<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nathalia Sunaidi &#62;&#62; Hipnotis &#38; Hipnoterapis &#187; Artikel Tetap</title>
	<atom:link href="http://nathaliasunaidi.com/category/artikel-tetap/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nathaliasunaidi.com</link>
	<description>Hipnosis&#124;Hipnoterapi&#124;NLP&#124;EFT</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Magnet</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/magnet/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/magnet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 08:16:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum magnet]]></category>
		<category><![CDATA[magnet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Mencipta dan Memperbesar Magnet Diri
Seorang penjual kue yang telah jenuh dengan hidupnya merasa putus asa, mendapat kesempatan bertemu dengan &#8216;murid ke tiga&#8217; yang tercerahkan.
&#8220;Guru saya sudah bekerja keras mencari duit, dari pagi sampai malam saya bekerja terus, semua memang menghasilkan, tetapi kenapa saya tidak kaya-kaya ?. Rasanya semua pas-pas saja untuk bertahan hidup saya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><strong>Hukum Mencipta dan Memperbesar Magnet Diri</strong></h1>
<p>Seorang penjual kue yang telah jenuh dengan hidupnya merasa putus asa, mendapat kesempatan bertemu dengan &#8216;murid ke tiga&#8217; yang tercerahkan.</p>
<p>&#8220;Guru saya sudah bekerja keras mencari duit, dari pagi sampai malam saya bekerja terus, semua memang menghasilkan, tetapi kenapa saya tidak kaya-kaya ?. Rasanya semua pas-pas saja untuk bertahan hidup saya. Begitu saya mulai menabung pasti ada kejadian yang membuat tabunganku terkuras. Saya jadi putus asa. Saya sudah 20 tahun menjual kue. Sedangkan di rumah saya punya ibu yang sakit-sakitan yang menjadi beban saya. saya harus bagaimana ?&#8221; Dunia rasanya tidak adil, kami yang miskin tetap miskin sedangkan yang kaya makin kaya. Bahkan banyak diantaranya bermatapencaharian dengan tidak benar, tatapi mereka dapat kaya. Tuhan memang tidak adil kepada saya..!&#8221;</p>
<p>&#8221; Tuhan Maha Adil kawanku, hanya kamu yang belum memahami. Saya tahu anda telah bekerja dengan keras sepanjang hari. Kamu tetap pada pendirianmu bermatapencaharian yang benar. Bahkan anda penuh bakti kepada ibumu. Semua ini telah membuahkan hasil kawan&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hasilnya mana guru ? Saya merasa tidah mendapat apa yang saya inginkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang benar, apa diberikan Tuhan kadang berbeda dengan yang kamu inginkan .Karena Ia Maha Tahu..Bersyukurlah kamu&#8230;karena dengan bersyukur maka akan terbuka mata batinmu untuk melihat&#8230; semua proses pengabdianmu, kerja kerasmu telah membuahkan hasil.Tentu ia datang tidak dalam bentuk uang. Dan jika datang dalam bentuk uang, kamu juga belum siap menampungnya. Karena &#8220;WADAH UANG&#8221; kamu masih kecil. Akibat tertutupnya mata batinmu anda tidak bersyukur dengan anugrah yang telah kamu dapat. Sebenarnya karena semua kerja keras dan pengabdianmu juga kamu telah diberi kesempatan bertemu dengan saya. Itu anugrah yang luar biasa, jika kamu dapat memanfaatkan kesempatan ini maka hidupmu akan berubah. Pulanglah&#8230; dan pecahkan &#8220;WADAH UANG&#8221; kamu yang kecil itu, dan ganti dengan yang lebih besar. Kemudian murid ke tiga masuk dalam hening tanpa mau bicara lagi.. Karena guru itu tahu, penjelaskan lebih lanjut tidak akan bermanfaat. ia yang belum tahu harus mengalami kesalahan untuk menemukan yang benar.&#8221;</p>
<p>Penjual kue dalam kebingungan. dalam kondisi ngerti dann tidak mengerti pulang meninggalkan gurunya.</p>
<p>&#8220;Satu tahun kemudian. Penjual kue mendatangi &#8216;murid ke tiga&#8217; lagi. &#8221; Guru.. saya telah memecahkan &#8216;wadah Uang&#8217; saya tetapi saya merasa tidak terjadi perubahan apapun pada kehidupan saya, masih tetap seperti sebelumnya.. bahkan sekarang saya binggung. Karena dalam kondisi sekarang jika ibuku masuk rumah sakit. saya pasti tidak dapat membiayainya lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kawan&#8230;&#8217;Wadah Uang&#8217; yang mana yang kamu pecahkan ?&#8221;</p>
<p>&#8221; &#8216;Wadah Uang&#8217; yang dirumah saya, guru. Itu tabungan saya satu-satunya yang saya pertahankan untuk menjaga-jaga, jika ibuku sakit keras dan saya siap membiayainya. Semuanya telah saya tanamkan kedalam usaha jual kue saya. memang ada kemajuan. Perputaran usaha membesar, Pendapatanpun bertambah. Tetapi selalu aja ada kejadian yang menyebabkan uang saya habis. Dan hasilnya tetap sama guru&#8221;</p>
<p>&#8220;Kawanku&#8230; saya tidak menyuruh kamu memecahkan &#8216;Wadah Uang&#8217;; tabunganmu. Yang perlu dipecahkan adalah &#8216;Wadah Uang&#8217; yang ada dalam dalam dirimu !&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah tindakan bodohmu juga bermanfaat. Paling tidak sekarang kamu sudah tahu bukan &#8216;wadah Uang&#8217; di luar yang perlu di pecahkan, tetapi &#8216; Wadah Uang&#8217; yang ada di dalam dirimu. Mari saya jelaskan !&#8221;</p>
<p>Maka &#8216;murid ke tiga&#8217; menjelaskan tentang &#8216;Magnet diri&#8217; yang ada dalam diri kita kepada penjual kue tersebut. Akhirnya ia menyadari keberadaan &#8216;Magnet diri&#8217;. (Baca tulisan saya tentang &#8220;Magnet diri&#8221; di notes saya).</p>
<p>&#8220;Jika demikian guru.. maka bagaimana dengan kami yang miskin yang belum cukup, dapat memiliki dan memperbesar &#8216;magnet diri&#8217;, sedangkan untuk kehidupan sehari-hari saja kadang tidak cukup. Bagaimana kami membuat karma baik dengan menyumbang ?. Kami merasa tidak mampu. Kami berpikir yang nyumbang-nyumbang seharusnya mereka yang telah kaya, dan seharusnya membagikan sebahagian kekayaannya kepada kami yang miskin supaya ada keadilan&#8230;&#8221; Inilah mental atau pola pikir penghambat bagi mereka yang secara ekonomi tidak mampu. Mereka seperti terperangkap dalam suatu wadah yang mereka ciptakan sendiri dan tak berdaya. akhirnya selalu mengharapkan bantuan dari luar.</p>
<p>&#8220;Tuhan Maha Adil kawanku. Tuhan telah memberikan semua bekal yang dibutuhan Manusia dalam perjalanan sekolah di planet bumi ini. Tuhan tidak akan dapat memberimu langsung dalam bentuk materi atau uang karena itu bukan dimensinNYA. Ia Yang Maha Agung telah menanamkan percikan diriNYA kedalam diri kita, dengan demikian kita juga memiliki KemulianNYA sebagai manusia. Salah satunnya adalah kemampuan &#8216;mencipta&#8217; sesuai citraNYA.&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba kamu perhatikan; Seorang yang mengalami gangguan jiwa pun diberi Tuhan bekal untuk hidup. Banyak diantaranya tanpa ada yang mengurus, mereka tetap dapat bertahan hidup. Dan Perhatikan juga mereka yang duduk di kedai kopi sepanjang bertahun-tahun, tidak bekerja tetapi dapat tetap bertahan hidup. bahkan diantaranya ketika bekalnya betul-betul kandas tiba-tiba ia mendapat rezeki nomplok untuk melanjutkan hidupnya.Tetapi ini semua sungguh suatu kehidupan yang sia-sia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Artinya sejak lahir manusia telah dibekali &#8216;magnet diri&#8217; untuk menarik &#8216;materi&#8217; sebagai kebutuhan dasar perjalanan dirinya. Banyak diantara kita secara sadar atau tidak sadar telah membuat sebuat benteng berupa &#8216;WADAH&#8217; menutupi &#8216;magnet diri&#8217;. Pola pikiran dan mental yang menyatakan; &#8217;saya tidak mampu, saya tidak kaya, saya miskin, saya tak punya sesuatu untuk dibagi, saya tak mungkin bisa berbuat amal karena untuk makan saya aja tidak cukup, saya belum cukup kaya untuk mulai membagi, belum saatnya, nanti setelah saya kaya, dan sebagainya. Semua pola pikir mental tersebut seperti &#8216;Wadah&#8217; yang kita bangun, dan telah menkungkung dan menghambat perkembangan dan membesarnya &#8216;magnet diri&#8217;. &#8216;Magnet diri&#8217; seolah terkurung dalam &#8216;wadah uang&#8217;&#8230; inilah &#8216;Wadah Uang&#8217; dalam diri kita yang harus kita pecahkan,bukan yang di luar&#8230;&#8221; Dengan mental dan pola pikir demikian, mereka selalu beranggapan harus ada &#8216;Materi&#8217; dulu baru bisa mulai memberi dan setelah memberi baru bisa dapat kebahagiaan. Dengan demikian mereka yang berpola pikir sempit sudah pasti akan terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang tidak berkesudahan.Jika sudut pandang mereka demikian maka tentu mereka senantiasa merasakan Tuhan tidak adil, karena mereka tidak punya kesempatan memperbesar &#8216;magnet dirinya&#8217;</p>
<p>&#8220;Tuhan Maha Adil, kawanku. Tuhan telah memberikan kepada umat manusia seperangkat alat yang sederhana tetapi mempunyai kemampuan &#8216;mencipta&#8217;. Semua awalnya tak ada, kemudian menjadi ada. Semuanya semula tak berwujud, kemudian menjadi berwujud. Dari &#8220;tak ada&#8221; bumi dan jagad raya dicipta Tuhan menjadi &#8216;ada&#8217;. Demikian kemapuan &#8216;mencipta&#8217; telah diberikan kepada umatnya yang merupakan ciptaan sesuai citraNYA di bumi. Maka mereka yang telah sadar, yang mengalami pencerahan, dan menemukan jati diri dapat memperbesar magnetnya dengan &#8216;hukum penciptaan&#8217; ini.</p>
<p>Dalam &#8216;kebahagian&#8217; yang luar bisa, Tuhan mencipta jagad raya , bumi berserta isinya, dan menjadikan manusia sebagai pengembala dan pemimpin dunia ciptaanNYA. Manusia juga telah dibekali kemampuan mencipta sesuai dimensi keberadaannya. sehingga dunia ciptaanNYA dapat tumbuh dan berkembang dan diisi dengan karya-karya manusia. Awalnya semua peralatan dan kebutuhan hidup manusia tidak &#8216;ada&#8217; atau tidak berwujud..kemudian dari pikiran (energi) muncul ide (tak benbentuk). Kemudian ide dituangkan dalam &#8216;bentuk&#8217;&#8230; terciptalah rumah, mobil, sepeda, pesawat dan sebagainya. Untuk Ia Yang Maha Ada &#8216;merasakan&#8217; dan &#8216;mengalami&#8217; pertumbuhan dan perkembangan ciptaanya yang merupakan diriNYA sendiri.</p>
<p>Dalam &#8216;kebahagian murni&#8217; pula ; kebahagiaan yang berasal dari dalam, karena pencerahan atau hukum alam dipahami ( bukan kebahagian dirangsang dari kebendaan di luar), sifat-sifat kemuliaan manusia muncul. Sifat &#8216;cinta&#8217;, &#8216;kasih&#8217;, &#8216;keiklasan&#8217;, &#8216;rela berkorban&#8217;, &#8216;empati&#8217;, dan sebagainya yang timbul sangat murni. Timbul kebahagian memberi. Inilah pemberian dalam kualitas paling tinggi yang di miliki manusia, mulai dari senyuman, uluran tangan membantu, pancaran kasih dan tebaran cinta, empati, perduli dengan sekelilingnya dan siap membantu tanpa pamrih (tidak ada materi dapat membantu dengan tenaga), dan sebagainya akan menghasilkan kerja &#8216;bakti&#8217; yang dapat memperbesar &#8220;magnet diri&#8221; yg kemudian menarik materi. Inilah &#8216;hukum penciptaan&#8217;. Dari tak berwujud (energi kebahagiaan murni) menjadi berwujud (materi).Dengan demikian &#8216;magnet dirinya&#8217; akan membesar. Dan jika ia mengikuti hukum penciptaan terus menerus maka ia kan keluar dari linkaran kemiskinan tersebut.</p>
<p>Hukum penciptan ini juga telah nyatakan dalam persamaan hukum relatifitas dari Albert Einstein</p>
<p>E = m. c^2. Semua &#8216;keberadaan&#8217; di dunia berlaku hukum tersebut. Tak kecuali dimensi manusia. Dalam spiitual persamaan ini disebut &#8220;hukum keberadaan&#8221;. Keberadaan manusia juga dinyatakan dengan tegas, bahwa manusia terdiri dari tiga unsur pembentuk keberadaannya yang disebut Tri Tungga yaitu:</p>
<p>E = energi (energi pikiran), m = materi (tubuh fisik) dan c^2 ketetapan kecepatan cahaya yang tidak berubah/konstan (nur, jiwa atau roh yang bersifat abadi). Dan hukum penciptaan dinyatakan dengan m = E/c^2. Yang artinya energi pikiran yang murni jika dibagi, diurus, diurai, ditangani oleh jiwa (Penemuan jati diri) akan menghasilkan materi.</p>
<p>&#8221; Jadi kamu harus memecahkan &#8216;Wadah Uang&#8217; kamu yang kecil itu, dan gantikan dengan &#8216;Wadah uang&#8217; yang lebih besar.. Selalu tanamkan kedalam batinmu dan bangunlah pola pikir : MANUSIA ADALAH POTENSIAL MURNI YANG BERKEMAMPUAN MENCIPTA, MERUBAH YANG TAK BERWUJUD MENJADI BERWUJUD.&#8221;</p>
<p>Penjual kue akhirnya menyadari ketidaktahuannya hingga ia menyalahkan Tuhan. Antara menguasai atau tidak uraian di atas, yang disebut orang awam sangat dalam, padahal itulah kewajaran seharusnya manusia berada sejak diciptakan. Sang penjual kue telah melakukan langkah besar awalnya. Ia sekarang menjadi orang yang mudah senyum, suka membantu,iklas, perduli sekeliling, ramah, aktif dalam kegiatan sosial, walau belum cukup materi untuk membagi ia membagi tenaganya.Ia mulai memutarkan roda yang akan mengelinding memperbesar &#8220;Magnet dirinya&#8221;. kemudian alam berkewajiban mengisi &#8220;magnet diri&#8221; yang telah besar. Maka tanpa sadar ia terbawa dalam lingkungan yang baru yang penuh dengan persahabatan. dan dari teman-teman datanglah ribuan &#8220;kesempatan&#8221;. Maka keluarlah dia dari lingkaran kemiskinan yang telah membelenggunya. Suatu hari ia akan menjadi orang yang tangannya di atas&#8230; hilang sudah pola pikir mengharapkan belas kasihan orang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/magnet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Pohon yang Bernama Visi Hidup</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:23:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Abraham Lincoln]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[anak pintar]]></category>
		<category><![CDATA[Banyak]]></category>
		<category><![CDATA[bernama]]></category>
		<category><![CDATA[bobot]]></category>
		<category><![CDATA[butuh]]></category>
		<category><![CDATA[cara cara]]></category>
		<category><![CDATA[citra diri]]></category>
		<category><![CDATA[coachville]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Hanh]]></category>
		<category><![CDATA[hasrat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan membaca]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[masalah emosi]]></category>
		<category><![CDATA[membaca buku]]></category>
		<category><![CDATA[membuat]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[Nelson Mandela]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[potensi diri]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sebuah]]></category>
		<category><![CDATA[semata]]></category>
		<category><![CDATA[Theresa]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas J. Leonard]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[visi]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;pengejaran kesuksesan, dengan cara-cara
model lama, bisa sangat membuat stres.”
(Thomas J. Leonard, Pendiri Coachville)
 
Saya pernah diberitahu seorang psikolog yang juga masih kerabat dekat keluarga saya. Waktu itu dia bercerita bahwa anak pintar itu butuh penyeimbang dalam hal kecerdasan emosinya. Karena itu ada sekolah khusus untuk anak-anak pintar, yang bertujuan selain memberikan pelajaran dengan bobot yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><em>“&#8230;pengejaran kesuksesan, dengan cara-cara</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><em>model lama, bisa sangat membuat stres.”</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><strong>(Thomas J. Leonard, Pendiri Coachville)</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times; min-height: 14.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Saya pernah diberitahu seorang psikolog yang juga masih kerabat dekat keluarga saya. Waktu itu dia bercerita bahwa anak pintar itu butuh penyeimbang dalam hal kecerdasan emosinya. Karena itu ada sekolah khusus untuk anak-anak pintar, yang bertujuan selain memberikan pelajaran dengan bobot yang lebih daripada yang lain, juga untuk memperhatikan kecerdasan emosinya. Orang yang pandai justru sering terjebak oleh emosinya sendiri. Penjelasan ini membuat saya dan istri berhati-hati dalam mendidik anak semata wayang kami. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><span style="white-space: pre;"> </span>Belakangan saya menyadari bahwa bukan anak saya saja yang butuh pembelajaran emosi. Saya sendiripun masih butuh berbenah diri dalam masalah emosi ini.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jika di runtut dari pengalaman, sejak kuliah, saya memiliki kebiasaan membaca buku, dari banyak disiplin ilmu seperti: filsafat, psikologi, politik, sosial, bahkan sastra, walaupun kuliah yang saya jalani adalah teknik informatika. Pada waktu itu, saya merasa tertantang untuk mempelajari semua dasar filosofi mengingat saya juga aktif dalam organisasi sosial keagamaan sebagai tempat bereksperimen dalam mengasah potensi diri. Saya merasa pengetahuan dan pengalaman ini akan membuat saya sukses di dunia kerja nantinya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Namun ketika memasuki dunia kerja selama lima tahun pertama, saya justru mengalami kebuntuan. Kepandaian selalu menimbulkan hasrat untuk mengatur keadaan, akibatnya saya justru merasakan kerepotan dengan pengetahuan yang telah saya kumpulkan sebelumnya itu. Saya merasa menderita dan tidak mencapai kesuksesan pada waktu yang pernah saya rencanakan sebelumnya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Penderitaan yang saya alami ini membuat saya belajar bahwa banyak pengetahuan cenderung membuat saya banyak keinginan. Keinginan dan citra diri yang berlebihan (<em>self important</em>) adalah akar dari ketidakbahagiaan dalam hidup. Setelah menyadari hal ini, selama beberapa tahun saya banyak berdiam diri dan tidak melakukan hal-hal menantang lagi. Saya hanya bertahan dan mengikuti rutinitas kerja begitu saja.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Hingga pada satu titik, saya bertanya pada diri sendiri. Apakah ada cara hidup bahagia tapi dengan tetap melibatkan aktivitas yang aktif? Jika dulu saya sering terjebak pada visi yang saya buat sendiri, yang berakhir dalam penderitaan. Lalu, apakah bisa seseorang berjuang demi sebuah visi tapi tetap bahagia?</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Sambil meraba-raba dan seiringan dengan waktu semakin jelas bahwa kemungkinan visi yang membahagiakan itu ada. Pada tahun 2006, saya memberanikan diri untuk memiliki visi hidup kembali, setelah banyak mengikuti retret-retret meditasi. Visi yang membahagiakan tidak lain adalah sebuah visi yang altruistik. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Apakah altruistik itu?</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Altruistik berasal dari sebuah kata ‘’<em>altrui </em>” dalam bahasa Perancis, yang berarti ‘’bagi atau untuk orang lain”. Pertama kali kata ini digunakan oleh Auguste Comte, filosof Perancis abad ke-19. Secara teoritis, etika altruisme adalah lawan dari egoisme &#8211;yang adalah segala pemikiran yang berpusat pada kepentingan diri. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 12.0px Times;">Sehubungan dengan visi hidup, saya mengartikan altruistik sebagai ketulusan dalam beraktivitas baik pada waktu proses maupun setelah mencapai visi tersebut. Ketulusan ini akan ada dengan sendirinya jika kita tidak lagi banyak berkutat pada kepentingan diri. Altrustik adalah sebuah cara pandang yang melampaui kepentingan diri, yang tidak tergantung apakah tujuan hidup itu tercapai atau tidak. Jika kita mengamati biografi orang-orang besar &#8211;seperti: Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, Dalai Lama, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Romo Mangunwijaya, dll&#8211;, mereka semua memiliki sifat altrustik. Karena itu mereka selalu tampak tenang dan bahagia, dan bukan hanya itu, mereka bermanfaat bagi orang lain. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Upaya mencapai kesuksesan perlu dipahami dalam konteks visi hidup yang saya jelaskan ini. Ibarat kita menanam sebuah pohon. Tanggungjawab kita hanyalah menggali lubang untuk menaruh benih, menanaminya dengan benar, menyiraminya, memberi pupuk dan menjaganya dari serangan hama dan serangga. Apakah pohon itu tumbuh atau tidak, itu terserah padanya. Itu bukanlah urusan kita. Bahkan upaya untuk menarik-nariknya, meregangkannya dengan membuatnya mampu tumbuh lebih cepat adalah sama sekali tidak berguna. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jika kita bandingkan dengan apa yang kita alami, seringkali penderitaan muncul karena keinginan sesaat untuk menggapai visi setelah sebuah visi belum lama ditentukan.  Kita harus menyadari bahwa tumbuh kembangnya sebuah benih menjadi sebuah pohon adalah proses yang alami dan butuh waktu. Thich Nhat Hanh, seorang guru meditasi Zen, pernah memberi sebuah ilustrasi. Ketika mencuci piring, janganlah berpikir piring itu akan bersih. Mengapa? Karena dengan mencuci piring dengan baik dan benar, maka dengan sendirinya piring itu akan bersih. Intinya, keinginan yang terlalu menggebu-gebu membuat kita lupa pada proses pencapaiannya. Kita mesti belajar untuk selalu tulus dan bahagia dalam merawat visi, dari pada banyak berkutat pada nafsu tercapainya sebuah visi. Jika waktunya telah tiba, visi itu akan terwujud dengan sendirinya tanpa “paksaan” dari pihak kita.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jadi, jika Anda terus merasa menderita dalam hidup, entah itu mengenai pekerjaan, maupun upaya menggapai cita-cita, semua itu hanya ada satu penyebab. Itu tidak lain adalah minimnya ketulusan dalam menanam sebuah pohon yang bernama visi hidup. Sebodoh-bodohnya orang dalam berusaha,  sepanjang mampu bertahan dalam fase “<em>trial and error</em>”, suatu saat dia akan mencapai buah kesuksesannya. Hanya saja, setiap orang mencapainya dalam jangka waktu yang berbeda, tergantung dari situasi dan kondisinya. Saya selalu berpendapat bahwa kebahagiaan adalah salah satu faktor efektivitas penting yang paling sering dilupakan.  Bahagia akan membuat energi lebih tercurahkan pada visi hidup, sebagai hasilnya Anda bisa menikmati hidup jauh sebelum visi itu tercapai. Kenyataannya, dengan hidup bahagia, Anda dapat belajar banyak hal dengan lebih baik pula. Karena itu, tunggu apalagi. Berbahagialah! </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 14.0px Times;">Victor Alexander Liem, </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 14.0px Times;">Penulis buku <em>USING NO WAY AS WAY!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersatu dengan Cinta</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/bersatu-dengan-cinta/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/bersatu-dengan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:11:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[air putih]]></category>
		<category><![CDATA[balap]]></category>
		<category><![CDATA[begitu]]></category>
		<category><![CDATA[bendera]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[berita terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Carlton]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[gempa bumi]]></category>
		<category><![CDATA[gesa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[J.W. Marriott]]></category>
		<category><![CDATA[jagat]]></category>
		<category><![CDATA[Juli]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[keji]]></category>
		<category><![CDATA[lagi]]></category>
		<category><![CDATA[lagu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ledakan]]></category>
		<category><![CDATA[ledakan bom]]></category>
		<category><![CDATA[listrik]]></category>
		<category><![CDATA[luber]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[nafas]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[ratus]]></category>
		<category><![CDATA[Raya]]></category>
		<category><![CDATA[sakit perut]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[semua]]></category>
		<category><![CDATA[Setelah]]></category>
		<category><![CDATA[sisa]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Seumur hidup, entah sudah berapa ratus kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Minimal setiap Senin pagi di lapangan sekolah, sambil mendongakkan kepala tinggi-tinggi dan menghormat bendera. Tidak jarang, saya menyanyikannya dengan tergesa-gesa karena berharap upacara cepat selesai. Karena pengibaran bendera selalu dilakukan di akhir upacara, sering pula saya berharap Pak Pembina mendadak sakit perut, supaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seumur hidup, entah sudah berapa ratus kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Minimal setiap Senin pagi di lapangan sekolah, sambil mendongakkan kepala tinggi-tinggi dan menghormat bendera. Tidak jarang, saya menyanyikannya dengan tergesa-gesa karena berharap upacara cepat selesai. Karena pengibaran bendera selalu dilakukan di akhir upacara, sering pula saya berharap Pak Pembina mendadak sakit perut, supaya saya tidak perlu berlama-lama berdiri dan terjemur matahari.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seperti itulah saya memandang Indonesia Raya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Pagi itu, saya merasa bagai disambar listrik ketika mendengar berita tentang ledakan bom di Ritz Carlton dan J.W. Marriott. Saya menyalakan televisi. Semua saluran seakan adu balap menayangkan berita terbaru dari lokasi kejadian, disertai rekaman video amatiran yang diambil sesaat setelah ledakan terjadi. Amatiran dalam arti sebenar-benarnya. Tidak jelas dan lebih menunjukkan indikasi gempa bumi daripada sisa ledakan. Cukup lama saya menonton. Setelah beranjak dari televisi, saya menghabiskan sisa hari itu di depan komputer. Kendati otak sudah luber oleh berita yang menyesakkan, tak urung saya tetap menjelajah jagat maya untuk mengumpulkan serpihan-serpihan informasi.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Reaksi emosi yang pertama kali timbul adalah amarah. Saya merasakan kebencian teramat-sangat pada sekelompok orang dungu yang berada di balik peristiwa pengeboman. Mereka yang cukup biadab untuk meledakkan bom di tempat umum dan menghilangkan nyawa orang-orang tidak berdosa. Mereka yang cukup keji untuk merancangkan semua rencana itu dan melaksanakannya. Saya mengutuk dan memaki. Melampiaskannya dengan kata-kata paling kasar yang saya ketahui.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">What you resist, persists. Itu prinsip emas yang selalu saya amini. Karenanya, saya tidak menahan diri untuk meluapkan emosi. Setelah puas menumpahkan kekesalan melalui status Facebook, saya mengambil waktu sejenak untuk menarik nafas dan menyegarkan diri dengan air putih. Tidak lama berselang, muncullah lapisan perasaan berikutnya. Perasaan itu bernama takut.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya begitu mencemaskan keselamatan orang-orang yang saya sayangi, meski kecil kemungkinan mereka menjadi korban ledakan. Saya tidak bisa menerima rasa takut yang mendadak membuncah, rasa aman yang tiba-tiba lenyap, dan kekhawatiran yang tahu-tahu mendera. Tubuh-tubuh berlumuran darah yang saya saksikan akan mengisi benak saya dalam waktu lama. Ledakan bom telah memberi peringatan yang tak terelakkan akan bahaya dan maut yang bisa menjemput sewaktu-waktu. Tempat-tempat umum tidak lagi nyaman untuk didatangi sambil berlenggang-kangkung tanpa sedikit terbersit rasa was-was atau khawatir.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Beberapa saat setelah takut dan cemas mereda, muncul perasaan berikutnya. Sedih. Saya terpaku di depan komputer dengan mata berkaca. Keinginan untuk memaki tidak lagi ada. Rasa gentar perlahan sirna. Yang tersisa hanya luka yang mendalam. Sesuatu seperti terenggut dari jiwa saya, meninggalkan lubang hitam yang menganga.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Merasa tidak lagi kuat dijejali tambahan informasi, menjelang petang saya mematikan komputer dan menjauhkan diri dari televisi. Kawan-kawan saya berkumpul di ruang tamu untuk mendengarkan siaran berita, namun saya mengurung diri di kamar. Sesaat, saya merasa lega dan aman dalam kandang kecil saya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Tidak lama kemudian, muncul lapisan rasa berikutnya yang tidak saya sangka-sangka. Lapisan itu bernama cinta. Dan saya terkejut sendiri karena setelah melalui berbagai spektrum emosi yang tidak menyenangkan, perasaan ini begitu murni, hangat, dan menenteramkan. Barangkali sebagian orang akan mencap saya berlebihan, namun ketika perasaan ini hadir, saya bahkan tidak mampu lagi merasa benci kepada para pelaku pengeboman. Seakan-akan semua kemarahan yang mencengkeram saya siang itu luntur begitu saja. Seakan-akan segala takut dan sedih terhapus begitu saja – hanya menyisakan kasih yang menghangatkan hati.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seumur hidup, entah sudah berapa kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mengulang lirik yang sudah terhafal mati di kepala dan bernyanyi tanpa merasa perlu menelaah maknanya – semua demi kewajiban rutin setiap Senin pagi di lapangan sekolah. Malam itu, sendirian di atas tempat tidur, saya kembali menyenandungkan Indonesia Raya. Tanpa iringan musik. Tanpa menghormat bendera. Tanpa peduli tempo.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Hiduplah tanahku</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Hiduplah negeriku</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Bangsaku</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Rakyatku semuanya</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Perlahan, mata saya membasah.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saat itulah saya tahu, betapa saya mencintai negeri ini. Bumi di mana kedua kaki saya berpijak. Udara yang melewati paru-paru saya setiap hari. Tanah yang menghidupi saya sejak lahir hingga detik ini. Tanah Indonesia. Namun saya telah begitu terbiasa, hingga ingatan akannya tak pernah lagi mampir di benak. Atau hati.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">17 Juli 2009 adalah momen dimana saya menyadari, cinta itu ada.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Paragraf berikut saya ambil dari artikel yang ditulis Goenawan Mohamad, tiga hari setelah peristiwa ledakan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Kematian dan luka-luka itu mengerikan, tapi saya dengarkan percakapan, saya baca pesan di HP, dan saya mungkin bisa mengatakan bahwa kita marah, sedih, dan menangis karena tiba-tiba kita menyadari, betapa terkait kita dengan sebuah tanah air: sebuah negeri yang selama ini seakan-akan bisa diabaikan, atau hanya disebut dalam paspor—sebuah Indonesia yang seakan-akan selamanya akan di sana dan utuh tapi kini terancam—Indonesia yang dulu mungkin hanya menempel direkatkan ke kepala karena pelajaran kewarganegaraan di sekolah, karena pidato di televisi.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Beliau benar.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Peristiwa ini telah merenggut nyawa orang-orang yang tidak berdosa dan meluluhlantakkan begitu banyak jiwa. Namun peristiwa yang sama juga menyadarkan kita akan satu hal: betapa kita mencintai sesuatu yang telah begitu lama terabaikan. Betapa hati kita sesungguhnya terpaut pada sesuatu yang bahkan tak sempat kita ingat-ingat. Kita mencintainya namun tak lagi menghargainya, karena kita menganggapnya akan selalu ada. Dan ketika ia terguncang, dunia kecil kita ikut tergempa.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Hanya dalam tempo beberapa jam, #indonesiaunite menduduki peringkat teratas Trending Topics di situs jejaring pertemanan Twitter. Headline berita di seluruh dunia –mulai dari CNN hingga Al Jazeera— menyajikan topik yang sama. Simpati dan belasungkawa berdatangan dari segala penjuru dunia. Beberapa orang bahkan berinisiatif mengibarkan sang Saka di rumah dan kendaraan masing-masing.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Bom tersebut telah mengakibatkan kehancuran besar, dan pada saat yang sama meledakkan hati jutaan orang di Bumi Pertiwi untuk menyatukan kekuatan dan merangsek bangkit – menolak terkapar kalah. Sekali lagi mata dunia tertuju kepada kita; kali ini bukan karena tragedi kemanusiaan atau bencana alam, melainkan karena persatuan yang digalang bersama.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Malam itu, di tengah rasa bangga yang berkecamuk ketika menyaksikan #indonesiaunite merambati Trending Topics hingga berhasil bertengger di puncak, saya berdoa, yang memotori kita untuk bergandeng tangan dan menggalang persatuan adalah cinta. Bukan kemarahan. Bukan kebencian. Bukan dendam. Bukan sesuatu yang akan melahirkan kekerasan berikutnya. Saya berdoa, rantai kekerasan itu berhenti sampai di sini. Saya berdoa, bangsa ini akan sekali lagi bangkit dan bergerak bersama, kali ini dengan cinta.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Tidak ada sesuatu di dunia ini yang permanen. Teror takkan tinggal tetap, kedamaian pun bisa diguncang. Mungkin ini saat yang tepat untuk merenung dan menyadari bahwa segala sesuatu yang kita genggam saat ini bisa terlepas. Apa yang pernah kita miliki suatu saat bisa diambil. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mulai belajar bersyukur dan menghargai sebentuk anugerah yang masih dipercayakan kepada kita hingga detik ini: tanah air dan bangsa bernama Indonesia.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Dalam dunia yang kian sesak dan pengap, di tengah perputaran roda kehidupan yang memaksa kita untuk terus bergerak secepat-cepatnya, cinta bisa menjadi sesuatu yang terlampau absurd untuk digaungkan. Sekalipun ada, dengan cepat ia terlibas oleh ambisi dan egoisme. Kita tak pernah jemu menyuarakan cinta, namun hati kecil kita tahu, pada esensinya yang paling sejati, cinta telah lama terhimpit dan tertindas. Kita punya begitu banyak ‘baju’ berlabel cinta yang setiap hari kita pakai dan tunjukkan kepada dunia, namun cinta itu sendiri nyaris tak pernah tersentuh.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Malam ini, sebelum mempublikasikan #indonesiaunite untuk kesekian kalinya di halaman Twitter, saya menyempatkan diri untuk berkaca dan bertanya: apa yang sesungguhnya mendorong saya untuk mengetikkan sebaris kata itu? #indonesiaunite bisa datang dan berlalu, apa yang saya tulis bisa tergusur, namun yang melatari lahirnya sebaris kata itu dalam hati saya akan tinggal jauh lebih lama dari kalimat-kalimat yang pernah saya ciptakan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Malam ini, sepenuh hati saya berdoa, dunia akan melihat bangkitnya sebuah bangsa yang bersatu karena cinta.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Bangunlah jiwanya</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Bangunlah badannya</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Untuk Indonesia Raya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/bersatu-dengan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 ORANG BUTA PENEBAK GAJAH TELAH BERDAMAI&#8230;.(2)</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/7-orang-buta-penebak-gajah-telah-berdamai-2/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/7-orang-buta-penebak-gajah-telah-berdamai-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 04:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[atas]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dapat]]></category>
		<category><![CDATA[daun]]></category>
		<category><![CDATA[Demi]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dimana]]></category>
		<category><![CDATA[duduk]]></category>
		<category><![CDATA[ekor]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[GAJAH]]></category>
		<category><![CDATA[hasil]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hypnotherapy]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[juga]]></category>
		<category><![CDATA[kanan]]></category>
		<category><![CDATA[kasar]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok]]></category>
		<category><![CDATA[keras]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[konsep]]></category>
		<category><![CDATA[lain]]></category>
		<category><![CDATA[lebih]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Kuasa]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Pengasih]]></category>
		<category><![CDATA[Masa]]></category>
		<category><![CDATA[masing]]></category>
		<category><![CDATA[mereka]]></category>
		<category><![CDATA[nyata]]></category>
		<category><![CDATA[orang buta]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[raba]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[Sama]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sebenarnya]]></category>
		<category><![CDATA[sisi]]></category>
		<category><![CDATA[tangga]]></category>
		<category><![CDATA[telah]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Di lain tempat di desa lain dimana peradaban mereka lebih maju. Dimana orang-orang butanya tidak bertengkar lagi tentang apa itu gajah. Rupanya mereka telah melewati proses pematangan hidup. Melalui proses yang panjang juga mereka sekarang telah berevolusi ke kehidupan yang lebih beradab, “anak tangga kebenaran” yang kasar telah dilewati. Mereka memasuki masa peradaban yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di lain tempat di desa lain dimana peradaban mereka lebih maju. Dimana orang-orang butanya tidak bertengkar lagi tentang apa itu gajah. Rupanya mereka telah melewati proses pematangan hidup. Melalui proses yang panjang juga mereka sekarang telah berevolusi ke kehidupan yang lebih beradab, “anak tangga kebenaran” yang kasar telah dilewati. Mereka memasuki masa peradaban yang lebih maju. Mereka sekarang sudah dapat duduk bersama bertukar pikiran, berkonsultasi, berembuk, untuk mengatasi kekurangan masing-masing dan berdemokrasi dengan suara terbanyak untuk menentukan “anak tangga kebenaran” berikutnya. Masing-Masing orang buta mengutarakan apa yang mereka raba, mereka bertukar pendapat, dan mencoba merekontruksi kebenaran tentang apa itu &#8216;gajah&#8217;. Sementara desa-desa lain juga sedang mengalami proses yang sama. Tetapi karena mereka belum pernah melihat dengan matanya sendiri apa itu &#8216;gajah sebenarnya. Mereka masih merekontruksi, memasang-masang  sesuai logika pikiran.</p>
<p>Akhirnya &#8216;gajah&#8217; hasil rekontruksi masing-masing desa berbeda satu dengan lainnya. Desa pertama merekontruksi &#8216;gajah&#8217; dengan bentuk  dimana daun telinga gajah mereka trerpasang di sisi kanan kiri  badan gajah sehingga gajahnya seperti gajah yang bersayap. Sementara desa lain memasang gading gajah seperti tanduk di bagian atas depan gajah sehingga gajahnya bertanduk seperti kerbau. Sementara desa yang lain lagi memasang salah belalainya. Dimana belalainya dipasang kebagian belakang sebagai ekor, dan ekor yang kecil merupakan tali yang mengikat gajah.</p>
<p>Demikianlah masing-masing desa menghasilkan bentuk gajah yang berbeda dan masing-masing desa merasa mereka telah bekerja maksimal, mereka telah berpikir keras dan merasa hasil rekontruksi mereka paling benar. Disini terbentuklah “kebenaran kelompok (KEBENARAN KOLEKTIF)”. Kebenaran kelompok ini menghasilkan “ego kelompok” .</p>
<p>Dalam kehidupan nyata melalui proses demikianlah terbentuk “Kebenaran kolektif” berupa Konsep, dogma, moral, norma, etika, hukum, peraturan-peraturan dan hasil penafsiran dan ketetapan nilai kebenaran oleh lembaga keagamaan dan sebagainya. Produk-produk “kebenaran kolektif” manusia inilah yang menjadi pedoman hidup manusia-manusia diberbagai belahan bumi . Dan masing-masing mengembangkannya sesuai kondisi dan kebutuhan mereka masing-masing. Tentu masih banyak perbedaan nilai dari hasil “konsep”manusia yang mempunyai banyak keterbatasan. Dan nilai kebenaran ini tentu lebih berkualitas dibandingkan dengan kebenaran subjektif. Tetapi masih belum merupakan kebenaran sebenarnya, masih merupakan salah satu “anak tangga kebenaran” berikutnya untuk mencapai puncak kebenaran sebenarnya;  Tingkat kebenaran ini demikian adanya dan juga harus ada sebagai anak tangga untuk menapak kepuncak kebenaran. Kita hanya perlu menyadari keberadaan tingkat  kebenaran ini menjadikannya sebagai rujukan, bukan sebagai harga mati !  Kemudian melampauinya menggapai kebenaran sebenarnya.</p>
<p>Demikian peradaban dunia yag disebut “bumi” ini. Kita sekarang nampaknya terjebak dalam Keberadaan“anak tangga kebenaran” ini. Berbagai kelompok mengaku merekalah yang paling benar, merekalah penentu kebenaran seolah-olah mereka mewakili Tuhan dan semua harus ikut dengan mereka jika tidak mereka yang tidak tunduk dianggap melawan Tuhan. Pemberhentian  pada “anak tangga kebenaran” ini, pemberhentian pada “kebenaran kolektif” hasil “konsep” manusia ini telah menimbulkan banyak konflik, sungguh konflik yang luar biasa. Demi “kebenaran konsep” ini manusia dipersatukan dalam satu kelompok untuk berhadap-hadapan dengan kelompok lain, saling bermusuhan hingga saling membunuh. Dan ada kelompok yang membunuh atas nama Tuhan hasil konsep mereka. Bukankah Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang ? . Bagaimana mereka dapat meng”konsep”kan Tuhannya jadi pemarah dan pembunuh ? Ada yang mengkonsepkan Tuhan harus dibela !</p>
<p>Tetapi bukankan Tuhan itu  Maha Besar dan Maha Kuasa ?&#8230; Ah mungkin mereka belum menuju puncak kebenaran dan merasakan persatuan dengan Tuhan. Yang sebenarnya Maha Pengasih dan Penyayang. Maha Besar dan Maha Kuasa atas alam semesta ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/7-orang-buta-penebak-gajah-telah-berdamai-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>EFEK “JEMBATAN”, SEBUAH FAKTOR KESUKSESAN</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/efek-%e2%80%9cjembatan%e2%80%9d-sebuah-faktor-kesuksesan/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/efek-%e2%80%9cjembatan%e2%80%9d-sebuah-faktor-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:33:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[ajak]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[aksara]]></category>
		<category><![CDATA[bahwa]]></category>
		<category><![CDATA[banyak orang]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[definisi kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[efek]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[jembatan]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[jika]]></category>
		<category><![CDATA[john barth]]></category>
		<category><![CDATA[kaizen]]></category>
		<category><![CDATA[kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[nampak]]></category>
		<category><![CDATA[namun]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[paulo freire]]></category>
		<category><![CDATA[penemuan]]></category>
		<category><![CDATA[proses pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sebuah]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;tantangan yang sesungguhnya adalah  mengerjakan sesuatu yang belum diketahui,  karena ‘seorang tolol pun bisa mengajarkan  apa yang sudah dia ketahui!’” (John Barth, dalam The Sot-Weed Factor)
Pernahkah Anda berusaha keras demi tujuan tertentu? Entah melakukan tugas dalam pekerjaan ataupun juga upaya agar sukses dalam hidup. Setiap orang tentu ingin hidup sesuai dengan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>“&#8230;tantangan yang sesungguhnya adalah  mengerjakan sesuatu yang belum diketahui,  karena ‘seorang tolol pun bisa mengajarkan  apa yang sudah dia ketahui!’” (John Barth, dalam The Sot-Weed Factor)</em></p>
<p>Pernahkah Anda berusaha keras demi tujuan tertentu? Entah melakukan tugas dalam pekerjaan ataupun juga upaya agar sukses dalam hidup. Setiap orang tentu ingin hidup sesuai dengan apa yang telah direncanakan bukan? Sering kita dengar bahwa kerja keras adalah syarat utamanya. Namun ada sebuah faktor lain yang perlu kita perhatikan. Faktor itu adalah efek “jembatan”.</p>
<p>Sebelum mengetahui apa itu efek “jembatan”, saya ingin ajak Anda memahami proses belajar, karena dua hal ini berkaitan.</p>
<p>Jika kita menggali lebih dalam arti belajar, kita akan semakin memahami bahwa belajar itu memiliki arti kreatif dalam pola-pola tertentu. Seperti yang sering diingatkan Paulo Freire, “Belajar bukanlah mengkonsumsi ide, namun menciptakan dan terus menciptakan ide”. Proses pembelajaran mengarah pada keunikan dan penemuan pada hal-hal baru. Artinya, belajar itu sendiri adalah aktivitas yang kreatif.</p>
<p>Ada banyak definisi kreativitas, namun saya lebih suka memahami kreativitas secara praktis yaitu sebagai upaya pemecahan masalah (problem solving). Kreatif yang sekedar bentuk imajinasi tanpa memberi manfaat adalah kreativitas yang belum tuntas. Kreatif mesti mengarah pada pemecahan masalah. Namun sering juga istilah “masalah” dipahami secara negatif, sehingga membuat banyak orang menghindarinya. Kita boleh merasa tidak punya masalah, tapi itu bukan berarti bahwa masalah itu tidak ada. Manajeman Jepang menjelaskannya dalam sebuah frase “Kaizen”, yang terdiri dari aksara “kai” artinya perubahan, dan “zen” yang artinya baik. Filosofi Jepang melihat segalanya sebagai proses. Maksudnya, sesuatu itu hanya akan menjadi masalah, jika kita tidak mengenalnya yang, pada akhirnya, akan membuat keadaan semakin tidak teratasi. Nampak bahwa kreativitas, perbaikan, pemahaman, adalah istilah-istilah yang memiliki pengertian yang sama dan mengarah pada proses pembelajaran untuk memecahkan suatu masalah.</p>
<p>Dalam psikologi kontemporer, kreativitas juga sering dihubungkan dengan sinergi antara otak kanan dan kiri. Keduanya diyakini turut menentukan kesuksesan dalam hidup. Di antara otak kanan dan kiri ini ada sebuah faktor yang perlu kita ketahui, yaitu: efek “jembatan”.</p>
<p>Apa itu efek “jembatan”?</p>
<p>Penjelasan sederhananya adalah seperti ini.</p>
<p>Anda pasti pernah bekerja terlalu keras dan menjumpai masalah yang tidak bisa teratasi saat itu. Ketegangan dan kelelahan membuat pikiran tumpul, namun pada saat Anda tenang, pemecahan masalah akan muncul begitu saja. Hal itu sering terjadi ketika Anda memutuskan istirahat sejenak  atau memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan besok paginya. Ketika pikiran lebih fresh, masalah itu ternyata bisa teratasi dengan mudahnya dan hampir tidak membutuhkan usaha yang ekstra.</p>
<p>Dr. Bruce Goldberg menyebutkan bahwa kreativitas adalah fungsi otak kanan yang muncul dari pikiran bawah sadar. Karena berkaitan dengan bawah sadar, maka kreativitas itu sebenarnya tidak bisa dipaksakan bahkan juga direncanakan. Cetusan ide akan muncul dengan sendirinya ketika pikiran berada dalam kondisi yang tepat, yaitu pada saat pikiran tenang.</p>
<p>Dalam pikiran tenang itu, ada sebuah faktor yang membuat sebuah kreativitas itu bisa diwujudkan dalam suatu bentuk yang lebih bermanfaat. Inilah tambahan yang jarang dibahas dalam buku-buku psikologi pada umumnya. Saya mendapatkannya justru dalam buku psikologi anak, berjudul How to Bring Out Your Child’s Genius injust Ten Minutes a Day karya Pamela Hickein. Hickein menyinggung tentang Efek “Jembatan” (the “bridging” effect). Efek ini sesuai namanya berfungsi sebagai jembatan antara otak kanan dan kiri. Tanpa ada jembatan, maka imajinasi hanya sekedar imajinasi yang tidak bermanfaat. Beberapa pendidik meyakini bahwa Albert Einstein tidak mengalami efek “jembatan” hingga umur sembilan tahun. Namun belakangan kita tahu bahwa kemampuan otak kanan dan kiri yang terhubungan oleh faktor jembatan ini membuat Einstein menemukan teori relativitas.</p>
<p>Kreativitas bukan hanya berurusan dengan otak kanan yang terpisah dan tidak melibatkan fungsi otak kiri. Tony Buzan pernah menulis, “Kreativitas melibatkan penggunaan keterampilan mental otak kiri dan kanan&#8230;” Ide yang muncul dalam keadaan tenang segera ditanggapi oleh pemahaman akal yang ada pada otak kiri dan menjadi solusi dan penemuan yang menakjubkan. Otak kanan membutuhkan data dan proses pembelajaran logika dari Otak kiri.</p>
<p>Sebagai contoh, Anda bisa ingat kembali kisah Bill Gates muda yang sedang membaca majalah Popular Electronics pada Januari 1975 yang memuat laporan utama tentang mikrokomputer Altair 88000. Tiba-tiba saja terbersit sebuah visi bisnis yang akan menjadi tren di masa mendatang. Rupanya Bill Gates dan sahabatnya, Paul Allen, telah menantikan penggunaan PC yang membutuhkan sistem operasi komputer. Tanpa dukungan pembelajaran otak kiri sebelumnya mustahil Bill Gates memahami visi itu. Orang yang tidak didukung pengetahuan sebelumnya tentu hanya akan melihat Popular Electronics, sekedar informasi belaka tanpa ada tindak lanjut yang berarti.</p>
<p>Ada juga sebuah contoh lain, yaitu ketika Newton terilhami oleh jatuhnya buah apel dari pohonnya sebelum menemukan teori gravitasi. Tidak semua orang akan memberi respon yang sama ketika kejatuhan buah apel. Buah yang jatuh itu hanyalah pemicu, yang memungkinkan mengolah informasi menjadi suatu bentuk penemuan baru.</p>
<p>Dulu pada waktu psikologi terapan belum berkembang seperti sekarang ini, banyak orang hanya berfokus pada pembelajaran otak kiri. Namun sebaliknya, ketika otak kanan mulai dikenal luas, ada juga sebagian orang yang justru berlebihan dalam memahami otak kanan, sehingga justru melupakan pentingnya otak kiri. Dua pemahaman yang sepihak tentang otak ini tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Otak kanan tanpa otak kiri juga tidak berarti apa-apa. Efek “jembatan” menggarisbawahi pentingnya otak kanan dan kiri yang mampu bersinergi secara alami jika pikiran dalam kondisi tenang.</p>
<p>Dalam kehidupan bisnis maupun profesional yang begitu kompetitif, kreativitas semakin terasa dibutuhkan. Bahkan kreativitas dalam setiap anggota organisasi telah dipahami sebagai salah satu bagian penting dari strategi bisnis organisasi secara umum. Pada zaman sekarang, kreativitas adalah faktor kesuksesan yang tidak terelakkan. Dalam keadaan yang serba tidak pasti, tidak ada satupun acuan “pasti” yang bisa membuat Anda, dan perusahaan tempat Anda berkiprah bisa menjadi sukses. Ketidakpastian dalam hidup harus dilawan dengan ketidakpastian juga, dalam hal ini adalah kreativitas. Seperti apa bentuk kreativitas yang dimaksud ini? Jujur saja, sayapun tidak tahu. Anda akan tahu dengan sendirinya ketika keunikan itu muncul dalam pikiran Anda sendiri. Akan tiba saatnya efek “jembatan” terjadi, asalkan kita terus belajar dan tidak lupa untuk selalu tenang dalam menghadapi apapun. Rahasia kesuksesan bukan hanya kerja keras, tapi juga ketenangan diri yang juga berarti kemampuan menghadapi ketidakpastian dalam hidup.</p>
<div><span style="font-family: 'lucida grande'; line-height: normal; white-space: pre-wrap;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/efek-%e2%80%9cjembatan%e2%80%9d-sebuah-faktor-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari: Pendengar yang Baik</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:16:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[atap]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[bunyi]]></category>
		<category><![CDATA[butuh]]></category>
		<category><![CDATA[Cara]]></category>
		<category><![CDATA[ceria]]></category>
		<category><![CDATA[cerita konyol]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[di kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[foya]]></category>
		<category><![CDATA[galon]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[kaget]]></category>
		<category><![CDATA[Kali]]></category>
		<category><![CDATA[keran]]></category>
		<category><![CDATA[kosan]]></category>
		<category><![CDATA[lelucon]]></category>
		<category><![CDATA[mendengarkan]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi]]></category>
		<category><![CDATA[ORANG]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[sakit perut]]></category>
		<category><![CDATA[satu]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[selalu]]></category>
		<category><![CDATA[seperti]]></category>
		<category><![CDATA[sesuatu]]></category>
		<category><![CDATA[setiap hari]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[teman curhat]]></category>
		<category><![CDATA[tertawa]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[warung]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Tinggal beramai-ramai di kos-kosan selalu memberi kejutan dan tantangan tersendiri untuk saya, sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah yang berisi delapan kamar, setahun yang lalu. Saya belajar, meski menyenangkan dan seperti memiliki keluarga baru, tinggal bersama di bawah satu atap bukanlah hal yang mudah. Seringkali dibutuhkan usus yang panjang, berton-ton toleransi, bergalon-galon kesabaran, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tinggal beramai-ramai di kos-kosan selalu memberi kejutan dan tantangan tersendiri untuk saya, sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah yang berisi delapan kamar, setahun yang lalu. Saya belajar, meski menyenangkan dan seperti memiliki keluarga baru, tinggal bersama di bawah satu atap bukanlah hal yang mudah. Seringkali dibutuhkan usus yang panjang, berton-ton toleransi, bergalon-galon kesabaran, dan banyak lagi.</p>
<p>Saya yang menyukai keheningan, misalnya, harus rela jika suatu pagi terbangun dengan kaget karena suara keras tetangga sebelah, atau bunyi air dari keran yang diputar sampai pol. Saya yang membutuhkan suasana tenang untuk bekerja kadang harus merelakan pekerjaan saya tertunda akibat suara-suara berisik yang tidak bisa ditolerir telinga dan otak. Saya yang terbiasa mandi tanpa menggunakan alas kaki terpaksa ikut bersandal-jepit ria ketika mengetahui teman-teman saya menggunakan sandal di kamar mandi. Saya juga belajar membiasakan diri ketika tubuh yang sedang sakit tidak bisa mendapatkan istirahat secara optimal karena teman-teman serumah sibuk dengan aktivitas dan obrolan masing-masing.</p>
<p>Itu hal-hal sederhana yang membutuhkan adaptasi secara personal. Ada pula hal-hal lain yang meminta perhatian lebih, di luar yang biasa terjadi setiap hari. Salah satunya jika ada kawan yang sedang bermasalah dan butuh teman curhat. Tidak jarang, kegiatan sesederhana berjalan kaki ke warung menjadi ajang bagi-rasa yang memerlukan kesiapan telinga dan hati. Waktu istirahat di malam hari pun bisa menjelma menjadi ajang curhat massal. Memang tidak selalu hal seperti ini terjadi, banyak juga malam-malam ceria dimana kami berfoya-foya menghamburkan tawa, lelucon dan cerita-cerita konyol, terpingkal-pingkal sampai sakit perut, atau sekadar menghabiskan waktu bersama. Namun, ketika sesuatu yang serius terjadi pada salah satu di antara kami, diperlukan perhatian dan ‘penanganan’ yang lebih dari sekadar bercanda, tertawa, dan berkumpul. Di sinilah saya banyak belajar.</p>
<p>Sungguh, tidak mudah menjadi pendengar yang baik. Saya menemukan begitu banyak kendala. Mulai dari menahan lidah untuk tidak berkomentar, menunda opini, menjaga perhatian tetap tertuju pada lawan bicara (apalagi jika kisah yang sama sudah diulang puluhan kali), menyediakan diri untuk ‘hadir’ sepenuhnya bagi orang yang bersangkutan (karena keberadaan tak selalu sama dengan kehadiran – kita bisa bersama seseorang tanpa sepenuhnya hadir, dan sebaliknya, kita bisa hadir baginya tanpa perlu bersamanya), sampai mendengarkan tanpa merumuskan penilaian apa pun.</p>
<p>Awalnya, saya pikir saya bisa menjalaninya dengan mudah. Mendengarkan orang lain adalah salah satu keahlian saya; saya sudah terbiasa menghadapi orang yang ujug-ujug datang untuk curhat. Mulai dari sahabat, saudara, kerabat, orang tua, orang asing, kawan baru, sampai asisten rumah tangga teman saya.</p>
<p>Mendengarkan memang bukan sesuatu yang sulit. Namun mendengarkan tanpa menilai –sekadar hadir sepenuhnya bagi orang yang bersangkutan— yang menjadi salah satu kriteria dari Nonviolent Communication (Komunikasi Tanpa Kekerasan) adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.</p>
<p>Setelah beberapa kali mencoba mengaplikasikan Nonviolent Communication dalam kehidupan sehari-hari, saya menyadari sesuatu: kemampuan saya mendengarkan selama ini nyaris tidak ada gunanya. Cara saya menyampaikan perasaan dan kebutuhan pun masih terseret-seret. Saya mengira dapat menjadi pendengar dan komunikator yang baik dengan ‘jam terbang’ yang tinggi, namun nyatanya, cara saya berkomunikasi tetap butut. Berkomunikasi tanpa kekerasan ternyata tidak gampang.</p>
<p>Sudah beberapa bulan saya mencoba mempraktekkan jenis komunikasi ini (mendengarkan dan menyampaikan isi hati tanpa kekerasan), dan kemampuan saya masih setara dengan anak balita yang sedang belajar berjalan. Tertatih-tatih dan berulang kali terjerembab. Di awal masa belajar, saya bahkan sempat menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil dan protes kepada seorang sahabat yang pertama kali memperkenalkan pola komunikasi ini. Satu-satunya hal yang membuat saya bertahan adalah karena saya tersentuh oleh tindakan sahabat saya yang kerap bertanya, “Ingin didengarkan saja, atau ingin diberi saran?” ketika saya menghubunginya untuk curhat.</p>
<p>Bagi saya, pertanyaan itu keren.</p>
<p>Ia adalah orang pertama yang menanyakan hal seperti itu sepanjang sejarah percurhatan saya. Dia menyediakan telinganya untuk saya sampahi, dan pada saat yang sama memberikan saya ruang untuk memilih; apakah saya ingin mendengar opininya atau tidak. Saya selalu takjub dengan kemampuannya untuk tetap menjadi netral setelah sesi curhat panjang nan membosankan dengan masalah yang berkali-kali saya ulang seperti kaset rusak. Dia tidak ikut-ikutan marah dan menyumpahi orang yang saya kutuki, tidak terburu-buru mengungkapkan pendapat, dan tidak pernah menjatuhkan penilaian –apalagi penghakiman— atas kelebihan stok airmata yang dengan semena-mena saya tumpahkan kepadanya.</p>
<p>Hal-hal tersebut membuat saya bertahan. Bukan karena saya ingin mengikuti jejaknya, melainkan karena saya telah merasakan manfaat dari Komunikasi Tanpa Kekerasan. Saya tahu rasanya tidak didengarkan, karena itu, kini saya ingin mendengarkan. Saya ingin mendengarkan, karena saya telah didengarkan. Sesederhana itu.</p>
<p>Bukan sekali-dua saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dalam sesi curhat-ke-teman-dekat. Setelah berkali-kali menceritakan isi hati kepada beberapa orang yang cukup karib, saya mendapati, sebagai komunikator, ada kalanya saya hanya ingin didengar. Mungkin ini terdengar tidak adil bagi orang yang saya curhati karena terkesan ‘egois’, ‘ingin nyampah doang’, ‘nggak mau diberi input balik’, dan sebagainya. Seandainya saja saya bisa bilang kepada semua orang yang pernah menjadi tong sampah saya: saya senang dengan saran, masukan dan komentar kalian. Seandainya saya bisa berkata seperti itu. Kenyataannya, tidak.Bahkan, berkali-kali setelah mendengarkan masukan dan saran dari orang yang saya curhati, saya merasa menyesal sudah bercerita. Bukan karena saya tidak suka dengan isi sarannya, namun karena bukan itu yang saya butuhkan.</p>
<p>Saya menghargai setiap masukan, saran, komentar, koreksi, dan apa pun yang diberikan orang kepada saya, dan saya berterimakasih atas perhatian dan waktu yang mereka luangkan, namun ada kalanya saya hanya butuh didengarkan. Ada kalanya saya tidak butuh opini atau solusi. Saya hanya memerlukan telinga yang bisa menampung unek-unek saya, dan barangkali, bahu untuk ditangisi.</p>
<p>Itu sebabnya, kini saya sangat membatasi diri untuk mencurahkan isi hati kepada orang lain. Sangat sedikit orang yang saya percayai untuk menampung sampah-sampah batin saya. Bukan karena saya tidak menghargai predikat ‘saudara’, ‘sahabat’, atau ‘kawan baik’ di belakang nama begitu banyak orang yang cukup akrab dengan saya, melainkan karena saya membutuhkan orang yang bisa mendengarkan.</p>
<p>Jika saya memerlukan saran, saya akan mendatangi orang yang bisa dimintai saran. Jika saya memerlukan pendapat, saya akan menemui orang yang kompeten untuk memberi pendapat. Tapi hanya orang-orang tertentu yang saya percayai untuk mendengarkan. Seringkali, mereka tidak memiliki petuah berharga atau wejangan bijak untuk disampaikan, namun telinga dan hati mereka telah menolong saya menemukan jawaban dan solusi jauh melampaui yang dapat diutarakan bahasa. Kepada merekalah saya berhutang begitu banyak terima kasih.</p>
<p> <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya percaya, kita terlahir di dunia sebagai bayi yang tidak mengenal baik-buruk benar-salah. Pengkondisianlah yang memperkenalkan kepada kita apa itu hitam, apa itu putih. Apa itu baik, apa itu buruk. Dalam proses pendewasaan, kita diajar bahwa mengekspresikan perasaan dan kebutuhan seutuhnya bukanlah sesuatu yang baik. Beberapa dari kita bahkan telah begitu terbiasa menekan perasaan dan mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Tanpa disadari, perasaan dan kebutuhan yang tidak pernah diijinkan berekspresi itu menjelma menjadi penilaian dan penghakiman yang kita jatuhkan pada orang lain – entah melalui tutur kata, tindakan, maupun pemikiran.</p>
<p>Penilaian dan penghakiman tersebut akan memancing reaksi serupa dari orang-orang yang menerimanya dan memulai siklus yang terus berulang dalam hidup kita. Lingkaran setan yang tidak pernah ada ujungnya. Kita terus berputar di dalamnya, menjalani siklus yang sama sepanjang hayat, dan menyangka telah turut berpartisipasi dalam perdamaian dunia. Kita mengira, dengan menempatkan perasaan dan kebutuhan di urutan kesekian, kita telah memberikan sumbangsih untuk terciptanya kerukunan dan persatuan.</p>
<p>Bagi saya, perdamaian dunia tidak ditandai dengan berakhirnya peperangan. Perdamaian dunia tidak diawali dengan gencatan senjata dari kubu-kubu yang bertikai. Perdamaian dunia dapat dimulai dari diri kita sendiri, dengan menghentikan siklus kekerasan yang selama ini memerangkap kita dan begitu banyak orang yang terhubung dengan kita. Cara menghentikan siklus itu adalah dengan jujur kepada perasaan dan kebutuhan yang kita miliki. Cara memutuskan lingkaran setan itu adalah dengan berhenti menjatuhkan penilaian dan mulai berdiam diri. Sekadar bernafas dan memperhatikan bisa jadi hadiah paling berharga yang bisa kita berikan bagi seseorang. Sekadar hadir dan mendengarkan bisa menjadi sumbangan terbesar kita untuk terciptanya kerukunan dan persatuan yang bukan cuma slogan. Pertanyaannya, bersediakah kita?</p>
<p>Mungkin kedengarannya berlebihan, namun saat ini, rasanya saya akan lebih memilih duduk bersama orang-orang sederhana yang bersedia menyediakan hati dan telinga untuk semata hadir dan mendengarkan, daripada mereka yang kemampuan berpikirnya menyaingi kecepatan cahaya, sanggup merangkai sejuta makna dan merangkumnya dalam kalimat-kalimat bijak, serta sigap memberi berbagai petuah dan masukan tanpa diminta.</p>
<p>Kita sudah kelebihan stok orang pintar dan orang bijaksana. Kita butuh lebih banyak pendengar yang baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Magnet Diri</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/magnet-diri/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/magnet-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 15:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[5 juta]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[alami]]></category>
		<category><![CDATA[batuan]]></category>
		<category><![CDATA[bedah saraf]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[disana]]></category>
		<category><![CDATA[hanyut]]></category>
		<category><![CDATA[hari libur]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[kesempatan]]></category>
		<category><![CDATA[libur hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[Maka]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[melihat]]></category>
		<category><![CDATA[membantu]]></category>
		<category><![CDATA[meminta]]></category>
		<category><![CDATA[mereka]]></category>
		<category><![CDATA[orang kaya]]></category>
		<category><![CDATA[patah tulang]]></category>
		<category><![CDATA[Penang]]></category>
		<category><![CDATA[penang malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[pilu]]></category>
		<category><![CDATA[rp 5]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Saat]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[telah]]></category>
		<category><![CDATA[telepon]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini bukan rekaan tetapi adalah pengalaman spiritual yang saya alami sendiri.
Saat itu hari libur hari raya idul fitri. Telepon rumah saya berdering di tengah malam, dari seberang telepon memberitahukan kepada saya bahwa salah satu penjaga toko saya telah dibawa kerumah sakit karena ditabrak mobil sedan. Ia dalam keadaan koma, kondisinya agak krisis, patah tulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini bukan rekaan tetapi adalah pengalaman spiritual yang saya alami sendiri.</p>
<p>Saat itu hari libur hari raya idul fitri. Telepon rumah saya berdering di tengah malam, dari seberang telepon memberitahukan kepada saya bahwa salah satu penjaga toko saya telah dibawa kerumah sakit karena ditabrak mobil sedan. Ia dalam keadaan koma, kondisinya agak krisis, patah tulang di beberapa tempat.<br />
Yang memberitahu adalah kakaknya, dan meminta bantuan saya sebagai pemilik dimana adiknya bekerja. Sesegera mungkin saya menuju ke rumah sakit. Saya membantu dengan mendepositkan Rp.5 juta ke rumah sakit tersebut. </p>
<p>Waktu berjalan.. setelah 2 minggu di rawat dirumah sakit dia belum bangun dari komanya.. malah keluarganya dan saya diberitahu oleh dokter bedah saraf yang terkenal di kota kami yang merawatnya bahwa sebaiknya dia di bawa pulang aja. Segala upaya telah dilakukan ternyata tdk ada perkembangan dan kemajuan, banyaklah berdoa. Seketika itu keluarganya menangis pilu. Dan saya tebawa hanyut dalam suasana pilu. Tak terasa air mata turut mengalir dari sudut mata saya. Saat itu saya telah mendepositkan ke rumah sakit Rp. 30 juta.</p>
<p>Keesok harinya , keluarganya mendatangi saya, menyampaikan tekad keluarga tetap akan memperjuangkan nyawa adiknya. Mereka berencana membawanya berobat ke Penang, Malaysia untuk berobat disana. Rencananya mereka akan berangkat besok pagi. Mereka meminta batuan saya lagi.</p>
<p>Saya bukan orang kaya. Semua usaha saya yang ada saat itu juga bantuan orang lain. Saya deberi kesempatan membuka cabang baru di kota medan, dimodali dan diberi saham kosong untuk memulai usaha ini. Saya mengambil kesempatan ini dengan meninggalkan profesi saya sebagai dokter tamatan Universitas Sumatera Utara. Saat kejadian kecelakaan tersebut, saya sudah membuka usaha lebih kurang 5 tahun. Lumayan perkembangan usaha saya. Dan pada saat kecelekaan itu saya baru terima pembagian laba saham kosong saya untuk pertama kali, sebanyak Rp.80 juta. dan Rp. 30 juta sudah saya pakai untuk bayar deposit rumah sakit.</p>
<p>Tekad keluarga sudah bulat. Dengan atau tanpa saya membantu mereka tetap akan berangkat besok pagi. Mereka telah meminta batuan sama famili dan kawan dekatnya. dengan dana yg belum tentu mencukupi mereka bertekad tetap untuk berangkat. Kekurangan akan diusahakan kemudian.</p>
<p>Pada titik krisis ini. Satu sisi saya mendengarkan sendiri dokter terkenal yg merawatnya menyerah dan meminta keluarganya banyak berdoa. Disisi lain &#8216;cinta&#8217; keluaraga yang luar biasa telah membulatkan tekad mereka untuk tetap memperjuangkan nyawanya. Timbul konflik dalam diri saya.Pikiran logika mulai menguasai hati saya. &#8220;Dokter terkenal saja telah menyerah, jika saya bantu kemudian nyawanya tak tertolong maka sia-sia uang saya. Apa lagi itu uang pembagian laba pertama saya, saya sendiri belum menikmati.&#8221;</p>
<p>Salah satu teman terbaik saya menawarkan diri untuk membantu. Ia megusulkan agar memanggil temannya yang mempunyai kemampuan paranormal untuk melihat peluang sembuhnya. Dalam kondisi kacau ini saya menyetujuinya. Maka datanglah teman paranormal ini. Kita undang dia ke rumah sakit langsung melihat korbannya. Setelah melihat ke rumah sakit. ia meminta mengunjungi rumah tempat tingggalnya. Pada saat itu sudah jam 11 malam. Keluar dari rumah ia mengajak kami melihat keatas rumahnya.. ia menunjuk keatas sambil menjelaskan. &#8221; Itu burung gagak hitam sudah berkeliling diatas rumahnya&#8230; arwahnya sudah menyeberang ke sana. peluangnya sudah tidak ada !&#8221; merinding juga bulu tubuhku melihat burung gagak hitam terbang mengelilingi rumah korban sambil mengeluarkan suara <br />
kuak..kuak..kuak&#8230;</p>
<p>Lengkap sudah usaha saya untuk memperkuat logika bermaksud tidak membantu lagi. Keterangan dokter dan ditambah fenomena yang ditunjukan paranormal cukup sudah memberi makan pikiran saya; membantu akan mensia-sia-kan uang yang saya butuhkan juga. Terjadinya kecelekaan juga di luar jam tugas, seharusnya saya tidak ikut bertangung jawab.Tetapi dari lubuk hati paling dalam tersentuh juga dengan &#8216;cinta&#8217; keluarganya yang luar biasa. Mereka bersedia mengkorbankan semua harta yang mereka miliki untuk memperjuangkan adiknya bahkan dengan berhutang !</p>
<p>Malam itu perang bathin yang luar biasa terjadi dalam diri saya. Saya tak bisa tidur. Saya mencoba duduk bersila diatas tempat tidur untuk menenangkan pikiran. Bebrerapa menit kemudian tiba-tiba terjadi dialaog internal yang luar biasa.</p>
<p>&#8220;perhatikan kawan ! Ambillah secarik kertas putih. Taruhlah sebuah magnet kecil dibawah kertas tersebut. Kemudian taburlah serbuk besi diatas kertas putih. Perhatikan..hanya sedikit serbuk besi yang melengket susuai daya magnet yang kecil. Sisanya tidak lengket dan pada jatuh&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Demikianlah dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita melihat masih banyak yang hidup dengan bekerja keras tetapi kadang mereka tetap miskin dan tidak kaya. Malah jika suatu kesempatan mereka mendapat uang yang banyak ia tidak akan dapat mengelolanya&#8230;alias tidak lengket ke tubuhnya karena magnet dirinya kecil. malah uang yang datang tiba-tiba dapat mencelakan dirinya.Dengan uang rezeki nomplok mereka berfoya-foya. Istri satu belum terurus kepingin tambah lagi.Akhirnya kehidupannya berantakan, jatuh lebih parah dari sebelumnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan sekarang ambillah magnet besar dan taburkan serbuk besi diatas kertas. Lihatlah serbuk besi yang lengket sungguh banyak. Ibarat magnet besar tersebut adalah kamu. Sekarang ada orang lain yang mengambil serbuk besi yang lengket di magnet besar tersebut. Apakah kamu kehilangan serbuk besinya ?. Saya menjawab ; ya, saya kehilangan serbuk besi tersebut !&#8217; Setelah kehilangan serbuk besi tersebut sekarang kamu goyangkan ke sekililing dan magnet kamu penuh lagi dengan serbuk besi !&#8221;</p>
<p>&#8221; Kamu sekarang hadir didunia ini telah dikarunia &#8220;magnet diri&#8221; yang besar karena karmamu. Kamu telah memiliki &#8216;magnet diri&#8217; yang besar untuk menarik &#8216;materi &#8216;, lengket ke tubuhmu. Apa yang kamu takutkan lagi ? Demikianlah magnet besar yang kehilangan serbuk besi. Ia kehilangan serbuk besi yang merupakan dimensi &#8216;materi&#8221; tetapi daya magnet berupa dimensi energi magnetnya tidak pernah hilang atau terambil oleh orang lain. Maka kamu yang dengan&#8217; Magnet diri&#8217; yang besar, dimensi materi (uang) yang terambil tidak menyebabkan dimensi energi magnet dirimu hilang !, Ia milikmu seutuhnya. Dengan niat dan kehendakmu yang tulus, alam berkewajiban mengisi kembali daya magnetmu. Karena itu milikmu, hasil tabungan perbuatanmu !. Dengan mengunakan &#8216;materi&#8217; untuk perbuatan baik dengan membantu orang lain justru akan membuat &#8216;magnet diri&#8217; makin besar&#8221; </p>
<p>&#8220;Demikian mereka yang &#8216;magnet dirinya&#8217; besar, terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang mereka lakukan selalu membawa rejeki. Sehingga timbul kesan mereka di kejar-kejar uang. Sungguh disayangkan bagi mereka yang &#8216;magnet dirinya&#8217; telah besar,dalam kehidupan sekarang mensia-siakan semua anugrah yang ia dapat, mengunakan hanya untuk kesenangan dunia. Tidak memanfaatkan bekal ini untuk mencari kesempurnaan dirinya. Malah diantara mereka yang bermagnet besar tersesat dalam dunia materi, menghalalkan segara cara untuk mengisi daya magnetnya yang besar.dan ini secara awam nampak seolah perbuatan yang tidak benar tetapi bisa mendapatkan kekayaan. Dan memang demikian keadilan alam bekerja! Mereka yang telah memiliki daya magnet besar, sebagai tabungan karma sebelumnya. walaupun perbuatan sekarang tidak benar alam tetap akan mengisi daya magnetnya untuk memenuhi kepastian hukum karma sendiri. Tetapi sungguh magnet yang telah ada akan tergerus, suatu ketika setelah magnet dirinya mengecil ia akan jatuh miskin . sia-sialah hidupnya yang sekarang yang bermagnet besar.&#8221;</p>
<p>Luar biasa ! &#8220;Keberadaan&#8221; malam itu kembali membimbing saya, Ia yang bersemayam di dalam telah menuntun saya memahami kemuliaan diri saya. Apa yang saya takutkan lagi. Ah.. &#8220;materi&#8221; telah terlampaui sudah! Rasa takut kehilangan juga telah terlampaui.. terasa terbebaskan dari beban berat.. Ini lah pencerahan ! </p>
<p>Esoknya, pagi-pagi sekali saya buru-buru mengantarkan sisa Rp.50 juta dari laba pertama saya kepada keluarganya.</p>
<p>3 hari di Penang, Malaysia. Saya mendapat kabar setelah mereka mengoperasi dan membersihkan luka-lukanya. dokter sana juga menganjurkan keluarganya membawa pulang. keluarga dan saya saat itu menafsirkan ini suatu petanda tidak baik. Karena sampai seminggu kemudian ia belum juga bangun dari komanya. Akhirnya keluarganya pasrah menbawanya dan dirawat di rumah dalam kondisi masih koma.</p>
<p>Sungguh Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Setelah di rawat di rumah secara perlahan terjadi kemajuan yang luar biasa. Akhirnya ia bangun dari komanya dan berangsur-angsur sembuh walaupun lambat. Dan sekarang ia telah kembali bekerja kembali dengan saya walaupun masih ada sisa-sisa berupa cacat beberapa fungsi tubuh. Tetapi ia telah hidup mandiri.</p>
<p>Inilah &#8220;pasangan Kejadian&#8221;. Melalui kejadian cobaan ini, keluarganya mendapat kesempatan mengalami pelajaran tentang &#8220;Kasih&#8221; dan &#8220;cinta&#8221; dan keterkaitan dengan saya.. melalui cobaan ini saya di uji dan hasilnya adalah pencerahan.. terlampaui &#8220;materi&#8221; dan rasa takut. Sungguh RP.80 juta uang sekolah yang tidak begitu mahal&#8230; Sekarang rezeki yang telah terima telah berlipat ganda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/magnet-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Mengirim Naskah ke Endorser</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 07:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Hirata]]></category>
		<category><![CDATA[bagi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita komedi]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dika]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[endorsement]]></category>
		<category><![CDATA[Endorser]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kali]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Karina]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[kening]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[membuat]]></category>
		<category><![CDATA[namun]]></category>
		<category><![CDATA[napas]]></category>
		<category><![CDATA[naskah]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[oleh]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[plis]]></category>
		<category><![CDATA[saking]]></category>
		<category><![CDATA[sambil]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[Serta]]></category>
		<category><![CDATA[siapa]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[Teenlit]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[tiga]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Semua penulis yang sudah menerbitkan buku –atau bercita-cita menerbitkan buku— pasti tidak asing dengan kata ‘endorsement’, kecuali dia tinggal di ujung dunia. Beberapa tahun lalu, sebelum kata ini sering digunakan, istilah yang familiar di telinga kita adalah ‘paperback comment’.
Selain memberi nilai tambah bagi sebuah karya, endorsement dari seseorang yang ‘sudah punya nama’ –apalagi yang termasuk kategori ‘Penulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua penulis yang sudah menerbitkan buku –atau bercita-cita menerbitkan buku— pasti tidak asing dengan kata ‘<a style="font-style: italic; color: #000000;" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Endorsement_%28advertising%29">endorsement</a>’, kecuali dia tinggal di ujung dunia. Beberapa tahun lalu, sebelum kata ini sering digunakan, istilah yang familiar di telinga kita adalah ‘<span style="font-style: italic;">paperback comment</span>’.</p>
<p>Selain memberi nilai tambah bagi sebuah karya, <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari seseorang yang ‘sudah punya nama’ –apalagi yang termasuk kategori ‘Penulis Dewa’— sanggup membuat orang tergoda membeli, atau minimal, mengundang rasa penasaran terhadap buku yang bersangkutan. Siapa yang tidak tertarik mengambil buku yang sampul depannya memuat <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Andrea_Hirata">Andrea Hirata</a> atau <a style="color: #000000;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Lestari">Dewi Lestari</a>? Siapa penikmat novel remaja yang tidak terpancing mengambil <span style="font-style: italic;">teenlit</span> yang memajang <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://www.sittakarina.com/">Sitta Karina</a>? Siapa penyuka cerita komedi yang tidak tertarik dengan buku yang di-<span style="font-style: italic;">endorse</span> oleh <a style="color: #000000;" href="http://radityadika.com/">Raditya Dika</a>?</p>
<p>Sebagai orang yang sudah menerbitkan buku, saya tahu rasanya mengirim naskah kepada penulis-penulis senior; memohon kesediaan mereka untuk memberi sepatah-dua patah kata bagi ‘calon anak’ saya, berharap-harap cemas menanti hasilnya, dan sebagainya. Di sisi lain, sebagai orang yang pernah menjadi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk beberapa buku –serta menjadi ‘perantara’ bagi mereka yang ingin mendapatkan<span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://www.dee-idea.blogspot.com/">Ibu ini</a>— saya juga berkesempatan membaca berbagai naskah dengan genre dan penulisan yang sangat bervariasi.</p>
<p>Menerima dan membaca naskah merupakan kegiatan yang menarik, namun tak selalu menyenangkan. Ada kalanya saya mendapatkan ‘naskah emas’ yang memikat perhatian. Saya sanggup <span style="font-style: italic;">begadang</span> semalam suntuk dan melewatkan jam makan hanya untuk menamatkan naskah tersebut. Saya pernah membaca naskah yang sama sebanyak tiga kali dalam sebulan karena jatuh cinta dengan isi dan cara penulisannya. Namun tidak jarang pula saya menerima naskah yang membuat kening berkerut-kerut saking standarnya, saking mentahnya, atau saking <span style="font-style: italic;">absurd</span>-nya. Jenis naskah yang terakhir ini biasanya membuat saya menarik napas panjang sambil membatin, “<span style="font-style: italic;">Duh bo&#8230; plis deh</span>,” sebelum menutupnya tanpa menamatkan bab pertama.</p>
<p>Kedengaran belagu? Mungkin, tapi memang itu yang terjadi.</p>
<p>Selain konten, ada hal-hal lain yang memicu keengganan saya untuk membaca sebuah naskah sampai tamat (boro-boro mengomentari, kalau membaca aja nggak selesai). Kemalasan adalah salah satunya. Sisanya adalah beberapa faktor eksternal yang akan saya uraikan di bawah ini.<br />
Apa yang saya tuliskan di sini adalah hasil dari pengamatan pribadi dan bertukar pikiran dengan sesama rekan penulis –maupun figur publik— yang pernah menjadi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk sebuah buku. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tips pertama: pastikan naskah yang kamu kirim ke <span style="font-style: italic;">endorser</span> sudah diterima terlebih dahulu oleh penerbit. Menggunakan <span style="font-style: italic;">endorsement</span>untuk ‘menjual’ naskah ke penerbit memang bukan sesuatu yang salah, namun ini bisa jadi sesuatu yang menyebalkan bagi <span style="font-style: italic;">endorser</span>. Pertama, karena tidak adanya kepastian terbit. Kedua, ada waktu dan energi yang harus diluangkan oleh <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk membaca dan mengomentari karya kamu. Ketidakpastian tersebut akan membuat usaha yang dilakukan <span style="font-style: italic;">endorser</span> tampak sia-sia.</p>
<p>Kedua, yakinlah bahwa ketika karya kamu diterima oleh penerbit, karya tersebut memiliki ‘kekuatan’ dan nilai plus yang menjadikannya layak terbit. Pahami juga bahwa setiap penulis mempunyai ciri khas dan kelebihan masing-masing. Karena itu, miliki rasa percaya diri dan hindari mencantumkan kalimat-kalimat berikut dalam permohonan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> kamu: “Saya tahu tulisan saya tidak sebagus Mbak…”, “Memang tulisan ini tidak sebanding dengan karya Mbak…”, dan sebagainya. Saya tidak tahu dengan penulis lain, namun permohonan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> semacam ini membuat saya kehilangan minat untuk membaca naskah. Jika<span style="font-style: italic;"> endorser</span> yang bersangkutan merasa cocok dengan karyamu, ia akan memberikan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dengan senang hati. Tanpa kamu perlu ‘merendah’.</p>
<p>Ketiga, jangan mengirimkan naskah dengan tenggat waktu yang terlalu sempit. Dua minggu sampai satu bulan adalah tenggat yang cukup ideal bagi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk membaca dan mengomentari calon bukumu, apalagi jika kamu mengirim naskah kepada ‘Penulis Dewa’ yang punya segudang kesibukan. Sadari bahwa mereka memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada membaca naskahmu. <span style="font-style: italic;">And for the love of God</span>, jangan donder. Saya pernah menerima <span style="font-style: italic;">draft</span> dari seseorang yang mengirimkan <span style="font-style: italic;">e-mail</span> dua hari sekali untuk menanyakan apakah <span style="font-style: italic;">draft</span> tersebut sudah dibaca. Kali ketiga ia mengirim<span style="font-style: italic;"> e-mail</span>, saya tidak lagi membalasnya. <span style="font-style: italic;">It’s just annoying</span>. Saya hanya tersenyum masam mendengar alasan yang diajukannya: “Minggu depan sudah mau naik cetak, Mbak.” Sebagai orang yang pernah menerbitkan buku, saya tahu ada tenggat waktu yang cukup panjang dari diterimanya naskah oleh penerbit, proses produksi (<span style="font-style: italic;">editing, lay-outing</span>, desain <span style="font-style: italic;">cover</span>, dsb), sampai naik cetak. Keseluruhan proses tersebut bisa makan waktu 3 sampai 5 bulan. <span style="font-style: italic;">Kemane aje lo, baru ngirim </span>draft<span style="font-style: italic;"> seminggu terakhir</span>?</p>
<p>Keempat, kirimlah naskah yang sudah ‘matang’, dalam arti sudah melalui proses <span style="font-style: italic;">editing</span> setidaknya satu kali. Selain memudahkan<span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk menilai naskah tersebut secara keseluruhan, tindakan ini menunjukkan bahwa kamu menghargai <span style="font-style: italic;">endorser</span>. Kesalahan ketik dan kesalahan tata bahasa adalah sesuatu yang sangat lazim terjadi, dan saya rasa <span style="font-style: italic;">endorser</span> tidak akan mempermasalahkan hal ini. Namun isi naskah yang masih ‘mentah’ dan kasar akan sangat mengganggu untuk dibaca. Tunjukkan bahwa kamu menghargai <span style="font-style: italic;">endorser</span>yang sudah bersedia meluangkan waktu dan energi untuk membaca naskahmu.</p>
<p>Kelima, gunakan <span style="font-style: italic;">font</span> yang nyaman dibaca dan spasi yang tidak melelahkan mata. Hal ini juga bisa diterapkan untuk mengirim naskah ke penerbit. Saya pernah menerima naskah yang ditulis dengan <span style="font-style: italic;">font</span> Arial Narrow dan spasi <span style="font-style: italic;">single</span> yang panjangnya lebih dari 400 halaman. Saya berusaha membacanya sebanyak tiga kali dan akhirnya menyerah sebelum menyelesaikan bab pertama.</p>
<p>Keenam, kirimkan naskahmu kepada orang yang tepat. Jangan mengirimkan naskah novel pop kepada penulis cerita komedi. Jangan mengirimkan naskah kumpulan blog remaja kepada penulis fiksi ilmiah. Dan demi Tuhan, jangan mengirimkan naskah cerita horor murahan atau drama-komedi berbau seks kepada siapa pun. Kasihanilah kami.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Last but not least</span>, berbesar hatilah jika naskahmu ditolak oleh calon<span style="font-style: italic;"> endorser</span>. Tidak usah <span style="font-style: italic;">ngambek</span>. Tidak perlu membujuk calon<span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk mempertimbangkan ulang keputusannya dengan berkali-kali menghubunginya. Mereka tentu memiliki pertimbangan tersendiri untuk memberikan (atau tidak memberikan) <span style="font-style: italic;">endorsement</span>. <span style="font-style: italic;">It’s nothing personal</span>. Naskah saya pernah ditolak oleh beberapa penulis. Saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang mereka berikan untuk membaca dan membalas <span style="font-style: italic;">e-mail</span> saya, lalu mencari penulis lain yang bersedia meng-<span style="font-style: italic;">endorse</span> buku saya. Sesederhana itu.</p>
<p>Sekarang, izinkan saya menghancurkan secercah harapan yang kamu miliki. Tips-tips di atas tidak menjamin kamu akan memperoleh<span style="font-style: italic;">endorsement</span> sesuai harapan, bahkan tidak menjamin naskahmu akan dibaca oleh calon <span style="font-style: italic;">endorser</span>.</p>
<p>Tips-tips tersebut hanya bentuk lain dari<span style="font-style: italic;"> uneg-uneg</span> yang saya (dan beberapa rekan penulis) miliki dari pengalaman menerima dan membaca naskah yang dikirimkan kepada kami. Sama seperti perjuangan untuk menerbitkan buku, ada banyak hal yang menentukan keberhasilan seseorang dalam mendapatkan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> – salah satunya keberuntungan. Saran yang bisa saya berikan adalah: lakukan yang terbaik yang kamu bisa, silangkan jari-jarimu, dan berharaplah keberuntungan ada di pihakmu. Kalaupun tidak, <span style="font-style: italic;">well</span>, akan selalu ada kesempatan lain, selama kamu terus menulis. <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selamat berburu <span style="font-style: italic;">endorsement</span>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TUJUH &#8216;ORANG BUTA&#8217; MENEBAK &#8216;GAJAH&#8217; (1)</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 05:01:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[belalai gajah]]></category>
		<category><![CDATA[berkesimpulan]]></category>
		<category><![CDATA[bernama]]></category>
		<category><![CDATA[bulat]]></category>
		<category><![CDATA[BUTA]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita humor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita klasik]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dapat]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[ekor]]></category>
		<category><![CDATA[GAJAH]]></category>
		<category><![CDATA[geli]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kaki gajah]]></category>
		<category><![CDATA[Kami]]></category>
		<category><![CDATA[kasur]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kesempatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesimpulan]]></category>
		<category><![CDATA[kipas]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>
		<category><![CDATA[Maka]]></category>
		<category><![CDATA[meraba]]></category>
		<category><![CDATA[mereka]]></category>
		<category><![CDATA[Nilai]]></category>
		<category><![CDATA[ORANG]]></category>
		<category><![CDATA[orang buta]]></category>
		<category><![CDATA[perut]]></category>
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>
		<category><![CDATA[punggung]]></category>
		<category><![CDATA[seperti]]></category>
		<category><![CDATA[Seri]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[tiang]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Seri kebenaran relatif 3
Ada suatu cerita klasik dari zaman dulu yang dapat membantu kita memahami apa sebenarnya “KEBENARAN”. Dengan perjalanan pencariannya. Cerita ini bernama “TUJUH ORANG BUTA MENEBAK GAJAH”. Cerita ini telah diceritakan turun temurun tetapi telah mengalami penurunan nilai dan cerita ini sekarang lebih diceritakan sebagai cerita humor. 10 tahun lalu ketika kuliah perdana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-63" href="http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/andriadi/"></a>Seri kebenaran relatif 3</p>
<p>Ada suatu cerita klasik dari zaman dulu yang dapat membantu kita memahami apa sebenarnya “KEBENARAN”. Dengan perjalanan pencariannya. Cerita ini bernama “TUJUH ORANG BUTA MENEBAK GAJAH”. Cerita ini telah diceritakan turun temurun tetapi telah mengalami penurunan nilai dan cerita ini sekarang lebih diceritakan sebagai cerita humor. 10 tahun lalu ketika kuliah perdana saya sebagai mahasiswa kedokteran , seorang dosen menuturkan cerita ini kepada kami. Kami ketawa terbahak-bahak melihat kebodohan manusia dalam cerita tersebut. sepuluh tahun kemudian,setelah memahami pesan cerita ini ternyata ketawa kami sepuluh tahun yang lalu sebenarnya menertawakan diri sendiri; sebagai manusia yang sedang melakukan perjalanan pencarian kebenaran&#8230;10 tahun ; suatu pencarian waktu yang panjang !</p>
<p>Diceritakan pada zaman dulu disuatu desa ada 7 orang buta yang tidak pernah melihat gajah, diberi kesempatan mengikuti lomba menebak &#8216;bentuk gajah&#8217; itu seperti apa? Pada saat bersamaan mereka dituntun menuju gajah dan disuruh meraba gajah dan menebak gajah itu seperti apa. <br />
Peserta pertama mendapat tempat yang dapat meraba bagian kaki gajah. Dan berkesimpulan gajah itu seperti “tiang besar” karena memang kaki gajah itu seperti tiang yang besar.<br />
Peserta kedua mendapat tempat yang dapat meraba bagian ekor gajah dan berkesimpulan gajah itu seperti “tali”.<br />
Peserta ketiga memdapat tempat yang dapat meraba bagian perut gajah yang bulat dan berkesimpulan gajah itu seperti “tong”.<br />
Peserta keempat mendapat kesempatan meraba daun telinga gajah yang lebar dan berkesimpulan gajah itu seperti “kipas”.<br />
Peserta kelima meraba gading gajah dan berkesimpulan gajah itu seperti “tanduk”.<br />
Peserta keenam meraba belalai gajah dan berkesimpulan gajah itu seperti “pipa air”.<br />
Dan peserta ke tujuh meraba bagian punggung gajah dan berkesimpulan gajah seperti “kasur”.<br />
Orang yang pernah melihat gajah menahan geli dan ketawa melihat kesimpulan mereka. </p>
<p>Ketika pengumuman pemenang. Dan dinyatakan tidak ada yang menang karena kesimpulan mereka &#8217;salah&#8217; , ketujuh peserta melakukan protes karena mereka merasa benar. “kami telah menyatakan kesimpulan sesuai apa yang kami raba , kalian tidak dapat membohongi kami, kami lebih percaya hasil raba kami dari pada keterangan kalian “. Maka terjadilah kekacauan karena penyelengara lomba tidak dapat memjelaskan dengan jelas bentuk gajah itu seperti apa kepada ketujuh orang buta. Penyelenggara perlombaan mencoba menjelaskan kesimpulan mereka “salah” dengan mengkonfrontasikan ketujuh orang buta. Situasi tambah kacau ternyata kesimpulan ketujuh orang buta ini tidak sama dan masing-masing mepertahankan kesimpulan mereka. <br />
“Bagaimana dia menyatakan gajah itu seperti ‘tiang besar’ sedangkan yang saya raba seperti ‘kipas’”. Yang lain protes “ Saya benar-benar meraba gajah itu seperti ‘tanduk’ kenapa dia menyebutnya seperti ‘tali’ “. Semua ngotot dengan kesimpulan masim-masing dan akhir terjadi pertengkaran yang tidak berkesudahan.</p>
<p>Cerita diatas hanya sebuah perumpamaan bahwa pada dasarnya manusia selalu diawali dengan kebodohan dan ketidaktahuan tentang “Kebenaran”. Di ibaratkan &#8216;gajah&#8217; itu demikian adanya sebagaimana ciptaan Tuhan. &#8216;Gajah&#8217; disini melambangkan “KEBENARAN”.<br />
Kebenaran sebenarnya sangat besar tidak dapat dipahami dengan sesaat.,dinilai dari satu sisi saja. &#8216;Orang buta&#8217; dicerita ini melambangkan “KETERBATASAN” kita untuk memahami &#8220;kebenaran” yang besar dan malah abstrak. Disini ada nilai “Kebenaran” yang sangat subyektif dari ketujuh orang buta.<br />
Disebut kebenaran karena memang benar berdasarkan panca indra yang dimiliki manusia yang masih terbatas fungsinya. Nilai “kebenaran” ini sangat kasar dan sangat tergantung kepada kualitas manusianya. Kebenaran ini menimbulkan “EGO PERORANGAN” <br />
Tetapi bagaimanapun Kebenaran tingkat ini memang adanya dan merupakan bagian dari “Hukum Keberadaan” yang disebabkan kebodohan dan ketidaktahuan yang melekat dalam diri setiap manusia sejak lahir.Tingkat ini merupakan “anak tangga pertama” untuk menapak kenilai “kebenaran” berikutnya. Kebenaran ditingkat ini saya sebut “KEBENARAN SUBJEKTIF”. Nilai kebenaran ini sangat tergantung kulitas pengetahuan dan interpretasi subjek dan bersifat relatif, dan tentu bukan kebenaran sebenarnya kecuali subjeknya orang sempurna. Andai kita menyadari kelemahan dan keterbatasan kita dan menyadari keberadaan serta mempunyai pengetahuan tentang “TINGKATAN atau KUALITAS KEBENARAN ” maka kita tidak akan “PARKIR” lama di tingkat kebenaran ini. Tentu kita akan menapaknya kemudian “MELEWATI dan MELAMPAUI” tingkat “kebenaran Subjektif” ini dengan cepat, tidak perlu 10 tahun atau seumur hidup !</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak dijumpai orang-orang yang hidup dengan kebenaran subjektif ini. Mereka berhenti ditingkat kebenaran ini. Mereka selalu merasa diri mereka paling benar, ego mereka sangat tinggi. Dan nilai moral, etika , peraturan dan hukum; yang merupakan nilai kebenaran kolektif tidak berlaku bagi dia. Dan untuk mempertahan nilai kebenaran ini mereka siap mempertaruhkan nyawanya. Kita sering membaca di koran sipolan membunuh temamnya sendiri hanya masalah hutang Rp.5000,- . Anak membunuh orang tua karena tidak diberi uang. Berjalan ditengah jalan, diklakson malah marah. Dikedai kopi berdebat kusir hingga berantam , dan sebagainya. </p>
<p>Bagi mereka yang belum mengalami pencerahan akan tidak pernah sadar akan keberadaan mereka di tingkat kebenaran yang sangat kasar ini dan berhenti disini, maka sebenarnya hidup mereka sangat tidak nyaman, penuh dengan konflik dan cobaan.<br />
Ketika seseorang setelah mengalami proses pematangan hidup yang panjang melalui berbagai konflik dan percobaan, tiba-tiba menyadari ada kebenaran yang lebih tinggi maka mereka akan meninggalkan tingkat kebenaran yang kasar ini menuju kebenaran yang lebih tinggi. Kebanyakkan orang memerlukan masa yang panjang untuk mengalami pencerahan. Mungkin seumur hidupnya. Sungguh suatu kesia-siaan waktu yang panjang !<br />
Sementara sebagian orang dengan cepat mengalami pencerahan dan melanjutkan pencarian kebenaran, berhenti sebentar di “anak tangga kebenaran” dan siap menapak anak tangga kebenaran berikutnya&#8230; (Bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/tujuh-orang-buta-menebak-gajah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
