gagal]]></category>
		<category><![CDATA[hypnotherapist]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[juga]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[kian]]></category>
		<category><![CDATA[konvensi]]></category>
		<category><![CDATA[kredit bank]]></category>
		<category><![CDATA[learned helplessness]]></category>
		<category><![CDATA[lesu]]></category>
		<category><![CDATA[mana mana]]></category>
		<category><![CDATA[notabene]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[phk]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog]]></category>
		<category><![CDATA[richard harte]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[santai]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sekaligus]]></category>
		<category><![CDATA[seluruh dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Tapi]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yakin]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak tahu apakah Anda pernah mendengar penyakit mental ini – “learned helplessness” – sebelumnya? Tapi yang saya tahu penyakit mental ini sedang menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Lanjutkan membaca artikel ini untuk mencari tahu apakah Anda juga sedang terjangkiti “learned helplessness” dan bagaimana mencegahnya.
 
Kemarin – di hari keempat saya ikut konvensi hypnotherapist dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya tidak tahu apakah Anda pernah mendengar penyakit mental ini – “learned helplessness” – sebelumnya? Tapi yang saya tahu penyakit mental ini sedang menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Lanjutkan membaca artikel ini untuk mencari tahu apakah Anda juga sedang terjangkiti “learned helplessness” dan bagaimana mencegahnya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Kemarin – di hari keempat saya ikut konvensi hypnotherapist dunia di Marlborough, USA – instruktur saya, Dr. Richard Harte – seorang psikolog sekaligus hypnotherapist – membahas sebentar tentang “learned helplessness” di kelas. Dia mengatakan “learned helplessness” dinyatakan sebagai salah satu penyakit mental terbesar yang diidap masyarakat Amerika saat ini. “Learned helplessness” merupakan salah satu penyakit mental yang terdaftar dalam DSM-IV (Diagnostic and Statistic Manual) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya yakin Anda telah mengetahui Amerika tengah krisis. Hampir sebagian besar warganya mengalami depresi karena ekonomi yang tengah merosot tajam. PHK terjadi di mana-mana.  Banyak orang kehilangan rumah karena tidak bisa lagi membayar pinjaman kredit bank. Mereka mengencangkan ikat pinggang dengan tidak mau membelanjakan uangnya yang notabene menjadi penyebab perekonomian kian lesu. Semua orang sepanjang waktu mengeluhkan tentang gaji yang sangat minimum namun tetap menjalankan pekerjaannya malah bersyukur karena tidak di-PHK. Mereka tetap bertahan di dalam “pain” yang sedang mereka alami. “Inescapable” membuat mereka merasakan “helpless”. Inilah “learned helplessness” yang tengah dialami masyarakat Amerika.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Pembaca, saya tidak tahu apakah Anda memperhatikan kondisi pesimis ini. Yang saya temukan, hampir setiap orang di Amerika yang saya temui membicarakan keadaan ekonomi yang kian lesu. Seorang bapak berusia hampir lima puluh tahun yang kebetulan bersama saya saat makan siang memulai obrolan santai kami dengan membicarakan kondisi politik Amerika dan merembet ke keluhan kesulitan ekonomi yang sedang dialami sebagian besar masyarakat Amerika – atau lebih tepatnya kesulitan ekonomi yang sedang dialaminya. Menanggapi keluhannya, seorang kawan yang juga memiliki bidang bisnis yang sama dengan bapak itu mensharingkan keberhasilan strategi barunya kepada kami. Saya tahu dia sedang melemparkan solusi keberhasilannya kepada bapak itu. Sayang sekali, si bapak menanggapinya dengan berbagai alasan mengapa dia tidak bisa menjalankan strategi itu. Bapak itu sedang merasa “unescapable”. Dia tengah mengalami “learned helplessness”. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Beberapa hari sebelumnya – ketika saya di dalam pesawat menuju Boston – saya ngobrol dengan teman sebangku saya, pria Amerika berusia hampir enam puluh tahun. Dia memulai obrolan kami dengan hal yang sama – betapa kondisi negara itu sedang krisis dan sulit. Lucunya, di tengah obrolan kami, terdengar suara dari perutnya. Dia langsung berkomentar, “Walaupun saya lapar, saya tidak mau membeli makanan di dalam pesawat. Di luar saya bisa hemat lima dollar untuk makanan yang sama.” Saat itu, di internal diri saya, bercampur antara lucu dan kasihan. Dia mau mengorbankan kesehatan perutnya untuk menghemat lima dollar. Saya jadi bertanya-tanya apakah kondisi negaranya begitu buruk atau ada sesuatu yang terjadi di dalam pola pikir masyarakat Amerika? Saya tahu sebagian orang menikmati perbincangan yang membahas tentang keluhan dan alasan kesulitan hidup yang sedang mereka alami. Saya yakin Anda pun menyadari hal itu. Tapi bagi saya sayang sekali waktu berjam-jam dihabiskan hanya untuk memvalidasi dan memperkuat sugesti yang berupa keluhan-keluhan negatif ke alam bawah sadar kita. Jadi saya ingin mengubah arah pembicaraan kami. “Don&#8217;t you have any other alternatives to overcome this bad situation?” Saya yakin Anda tahu saya sedang mengubah arah pembicaraan kami ke hal yang lebih solutif. Sayangnya, penyakit “learned helplessness” juga tengah menjalarinya. Dia menjawab pertanyaan saya dengan berbagai keluhan negatif lainnya. Tidak ada seorang pun yang sempurna, saya paham pepatah itu dan menyadari bapak itu dan saya pun tidak sempurna. Tapi rasanya habis juga energi saya mendengarkan berbagai keluhan negatif si bapak. Jadi saya hentikan obrolan kami yang memiliki energi negatif itu. “That&#8217;s it” kata saya di dalam hati dan saya pasang earphone di telinga saya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya tidak tahu dan juga bertanya-tanya – apakah saya sedang sial atau memang hampir semua masyarakat di negara paman Sam ini lagi terus mengeluh? Saya suka sekali bersosialisasi. Sangat penting bagi saya untuk terus belajar berkomunikasi dengan berbagai tipe orang. Jadi saya sering ngobrol dengan orang-orang yang saya temui – di mall, lagi menunggu kereta, di toilet, di jalan, dll. Dan hampir setiap orang yang saya temui membuka obrolan dengan keluhan hidupnya dan kondisi sulit Amerika saat ini. Saya tidak tahu, mungkin saya yang sedang sial bertemu orang-orang yang mengeluh.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya pikir penyakit “learned helpnessness” yang membuat orang-orang menjadi lumpuh secara mental dan tidak bisa bangkit dari keterpurukan ini hanya terjangkit di Amerika. Namun, kenyataannya hampir seluruh dunia sedang mengalami penyakit mental ini. Siang tadi, teman training saya – suami istri dari Jepang – bercerita  setiap harinya di Jepang pasti ada kereta yang berhenti di tengah rel karena ada warga Jepang yang bunuh diri dengan melompat ke arah kereta. “Karena itu hypnotherapy sangat bisa membantu orang-orang Jepang. Negara kami sedang depresi. Kami menggunakan hypnotherapy ini sebagai wujud dedikasi kami untuk membantu menyelamatkan kehidupan.” mereka menceritakan motivasi mereka menjadi hypnotherapist kepada saya. Walah, “learned helpnessness” juga sedang terjangkit di Jepang! Malah dalam stadium mematikan nyawa.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya tahu jika Anda membaca berita di koran atau menonton televisi, Anda akan dibombardir berita-berita yang melaporkan kondisi ekonomi dunia yang sedang krisis. Ya, hampir di seluruh dunia sedang mengalami krisis ekonomi. Anda sebutkan saja nama beberapa negara maka hampir sebagian besarnya juga dalam krisis. Di kelas training NLP yang saya adakan, ada seorang psikolog yang berasal dari Abu Dhabi mengikuti training saya. Di sela-sela pengajaran, saya mengobrol dengan ibu psikolog itu. Obrolan kami melebar ke kondisi ekonomi di Abu Dhabi. Ya, saya tahu Anda sudah bisa menebak cerita ibu itu, Abu Dhabi juga juga sedang mengalami krisis ekonomi. Di tempat penghasil minyak itu pun tidak luput dari krisis. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seiring membaca tulisan ini, saya tahu Anda mulai bertanya-tanya tentang apa itu “learned helplessness”. Saya akan menjelaskannya dengan menceritakan kisah ditemukannya “learned helplessness” sehingga Anda bisa menikmatinya dan sekaligus memahaminya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Apa itu “learned helpnessness”?</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Martin Seligman – seorang psikolog dari Amerika – menemukan penyakit “learned helplessness” berdasarkan eksperimennya di tahun 1967. Eksperimen ini sangat menarik. Seligman melakukan eksperimen kepada tiga grup anjing yang diikat selama beberapa waktu dan kemudian dilepas. Grup anjing pertama hanya diikat dan kemudian dilepaskan. Grup kedua secara sengaja disakiti dengan diberikan besi di tubuhnya lalu disetrum. Tapi anjing-anjing itu bisa menghentikan setruman dengan menekan pengungkit. Nah, kepada grup ketiga dilakukan penyetruman yang sama tapi pengungkitnya tidak bisa menghentikan setruman itu. Grup ketiga bergantung kepada grup kedua untuk menghentikan aliran setrum itu sehingga seolah setruman itu akan berakhir secara acak. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Setruman dilakukan secara konsisten kepada grup kedua dan ketiga. Selang beberapa lama, hal ini ini membuat grup anjing ketiga menjadi shock dan merasa “inescapeable”. Grup ketiga belajar menjadi helpless dan masuk depresi. Sedangkan grup pertama dan kedua dengan cepat pulih dari pengalaman buruk itu.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Setelah beberapa saat diikat, para anjing itu mulai dilepas. Cara melepasnya pun menarik, semua anjing ditaruh di kotak yang ada sengatan listriknya. Tapi dengan sangat mudah anjing tersebut bisa keluar dari kotak tersebut karena partisinya sangat rendah. Di saat bersamaan, sengatan listrik dinyalakan. Semua anjing kesakitan. Anjing-anjing yang berasal dari grup pertama dan kedua dengan sangat mudah melompat keluar dari kotak yang ada sengatan listriknya. Uniknya, hampir semua anjing dari grup ketiga – yang sebelumnya disetrum tanpa bisa ada daya untuk menghentikan setruman – hanya berbaring dengan pasrah dan mengeluh, hanya bisa melolong panjang. Anjing-anjing tersebut semestinya dengan sangat mudah keluar dari kotak tersebut. Tapi mereka memilih untuk tidak melakukannya. Saya tidak tahu apa pendapat Anda tentang ini, tapi bagi saya sangat aneh dan mencengangkan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Dari eksperimennya, Seligman menyimpulkan anjing-anjing dari grup ketiga mempelajari behaviour tertentu akibat kekerasan pengalaman buruk yang dialaminya – saat disetrum tanpa ada kuasa untuk menghentikannya. Pengalaman buruk itu – entah bagaimana caranya – mengubah behaviour alami mereka untuk bisa survive dalam hidupnya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Kemudian, di akhir tahun 1960, Seligman menyampaikan dari 150 anjing yang berada di grup ketiga – sepertiganya tidak menjadi “helpless”. Mereka bisa keluar dari kotak yang ada sengatan listriknya. Dia menyimpulkan anjing-anjing yang tidak memiliki penyakit “learned helplessness” akibat pengalaman buruknya bisa survive dan keluar dari situasi yang menyakitkan itu. Behaviour positif itu dikorelasikan oleh Seligman sebagai sikap optimisme di dalam diri manusia.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">“Learned helplessness” didefinisikan sebagai kondisi manusia atau binatang yang belajar untuk bereaksi tidak berdaya walaupun dihadapannya terdapat kesempatan. Itu terjadi karena manusia atau binatang tersebut menghindari rasa sakit karena pernah mengalami pengalaman buruk yang serupa sebelumnya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>“Learned helplessness” di Indonesia</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Setelah memahami bagaimana “learned helplessness” didefinisikan maka – saya tidak tahu dengan Anda – tapi saya bisa mulai melihat gejala penyakit ini dialami juga oleh banyak orang di sekitar saya. Penyakit mental ini juga sudah mewabah di negara kita tercinta, Indonesia.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Entah apakah Anda juga menemukannya dalam hidup Anda, tapi saya sebagai hypnotherapist hampir setiap hari berhubungan dengan klien-klien yang di antaranya telah terjangkit penyakit “learned helplessness” yang bisa mematikan. Seorang anak ABG datang ke sesi hypnotherapy dan mengatakan kepada saya dia sudah dua kali bunuh diri tapi diselamatkan oleh orang tuanya. Sudah beberapa bulan dia depresi akibat pacarnya yang telah menidurinya memutuskan hubungan pacaran yang telah mereka jalin selama dua tahun. “Saya merasa telah hancur. Tidak ada jalan keluar. Lebih baik mati.” katanya. Dia telah terjangkit penyakit “learned helplessness” stadium mematikan akibat pengalaman cinta yang menyakitkan. Seorang ibu berwajah kuyu datang ke saya. Jika Anda menjadi saya, saya yakin Anda pun bisa mengetahui ibu itu habis menangis karena matanya sangat bengkak. “Tahun lalu saya pernah menenggak satu botol obat tapi tidak mati. Teman saya menemukan saya dan membawa saya ke rumah sakit. Suami saya menikah lagi dengan kolega bisnisnya. Dan anak saya menyalahkan saya karena itu.” tangis si ibu. Seorang pramugara – yang baru saja di-PHK memilih untuk meninggalkan istri dan anak-anaknya karena malu tidak bisa memberi nafkah – datang ke sesi hypnotherapy untuk melepaskan kekecewaannya yang mendalam dan mencari solusi dari alam bawah sadarnya. “Saya tidak bisa keluar dari situasi ini. Saya merasa lumpuh dan tidak berdaya.” keluhnya ke saya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Kisah nyata di atas hanyalah sebagian kecil dari kisah ribuan klien hypnotherapy yang sudah saya tangani dalam lima tahun ini. Dan hampir sebagian besarnya diawali dari kondisi “learned helplessness”. Dan jika Anda mau memperhatikan kehidupan Anda dan sekitar, menurut Anda apakah “learned helplessness” juga sedang dialami masyarakat Indonesia? Entah apakah Anda juga melihatnya, tapi saya menyadari betapa sekarang orang-orang dengan mudahnya merasakan ketidakberdayaan karena pengalaman pahit hidup yang yang telah mereka alami. Bahkan saat Anda sedang membaca tulisan ini sekarang, Anda bisa mulai teringat orang-orang, teman atau keluarga yang sedang berada dalam kesulitan hidup tapi tidak berdaya untuk mencari jalan keluar untuk kehidupan yang lebih baik. Sayang sekali&#8230; Saya yakin Anda juga mulai bertanya-tanya apakah saya dan juga Anda sedang terjangkiti penyakit mental ini juga? Saya tahu pertanyaan itu membuat Anda merasakan rasa terdesak untuk mempelajari “learned helplessness” lebih lanjut supaya bisa melakukan pencegahannya sekarang.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Apa yang membuat seseorang bisa terjangkit penyakit mental “learned helplessness”?</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Orang-orang yang mengalami “learned helplessness” adalah orang-orang yang tengah mengalami berbagai hambatan dan kesulitan dalam hidup tapi tidak memiliki solusi untuk keluar dari situasi tersebut. Ini membuat mereka menjadi orang yang gagal menghadapi rintangan hidup menuju kesuksesan. Ada hal yang membuat saya bertanya dalam hal ini, mengapa ada kisah-kisah sukses orang-orang yang bisa mengatasi keterpurukan dan meraih kemenangan? Namun, mengapa ada orang-orang yang gagal dan sungguh tidak berdaya untuk “survive” dalam kehidupannya? Padahal kita semua hidup di dunia yang sama. Di sebuah dunia yang didalamnya terdapat berbagai rintangan dan kesulitan. Memang begitulah sifat dunia ini apa adanya. Dunia menghadirkan berbagai kesulitan untuk kita lewati seperti ujian di sekolah supaya kita naik kelas.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Ternyata, dalam risetnya, Seligman menemukan ada beberapa kesamaan cara pandang terhadap pengalaman masa lalu orang-orang yang mengalami “learned helplessness”. Dia menyebutnya tiga komponen utama cara pandang seseorang. Sangat penting untuk Anda mengetahui hal ini untuk bisa menghindarinya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Permanence</strong><br />
Pernahkah Anda mengalami kegagalan dan menganggap Anda juga akan gagal di bidang-bidang lainnya? Sehingga Anda takut dan enggan untuk berusaha lagi. Jika demikian maka Anda terkena belief negatif yang bernama permanence. Saya jadi teringat sebuah cerita tentang katak yang terkena belief keliru yang bernama permanence. Seekor katak ditaruh di sebuah toples yang bertutup. Si katak ingin sekali keluar dari toples itu. Oleh karena itu dia melompat tinggi-tinggi dengan harapan bisa keluar. Namun, setiap kali melompat kepalanya terbentur tutup toples. “Auw!” begitulah teriakan sakitnya jika dia bisa berteriak. Dia berusaha beberapa kali namun terbentur terus. Akhirnya sepanjang saat dia berdiam diri, tidak pernah mencoba lagi. Dia habiskan hidupnya tanpa pernah melompat lagi dan meninggal di toples itu. Padahal selang beberapa hari setelah lompatan terakhirnya tutup toples itu dibuka oleh seseorang. Andaikan si katak mencoba sekali lagi saja, dia pasti sudah melompat keluar. Tapi dia tidak pernah berusaha lagi seumur hidupnya. Dia terkena “learned helplessness”.<br />
Permanence merupakan belief yang salah yang menganggap kejadian masa lalu adalah permanen atau tidak bisa berubah. Walaupun sebenarnya tidak ada yang abadi namun orang-orang yang terkena belief salah ini menganggap semuanya permanen. Karena belief salah ini orang tersebut cenderung berhenti berusaha karena merasa tidak ada gunanya. Jika cara pandang ini berlanjut maka dia akan berakhir menjadi “learned helplessness”.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Personalization</strong><br />
Dalam training perusahaan yang saya lakukan beberapa waktu lalu, saya bertanya kepada para peserta, “Siapa yang paling sering menghujat diri kita?” Jawaban mereka bervariasi. Ada yang bilang orang tua, suami/istri atau musuh. Anda pun bisa menjawab pertanyaan di atas dengan berbagai jawaban lainnya, namun yang paling sering menghujat diri kita adalah diri kita sendiri. Aneh tapi itulah kenyataannya. Pernahkah Anda mengamati kata-kata apa yang Anda katakan kepada diri Anda ketika Anda tidak lancar bicara di rapat, menumpahkan air di depan klien penting, gagal presentasi dan berbagai momen memalukan lainnya? Kata yang paling sering digunakan adalah “Saya bego” disusul dengan “Saya selalu gagal” disertai berbagai makian kepada diri sendiri. Jika saat membaca ini Anda merasakan cerita saya seperti menggambarkan diri Anda maka ini pertanda untuk Anda mulai mengubah kata-kata Anda kepada diri sendiri menjadi lebih suportif.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Memang penting untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang kita lakukan. Namun orang dengan “learned helplessness” selalu menyalahkan dirinya sendiri untuk segalanya. Ini mengindikasikan rasa rendah diri dan depresi. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Pervasiveness</strong><br />
Cara pandang ketiga yang bisa mengantarkan seseorang ke “learned helplessness” adalah pervasiveness, yaitu kecenderungan untuk men-generalisasi sebuah hal negatif ke keseluruhan hal dalam kehidupan. Contohnya, “Usaha saya sebelumnya gagal maka saya orang yang selalu sial”, “Tidak ada yang menyayangi saya karena saya tidak diundang ke pesta Tessa”, “Anak saya gagal di ujian matematika maka saya orang tua yang gagal”, dll. Tidak ada kegagalan dalam hidup ini, yang ada hanyalah feedback. Namun orang dengan learned helplessness cenderung menghubung-hubungkan kejadian kecil menjadi sebuah kegagalan di keseluruhan hidupnya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Dengan mengetahui ketiga komponen di atas berarti Anda mulai menyadari bahwa tidak ada yang abadi. Segala sesuatu terus berubah termasuk keadaan hidup Anda. Ini membuat Anda mau terus berusaha karena bisa jadi penutup toples Anda sudah terangkat sekarang. Anda pun mulai memahami tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Dan tidak seorang pun semestinya menghakimi orang lain termasuk Anda kepada diri Anda sendiri. Saya dapat merasakan Anda mulai mengubah kata-kata Anda menjadi lebih mendukung dan positif kepada diri Anda sendiri. Anda tidak lagi memandang ketidakberhasilan dalam hidup Anda sebagai noda hitam namun sebagai pembelajaran kehidupan menuju keberhasilan. Dan dengan Anda menghindari ketiga cara pandang di atas maka Anda sedang menjauh dari terkena “learned helplessness” penyakit mental orang yang gagal.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Tips untuk terhindar dari penyakit mental “learned helplessness”:</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Terus berusaha. Jangan berhenti!</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong> </strong><br />
Yang lalu telah berlalu. Hari ini dan esok adalah hari yang baru. Anda bisa memilih berdiam diri dan meratapi nasib masa lalu atau Anda bisa bangkit dan berusaha lagi. Semuanya itu pilihan Anda. Anda tidak perlu memutuskannya sekarang. Namun, setelah Anda mengetahui bahwa tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini termasuk kegagalan Anda pun tidak abadi, Anda mulai memikirkan untuk action lagi sekarang menuju kesuksesan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Belajar.</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong> </strong><br />
Anda bisa saja mengikuti ujian SMU dengan ilmu pengetahuan SD namun besar kemungkinannya Anda akan gagal di ujian tersebut. Kalimat ini berkesan sederhana namun banyak sekali orang-orang yang menghadapi tantangan baru dalam kehidupannya dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang sudah <em>jadul</em> (jaman dulu). Dan ketika terus-menerus gagal, orang-orang itu akan meratapi nasib, menyalahkan yang lain dan trauma untuk mencoba. Cara terbaik menghadapi “learned helplessness” adalah dengan terus belajar. Bodoh jika mencoba mendaki gunung memakai benang jahit lalu terus-menerus mengulanginya walaupun gagal. Cara yang terbaik adalah menemukan metode mendaki gunung yang efektif dengan belajar dari yang ahli yang telah sampai di puncak gunung. Walaupun asosiasi di atas terkesan lucu namun banyak orang terus-menerus berambisi untuk mencapai kesuksesan dengan menggunakan cara-cara yang tidak efektif. Mereka tidak belajar dari ahlinya. Bahkan mereka berhenti belajar. Jaman berubah maka strategi menghadapi kesulitan di jaman ini pun perlu Anda ubah. Isi alam bawah sadar dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan/skill. Ibarat seorang petarung yang memperlengkapi dirinya dengan berbagai senjata cadangan untuk menghadapi pertarungan kehidupan. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>State of excellence.</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Anti dari “learned helplessness” adalah “learned optimism”. Untuk bisa selalu berada di kondisi optimis, Anda perlu menguasai mood Anda. Sekarang sudah bukan jamannya lagi bekerja mengikuti mood. Jika mood sedang baik maka Anda baru bisa berproduktivitas. Sebaliknya, jika mood sedang buruk maka produktivitas Anda nol. Anda bisa memilih untuk menghadapi rintangan kesuksesan berdasarkan mood atau Anda bisa sepanjang waktu menciptakan state of excellence (kondisi luar biasa). Ada berbagai cara untuk menciptakan state of excellence, diantaranya adalah hypnotherapy dan NLP, dua bidang yang saya kuasai dan saya ajarkan ke orang-orang yang membutuhkannya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Kumpulkan wisdom.</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Apakah Anda pernah bermain game petualangan di playstation atau komputer? Seorang petualang dalam game itu akan mengumpulkan poin atau permata jika telah melewati suatu rintangan. Semakin banyak atau poin yang dikumpulkan, si petualang akan menjadi semakin kuat dan nyawanya bertambah untuk modal menghadapi level berikutnya. Dengan memahami arti di balik game itu, Anda jadi bisa menemukan kemiripannya dengan kehidupan ini. Hidup adalah sebuah perjalanan mengumpulkan poin wisdom. Wisdom ibarat lentera penerang dan penguat dalam kehidupan ini. Jika suatu saat kita terjebak masuk ke dalam goa gelap, kita tetap memiliki cahaya dan kekuatan untuk meneruskan perjalanan kita. Dan wisdom bisa kita kumpulkan dari pengalaman kesuksesan kita atau pengalaman kegagalan hidup. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;"><strong>Lakukan terapi.</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Jika Anda telah melakukan berbagai pencegahan tapi gejala “learned helplessness” masih berlanjut maka cara yang terbaik adalah datang ke terapi. Metode terapi yang saya gunakan kepada para klien saya adalah hypnotherapy dan terapi NLP karena hypnotherapy dan NLP sangat efektif untuk mengubah cara pandang seseorang terhadap pengalaman masa lalu dan kehidupan. Maka Anda pun bisa mengatasi gejala “learned helplessness” dengan mendatangi hypnotherapist atau ahli terapi lainnya yang Anda percayai. Selamat mencoba!</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 19.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Dimuat di majalah LUAR BIASA! edisi Oktober 2009</p>
<div><span style="font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/learned-helplessness-penyakit-mental-orang-yang-gagal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
