<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nathalia Sunaidi &#62;&#62; Hipnotis &#38; Hipnoterapis &#187; balap</title>
	<atom:link href="http://nathaliasunaidi.com/tag/balap/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nathaliasunaidi.com</link>
	<description>Hipnosis&#124;Hipnoterapi&#124;NLP&#124;EFT</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bersatu dengan Cinta</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/bersatu-dengan-cinta/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/bersatu-dengan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:11:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[air putih]]></category>
		<category><![CDATA[balap]]></category>
		<category><![CDATA[begitu]]></category>
		<category><![CDATA[bendera]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[berita terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Carlton]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[gempa bumi]]></category>
		<category><![CDATA[gesa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[J.W. Marriott]]></category>
		<category><![CDATA[jagat]]></category>
		<category><![CDATA[Juli]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[keji]]></category>
		<category><![CDATA[lagi]]></category>
		<category><![CDATA[lagu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ledakan]]></category>
		<category><![CDATA[ledakan bom]]></category>
		<category><![CDATA[listrik]]></category>
		<category><![CDATA[luber]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[nafas]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[ratus]]></category>
		<category><![CDATA[Raya]]></category>
		<category><![CDATA[sakit perut]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[semua]]></category>
		<category><![CDATA[Setelah]]></category>
		<category><![CDATA[sisa]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Seumur hidup, entah sudah berapa ratus kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Minimal setiap Senin pagi di lapangan sekolah, sambil mendongakkan kepala tinggi-tinggi dan menghormat bendera. Tidak jarang, saya menyanyikannya dengan tergesa-gesa karena berharap upacara cepat selesai. Karena pengibaran bendera selalu dilakukan di akhir upacara, sering pula saya berharap Pak Pembina mendadak sakit perut, supaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seumur hidup, entah sudah berapa ratus kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Minimal setiap Senin pagi di lapangan sekolah, sambil mendongakkan kepala tinggi-tinggi dan menghormat bendera. Tidak jarang, saya menyanyikannya dengan tergesa-gesa karena berharap upacara cepat selesai. Karena pengibaran bendera selalu dilakukan di akhir upacara, sering pula saya berharap Pak Pembina mendadak sakit perut, supaya saya tidak perlu berlama-lama berdiri dan terjemur matahari.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seperti itulah saya memandang Indonesia Raya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Pagi itu, saya merasa bagai disambar listrik ketika mendengar berita tentang ledakan bom di Ritz Carlton dan J.W. Marriott. Saya menyalakan televisi. Semua saluran seakan adu balap menayangkan berita terbaru dari lokasi kejadian, disertai rekaman video amatiran yang diambil sesaat setelah ledakan terjadi. Amatiran dalam arti sebenar-benarnya. Tidak jelas dan lebih menunjukkan indikasi gempa bumi daripada sisa ledakan. Cukup lama saya menonton. Setelah beranjak dari televisi, saya menghabiskan sisa hari itu di depan komputer. Kendati otak sudah luber oleh berita yang menyesakkan, tak urung saya tetap menjelajah jagat maya untuk mengumpulkan serpihan-serpihan informasi.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Reaksi emosi yang pertama kali timbul adalah amarah. Saya merasakan kebencian teramat-sangat pada sekelompok orang dungu yang berada di balik peristiwa pengeboman. Mereka yang cukup biadab untuk meledakkan bom di tempat umum dan menghilangkan nyawa orang-orang tidak berdosa. Mereka yang cukup keji untuk merancangkan semua rencana itu dan melaksanakannya. Saya mengutuk dan memaki. Melampiaskannya dengan kata-kata paling kasar yang saya ketahui.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">What you resist, persists. Itu prinsip emas yang selalu saya amini. Karenanya, saya tidak menahan diri untuk meluapkan emosi. Setelah puas menumpahkan kekesalan melalui status Facebook, saya mengambil waktu sejenak untuk menarik nafas dan menyegarkan diri dengan air putih. Tidak lama berselang, muncullah lapisan perasaan berikutnya. Perasaan itu bernama takut.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya begitu mencemaskan keselamatan orang-orang yang saya sayangi, meski kecil kemungkinan mereka menjadi korban ledakan. Saya tidak bisa menerima rasa takut yang mendadak membuncah, rasa aman yang tiba-tiba lenyap, dan kekhawatiran yang tahu-tahu mendera. Tubuh-tubuh berlumuran darah yang saya saksikan akan mengisi benak saya dalam waktu lama. Ledakan bom telah memberi peringatan yang tak terelakkan akan bahaya dan maut yang bisa menjemput sewaktu-waktu. Tempat-tempat umum tidak lagi nyaman untuk didatangi sambil berlenggang-kangkung tanpa sedikit terbersit rasa was-was atau khawatir.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Beberapa saat setelah takut dan cemas mereda, muncul perasaan berikutnya. Sedih. Saya terpaku di depan komputer dengan mata berkaca. Keinginan untuk memaki tidak lagi ada. Rasa gentar perlahan sirna. Yang tersisa hanya luka yang mendalam. Sesuatu seperti terenggut dari jiwa saya, meninggalkan lubang hitam yang menganga.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Merasa tidak lagi kuat dijejali tambahan informasi, menjelang petang saya mematikan komputer dan menjauhkan diri dari televisi. Kawan-kawan saya berkumpul di ruang tamu untuk mendengarkan siaran berita, namun saya mengurung diri di kamar. Sesaat, saya merasa lega dan aman dalam kandang kecil saya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Tidak lama kemudian, muncul lapisan rasa berikutnya yang tidak saya sangka-sangka. Lapisan itu bernama cinta. Dan saya terkejut sendiri karena setelah melalui berbagai spektrum emosi yang tidak menyenangkan, perasaan ini begitu murni, hangat, dan menenteramkan. Barangkali sebagian orang akan mencap saya berlebihan, namun ketika perasaan ini hadir, saya bahkan tidak mampu lagi merasa benci kepada para pelaku pengeboman. Seakan-akan semua kemarahan yang mencengkeram saya siang itu luntur begitu saja. Seakan-akan segala takut dan sedih terhapus begitu saja – hanya menyisakan kasih yang menghangatkan hati.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seumur hidup, entah sudah berapa kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mengulang lirik yang sudah terhafal mati di kepala dan bernyanyi tanpa merasa perlu menelaah maknanya – semua demi kewajiban rutin setiap Senin pagi di lapangan sekolah. Malam itu, sendirian di atas tempat tidur, saya kembali menyenandungkan Indonesia Raya. Tanpa iringan musik. Tanpa menghormat bendera. Tanpa peduli tempo.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Hiduplah tanahku</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Hiduplah negeriku</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Bangsaku</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Rakyatku semuanya</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Perlahan, mata saya membasah.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saat itulah saya tahu, betapa saya mencintai negeri ini. Bumi di mana kedua kaki saya berpijak. Udara yang melewati paru-paru saya setiap hari. Tanah yang menghidupi saya sejak lahir hingga detik ini. Tanah Indonesia. Namun saya telah begitu terbiasa, hingga ingatan akannya tak pernah lagi mampir di benak. Atau hati.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">17 Juli 2009 adalah momen dimana saya menyadari, cinta itu ada.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Paragraf berikut saya ambil dari artikel yang ditulis Goenawan Mohamad, tiga hari setelah peristiwa ledakan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Kematian dan luka-luka itu mengerikan, tapi saya dengarkan percakapan, saya baca pesan di HP, dan saya mungkin bisa mengatakan bahwa kita marah, sedih, dan menangis karena tiba-tiba kita menyadari, betapa terkait kita dengan sebuah tanah air: sebuah negeri yang selama ini seakan-akan bisa diabaikan, atau hanya disebut dalam paspor—sebuah Indonesia yang seakan-akan selamanya akan di sana dan utuh tapi kini terancam—Indonesia yang dulu mungkin hanya menempel direkatkan ke kepala karena pelajaran kewarganegaraan di sekolah, karena pidato di televisi.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Beliau benar.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Peristiwa ini telah merenggut nyawa orang-orang yang tidak berdosa dan meluluhlantakkan begitu banyak jiwa. Namun peristiwa yang sama juga menyadarkan kita akan satu hal: betapa kita mencintai sesuatu yang telah begitu lama terabaikan. Betapa hati kita sesungguhnya terpaut pada sesuatu yang bahkan tak sempat kita ingat-ingat. Kita mencintainya namun tak lagi menghargainya, karena kita menganggapnya akan selalu ada. Dan ketika ia terguncang, dunia kecil kita ikut tergempa.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Hanya dalam tempo beberapa jam, #indonesiaunite menduduki peringkat teratas Trending Topics di situs jejaring pertemanan Twitter. Headline berita di seluruh dunia –mulai dari CNN hingga Al Jazeera— menyajikan topik yang sama. Simpati dan belasungkawa berdatangan dari segala penjuru dunia. Beberapa orang bahkan berinisiatif mengibarkan sang Saka di rumah dan kendaraan masing-masing.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Bom tersebut telah mengakibatkan kehancuran besar, dan pada saat yang sama meledakkan hati jutaan orang di Bumi Pertiwi untuk menyatukan kekuatan dan merangsek bangkit – menolak terkapar kalah. Sekali lagi mata dunia tertuju kepada kita; kali ini bukan karena tragedi kemanusiaan atau bencana alam, melainkan karena persatuan yang digalang bersama.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Malam itu, di tengah rasa bangga yang berkecamuk ketika menyaksikan #indonesiaunite merambati Trending Topics hingga berhasil bertengger di puncak, saya berdoa, yang memotori kita untuk bergandeng tangan dan menggalang persatuan adalah cinta. Bukan kemarahan. Bukan kebencian. Bukan dendam. Bukan sesuatu yang akan melahirkan kekerasan berikutnya. Saya berdoa, rantai kekerasan itu berhenti sampai di sini. Saya berdoa, bangsa ini akan sekali lagi bangkit dan bergerak bersama, kali ini dengan cinta.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Tidak ada sesuatu di dunia ini yang permanen. Teror takkan tinggal tetap, kedamaian pun bisa diguncang. Mungkin ini saat yang tepat untuk merenung dan menyadari bahwa segala sesuatu yang kita genggam saat ini bisa terlepas. Apa yang pernah kita miliki suatu saat bisa diambil. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mulai belajar bersyukur dan menghargai sebentuk anugerah yang masih dipercayakan kepada kita hingga detik ini: tanah air dan bangsa bernama Indonesia.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Dalam dunia yang kian sesak dan pengap, di tengah perputaran roda kehidupan yang memaksa kita untuk terus bergerak secepat-cepatnya, cinta bisa menjadi sesuatu yang terlampau absurd untuk digaungkan. Sekalipun ada, dengan cepat ia terlibas oleh ambisi dan egoisme. Kita tak pernah jemu menyuarakan cinta, namun hati kecil kita tahu, pada esensinya yang paling sejati, cinta telah lama terhimpit dan tertindas. Kita punya begitu banyak ‘baju’ berlabel cinta yang setiap hari kita pakai dan tunjukkan kepada dunia, namun cinta itu sendiri nyaris tak pernah tersentuh.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Malam ini, sebelum mempublikasikan #indonesiaunite untuk kesekian kalinya di halaman Twitter, saya menyempatkan diri untuk berkaca dan bertanya: apa yang sesungguhnya mendorong saya untuk mengetikkan sebaris kata itu? #indonesiaunite bisa datang dan berlalu, apa yang saya tulis bisa tergusur, namun yang melatari lahirnya sebaris kata itu dalam hati saya akan tinggal jauh lebih lama dari kalimat-kalimat yang pernah saya ciptakan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Malam ini, sepenuh hati saya berdoa, dunia akan melihat bangkitnya sebuah bangsa yang bersatu karena cinta.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Bangunlah jiwanya</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Bangunlah badannya</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Untuk Indonesia Raya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/bersatu-dengan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
