<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nathalia Sunaidi &#62;&#62; Hipnotis &#38; Hipnoterapis &#187; adalah</title>
	<atom:link href="http://nathaliasunaidi.com/tag/adalah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nathaliasunaidi.com</link>
	<description>Hipnosis&#124;Hipnoterapi&#124;NLP&#124;EFT</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sebuah Pohon yang Bernama Visi Hidup</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:23:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Abraham Lincoln]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[anak pintar]]></category>
		<category><![CDATA[Banyak]]></category>
		<category><![CDATA[bernama]]></category>
		<category><![CDATA[bobot]]></category>
		<category><![CDATA[butuh]]></category>
		<category><![CDATA[cara cara]]></category>
		<category><![CDATA[citra diri]]></category>
		<category><![CDATA[coachville]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Hanh]]></category>
		<category><![CDATA[hasrat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan membaca]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[masalah emosi]]></category>
		<category><![CDATA[membaca buku]]></category>
		<category><![CDATA[membuat]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[Nelson Mandela]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[potensi diri]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sebuah]]></category>
		<category><![CDATA[semata]]></category>
		<category><![CDATA[Theresa]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas J. Leonard]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[visi]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;pengejaran kesuksesan, dengan cara-cara
model lama, bisa sangat membuat stres.”
(Thomas J. Leonard, Pendiri Coachville)
 
Saya pernah diberitahu seorang psikolog yang juga masih kerabat dekat keluarga saya. Waktu itu dia bercerita bahwa anak pintar itu butuh penyeimbang dalam hal kecerdasan emosinya. Karena itu ada sekolah khusus untuk anak-anak pintar, yang bertujuan selain memberikan pelajaran dengan bobot yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><em>“&#8230;pengejaran kesuksesan, dengan cara-cara</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><em>model lama, bisa sangat membuat stres.”</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><strong>(Thomas J. Leonard, Pendiri Coachville)</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times; min-height: 14.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Saya pernah diberitahu seorang psikolog yang juga masih kerabat dekat keluarga saya. Waktu itu dia bercerita bahwa anak pintar itu butuh penyeimbang dalam hal kecerdasan emosinya. Karena itu ada sekolah khusus untuk anak-anak pintar, yang bertujuan selain memberikan pelajaran dengan bobot yang lebih daripada yang lain, juga untuk memperhatikan kecerdasan emosinya. Orang yang pandai justru sering terjebak oleh emosinya sendiri. Penjelasan ini membuat saya dan istri berhati-hati dalam mendidik anak semata wayang kami. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><span style="white-space: pre;"> </span>Belakangan saya menyadari bahwa bukan anak saya saja yang butuh pembelajaran emosi. Saya sendiripun masih butuh berbenah diri dalam masalah emosi ini.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jika di runtut dari pengalaman, sejak kuliah, saya memiliki kebiasaan membaca buku, dari banyak disiplin ilmu seperti: filsafat, psikologi, politik, sosial, bahkan sastra, walaupun kuliah yang saya jalani adalah teknik informatika. Pada waktu itu, saya merasa tertantang untuk mempelajari semua dasar filosofi mengingat saya juga aktif dalam organisasi sosial keagamaan sebagai tempat bereksperimen dalam mengasah potensi diri. Saya merasa pengetahuan dan pengalaman ini akan membuat saya sukses di dunia kerja nantinya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Namun ketika memasuki dunia kerja selama lima tahun pertama, saya justru mengalami kebuntuan. Kepandaian selalu menimbulkan hasrat untuk mengatur keadaan, akibatnya saya justru merasakan kerepotan dengan pengetahuan yang telah saya kumpulkan sebelumnya itu. Saya merasa menderita dan tidak mencapai kesuksesan pada waktu yang pernah saya rencanakan sebelumnya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Penderitaan yang saya alami ini membuat saya belajar bahwa banyak pengetahuan cenderung membuat saya banyak keinginan. Keinginan dan citra diri yang berlebihan (<em>self important</em>) adalah akar dari ketidakbahagiaan dalam hidup. Setelah menyadari hal ini, selama beberapa tahun saya banyak berdiam diri dan tidak melakukan hal-hal menantang lagi. Saya hanya bertahan dan mengikuti rutinitas kerja begitu saja.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Hingga pada satu titik, saya bertanya pada diri sendiri. Apakah ada cara hidup bahagia tapi dengan tetap melibatkan aktivitas yang aktif? Jika dulu saya sering terjebak pada visi yang saya buat sendiri, yang berakhir dalam penderitaan. Lalu, apakah bisa seseorang berjuang demi sebuah visi tapi tetap bahagia?</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Sambil meraba-raba dan seiringan dengan waktu semakin jelas bahwa kemungkinan visi yang membahagiakan itu ada. Pada tahun 2006, saya memberanikan diri untuk memiliki visi hidup kembali, setelah banyak mengikuti retret-retret meditasi. Visi yang membahagiakan tidak lain adalah sebuah visi yang altruistik. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Apakah altruistik itu?</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Altruistik berasal dari sebuah kata ‘’<em>altrui </em>” dalam bahasa Perancis, yang berarti ‘’bagi atau untuk orang lain”. Pertama kali kata ini digunakan oleh Auguste Comte, filosof Perancis abad ke-19. Secara teoritis, etika altruisme adalah lawan dari egoisme &#8211;yang adalah segala pemikiran yang berpusat pada kepentingan diri. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 12.0px Times;">Sehubungan dengan visi hidup, saya mengartikan altruistik sebagai ketulusan dalam beraktivitas baik pada waktu proses maupun setelah mencapai visi tersebut. Ketulusan ini akan ada dengan sendirinya jika kita tidak lagi banyak berkutat pada kepentingan diri. Altrustik adalah sebuah cara pandang yang melampaui kepentingan diri, yang tidak tergantung apakah tujuan hidup itu tercapai atau tidak. Jika kita mengamati biografi orang-orang besar &#8211;seperti: Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, Dalai Lama, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Romo Mangunwijaya, dll&#8211;, mereka semua memiliki sifat altrustik. Karena itu mereka selalu tampak tenang dan bahagia, dan bukan hanya itu, mereka bermanfaat bagi orang lain. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Upaya mencapai kesuksesan perlu dipahami dalam konteks visi hidup yang saya jelaskan ini. Ibarat kita menanam sebuah pohon. Tanggungjawab kita hanyalah menggali lubang untuk menaruh benih, menanaminya dengan benar, menyiraminya, memberi pupuk dan menjaganya dari serangan hama dan serangga. Apakah pohon itu tumbuh atau tidak, itu terserah padanya. Itu bukanlah urusan kita. Bahkan upaya untuk menarik-nariknya, meregangkannya dengan membuatnya mampu tumbuh lebih cepat adalah sama sekali tidak berguna. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jika kita bandingkan dengan apa yang kita alami, seringkali penderitaan muncul karena keinginan sesaat untuk menggapai visi setelah sebuah visi belum lama ditentukan.  Kita harus menyadari bahwa tumbuh kembangnya sebuah benih menjadi sebuah pohon adalah proses yang alami dan butuh waktu. Thich Nhat Hanh, seorang guru meditasi Zen, pernah memberi sebuah ilustrasi. Ketika mencuci piring, janganlah berpikir piring itu akan bersih. Mengapa? Karena dengan mencuci piring dengan baik dan benar, maka dengan sendirinya piring itu akan bersih. Intinya, keinginan yang terlalu menggebu-gebu membuat kita lupa pada proses pencapaiannya. Kita mesti belajar untuk selalu tulus dan bahagia dalam merawat visi, dari pada banyak berkutat pada nafsu tercapainya sebuah visi. Jika waktunya telah tiba, visi itu akan terwujud dengan sendirinya tanpa “paksaan” dari pihak kita.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jadi, jika Anda terus merasa menderita dalam hidup, entah itu mengenai pekerjaan, maupun upaya menggapai cita-cita, semua itu hanya ada satu penyebab. Itu tidak lain adalah minimnya ketulusan dalam menanam sebuah pohon yang bernama visi hidup. Sebodoh-bodohnya orang dalam berusaha,  sepanjang mampu bertahan dalam fase “<em>trial and error</em>”, suatu saat dia akan mencapai buah kesuksesannya. Hanya saja, setiap orang mencapainya dalam jangka waktu yang berbeda, tergantung dari situasi dan kondisinya. Saya selalu berpendapat bahwa kebahagiaan adalah salah satu faktor efektivitas penting yang paling sering dilupakan.  Bahagia akan membuat energi lebih tercurahkan pada visi hidup, sebagai hasilnya Anda bisa menikmati hidup jauh sebelum visi itu tercapai. Kenyataannya, dengan hidup bahagia, Anda dapat belajar banyak hal dengan lebih baik pula. Karena itu, tunggu apalagi. Berbahagialah! </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 14.0px Times;">Victor Alexander Liem, </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 14.0px Times;">Penulis buku <em>USING NO WAY AS WAY!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>EFEK “JEMBATAN”, SEBUAH FAKTOR KESUKSESAN</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/efek-%e2%80%9cjembatan%e2%80%9d-sebuah-faktor-kesuksesan/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/efek-%e2%80%9cjembatan%e2%80%9d-sebuah-faktor-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:33:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[ajak]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[aksara]]></category>
		<category><![CDATA[bahwa]]></category>
		<category><![CDATA[banyak orang]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[definisi kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[efek]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[jembatan]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[jika]]></category>
		<category><![CDATA[john barth]]></category>
		<category><![CDATA[kaizen]]></category>
		<category><![CDATA[kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[nampak]]></category>
		<category><![CDATA[namun]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[paulo freire]]></category>
		<category><![CDATA[penemuan]]></category>
		<category><![CDATA[proses pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sebuah]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;tantangan yang sesungguhnya adalah  mengerjakan sesuatu yang belum diketahui,  karena ‘seorang tolol pun bisa mengajarkan  apa yang sudah dia ketahui!’” (John Barth, dalam The Sot-Weed Factor)
Pernahkah Anda berusaha keras demi tujuan tertentu? Entah melakukan tugas dalam pekerjaan ataupun juga upaya agar sukses dalam hidup. Setiap orang tentu ingin hidup sesuai dengan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>“&#8230;tantangan yang sesungguhnya adalah  mengerjakan sesuatu yang belum diketahui,  karena ‘seorang tolol pun bisa mengajarkan  apa yang sudah dia ketahui!’” (John Barth, dalam The Sot-Weed Factor)</em></p>
<p>Pernahkah Anda berusaha keras demi tujuan tertentu? Entah melakukan tugas dalam pekerjaan ataupun juga upaya agar sukses dalam hidup. Setiap orang tentu ingin hidup sesuai dengan apa yang telah direncanakan bukan? Sering kita dengar bahwa kerja keras adalah syarat utamanya. Namun ada sebuah faktor lain yang perlu kita perhatikan. Faktor itu adalah efek “jembatan”.</p>
<p>Sebelum mengetahui apa itu efek “jembatan”, saya ingin ajak Anda memahami proses belajar, karena dua hal ini berkaitan.</p>
<p>Jika kita menggali lebih dalam arti belajar, kita akan semakin memahami bahwa belajar itu memiliki arti kreatif dalam pola-pola tertentu. Seperti yang sering diingatkan Paulo Freire, “Belajar bukanlah mengkonsumsi ide, namun menciptakan dan terus menciptakan ide”. Proses pembelajaran mengarah pada keunikan dan penemuan pada hal-hal baru. Artinya, belajar itu sendiri adalah aktivitas yang kreatif.</p>
<p>Ada banyak definisi kreativitas, namun saya lebih suka memahami kreativitas secara praktis yaitu sebagai upaya pemecahan masalah (problem solving). Kreatif yang sekedar bentuk imajinasi tanpa memberi manfaat adalah kreativitas yang belum tuntas. Kreatif mesti mengarah pada pemecahan masalah. Namun sering juga istilah “masalah” dipahami secara negatif, sehingga membuat banyak orang menghindarinya. Kita boleh merasa tidak punya masalah, tapi itu bukan berarti bahwa masalah itu tidak ada. Manajeman Jepang menjelaskannya dalam sebuah frase “Kaizen”, yang terdiri dari aksara “kai” artinya perubahan, dan “zen” yang artinya baik. Filosofi Jepang melihat segalanya sebagai proses. Maksudnya, sesuatu itu hanya akan menjadi masalah, jika kita tidak mengenalnya yang, pada akhirnya, akan membuat keadaan semakin tidak teratasi. Nampak bahwa kreativitas, perbaikan, pemahaman, adalah istilah-istilah yang memiliki pengertian yang sama dan mengarah pada proses pembelajaran untuk memecahkan suatu masalah.</p>
<p>Dalam psikologi kontemporer, kreativitas juga sering dihubungkan dengan sinergi antara otak kanan dan kiri. Keduanya diyakini turut menentukan kesuksesan dalam hidup. Di antara otak kanan dan kiri ini ada sebuah faktor yang perlu kita ketahui, yaitu: efek “jembatan”.</p>
<p>Apa itu efek “jembatan”?</p>
<p>Penjelasan sederhananya adalah seperti ini.</p>
<p>Anda pasti pernah bekerja terlalu keras dan menjumpai masalah yang tidak bisa teratasi saat itu. Ketegangan dan kelelahan membuat pikiran tumpul, namun pada saat Anda tenang, pemecahan masalah akan muncul begitu saja. Hal itu sering terjadi ketika Anda memutuskan istirahat sejenak  atau memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan besok paginya. Ketika pikiran lebih fresh, masalah itu ternyata bisa teratasi dengan mudahnya dan hampir tidak membutuhkan usaha yang ekstra.</p>
<p>Dr. Bruce Goldberg menyebutkan bahwa kreativitas adalah fungsi otak kanan yang muncul dari pikiran bawah sadar. Karena berkaitan dengan bawah sadar, maka kreativitas itu sebenarnya tidak bisa dipaksakan bahkan juga direncanakan. Cetusan ide akan muncul dengan sendirinya ketika pikiran berada dalam kondisi yang tepat, yaitu pada saat pikiran tenang.</p>
<p>Dalam pikiran tenang itu, ada sebuah faktor yang membuat sebuah kreativitas itu bisa diwujudkan dalam suatu bentuk yang lebih bermanfaat. Inilah tambahan yang jarang dibahas dalam buku-buku psikologi pada umumnya. Saya mendapatkannya justru dalam buku psikologi anak, berjudul How to Bring Out Your Child’s Genius injust Ten Minutes a Day karya Pamela Hickein. Hickein menyinggung tentang Efek “Jembatan” (the “bridging” effect). Efek ini sesuai namanya berfungsi sebagai jembatan antara otak kanan dan kiri. Tanpa ada jembatan, maka imajinasi hanya sekedar imajinasi yang tidak bermanfaat. Beberapa pendidik meyakini bahwa Albert Einstein tidak mengalami efek “jembatan” hingga umur sembilan tahun. Namun belakangan kita tahu bahwa kemampuan otak kanan dan kiri yang terhubungan oleh faktor jembatan ini membuat Einstein menemukan teori relativitas.</p>
<p>Kreativitas bukan hanya berurusan dengan otak kanan yang terpisah dan tidak melibatkan fungsi otak kiri. Tony Buzan pernah menulis, “Kreativitas melibatkan penggunaan keterampilan mental otak kiri dan kanan&#8230;” Ide yang muncul dalam keadaan tenang segera ditanggapi oleh pemahaman akal yang ada pada otak kiri dan menjadi solusi dan penemuan yang menakjubkan. Otak kanan membutuhkan data dan proses pembelajaran logika dari Otak kiri.</p>
<p>Sebagai contoh, Anda bisa ingat kembali kisah Bill Gates muda yang sedang membaca majalah Popular Electronics pada Januari 1975 yang memuat laporan utama tentang mikrokomputer Altair 88000. Tiba-tiba saja terbersit sebuah visi bisnis yang akan menjadi tren di masa mendatang. Rupanya Bill Gates dan sahabatnya, Paul Allen, telah menantikan penggunaan PC yang membutuhkan sistem operasi komputer. Tanpa dukungan pembelajaran otak kiri sebelumnya mustahil Bill Gates memahami visi itu. Orang yang tidak didukung pengetahuan sebelumnya tentu hanya akan melihat Popular Electronics, sekedar informasi belaka tanpa ada tindak lanjut yang berarti.</p>
<p>Ada juga sebuah contoh lain, yaitu ketika Newton terilhami oleh jatuhnya buah apel dari pohonnya sebelum menemukan teori gravitasi. Tidak semua orang akan memberi respon yang sama ketika kejatuhan buah apel. Buah yang jatuh itu hanyalah pemicu, yang memungkinkan mengolah informasi menjadi suatu bentuk penemuan baru.</p>
<p>Dulu pada waktu psikologi terapan belum berkembang seperti sekarang ini, banyak orang hanya berfokus pada pembelajaran otak kiri. Namun sebaliknya, ketika otak kanan mulai dikenal luas, ada juga sebagian orang yang justru berlebihan dalam memahami otak kanan, sehingga justru melupakan pentingnya otak kiri. Dua pemahaman yang sepihak tentang otak ini tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Otak kanan tanpa otak kiri juga tidak berarti apa-apa. Efek “jembatan” menggarisbawahi pentingnya otak kanan dan kiri yang mampu bersinergi secara alami jika pikiran dalam kondisi tenang.</p>
<p>Dalam kehidupan bisnis maupun profesional yang begitu kompetitif, kreativitas semakin terasa dibutuhkan. Bahkan kreativitas dalam setiap anggota organisasi telah dipahami sebagai salah satu bagian penting dari strategi bisnis organisasi secara umum. Pada zaman sekarang, kreativitas adalah faktor kesuksesan yang tidak terelakkan. Dalam keadaan yang serba tidak pasti, tidak ada satupun acuan “pasti” yang bisa membuat Anda, dan perusahaan tempat Anda berkiprah bisa menjadi sukses. Ketidakpastian dalam hidup harus dilawan dengan ketidakpastian juga, dalam hal ini adalah kreativitas. Seperti apa bentuk kreativitas yang dimaksud ini? Jujur saja, sayapun tidak tahu. Anda akan tahu dengan sendirinya ketika keunikan itu muncul dalam pikiran Anda sendiri. Akan tiba saatnya efek “jembatan” terjadi, asalkan kita terus belajar dan tidak lupa untuk selalu tenang dalam menghadapi apapun. Rahasia kesuksesan bukan hanya kerja keras, tapi juga ketenangan diri yang juga berarti kemampuan menghadapi ketidakpastian dalam hidup.</p>
<div><span style="font-family: 'lucida grande'; line-height: normal; white-space: pre-wrap;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/efek-%e2%80%9cjembatan%e2%80%9d-sebuah-faktor-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Mengirim Naskah ke Endorser</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 07:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Hirata]]></category>
		<category><![CDATA[bagi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita komedi]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dika]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[endorsement]]></category>
		<category><![CDATA[Endorser]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kali]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Karina]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[kening]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[membuat]]></category>
		<category><![CDATA[namun]]></category>
		<category><![CDATA[napas]]></category>
		<category><![CDATA[naskah]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[oleh]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[plis]]></category>
		<category><![CDATA[saking]]></category>
		<category><![CDATA[sambil]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[Serta]]></category>
		<category><![CDATA[siapa]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[Teenlit]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[tiga]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Semua penulis yang sudah menerbitkan buku –atau bercita-cita menerbitkan buku— pasti tidak asing dengan kata ‘endorsement’, kecuali dia tinggal di ujung dunia. Beberapa tahun lalu, sebelum kata ini sering digunakan, istilah yang familiar di telinga kita adalah ‘paperback comment’.
Selain memberi nilai tambah bagi sebuah karya, endorsement dari seseorang yang ‘sudah punya nama’ –apalagi yang termasuk kategori ‘Penulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua penulis yang sudah menerbitkan buku –atau bercita-cita menerbitkan buku— pasti tidak asing dengan kata ‘<a style="font-style: italic; color: #000000;" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Endorsement_%28advertising%29">endorsement</a>’, kecuali dia tinggal di ujung dunia. Beberapa tahun lalu, sebelum kata ini sering digunakan, istilah yang familiar di telinga kita adalah ‘<span style="font-style: italic;">paperback comment</span>’.</p>
<p>Selain memberi nilai tambah bagi sebuah karya, <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari seseorang yang ‘sudah punya nama’ –apalagi yang termasuk kategori ‘Penulis Dewa’— sanggup membuat orang tergoda membeli, atau minimal, mengundang rasa penasaran terhadap buku yang bersangkutan. Siapa yang tidak tertarik mengambil buku yang sampul depannya memuat <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Andrea_Hirata">Andrea Hirata</a> atau <a style="color: #000000;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Lestari">Dewi Lestari</a>? Siapa penikmat novel remaja yang tidak terpancing mengambil <span style="font-style: italic;">teenlit</span> yang memajang <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://www.sittakarina.com/">Sitta Karina</a>? Siapa penyuka cerita komedi yang tidak tertarik dengan buku yang di-<span style="font-style: italic;">endorse</span> oleh <a style="color: #000000;" href="http://radityadika.com/">Raditya Dika</a>?</p>
<p>Sebagai orang yang sudah menerbitkan buku, saya tahu rasanya mengirim naskah kepada penulis-penulis senior; memohon kesediaan mereka untuk memberi sepatah-dua patah kata bagi ‘calon anak’ saya, berharap-harap cemas menanti hasilnya, dan sebagainya. Di sisi lain, sebagai orang yang pernah menjadi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk beberapa buku –serta menjadi ‘perantara’ bagi mereka yang ingin mendapatkan<span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://www.dee-idea.blogspot.com/">Ibu ini</a>— saya juga berkesempatan membaca berbagai naskah dengan genre dan penulisan yang sangat bervariasi.</p>
<p>Menerima dan membaca naskah merupakan kegiatan yang menarik, namun tak selalu menyenangkan. Ada kalanya saya mendapatkan ‘naskah emas’ yang memikat perhatian. Saya sanggup <span style="font-style: italic;">begadang</span> semalam suntuk dan melewatkan jam makan hanya untuk menamatkan naskah tersebut. Saya pernah membaca naskah yang sama sebanyak tiga kali dalam sebulan karena jatuh cinta dengan isi dan cara penulisannya. Namun tidak jarang pula saya menerima naskah yang membuat kening berkerut-kerut saking standarnya, saking mentahnya, atau saking <span style="font-style: italic;">absurd</span>-nya. Jenis naskah yang terakhir ini biasanya membuat saya menarik napas panjang sambil membatin, “<span style="font-style: italic;">Duh bo&#8230; plis deh</span>,” sebelum menutupnya tanpa menamatkan bab pertama.</p>
<p>Kedengaran belagu? Mungkin, tapi memang itu yang terjadi.</p>
<p>Selain konten, ada hal-hal lain yang memicu keengganan saya untuk membaca sebuah naskah sampai tamat (boro-boro mengomentari, kalau membaca aja nggak selesai). Kemalasan adalah salah satunya. Sisanya adalah beberapa faktor eksternal yang akan saya uraikan di bawah ini.<br />
Apa yang saya tuliskan di sini adalah hasil dari pengamatan pribadi dan bertukar pikiran dengan sesama rekan penulis –maupun figur publik— yang pernah menjadi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk sebuah buku. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tips pertama: pastikan naskah yang kamu kirim ke <span style="font-style: italic;">endorser</span> sudah diterima terlebih dahulu oleh penerbit. Menggunakan <span style="font-style: italic;">endorsement</span>untuk ‘menjual’ naskah ke penerbit memang bukan sesuatu yang salah, namun ini bisa jadi sesuatu yang menyebalkan bagi <span style="font-style: italic;">endorser</span>. Pertama, karena tidak adanya kepastian terbit. Kedua, ada waktu dan energi yang harus diluangkan oleh <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk membaca dan mengomentari karya kamu. Ketidakpastian tersebut akan membuat usaha yang dilakukan <span style="font-style: italic;">endorser</span> tampak sia-sia.</p>
<p>Kedua, yakinlah bahwa ketika karya kamu diterima oleh penerbit, karya tersebut memiliki ‘kekuatan’ dan nilai plus yang menjadikannya layak terbit. Pahami juga bahwa setiap penulis mempunyai ciri khas dan kelebihan masing-masing. Karena itu, miliki rasa percaya diri dan hindari mencantumkan kalimat-kalimat berikut dalam permohonan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> kamu: “Saya tahu tulisan saya tidak sebagus Mbak…”, “Memang tulisan ini tidak sebanding dengan karya Mbak…”, dan sebagainya. Saya tidak tahu dengan penulis lain, namun permohonan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> semacam ini membuat saya kehilangan minat untuk membaca naskah. Jika<span style="font-style: italic;"> endorser</span> yang bersangkutan merasa cocok dengan karyamu, ia akan memberikan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dengan senang hati. Tanpa kamu perlu ‘merendah’.</p>
<p>Ketiga, jangan mengirimkan naskah dengan tenggat waktu yang terlalu sempit. Dua minggu sampai satu bulan adalah tenggat yang cukup ideal bagi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk membaca dan mengomentari calon bukumu, apalagi jika kamu mengirim naskah kepada ‘Penulis Dewa’ yang punya segudang kesibukan. Sadari bahwa mereka memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada membaca naskahmu. <span style="font-style: italic;">And for the love of God</span>, jangan donder. Saya pernah menerima <span style="font-style: italic;">draft</span> dari seseorang yang mengirimkan <span style="font-style: italic;">e-mail</span> dua hari sekali untuk menanyakan apakah <span style="font-style: italic;">draft</span> tersebut sudah dibaca. Kali ketiga ia mengirim<span style="font-style: italic;"> e-mail</span>, saya tidak lagi membalasnya. <span style="font-style: italic;">It’s just annoying</span>. Saya hanya tersenyum masam mendengar alasan yang diajukannya: “Minggu depan sudah mau naik cetak, Mbak.” Sebagai orang yang pernah menerbitkan buku, saya tahu ada tenggat waktu yang cukup panjang dari diterimanya naskah oleh penerbit, proses produksi (<span style="font-style: italic;">editing, lay-outing</span>, desain <span style="font-style: italic;">cover</span>, dsb), sampai naik cetak. Keseluruhan proses tersebut bisa makan waktu 3 sampai 5 bulan. <span style="font-style: italic;">Kemane aje lo, baru ngirim </span>draft<span style="font-style: italic;"> seminggu terakhir</span>?</p>
<p>Keempat, kirimlah naskah yang sudah ‘matang’, dalam arti sudah melalui proses <span style="font-style: italic;">editing</span> setidaknya satu kali. Selain memudahkan<span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk menilai naskah tersebut secara keseluruhan, tindakan ini menunjukkan bahwa kamu menghargai <span style="font-style: italic;">endorser</span>. Kesalahan ketik dan kesalahan tata bahasa adalah sesuatu yang sangat lazim terjadi, dan saya rasa <span style="font-style: italic;">endorser</span> tidak akan mempermasalahkan hal ini. Namun isi naskah yang masih ‘mentah’ dan kasar akan sangat mengganggu untuk dibaca. Tunjukkan bahwa kamu menghargai <span style="font-style: italic;">endorser</span>yang sudah bersedia meluangkan waktu dan energi untuk membaca naskahmu.</p>
<p>Kelima, gunakan <span style="font-style: italic;">font</span> yang nyaman dibaca dan spasi yang tidak melelahkan mata. Hal ini juga bisa diterapkan untuk mengirim naskah ke penerbit. Saya pernah menerima naskah yang ditulis dengan <span style="font-style: italic;">font</span> Arial Narrow dan spasi <span style="font-style: italic;">single</span> yang panjangnya lebih dari 400 halaman. Saya berusaha membacanya sebanyak tiga kali dan akhirnya menyerah sebelum menyelesaikan bab pertama.</p>
<p>Keenam, kirimkan naskahmu kepada orang yang tepat. Jangan mengirimkan naskah novel pop kepada penulis cerita komedi. Jangan mengirimkan naskah kumpulan blog remaja kepada penulis fiksi ilmiah. Dan demi Tuhan, jangan mengirimkan naskah cerita horor murahan atau drama-komedi berbau seks kepada siapa pun. Kasihanilah kami.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Last but not least</span>, berbesar hatilah jika naskahmu ditolak oleh calon<span style="font-style: italic;"> endorser</span>. Tidak usah <span style="font-style: italic;">ngambek</span>. Tidak perlu membujuk calon<span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk mempertimbangkan ulang keputusannya dengan berkali-kali menghubunginya. Mereka tentu memiliki pertimbangan tersendiri untuk memberikan (atau tidak memberikan) <span style="font-style: italic;">endorsement</span>. <span style="font-style: italic;">It’s nothing personal</span>. Naskah saya pernah ditolak oleh beberapa penulis. Saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang mereka berikan untuk membaca dan membalas <span style="font-style: italic;">e-mail</span> saya, lalu mencari penulis lain yang bersedia meng-<span style="font-style: italic;">endorse</span> buku saya. Sesederhana itu.</p>
<p>Sekarang, izinkan saya menghancurkan secercah harapan yang kamu miliki. Tips-tips di atas tidak menjamin kamu akan memperoleh<span style="font-style: italic;">endorsement</span> sesuai harapan, bahkan tidak menjamin naskahmu akan dibaca oleh calon <span style="font-style: italic;">endorser</span>.</p>
<p>Tips-tips tersebut hanya bentuk lain dari<span style="font-style: italic;"> uneg-uneg</span> yang saya (dan beberapa rekan penulis) miliki dari pengalaman menerima dan membaca naskah yang dikirimkan kepada kami. Sama seperti perjuangan untuk menerbitkan buku, ada banyak hal yang menentukan keberhasilan seseorang dalam mendapatkan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> – salah satunya keberuntungan. Saran yang bisa saya berikan adalah: lakukan yang terbaik yang kamu bisa, silangkan jari-jarimu, dan berharaplah keberuntungan ada di pihakmu. Kalaupun tidak, <span style="font-style: italic;">well</span>, akan selalu ada kesempatan lain, selama kamu terus menulis. <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selamat berburu <span style="font-style: italic;">endorsement</span>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Metamorphosis-A wisdom from superconscious mind</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/metamorphosis-a-wisdom-from-superconscious-mind/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/metamorphosis-a-wisdom-from-superconscious-mind/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 06:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[apa]]></category>
		<category><![CDATA[berdiri]]></category>
		<category><![CDATA[bertumbuh]]></category>
		<category><![CDATA[buku buku]]></category>
		<category><![CDATA[cangkang]]></category>
		<category><![CDATA[collective wisdom]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[flight mode]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Kata]]></category>
		<category><![CDATA[kau]]></category>
		<category><![CDATA[ke langit]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[langit]]></category>
		<category><![CDATA[metamorphosis]]></category>
		<category><![CDATA[mind]]></category>
		<category><![CDATA[mogok]]></category>
		<category><![CDATA[momen]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[nutshell]]></category>
		<category><![CDATA[pemandangan alam]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sedang]]></category>
		<category><![CDATA[superconscious mind]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[tiga]]></category>
		<category><![CDATA[undangan]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[See beyond where your eyes can see
Feel beyond where your heart can feel
It&#8217;s called cracking the nutshell of the mind
Where you can fly beyond your dreams
When you can become a beautiful butterfly
It&#8217;s called METAMORPHOSIS&#8230;
 
Kata-kata indah itu saya dapatkan dari pelindung spiritual saya ketika saya akses ke superconscious mind—the place for collective wisdom and knowledge of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em><a rel="attachment wp-att-18" href="http://nathaliasunaidi.com/metamorphosis-a-wisdom-from-superconscious-mind/metamorphosis-of-butterflies7/"></a>See beyond where your eyes can see</em></p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>Feel beyond where your heart can feel</em></p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>It&#8217;s called cracking the nutshell of the mind</em></p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>Where you can fly beyond your dreams</em></p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>When you can become a beautiful butterfly</em></p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>It&#8217;s called METAMORPHOSIS&#8230;</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;">Kata-kata indah itu saya dapatkan dari pelindung spiritual saya ketika saya akses ke superconscious mind—the place for collective wisdom and knowledge of all the ages&#8230; </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;">Sore itu saya lagi merasa penat. Jadwal hypnotherapy yang sangat padat, undangan mengisi seminar dan talk show yang berkejar-kejaran, deadline penulisan tiga buku dan tumpukan buku-buku dan video hypnotherapy yang harus dipelajari. Di hati tercetus pertanyaan, <em>“Why me have to do these dozens of things? Can I stop for a while?”</em> Di momen itu diri saya mogok untuk melakukan aktivitas. Well, when we come to a situation where there are too many things to do, we just stop. Ya, when there are too many things to focus on, you will enter fight flight mode of your mind. You are hypnotized and you just stop and do nothing as result. Dan saya memasuki state tersebut sore itu.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"><em> </em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;">“Well, it&#8217;s time for wisdom time!” pikir saya. I love entering superconscious mind. Di sana saya bisa bertemu dengan pelindung spiritual untuk meminta nasehat solutif dan mengakses ide-ide kreatif dari universe. Dan saya pikir saya harus konsultasi dengan pelindung spiritual saya tentang situasi ini. Urgent nih!</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;">Meeting him is always been a comforting experience. Saya akses superconscious mind saya. Pelindung spiritual saya sedang berdiri di sebuah pemandangan alam yang dashyat indahnya. He always know my coming without me have to say a word. Dia katakan ke saya, <em>“Lihatlah ke sana. Apa yang kau lihat?”</em> Dia menunjuk ke langit di tempat itu. <em>“Langit.”</em> jawab saya. <em>“See beyond.”</em> lanjutnya. “Garis matahari di langit.” jawab saya karena memang itulah yang saya lihat di tempat itu. Lalu dia mengatakan kata-kata indah ini:</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>See beyond where your eyes can see</em></p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>Feel beyond where your heart can feel</em></p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>It&#8217;s called cracking the nutshell of the mind</em></p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>Where you can fly beyond your dreams</em></p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>When you can become a beautiful butterfly</em></p>
<p style="font: normal normal normal 11px/normal Arial; text-align: center; margin: 0px;"><em>It&#8217;s called METAMORPHOSIS&#8230;</em>. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;">Saya tanyakan apa maksudnya. Dia menjawab, </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 11.0px Arial;"><em>“Kehidupan menyediakan berbagai rintangan, penderitaan dan ketidakpuasan. Tujuannya agar kau mau memecahkan cangkang pikiranmu. Tanpa penderitaan kau akan nyaman berada di dalam nutshell pikiranmu. Kau tidak akan bertumbuh. Kau akan terkungkung.”</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;">Dia menjelaskannya sambil memunculkan gambar cangkang bulat di mana didalamnya terdapat manusia yang sedang meringkuk. Cangkang itu terlihat sempit dan kecil dibandingkan pemandangan alam yang luas dan indah.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 11.0px Arial;"><em>“Jika di dalam cangkang itu tidak terdapat penderitaan, manusia akan terus tinggal didalamnya tanpa mau bertumbuh. Sedangkan dunia begitu luas. Begitu banyak yang perlu dipelajari untuk mencapai kesempurnaan. Kesempurnaan di mana manusia terlepas sepenuhnya dari cangkang-cangkang belenggu pikiran. Dan menyatu dengan kebijaksanaan itu sendiri.</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;"><em>Ke mana pun kau pergi, tetap kau akan menghadapi penderitaan itu. No place to hide. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Suffering is for cracking the nutshell of the mind.”</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="font: 12.0px Times New Roman;">“</span>Lihatlah ke sana.” katanya sambil menunjuk langit yang sama. Tapi kali ini langitnya telah gelap. <em>“Langit yang gelap.”</em> jawab saya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 11.0px Arial;"><em>“Malam tiba. Malam adalah kematian. Kau yang berada di sini dan memandang malam adalah kau di dalam cangkangmu. Esok hari matahari akan terbit lagi. Kelahiran akan datang. Jika kau tidak tidak memecahkan dan keluar dari cangkangmu, kau akan terus merasakan matahari terbit dan malam tiba tanpa perubahan—tetap di dalam cangkang sempit yang sama. Banyak kesadaran yang tidak mau bertumbuh. Mereka mengalami kelahiran dan kematian tapi tanpa bertumbuh dalam kebijaksanaan. Penderitaan yang sedang kau rasakan berikut dengan rasa ketidakpuasan yang kau hadapi adalah media supaya kau terus bertumbuh. Kau sedang didesak untuk bisa memecahkan cangkangmu—belajar untuk memahami kebijaksanaan lebih luas lagi. Without suffering there&#8217;s no wisdom.”</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;">Pertanyaan tentang kebahagiaan dan pembebasan diri selalu menjadi big issue dalam hidup saya. Selama ini banyak dream yang telah saya raih. Saya sedang menjalankan misi hidup saya. Dream saya satu-persatu menjadi kenyataan. Namun tetap saja saya masih merasakan penderitaan—not satisfying. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;">Ternyata memang seperti itulah sifat kehidupan. Penderitaan adalah media metamorphosis. Setiap penderitaan dan ketidakpuasan yang muncul akan membuat kita mau memecahkan cangkang ini—kita akan bermetamorphosis menjadi kesadaran yang lebih tinggi. Sampai akhirnya kita menyadari bahwa tidak ada bentuk dan materi yang sungguh-sungguh bisa memuaskan. Di momen itulah kita akan melepaskan cangkang ego kita. Kita melepaskan diri dan dunia. At that moment, journey has ended. No more suffering. We reach the highest goal. The metamorphosis has completed!  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;">Sore itu saya belajar tentang menghadapi penderitaan dan ketidakpuasan di dalam diri saya. Setelah akses superconscious mind, saya langsung melanjutkan menulis buku ketiga saya sampai subuh. Dan saya menulis artikel ini.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial;">Without suffering, we hesitate to change. Suffering makes us grow. Penderitaan mendorong kita untuk bermetamorphosis!</p>
<div><span style="font-family: Arial; line-height: normal;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/metamorphosis-a-wisdom-from-superconscious-mind/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
