<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nathalia Sunaidi &#62;&#62; Hipnotis &#38; Hipnoterapis &#187; dan</title>
	<atom:link href="http://nathaliasunaidi.com/tag/dan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nathaliasunaidi.com</link>
	<description>Hipnosis&#124;Hipnoterapi&#124;NLP&#124;EFT</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Buku Journey to My Past Lives</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/buku-journey-to-my-past-lives/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/buku-journey-to-my-past-lives/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 06:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Product]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Andy]]></category>
		<category><![CDATA[Andy F. Noya]]></category>
		<category><![CDATA[atau]]></category>
		<category><![CDATA[Banyak]]></category>
		<category><![CDATA[banyak orang]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[biku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Colorado]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dapat]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[Harta Karun]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[jati diri]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[kalifornia]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[kuat]]></category>
		<category><![CDATA[kulit]]></category>
		<category><![CDATA[laki laki]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu]]></category>
		<category><![CDATA[life regression]]></category>
		<category><![CDATA[Nathalia]]></category>
		<category><![CDATA[Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[nelayan]]></category>
		<category><![CDATA[ORANG]]></category>
		<category><![CDATA[percaya]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan]]></category>
		<category><![CDATA[putri]]></category>
		<category><![CDATA[RAFAEL
Apakah]]></category>
		<category><![CDATA[Rafael
Hypnotherapist]]></category>
		<category><![CDATA[romy rafael]]></category>
		<category><![CDATA[seluruh dunia]]></category>
		<category><![CDATA[siapa]]></category>
		<category><![CDATA[sungguh]]></category>
		<category><![CDATA[tekun]]></category>
		<category><![CDATA[Thailand]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Sadarkah Anda, kehidupan lalu menyimpan harta karun yang tak ternilai? Dengan metode hipnoterapi Anda dapat melakukan perjalanan spiritual dan menyelami misteri reinkarnasi (kehidupan lalu) Anda. Buku ini menyuguhkan kisah-kisah fantastis sebagai hasil perjalanan reinkarnasi penulisnya. Buku ini akan membantu Anda menyelami kehidupan lalu serta menemukan jati diri Anda. Inilah buku yang selama ini Anda cari-cari. Pasti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Sadarkah Anda, kehidupan lalu menyimpan harta karun yang tak ternilai? Dengan metode hipnoterapi Anda dapat melakukan perjalanan spiritual dan menyelami misteri reinkarnasi (kehidupan lalu) Anda. Buku ini menyuguhkan kisah-kisah fantastis sebagai hasil perjalanan reinkarnasi penulisnya. Buku ini akan membantu Anda menyelami kehidupan lalu serta menemukan jati diri Anda. Inilah buku yang selama ini Anda cari-cari. <strong>Pasti memikat Anda!</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>RINGKASAN ISI BUKU</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Journey to My Past Lives adalah buku yang berisi 12 kisah hasil penelusuran kehidupan lalu Nathalia Sunaidi, seorang hipnoterapis muda berbakat, dengan menggunakan metode hipnoterapi. Dalam penelusuran tersebut, akhirnya ia mengetahui bahwa dirinya pernah hidup sebagai biku Jing Un, nelayan di Thailand, jadi budak kulit hitam di Kalifornia, laki-laki Indian, sebagai putri orang Belanda, pernah hidup<br />
di Colorado, dll.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Yang paling menarik, ternyata kehidupan lalu tersebut mempunyai kaitan (koneksi) yang kuat dengan kehidupan Nathalia yang sekarang. Dari penulusuran itulah, ia mendapat pemahaman akan hukum sebab akibat, serta mendapatkan banyak pelajaran berharga yang bisa meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan merevolusi pikirannya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Nah, buku ini hendak mengajak orang untuk mengenali kehidupan lalu mereka, dan mengambil pelajaran dari dalamnya. Dengan bantuan seorang hipnoterapis, atau tekun berlatih sendiri dengan bimbingan buku ini, siapa saja bisa masuk ke kehidupan lalu yang sungguh menakjubkan.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>PENGANTAR ROMY RAFAEL</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Apakah itu Past Life Regression?</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Apakah Anda percaya dengan reinkarnasi?</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Apakah Anda percaya jika Anda adalah orang lain?</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Apakah Anda dulunya memiliki kehidupan sebelum kehidupan ini?</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Dari beberapa pertanyaan di atas, pertanyaan yang paling penting sesungguhnya adalah, bagaimana Past Life Regression (PLR) dapat membantu Anda?</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Reinkarnasi adalah kepercayaan yang banyak dipercayai dan dialami oleh banyak orang di seluruh dunia. Dan, semua kepercayaan tersebut memiliki dampak yang positif, yang dapat dimanfaatkan untuk<br />
proses penyembuhan di dalam suatu terapi.</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Banyak sekali orang mencari jalan dan cara untuk mengetahui siapa, apa, dan bagaimana kehidupan mereka sebelum kehidupan yang sekarang. Nah, sedikit banyak buku ini akan mencoba menjawab tentang<br />
pertanyaan kompleks di atas.</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Dan, sebagian besar dari Anda mungkin tidak akan percaya dengan Past Life Regression. Tapi, sebagian orang juga percaya bahwa jikalau kita meninggal, maka jiwa kita akan berlanjut menempati tubuh yang berbeda.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Dalam budaya berbagai bangsa di belahan dunia ini, banyak sekali diceritakan tentang kehidupan lalu dalam mitologi-mitologi mereka. Makanya tercipta suatu ide dan konsep, bahwa setelah kematian ada sesuatu yang indah, yaitu jiwa kita akan terus hidup di alam kehidupan lainnya sebagai orang yang berbeda.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Itu artinya, setelah kita meninggal, jiwa kita tetap berlanjut menempati tubuh yang berbeda-beda. Sampai akhirnya nanti, tubuh atau wadah biologis yang ditempati tersebut menjadi tua dan sudah tidak layak lagi untuk ditempati.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Jika hal ini terjadi, maka jiwa yang ada di dalamnya akan meninggalkan tubuh tersebut untuk kembali lagi menempati tubuh baru yang berbeda. Dan, siklus ini terus terjadi sampai akhir zaman. Menurut mitologi yang ada, hal ini terjadi agar jiwa yang ada di dalamnya dapat terus belajar dan berkembang dalam setiap kehidupan baru yang dialaminya. Hal ini terjadi untuk satu tujuan, yaitu memperoleh jiwa yang lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">Mungkin, Anda membaca buku ini karena Anda atau orang yang Anda kenal percaya terhadap kehidupan sebelum kehidupan yang sekarang. Saat ini, ada cara yang unik untuk mengetahui kehidupan lalu Anda. Percaya atau tidaknya Anda terhadap kehidupan lalu ini, saya sarankan supaya Anda membuka pikiran terlebih dahulu, dan kemudian mengeksplorasi buku Nathalia Sunaidi ini dengan pikiran terbuka.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Romy Rafael</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Hypnotherapist</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>www.romyrafael.com</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>PUJIAN UNTUK BUKU INI</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Buku ini cenderung kontroversial. Tidak semua pihak—bahkan mungkin<br />
tidak banyak—orang yang bisa memahami, apalagi menerima jalan pikiran<br />
Nathalia. Namun, buku ini mampu menggoda pikiran kita untuk mencari<br />
jawaban atas pertanyaan: siapakah aku ini?”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Andy F. Noya</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Pemimpin Redaksi Metro TV dan Host Kick Andy</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Petualangan ke dunia masa lampau memang bukan sesuatu yang gampang<br />
dimengerti atau dijalani oleh setiap manusia. Tetapi, hal itu bukan<br />
berarti sesuatu yang tidak ada atau tidak bisa dilakukan. Mengetahui<br />
masa lalu untuk kebaikan adalah baik adanya. Tetapi, jauh lebih penting<br />
bila pengetahuan masa lalu itu bisa menjadi landasan untuk berjuang<br />
meraih keberhasilan di masa depan. Dibutuhkan kejernihan hati dalam<br />
menyimak buku <em>Journey to My Past Lives </em>ini agar dapat memperoleh pengetahuan dan manfaat yang positif dari petualangan masa lampau Nathalia yang luar biasa ini.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Andrie Wongso</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Motivator dan Penulis Buku-buku Bestseller</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Jendela-jendela yang sesekali dapat membuka, baik dari kehidupan<br />
lampau maupun masa datang, patut dimaknai sebagai elemen yang<br />
memperkaya kehidupan spiritualitas kita hari ini. Tidak terpaku dan<br />
terikat padanya, melainkan belajar melaluinya. Eksplorasi Nathalia<br />
merupakan bukti bahwa waktu sesungguhnya sirkular. Dan, linearitas<br />
merupakan ilusi yang memungkinkan permainan bernama Hidup ini berlaku.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Dewi Lestari</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Penulis Serial “Supernova”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Aku menemukan sesuatu yang membuat aku takjub. Memasuki masa lalu<br />
dapat menjadi sebuah perjalanan spiritual yang mengagumkan dan penuh<br />
makna. Sebuah perjalanan yang menguatkan mental dan merevolusi pikirian<br />
ke arah yang lebih baik.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Ade Tri Marganingsih</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Redaktur Pelaksana MATABACA</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Buku istimewa dan berharga yang dapat meningkatkan level kesadaran kita menuju pencerahan spiritual.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Adi W. Gunawan</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>The Re-Educator &amp; Mind Navigator dan Penulis Bestseller</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>“Hypnosis: The Art of Subconscious Communication”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“<em>Self discovery</em>! Sering kali pandangan kita mengenai diri<br />
sendiri sangat berbeda dengan pandangan orang lain mengenai diri kita.<br />
Dari buku ini, kita diajak belajar mengetahui siapa diri kita<br />
sesungguhnya. The minute you surrender, you might just get exactly what<br />
you looking for. Highly recommended for your journey to find the<br />
purpose of your life.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Alexandra Dewi</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Managing Director Sun Hope Indonesia</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Co-Author “I Beg Your Prada”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Buku ini sangat menarik karena membuka jalan bagi Anda untuk mengenali potensi diri sendiri.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Andrea Hirata</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Penulis Novel Tetralogi “Laskar Pelangi”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Setiap jiwa sejujurnya sedang bertumbuh. Dan masa lalu lengkap<br />
dengan dinamikanya, sejauh bisa mengolahnya, adalah bahan-bahan<br />
pertumbuhan yang mengagumkan.”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Gede Prama</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Penulis 22 Buku Inspirasi</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“<em>Journey to My Past Lives </em>menawarkan pengalaman membaca<br />
yang tidak biasa. Nathalia akan mengajak Anda berpetualang ke<br />
lorong-lorong hidup Anda yang paling rapat dan tersembunyi sekalipun.<br />
Bersiaplah!”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Jessica Huwae</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Penulis “Soulmate.com” dan Managing Director SPICE!</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Perjalanan ke kehidupan lampau memberikan sebuah refleksi<br />
konstruktif dan korektif untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia<br />
itu sendiri. Banyak hal yang dapat diperbaiki dan disempurnakan setelah<br />
menyaksikan ‘video kehidupan masa lalu itu’. Nathalia telah menuliskan<br />
transkrip video kehidupan lampaunya yang menarik itu untuk menjadi<br />
bahan renungan buat kita dengan satu pesan tunggal bahwa, kehidupan<br />
lampau itu ada dan nyata adanya. Galilah video Anda dengan panduan buku<br />
ini!”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Ponijan Liaw</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Penulis Buku Bestseller “The Art of Communication that Works”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>dan Penulis Pendamping “Simplify Your Life with Zen”</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">“Buku ini lain daripada yang lain. Baru pertama kali di Indonesia.<br />
Dalam menulis pengalaman regresinya, Nathalia tidak sekadar<br />
menyampaikan reportase, tapi juga mampu menangkap makna pembelajaran<br />
dalam setiap babak kehidupan lalunya. Terlebih lagi hal ini dia lakukan<br />
sendiri melalui auto-hypnosis. Tentu saja, ini harus dilandasi dengan<br />
keberanian untuk mau melihat sisi negatif pada dirinya. Hanya mereka<br />
yang berbekal kesadaran spiritual yang tinggi sajalah yang bisa<br />
melakukannya. Selamat dan sukses!”</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><strong>Sumarsono Wuryadi, LRM</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Counsellor &amp; Holistic Therapist</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;"><em>Saraswati Inner Studies &amp; Klinik Sanjiwani</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 15px;">No related posts.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/buku-journey-to-my-past-lives/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Pohon yang Bernama Visi Hidup</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:23:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Abraham Lincoln]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[anak pintar]]></category>
		<category><![CDATA[Banyak]]></category>
		<category><![CDATA[bernama]]></category>
		<category><![CDATA[bobot]]></category>
		<category><![CDATA[butuh]]></category>
		<category><![CDATA[cara cara]]></category>
		<category><![CDATA[citra diri]]></category>
		<category><![CDATA[coachville]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Hanh]]></category>
		<category><![CDATA[hasrat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan membaca]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[masalah emosi]]></category>
		<category><![CDATA[membaca buku]]></category>
		<category><![CDATA[membuat]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[Nelson Mandela]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[potensi diri]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sebuah]]></category>
		<category><![CDATA[semata]]></category>
		<category><![CDATA[Theresa]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas J. Leonard]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[visi]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;pengejaran kesuksesan, dengan cara-cara
model lama, bisa sangat membuat stres.”
(Thomas J. Leonard, Pendiri Coachville)
 
Saya pernah diberitahu seorang psikolog yang juga masih kerabat dekat keluarga saya. Waktu itu dia bercerita bahwa anak pintar itu butuh penyeimbang dalam hal kecerdasan emosinya. Karena itu ada sekolah khusus untuk anak-anak pintar, yang bertujuan selain memberikan pelajaran dengan bobot yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><em>“&#8230;pengejaran kesuksesan, dengan cara-cara</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><em>model lama, bisa sangat membuat stres.”</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><strong>(Thomas J. Leonard, Pendiri Coachville)</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times; min-height: 14.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Saya pernah diberitahu seorang psikolog yang juga masih kerabat dekat keluarga saya. Waktu itu dia bercerita bahwa anak pintar itu butuh penyeimbang dalam hal kecerdasan emosinya. Karena itu ada sekolah khusus untuk anak-anak pintar, yang bertujuan selain memberikan pelajaran dengan bobot yang lebih daripada yang lain, juga untuk memperhatikan kecerdasan emosinya. Orang yang pandai justru sering terjebak oleh emosinya sendiri. Penjelasan ini membuat saya dan istri berhati-hati dalam mendidik anak semata wayang kami. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><span style="white-space: pre;"> </span>Belakangan saya menyadari bahwa bukan anak saya saja yang butuh pembelajaran emosi. Saya sendiripun masih butuh berbenah diri dalam masalah emosi ini.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jika di runtut dari pengalaman, sejak kuliah, saya memiliki kebiasaan membaca buku, dari banyak disiplin ilmu seperti: filsafat, psikologi, politik, sosial, bahkan sastra, walaupun kuliah yang saya jalani adalah teknik informatika. Pada waktu itu, saya merasa tertantang untuk mempelajari semua dasar filosofi mengingat saya juga aktif dalam organisasi sosial keagamaan sebagai tempat bereksperimen dalam mengasah potensi diri. Saya merasa pengetahuan dan pengalaman ini akan membuat saya sukses di dunia kerja nantinya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Namun ketika memasuki dunia kerja selama lima tahun pertama, saya justru mengalami kebuntuan. Kepandaian selalu menimbulkan hasrat untuk mengatur keadaan, akibatnya saya justru merasakan kerepotan dengan pengetahuan yang telah saya kumpulkan sebelumnya itu. Saya merasa menderita dan tidak mencapai kesuksesan pada waktu yang pernah saya rencanakan sebelumnya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Penderitaan yang saya alami ini membuat saya belajar bahwa banyak pengetahuan cenderung membuat saya banyak keinginan. Keinginan dan citra diri yang berlebihan (<em>self important</em>) adalah akar dari ketidakbahagiaan dalam hidup. Setelah menyadari hal ini, selama beberapa tahun saya banyak berdiam diri dan tidak melakukan hal-hal menantang lagi. Saya hanya bertahan dan mengikuti rutinitas kerja begitu saja.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Hingga pada satu titik, saya bertanya pada diri sendiri. Apakah ada cara hidup bahagia tapi dengan tetap melibatkan aktivitas yang aktif? Jika dulu saya sering terjebak pada visi yang saya buat sendiri, yang berakhir dalam penderitaan. Lalu, apakah bisa seseorang berjuang demi sebuah visi tapi tetap bahagia?</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Sambil meraba-raba dan seiringan dengan waktu semakin jelas bahwa kemungkinan visi yang membahagiakan itu ada. Pada tahun 2006, saya memberanikan diri untuk memiliki visi hidup kembali, setelah banyak mengikuti retret-retret meditasi. Visi yang membahagiakan tidak lain adalah sebuah visi yang altruistik. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Apakah altruistik itu?</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Altruistik berasal dari sebuah kata ‘’<em>altrui </em>” dalam bahasa Perancis, yang berarti ‘’bagi atau untuk orang lain”. Pertama kali kata ini digunakan oleh Auguste Comte, filosof Perancis abad ke-19. Secara teoritis, etika altruisme adalah lawan dari egoisme &#8211;yang adalah segala pemikiran yang berpusat pada kepentingan diri. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 12.0px Times;">Sehubungan dengan visi hidup, saya mengartikan altruistik sebagai ketulusan dalam beraktivitas baik pada waktu proses maupun setelah mencapai visi tersebut. Ketulusan ini akan ada dengan sendirinya jika kita tidak lagi banyak berkutat pada kepentingan diri. Altrustik adalah sebuah cara pandang yang melampaui kepentingan diri, yang tidak tergantung apakah tujuan hidup itu tercapai atau tidak. Jika kita mengamati biografi orang-orang besar &#8211;seperti: Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, Dalai Lama, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Romo Mangunwijaya, dll&#8211;, mereka semua memiliki sifat altrustik. Karena itu mereka selalu tampak tenang dan bahagia, dan bukan hanya itu, mereka bermanfaat bagi orang lain. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Upaya mencapai kesuksesan perlu dipahami dalam konteks visi hidup yang saya jelaskan ini. Ibarat kita menanam sebuah pohon. Tanggungjawab kita hanyalah menggali lubang untuk menaruh benih, menanaminya dengan benar, menyiraminya, memberi pupuk dan menjaganya dari serangan hama dan serangga. Apakah pohon itu tumbuh atau tidak, itu terserah padanya. Itu bukanlah urusan kita. Bahkan upaya untuk menarik-nariknya, meregangkannya dengan membuatnya mampu tumbuh lebih cepat adalah sama sekali tidak berguna. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jika kita bandingkan dengan apa yang kita alami, seringkali penderitaan muncul karena keinginan sesaat untuk menggapai visi setelah sebuah visi belum lama ditentukan.  Kita harus menyadari bahwa tumbuh kembangnya sebuah benih menjadi sebuah pohon adalah proses yang alami dan butuh waktu. Thich Nhat Hanh, seorang guru meditasi Zen, pernah memberi sebuah ilustrasi. Ketika mencuci piring, janganlah berpikir piring itu akan bersih. Mengapa? Karena dengan mencuci piring dengan baik dan benar, maka dengan sendirinya piring itu akan bersih. Intinya, keinginan yang terlalu menggebu-gebu membuat kita lupa pada proses pencapaiannya. Kita mesti belajar untuk selalu tulus dan bahagia dalam merawat visi, dari pada banyak berkutat pada nafsu tercapainya sebuah visi. Jika waktunya telah tiba, visi itu akan terwujud dengan sendirinya tanpa “paksaan” dari pihak kita.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jadi, jika Anda terus merasa menderita dalam hidup, entah itu mengenai pekerjaan, maupun upaya menggapai cita-cita, semua itu hanya ada satu penyebab. Itu tidak lain adalah minimnya ketulusan dalam menanam sebuah pohon yang bernama visi hidup. Sebodoh-bodohnya orang dalam berusaha,  sepanjang mampu bertahan dalam fase “<em>trial and error</em>”, suatu saat dia akan mencapai buah kesuksesannya. Hanya saja, setiap orang mencapainya dalam jangka waktu yang berbeda, tergantung dari situasi dan kondisinya. Saya selalu berpendapat bahwa kebahagiaan adalah salah satu faktor efektivitas penting yang paling sering dilupakan.  Bahagia akan membuat energi lebih tercurahkan pada visi hidup, sebagai hasilnya Anda bisa menikmati hidup jauh sebelum visi itu tercapai. Kenyataannya, dengan hidup bahagia, Anda dapat belajar banyak hal dengan lebih baik pula. Karena itu, tunggu apalagi. Berbahagialah! </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 14.0px Times;">Victor Alexander Liem, </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 14.0px Times;">Penulis buku <em>USING NO WAY AS WAY!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersatu dengan Cinta</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/bersatu-dengan-cinta/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/bersatu-dengan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:11:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[air putih]]></category>
		<category><![CDATA[balap]]></category>
		<category><![CDATA[begitu]]></category>
		<category><![CDATA[bendera]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[berita terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Carlton]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[gempa bumi]]></category>
		<category><![CDATA[gesa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[J.W. Marriott]]></category>
		<category><![CDATA[jagat]]></category>
		<category><![CDATA[Juli]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[keji]]></category>
		<category><![CDATA[lagi]]></category>
		<category><![CDATA[lagu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ledakan]]></category>
		<category><![CDATA[ledakan bom]]></category>
		<category><![CDATA[listrik]]></category>
		<category><![CDATA[luber]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[nafas]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[ratus]]></category>
		<category><![CDATA[Raya]]></category>
		<category><![CDATA[sakit perut]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[semua]]></category>
		<category><![CDATA[Setelah]]></category>
		<category><![CDATA[sisa]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Seumur hidup, entah sudah berapa ratus kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Minimal setiap Senin pagi di lapangan sekolah, sambil mendongakkan kepala tinggi-tinggi dan menghormat bendera. Tidak jarang, saya menyanyikannya dengan tergesa-gesa karena berharap upacara cepat selesai. Karena pengibaran bendera selalu dilakukan di akhir upacara, sering pula saya berharap Pak Pembina mendadak sakit perut, supaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seumur hidup, entah sudah berapa ratus kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Minimal setiap Senin pagi di lapangan sekolah, sambil mendongakkan kepala tinggi-tinggi dan menghormat bendera. Tidak jarang, saya menyanyikannya dengan tergesa-gesa karena berharap upacara cepat selesai. Karena pengibaran bendera selalu dilakukan di akhir upacara, sering pula saya berharap Pak Pembina mendadak sakit perut, supaya saya tidak perlu berlama-lama berdiri dan terjemur matahari.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seperti itulah saya memandang Indonesia Raya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Pagi itu, saya merasa bagai disambar listrik ketika mendengar berita tentang ledakan bom di Ritz Carlton dan J.W. Marriott. Saya menyalakan televisi. Semua saluran seakan adu balap menayangkan berita terbaru dari lokasi kejadian, disertai rekaman video amatiran yang diambil sesaat setelah ledakan terjadi. Amatiran dalam arti sebenar-benarnya. Tidak jelas dan lebih menunjukkan indikasi gempa bumi daripada sisa ledakan. Cukup lama saya menonton. Setelah beranjak dari televisi, saya menghabiskan sisa hari itu di depan komputer. Kendati otak sudah luber oleh berita yang menyesakkan, tak urung saya tetap menjelajah jagat maya untuk mengumpulkan serpihan-serpihan informasi.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Reaksi emosi yang pertama kali timbul adalah amarah. Saya merasakan kebencian teramat-sangat pada sekelompok orang dungu yang berada di balik peristiwa pengeboman. Mereka yang cukup biadab untuk meledakkan bom di tempat umum dan menghilangkan nyawa orang-orang tidak berdosa. Mereka yang cukup keji untuk merancangkan semua rencana itu dan melaksanakannya. Saya mengutuk dan memaki. Melampiaskannya dengan kata-kata paling kasar yang saya ketahui.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">What you resist, persists. Itu prinsip emas yang selalu saya amini. Karenanya, saya tidak menahan diri untuk meluapkan emosi. Setelah puas menumpahkan kekesalan melalui status Facebook, saya mengambil waktu sejenak untuk menarik nafas dan menyegarkan diri dengan air putih. Tidak lama berselang, muncullah lapisan perasaan berikutnya. Perasaan itu bernama takut.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saya begitu mencemaskan keselamatan orang-orang yang saya sayangi, meski kecil kemungkinan mereka menjadi korban ledakan. Saya tidak bisa menerima rasa takut yang mendadak membuncah, rasa aman yang tiba-tiba lenyap, dan kekhawatiran yang tahu-tahu mendera. Tubuh-tubuh berlumuran darah yang saya saksikan akan mengisi benak saya dalam waktu lama. Ledakan bom telah memberi peringatan yang tak terelakkan akan bahaya dan maut yang bisa menjemput sewaktu-waktu. Tempat-tempat umum tidak lagi nyaman untuk didatangi sambil berlenggang-kangkung tanpa sedikit terbersit rasa was-was atau khawatir.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Beberapa saat setelah takut dan cemas mereda, muncul perasaan berikutnya. Sedih. Saya terpaku di depan komputer dengan mata berkaca. Keinginan untuk memaki tidak lagi ada. Rasa gentar perlahan sirna. Yang tersisa hanya luka yang mendalam. Sesuatu seperti terenggut dari jiwa saya, meninggalkan lubang hitam yang menganga.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Merasa tidak lagi kuat dijejali tambahan informasi, menjelang petang saya mematikan komputer dan menjauhkan diri dari televisi. Kawan-kawan saya berkumpul di ruang tamu untuk mendengarkan siaran berita, namun saya mengurung diri di kamar. Sesaat, saya merasa lega dan aman dalam kandang kecil saya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Tidak lama kemudian, muncul lapisan rasa berikutnya yang tidak saya sangka-sangka. Lapisan itu bernama cinta. Dan saya terkejut sendiri karena setelah melalui berbagai spektrum emosi yang tidak menyenangkan, perasaan ini begitu murni, hangat, dan menenteramkan. Barangkali sebagian orang akan mencap saya berlebihan, namun ketika perasaan ini hadir, saya bahkan tidak mampu lagi merasa benci kepada para pelaku pengeboman. Seakan-akan semua kemarahan yang mencengkeram saya siang itu luntur begitu saja. Seakan-akan segala takut dan sedih terhapus begitu saja – hanya menyisakan kasih yang menghangatkan hati.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Seumur hidup, entah sudah berapa kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mengulang lirik yang sudah terhafal mati di kepala dan bernyanyi tanpa merasa perlu menelaah maknanya – semua demi kewajiban rutin setiap Senin pagi di lapangan sekolah. Malam itu, sendirian di atas tempat tidur, saya kembali menyenandungkan Indonesia Raya. Tanpa iringan musik. Tanpa menghormat bendera. Tanpa peduli tempo.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Hiduplah tanahku</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Hiduplah negeriku</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Bangsaku</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Rakyatku semuanya</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Perlahan, mata saya membasah.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Saat itulah saya tahu, betapa saya mencintai negeri ini. Bumi di mana kedua kaki saya berpijak. Udara yang melewati paru-paru saya setiap hari. Tanah yang menghidupi saya sejak lahir hingga detik ini. Tanah Indonesia. Namun saya telah begitu terbiasa, hingga ingatan akannya tak pernah lagi mampir di benak. Atau hati.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">17 Juli 2009 adalah momen dimana saya menyadari, cinta itu ada.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Paragraf berikut saya ambil dari artikel yang ditulis Goenawan Mohamad, tiga hari setelah peristiwa ledakan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Kematian dan luka-luka itu mengerikan, tapi saya dengarkan percakapan, saya baca pesan di HP, dan saya mungkin bisa mengatakan bahwa kita marah, sedih, dan menangis karena tiba-tiba kita menyadari, betapa terkait kita dengan sebuah tanah air: sebuah negeri yang selama ini seakan-akan bisa diabaikan, atau hanya disebut dalam paspor—sebuah Indonesia yang seakan-akan selamanya akan di sana dan utuh tapi kini terancam—Indonesia yang dulu mungkin hanya menempel direkatkan ke kepala karena pelajaran kewarganegaraan di sekolah, karena pidato di televisi.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Beliau benar.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Peristiwa ini telah merenggut nyawa orang-orang yang tidak berdosa dan meluluhlantakkan begitu banyak jiwa. Namun peristiwa yang sama juga menyadarkan kita akan satu hal: betapa kita mencintai sesuatu yang telah begitu lama terabaikan. Betapa hati kita sesungguhnya terpaut pada sesuatu yang bahkan tak sempat kita ingat-ingat. Kita mencintainya namun tak lagi menghargainya, karena kita menganggapnya akan selalu ada. Dan ketika ia terguncang, dunia kecil kita ikut tergempa.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Hanya dalam tempo beberapa jam, #indonesiaunite menduduki peringkat teratas Trending Topics di situs jejaring pertemanan Twitter. Headline berita di seluruh dunia –mulai dari CNN hingga Al Jazeera— menyajikan topik yang sama. Simpati dan belasungkawa berdatangan dari segala penjuru dunia. Beberapa orang bahkan berinisiatif mengibarkan sang Saka di rumah dan kendaraan masing-masing.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Bom tersebut telah mengakibatkan kehancuran besar, dan pada saat yang sama meledakkan hati jutaan orang di Bumi Pertiwi untuk menyatukan kekuatan dan merangsek bangkit – menolak terkapar kalah. Sekali lagi mata dunia tertuju kepada kita; kali ini bukan karena tragedi kemanusiaan atau bencana alam, melainkan karena persatuan yang digalang bersama.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Malam itu, di tengah rasa bangga yang berkecamuk ketika menyaksikan #indonesiaunite merambati Trending Topics hingga berhasil bertengger di puncak, saya berdoa, yang memotori kita untuk bergandeng tangan dan menggalang persatuan adalah cinta. Bukan kemarahan. Bukan kebencian. Bukan dendam. Bukan sesuatu yang akan melahirkan kekerasan berikutnya. Saya berdoa, rantai kekerasan itu berhenti sampai di sini. Saya berdoa, bangsa ini akan sekali lagi bangkit dan bergerak bersama, kali ini dengan cinta.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Tidak ada sesuatu di dunia ini yang permanen. Teror takkan tinggal tetap, kedamaian pun bisa diguncang. Mungkin ini saat yang tepat untuk merenung dan menyadari bahwa segala sesuatu yang kita genggam saat ini bisa terlepas. Apa yang pernah kita miliki suatu saat bisa diambil. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mulai belajar bersyukur dan menghargai sebentuk anugerah yang masih dipercayakan kepada kita hingga detik ini: tanah air dan bangsa bernama Indonesia.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Dalam dunia yang kian sesak dan pengap, di tengah perputaran roda kehidupan yang memaksa kita untuk terus bergerak secepat-cepatnya, cinta bisa menjadi sesuatu yang terlampau absurd untuk digaungkan. Sekalipun ada, dengan cepat ia terlibas oleh ambisi dan egoisme. Kita tak pernah jemu menyuarakan cinta, namun hati kecil kita tahu, pada esensinya yang paling sejati, cinta telah lama terhimpit dan tertindas. Kita punya begitu banyak ‘baju’ berlabel cinta yang setiap hari kita pakai dan tunjukkan kepada dunia, namun cinta itu sendiri nyaris tak pernah tersentuh.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Malam ini, sebelum mempublikasikan #indonesiaunite untuk kesekian kalinya di halaman Twitter, saya menyempatkan diri untuk berkaca dan bertanya: apa yang sesungguhnya mendorong saya untuk mengetikkan sebaris kata itu? #indonesiaunite bisa datang dan berlalu, apa yang saya tulis bisa tergusur, namun yang melatari lahirnya sebaris kata itu dalam hati saya akan tinggal jauh lebih lama dari kalimat-kalimat yang pernah saya ciptakan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman;">Malam ini, sepenuh hati saya berdoa, dunia akan melihat bangkitnya sebuah bangsa yang bersatu karena cinta.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; font: 12.0px Times New Roman; min-height: 15.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Bangunlah jiwanya</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Bangunlah badannya</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-align: center; font: 12.0px Times New Roman;">Untuk Indonesia Raya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/bersatu-dengan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 ORANG BUTA PENEBAK GAJAH TELAH BERDAMAI&#8230;.(2)</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/7-orang-buta-penebak-gajah-telah-berdamai-2/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/7-orang-buta-penebak-gajah-telah-berdamai-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 04:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[atas]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dapat]]></category>
		<category><![CDATA[daun]]></category>
		<category><![CDATA[Demi]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dimana]]></category>
		<category><![CDATA[duduk]]></category>
		<category><![CDATA[ekor]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[GAJAH]]></category>
		<category><![CDATA[hasil]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hypnotherapy]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[juga]]></category>
		<category><![CDATA[kanan]]></category>
		<category><![CDATA[kasar]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok]]></category>
		<category><![CDATA[keras]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[konsep]]></category>
		<category><![CDATA[lain]]></category>
		<category><![CDATA[lebih]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Kuasa]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Pengasih]]></category>
		<category><![CDATA[Masa]]></category>
		<category><![CDATA[masing]]></category>
		<category><![CDATA[mereka]]></category>
		<category><![CDATA[nyata]]></category>
		<category><![CDATA[orang buta]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[raba]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[Sama]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sebenarnya]]></category>
		<category><![CDATA[sisi]]></category>
		<category><![CDATA[tangga]]></category>
		<category><![CDATA[telah]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Di lain tempat di desa lain dimana peradaban mereka lebih maju. Dimana orang-orang butanya tidak bertengkar lagi tentang apa itu gajah. Rupanya mereka telah melewati proses pematangan hidup. Melalui proses yang panjang juga mereka sekarang telah berevolusi ke kehidupan yang lebih beradab, “anak tangga kebenaran” yang kasar telah dilewati. Mereka memasuki masa peradaban yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di lain tempat di desa lain dimana peradaban mereka lebih maju. Dimana orang-orang butanya tidak bertengkar lagi tentang apa itu gajah. Rupanya mereka telah melewati proses pematangan hidup. Melalui proses yang panjang juga mereka sekarang telah berevolusi ke kehidupan yang lebih beradab, “anak tangga kebenaran” yang kasar telah dilewati. Mereka memasuki masa peradaban yang lebih maju. Mereka sekarang sudah dapat duduk bersama bertukar pikiran, berkonsultasi, berembuk, untuk mengatasi kekurangan masing-masing dan berdemokrasi dengan suara terbanyak untuk menentukan “anak tangga kebenaran” berikutnya. Masing-Masing orang buta mengutarakan apa yang mereka raba, mereka bertukar pendapat, dan mencoba merekontruksi kebenaran tentang apa itu &#8216;gajah&#8217;. Sementara desa-desa lain juga sedang mengalami proses yang sama. Tetapi karena mereka belum pernah melihat dengan matanya sendiri apa itu &#8216;gajah sebenarnya. Mereka masih merekontruksi, memasang-masang  sesuai logika pikiran.</p>
<p>Akhirnya &#8216;gajah&#8217; hasil rekontruksi masing-masing desa berbeda satu dengan lainnya. Desa pertama merekontruksi &#8216;gajah&#8217; dengan bentuk  dimana daun telinga gajah mereka trerpasang di sisi kanan kiri  badan gajah sehingga gajahnya seperti gajah yang bersayap. Sementara desa lain memasang gading gajah seperti tanduk di bagian atas depan gajah sehingga gajahnya bertanduk seperti kerbau. Sementara desa yang lain lagi memasang salah belalainya. Dimana belalainya dipasang kebagian belakang sebagai ekor, dan ekor yang kecil merupakan tali yang mengikat gajah.</p>
<p>Demikianlah masing-masing desa menghasilkan bentuk gajah yang berbeda dan masing-masing desa merasa mereka telah bekerja maksimal, mereka telah berpikir keras dan merasa hasil rekontruksi mereka paling benar. Disini terbentuklah “kebenaran kelompok (KEBENARAN KOLEKTIF)”. Kebenaran kelompok ini menghasilkan “ego kelompok” .</p>
<p>Dalam kehidupan nyata melalui proses demikianlah terbentuk “Kebenaran kolektif” berupa Konsep, dogma, moral, norma, etika, hukum, peraturan-peraturan dan hasil penafsiran dan ketetapan nilai kebenaran oleh lembaga keagamaan dan sebagainya. Produk-produk “kebenaran kolektif” manusia inilah yang menjadi pedoman hidup manusia-manusia diberbagai belahan bumi . Dan masing-masing mengembangkannya sesuai kondisi dan kebutuhan mereka masing-masing. Tentu masih banyak perbedaan nilai dari hasil “konsep”manusia yang mempunyai banyak keterbatasan. Dan nilai kebenaran ini tentu lebih berkualitas dibandingkan dengan kebenaran subjektif. Tetapi masih belum merupakan kebenaran sebenarnya, masih merupakan salah satu “anak tangga kebenaran” berikutnya untuk mencapai puncak kebenaran sebenarnya;  Tingkat kebenaran ini demikian adanya dan juga harus ada sebagai anak tangga untuk menapak kepuncak kebenaran. Kita hanya perlu menyadari keberadaan tingkat  kebenaran ini menjadikannya sebagai rujukan, bukan sebagai harga mati !  Kemudian melampauinya menggapai kebenaran sebenarnya.</p>
<p>Demikian peradaban dunia yag disebut “bumi” ini. Kita sekarang nampaknya terjebak dalam Keberadaan“anak tangga kebenaran” ini. Berbagai kelompok mengaku merekalah yang paling benar, merekalah penentu kebenaran seolah-olah mereka mewakili Tuhan dan semua harus ikut dengan mereka jika tidak mereka yang tidak tunduk dianggap melawan Tuhan. Pemberhentian  pada “anak tangga kebenaran” ini, pemberhentian pada “kebenaran kolektif” hasil “konsep” manusia ini telah menimbulkan banyak konflik, sungguh konflik yang luar biasa. Demi “kebenaran konsep” ini manusia dipersatukan dalam satu kelompok untuk berhadap-hadapan dengan kelompok lain, saling bermusuhan hingga saling membunuh. Dan ada kelompok yang membunuh atas nama Tuhan hasil konsep mereka. Bukankah Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang ? . Bagaimana mereka dapat meng”konsep”kan Tuhannya jadi pemarah dan pembunuh ? Ada yang mengkonsepkan Tuhan harus dibela !</p>
<p>Tetapi bukankan Tuhan itu  Maha Besar dan Maha Kuasa ?&#8230; Ah mungkin mereka belum menuju puncak kebenaran dan merasakan persatuan dengan Tuhan. Yang sebenarnya Maha Pengasih dan Penyayang. Maha Besar dan Maha Kuasa atas alam semesta ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/7-orang-buta-penebak-gajah-telah-berdamai-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Relationship Therapy untuk Si Otak Kanan</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/relationship-therapy-untuk-si-otak-kanan/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/relationship-therapy-untuk-si-otak-kanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 15:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[arah]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[habis]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[Hari]]></category>
		<category><![CDATA[hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[hipnoterapis]]></category>
		<category><![CDATA[hpnotis]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[Jika Tidak]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Kira Kira]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Korban]]></category>
		<category><![CDATA[lagi]]></category>
		<category><![CDATA[Marah]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi]]></category>
		<category><![CDATA[Muak]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Gila]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[Otak Kiri Dan Otak Kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>
		<category><![CDATA[Suami Istri]]></category>
		<category><![CDATA[suaminya]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[Tapi]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[walah walah]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Selama tiga hari berturut-berturut ini saya kedatangan klien yang menjadi korban suami yang terlalu otak kiri.
Dua hari lalu klien saya adalah seorang istri yang berusia 80 tahun. Setiap kali dia mendengar suara suaminya, dia akan terkena panik. Jantungnya berdetak kencang dan langsung sakit maag. Dia sangat tertekan sampai-sampai di malam hari sering muncul pikiran untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama tiga hari berturut-berturut ini saya kedatangan klien yang menjadi korban suami yang terlalu otak kiri.</p>
<p>Dua hari lalu klien saya adalah seorang istri yang berusia 80 tahun. Setiap kali dia mendengar suara suaminya, dia akan terkena panik. Jantungnya berdetak kencang dan langsung sakit maag. Dia sangat tertekan sampai-sampai di malam hari sering muncul pikiran untuk keluar dari rumahnya dengan membawa tas. Katanya kalau dia tidak ingat Tuhan, dia sudah mengikuti pikiran itu. Dan bisa-bisa dia menjadi orang gila yang berjalan tanpa arah di jalanan.</p>
<p>Kemarin, klien saya adalah seorang istri yang berusia 50 tahun. Dia tidak bisa lagi disentuh oleh suaminya. Dia merasa muak dan mau marah setiap kali suaminya menyentuhnya. Hal itu membuat suaminya marah besar karena si istri tidak mau lagi diajak berhubungan suami istri.</p>
<p>Hari ini, klien saya adalah seorang istri yang kira-kira berusia 30 tahun. Alasan dia datang ke sesi hipnoterapi saya karena dia merasa tidak bahagia dalam perkawinannya. Dia merasa hambar dan bosan hidup. Walah… walah… setelah saya terapi dengan Wisdom Therapy®, ternyata dia menjadi menderita karena suaminya yang sangat otak kiri.</p>
<p>Pembaca, mungkin Anda bertanya-tanya ada apa dengan si otak kiri dan otak kanan dalam hubungan perkawinan. Jawabannya, bisa menjadi bencana yang meretakkan rumah tangga bila tidak tahu cara komunikasi di antara mereka. Banyak pasangan suami istri yang datang ke sesi hipnoterapi saya untuk bercerai. Ya, mereka bilang mereka jadi bercerai atau tidak tergantung dari sesi tersebut. Wah, saya jadi sport jantung! Tapi, setelah dibicarakan ternyata masalah mereka hanya karena yang satu otak kiri habis dan yang satunya otak kanan habis.</p>
<p>Pembaca, jika Anda sedang melakukan terapi dengan pasangan suami istri yang sedang bertengkar maka Anda perlu memisahkan mereka. Jika tidak, ruangan terapi Anda akan menjadi seperti konser musik rock – penuh teriakan. Karena itu saya meminta si istri duluan yang masuk ke ruang terapi. Saya menuliskan pembicaraan ini supaya Anda bisa paham tentang si otak kiri dan otak kanan. Si istri bercerita kalau suaminya sudah cinta lagi kepadanya. “Dia sudah tidak pernah lagi bilang ‘I love you’ ke saya. Sudah jarang memegang tangan dan memeluk mesra. Puncaknya, di ulang tahun perkawinan kami, dia memberi saya hadiah dengan melemparnya ke meja makan. Kemudian dia langsung tidur. Perkawinan kami sudah hambar. Saya mau cerai.” Lalu saya minta suaminya yang gantian masuk. Si suami bercerita kalau istrinya sudah tidak menghargainya lagi. “Dia selalu bilang saya tidak lagi mencintainya. Saya masih mencintainya, buktinya saya masih menikahinya. Jika tidak cinta, kan saya sudah ceraikan. Saya berminggu-minggu lembur supaya bisa membelikan dia cincin berlian. Tapi ketika saya kasih, dia malah menangis dan minta cerai. Saya pusing.”</p>
<p>Kemudian, suami istri itu saya jelaskan tentang komunikasi otak kiri dan kanan. Jelas sekali si suami adalah otak kiri habis dan si istri adalah otak kanan habis. Pembaca, si otak kanan membutuhkan pasangannya mengatakan ‘I love you’ secara berkala. Dia butuh disentuh, dibelai dan dipeluk mesra. Jika tidak, maka dia akan merasakan hambar. Si istri klien saya mengatakan kepada suaminya, “Saya lebih memilih kamu membelikan saya bunga mawar yang harganya lima ribu perak tapi kamu memberinya dengan kata-kata indah dan pelukan. Dibandingkan kamu berikan saya cincin berlian tapi kamu lemparkan ke meja makan.” Si suami menjawab, “Kamu tidak menghargai usaha saya. Saya memberikan hidup saya untuk bekerja keras menafkahi kamu. Saya lembur untuk beli cincin berlian. Tapi kamu lebih mau bunga seharga lima ribu perak.” Keduanya saling mencitai tapi terus saling menyakiti hanya karena perbedaan komunikasi otak kiri dan otak kanan.</p>
<p><strong style="font-weight: bold;">Pembaca, inilah ciri khas si otak kiri:</strong></p>
<ul>
<li>Katanya-katanya tanpa basa basi sehingga cenderung terdengar kasar. Itu terjadi karena dia tidak begitu memakai hati. Tapi cenderung memakai logika. Contoh, “Kamu terlihat gendut memakai baju itu. Cepat ganti!” </li>
<li>Menunjukkan cinta dengan kerja keras atau melakukan kewajiban dengan baik. Bukan dengan kata-kata mesra. </li>
<li>Kurang bisa romantis tapi cenderung praktis. Contoh: Tidak membelikan bungan mawar tapi malah membelikan mesin cuci sebagai hadiah karena dianggap itu lebih dibutuhkan. </li>
<li>Tidak tahan mendengarkan curhat. Malah cenderung memarahi orang yang sedang curhat karena dianggap salah.</li>
<li>Menjadi galak terutama jika karier atau kondisi finansialnya sedang bermasalah. </li>
<li>Disiplin dan memegang teguh komitmen. </li>
</ul>
<p><strong style="font-weight: bold;">Ciri khas si otak kanan:</strong></p>
<ul>
<li>Selalu ingin disayang, dibelai, dipeluk atau diperhatikan. </li>
<li>Membutuhkan pasangannya mengatakan ‘I love you’ secara berkala. </li>
<li>Hatinya sensitif sehingga mudah terluka oleh kata-kata kasar .</li>
<li>Selalu ingin curhat panjang lebar kepada pasangannya. Kurang disiplin dan kurang bisa komitmen.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Dalam hal ini otak kiri bukanlah selalu pria, banyak wanita juga dominan otak kiri. Jadi otak kiri atau otak kanan tidak mengenal jenis kelamin tertentu.</p>
<p>Pasangan yang dominan otak kanan akan mengalami banyak sekali luka di hati jika pasangan yang satunya adalah si otak kiri. Kata-kata yang kasar, perlakuan yang dingin, seringkali si otak kiri menjadi galak dan emosional jika kondisi finansial sedang bermasalah – semua itu membuat luka batin bagi si otak kanan. Jika otak kanan sudah terluka hatinya maka munculnya berbagai masalah seperti yang terjadi dengan ketiga klien saya di atas. Karena itu, sangat penting bagi si otak kanan untuk melakukan relationship therapy untuk melepaskan semua luka batinnya. Tujuannya, supaya si otak kanan ceria dan bahagia kembali.</p>
<p>Ketiga klien saya di atas menangis dengan begitu pilu melepaskan luka batinnya. Ada yang pernah dibentak sangat kasar oleh si otak kiri. Ada yang selalu dipotong ketika sedang bicara oleh si otak kiri, “Stop. Tahu apa kamu tentang bisnis? Kamu tidak mengerti apa-apa.” Ada yang selalu dikritik dengan pedas. Dan masih banyak lag. Hal-hal kecil yang menyakitkan itu membuat hati otak kanan carut marut dengan luka. Mereka perlu melepaskan semua beban itu dan menyembuhkan hatinya. Setelah saya lakukan Wisdom Therapy®, ketiganya terasa lega dan bisa mencintai pasangannya dengan mesra lagi.</p>
<p><strong style="font-weight: bold;">Tips melindungi hati bagi si otak kanan:</strong></p>
<ul>
<li>Semua perkataan otak kiri yang terdengar kasar, jangan dimasukkan ke hati. Karena si otak kiri sama sekali tidak berniat menyakiti hati. Dia hanya menyampaikan isi pikirannya secara logika. </li>
<li>Jangan berkeinginan mengubah si otak kiri menjadi sangat romantis. Tapi pahamilah, dia sangat mencintai Anda dengan bekerja keras dan memenuhi kewajibannya. </li>
<li>Cara mencintai si otak kiri adalah dengan perbuatan bukan melalui kata-kata indah. </li>
<li>Jangan curhat ke otak kiri karena dia akan merasa penat. Jika orang curhat kepadanya, otak analisanya akan bekerja untuk mencari solusi. Dia akan memberikan Anda solusi dan menasehati Anda. </li>
<li>Jika otak kiri menjadi galak, periksalah kondisi keuangan atau kariernya. Dia galak kepada Anda bukan karena dia benci Anda tapi biasanya dia sedang bermasalah. </li>
<li>Jika hati Anda sudah terlalu terluka, maka cara yang terbaik adalah dengan datang ke sesi terapi.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/relationship-therapy-untuk-si-otak-kanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari: Pendengar yang Baik</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 16:16:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[atap]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[bunyi]]></category>
		<category><![CDATA[butuh]]></category>
		<category><![CDATA[Cara]]></category>
		<category><![CDATA[ceria]]></category>
		<category><![CDATA[cerita konyol]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[di kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[foya]]></category>
		<category><![CDATA[galon]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[kaget]]></category>
		<category><![CDATA[Kali]]></category>
		<category><![CDATA[keran]]></category>
		<category><![CDATA[kosan]]></category>
		<category><![CDATA[lelucon]]></category>
		<category><![CDATA[mendengarkan]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi]]></category>
		<category><![CDATA[ORANG]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[sakit perut]]></category>
		<category><![CDATA[satu]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[selalu]]></category>
		<category><![CDATA[seperti]]></category>
		<category><![CDATA[sesuatu]]></category>
		<category><![CDATA[setiap hari]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[teman curhat]]></category>
		<category><![CDATA[tertawa]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[warung]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Tinggal beramai-ramai di kos-kosan selalu memberi kejutan dan tantangan tersendiri untuk saya, sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah yang berisi delapan kamar, setahun yang lalu. Saya belajar, meski menyenangkan dan seperti memiliki keluarga baru, tinggal bersama di bawah satu atap bukanlah hal yang mudah. Seringkali dibutuhkan usus yang panjang, berton-ton toleransi, bergalon-galon kesabaran, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tinggal beramai-ramai di kos-kosan selalu memberi kejutan dan tantangan tersendiri untuk saya, sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah yang berisi delapan kamar, setahun yang lalu. Saya belajar, meski menyenangkan dan seperti memiliki keluarga baru, tinggal bersama di bawah satu atap bukanlah hal yang mudah. Seringkali dibutuhkan usus yang panjang, berton-ton toleransi, bergalon-galon kesabaran, dan banyak lagi.</p>
<p>Saya yang menyukai keheningan, misalnya, harus rela jika suatu pagi terbangun dengan kaget karena suara keras tetangga sebelah, atau bunyi air dari keran yang diputar sampai pol. Saya yang membutuhkan suasana tenang untuk bekerja kadang harus merelakan pekerjaan saya tertunda akibat suara-suara berisik yang tidak bisa ditolerir telinga dan otak. Saya yang terbiasa mandi tanpa menggunakan alas kaki terpaksa ikut bersandal-jepit ria ketika mengetahui teman-teman saya menggunakan sandal di kamar mandi. Saya juga belajar membiasakan diri ketika tubuh yang sedang sakit tidak bisa mendapatkan istirahat secara optimal karena teman-teman serumah sibuk dengan aktivitas dan obrolan masing-masing.</p>
<p>Itu hal-hal sederhana yang membutuhkan adaptasi secara personal. Ada pula hal-hal lain yang meminta perhatian lebih, di luar yang biasa terjadi setiap hari. Salah satunya jika ada kawan yang sedang bermasalah dan butuh teman curhat. Tidak jarang, kegiatan sesederhana berjalan kaki ke warung menjadi ajang bagi-rasa yang memerlukan kesiapan telinga dan hati. Waktu istirahat di malam hari pun bisa menjelma menjadi ajang curhat massal. Memang tidak selalu hal seperti ini terjadi, banyak juga malam-malam ceria dimana kami berfoya-foya menghamburkan tawa, lelucon dan cerita-cerita konyol, terpingkal-pingkal sampai sakit perut, atau sekadar menghabiskan waktu bersama. Namun, ketika sesuatu yang serius terjadi pada salah satu di antara kami, diperlukan perhatian dan ‘penanganan’ yang lebih dari sekadar bercanda, tertawa, dan berkumpul. Di sinilah saya banyak belajar.</p>
<p>Sungguh, tidak mudah menjadi pendengar yang baik. Saya menemukan begitu banyak kendala. Mulai dari menahan lidah untuk tidak berkomentar, menunda opini, menjaga perhatian tetap tertuju pada lawan bicara (apalagi jika kisah yang sama sudah diulang puluhan kali), menyediakan diri untuk ‘hadir’ sepenuhnya bagi orang yang bersangkutan (karena keberadaan tak selalu sama dengan kehadiran – kita bisa bersama seseorang tanpa sepenuhnya hadir, dan sebaliknya, kita bisa hadir baginya tanpa perlu bersamanya), sampai mendengarkan tanpa merumuskan penilaian apa pun.</p>
<p>Awalnya, saya pikir saya bisa menjalaninya dengan mudah. Mendengarkan orang lain adalah salah satu keahlian saya; saya sudah terbiasa menghadapi orang yang ujug-ujug datang untuk curhat. Mulai dari sahabat, saudara, kerabat, orang tua, orang asing, kawan baru, sampai asisten rumah tangga teman saya.</p>
<p>Mendengarkan memang bukan sesuatu yang sulit. Namun mendengarkan tanpa menilai –sekadar hadir sepenuhnya bagi orang yang bersangkutan— yang menjadi salah satu kriteria dari Nonviolent Communication (Komunikasi Tanpa Kekerasan) adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.</p>
<p>Setelah beberapa kali mencoba mengaplikasikan Nonviolent Communication dalam kehidupan sehari-hari, saya menyadari sesuatu: kemampuan saya mendengarkan selama ini nyaris tidak ada gunanya. Cara saya menyampaikan perasaan dan kebutuhan pun masih terseret-seret. Saya mengira dapat menjadi pendengar dan komunikator yang baik dengan ‘jam terbang’ yang tinggi, namun nyatanya, cara saya berkomunikasi tetap butut. Berkomunikasi tanpa kekerasan ternyata tidak gampang.</p>
<p>Sudah beberapa bulan saya mencoba mempraktekkan jenis komunikasi ini (mendengarkan dan menyampaikan isi hati tanpa kekerasan), dan kemampuan saya masih setara dengan anak balita yang sedang belajar berjalan. Tertatih-tatih dan berulang kali terjerembab. Di awal masa belajar, saya bahkan sempat menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil dan protes kepada seorang sahabat yang pertama kali memperkenalkan pola komunikasi ini. Satu-satunya hal yang membuat saya bertahan adalah karena saya tersentuh oleh tindakan sahabat saya yang kerap bertanya, “Ingin didengarkan saja, atau ingin diberi saran?” ketika saya menghubunginya untuk curhat.</p>
<p>Bagi saya, pertanyaan itu keren.</p>
<p>Ia adalah orang pertama yang menanyakan hal seperti itu sepanjang sejarah percurhatan saya. Dia menyediakan telinganya untuk saya sampahi, dan pada saat yang sama memberikan saya ruang untuk memilih; apakah saya ingin mendengar opininya atau tidak. Saya selalu takjub dengan kemampuannya untuk tetap menjadi netral setelah sesi curhat panjang nan membosankan dengan masalah yang berkali-kali saya ulang seperti kaset rusak. Dia tidak ikut-ikutan marah dan menyumpahi orang yang saya kutuki, tidak terburu-buru mengungkapkan pendapat, dan tidak pernah menjatuhkan penilaian –apalagi penghakiman— atas kelebihan stok airmata yang dengan semena-mena saya tumpahkan kepadanya.</p>
<p>Hal-hal tersebut membuat saya bertahan. Bukan karena saya ingin mengikuti jejaknya, melainkan karena saya telah merasakan manfaat dari Komunikasi Tanpa Kekerasan. Saya tahu rasanya tidak didengarkan, karena itu, kini saya ingin mendengarkan. Saya ingin mendengarkan, karena saya telah didengarkan. Sesederhana itu.</p>
<p>Bukan sekali-dua saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dalam sesi curhat-ke-teman-dekat. Setelah berkali-kali menceritakan isi hati kepada beberapa orang yang cukup karib, saya mendapati, sebagai komunikator, ada kalanya saya hanya ingin didengar. Mungkin ini terdengar tidak adil bagi orang yang saya curhati karena terkesan ‘egois’, ‘ingin nyampah doang’, ‘nggak mau diberi input balik’, dan sebagainya. Seandainya saja saya bisa bilang kepada semua orang yang pernah menjadi tong sampah saya: saya senang dengan saran, masukan dan komentar kalian. Seandainya saya bisa berkata seperti itu. Kenyataannya, tidak.Bahkan, berkali-kali setelah mendengarkan masukan dan saran dari orang yang saya curhati, saya merasa menyesal sudah bercerita. Bukan karena saya tidak suka dengan isi sarannya, namun karena bukan itu yang saya butuhkan.</p>
<p>Saya menghargai setiap masukan, saran, komentar, koreksi, dan apa pun yang diberikan orang kepada saya, dan saya berterimakasih atas perhatian dan waktu yang mereka luangkan, namun ada kalanya saya hanya butuh didengarkan. Ada kalanya saya tidak butuh opini atau solusi. Saya hanya memerlukan telinga yang bisa menampung unek-unek saya, dan barangkali, bahu untuk ditangisi.</p>
<p>Itu sebabnya, kini saya sangat membatasi diri untuk mencurahkan isi hati kepada orang lain. Sangat sedikit orang yang saya percayai untuk menampung sampah-sampah batin saya. Bukan karena saya tidak menghargai predikat ‘saudara’, ‘sahabat’, atau ‘kawan baik’ di belakang nama begitu banyak orang yang cukup akrab dengan saya, melainkan karena saya membutuhkan orang yang bisa mendengarkan.</p>
<p>Jika saya memerlukan saran, saya akan mendatangi orang yang bisa dimintai saran. Jika saya memerlukan pendapat, saya akan menemui orang yang kompeten untuk memberi pendapat. Tapi hanya orang-orang tertentu yang saya percayai untuk mendengarkan. Seringkali, mereka tidak memiliki petuah berharga atau wejangan bijak untuk disampaikan, namun telinga dan hati mereka telah menolong saya menemukan jawaban dan solusi jauh melampaui yang dapat diutarakan bahasa. Kepada merekalah saya berhutang begitu banyak terima kasih.</p>
<p> <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya percaya, kita terlahir di dunia sebagai bayi yang tidak mengenal baik-buruk benar-salah. Pengkondisianlah yang memperkenalkan kepada kita apa itu hitam, apa itu putih. Apa itu baik, apa itu buruk. Dalam proses pendewasaan, kita diajar bahwa mengekspresikan perasaan dan kebutuhan seutuhnya bukanlah sesuatu yang baik. Beberapa dari kita bahkan telah begitu terbiasa menekan perasaan dan mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Tanpa disadari, perasaan dan kebutuhan yang tidak pernah diijinkan berekspresi itu menjelma menjadi penilaian dan penghakiman yang kita jatuhkan pada orang lain – entah melalui tutur kata, tindakan, maupun pemikiran.</p>
<p>Penilaian dan penghakiman tersebut akan memancing reaksi serupa dari orang-orang yang menerimanya dan memulai siklus yang terus berulang dalam hidup kita. Lingkaran setan yang tidak pernah ada ujungnya. Kita terus berputar di dalamnya, menjalani siklus yang sama sepanjang hayat, dan menyangka telah turut berpartisipasi dalam perdamaian dunia. Kita mengira, dengan menempatkan perasaan dan kebutuhan di urutan kesekian, kita telah memberikan sumbangsih untuk terciptanya kerukunan dan persatuan.</p>
<p>Bagi saya, perdamaian dunia tidak ditandai dengan berakhirnya peperangan. Perdamaian dunia tidak diawali dengan gencatan senjata dari kubu-kubu yang bertikai. Perdamaian dunia dapat dimulai dari diri kita sendiri, dengan menghentikan siklus kekerasan yang selama ini memerangkap kita dan begitu banyak orang yang terhubung dengan kita. Cara menghentikan siklus itu adalah dengan jujur kepada perasaan dan kebutuhan yang kita miliki. Cara memutuskan lingkaran setan itu adalah dengan berhenti menjatuhkan penilaian dan mulai berdiam diri. Sekadar bernafas dan memperhatikan bisa jadi hadiah paling berharga yang bisa kita berikan bagi seseorang. Sekadar hadir dan mendengarkan bisa menjadi sumbangan terbesar kita untuk terciptanya kerukunan dan persatuan yang bukan cuma slogan. Pertanyaannya, bersediakah kita?</p>
<p>Mungkin kedengarannya berlebihan, namun saat ini, rasanya saya akan lebih memilih duduk bersama orang-orang sederhana yang bersedia menyediakan hati dan telinga untuk semata hadir dan mendengarkan, daripada mereka yang kemampuan berpikirnya menyaingi kecepatan cahaya, sanggup merangkai sejuta makna dan merangkumnya dalam kalimat-kalimat bijak, serta sigap memberi berbagai petuah dan masukan tanpa diminta.</p>
<p>Kita sudah kelebihan stok orang pintar dan orang bijaksana. Kita butuh lebih banyak pendengar yang baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/dicari-pendengar-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Magnet Diri</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/magnet-diri/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/magnet-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 15:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[5 juta]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[alami]]></category>
		<category><![CDATA[batuan]]></category>
		<category><![CDATA[bedah saraf]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[disana]]></category>
		<category><![CDATA[hanyut]]></category>
		<category><![CDATA[hari libur]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[kesempatan]]></category>
		<category><![CDATA[libur hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[Maka]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[melihat]]></category>
		<category><![CDATA[membantu]]></category>
		<category><![CDATA[meminta]]></category>
		<category><![CDATA[mereka]]></category>
		<category><![CDATA[orang kaya]]></category>
		<category><![CDATA[patah tulang]]></category>
		<category><![CDATA[Penang]]></category>
		<category><![CDATA[penang malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[pilu]]></category>
		<category><![CDATA[rp 5]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Saat]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[telah]]></category>
		<category><![CDATA[telepon]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini bukan rekaan tetapi adalah pengalaman spiritual yang saya alami sendiri.
Saat itu hari libur hari raya idul fitri. Telepon rumah saya berdering di tengah malam, dari seberang telepon memberitahukan kepada saya bahwa salah satu penjaga toko saya telah dibawa kerumah sakit karena ditabrak mobil sedan. Ia dalam keadaan koma, kondisinya agak krisis, patah tulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini bukan rekaan tetapi adalah pengalaman spiritual yang saya alami sendiri.</p>
<p>Saat itu hari libur hari raya idul fitri. Telepon rumah saya berdering di tengah malam, dari seberang telepon memberitahukan kepada saya bahwa salah satu penjaga toko saya telah dibawa kerumah sakit karena ditabrak mobil sedan. Ia dalam keadaan koma, kondisinya agak krisis, patah tulang di beberapa tempat.<br />
Yang memberitahu adalah kakaknya, dan meminta bantuan saya sebagai pemilik dimana adiknya bekerja. Sesegera mungkin saya menuju ke rumah sakit. Saya membantu dengan mendepositkan Rp.5 juta ke rumah sakit tersebut. </p>
<p>Waktu berjalan.. setelah 2 minggu di rawat dirumah sakit dia belum bangun dari komanya.. malah keluarganya dan saya diberitahu oleh dokter bedah saraf yang terkenal di kota kami yang merawatnya bahwa sebaiknya dia di bawa pulang aja. Segala upaya telah dilakukan ternyata tdk ada perkembangan dan kemajuan, banyaklah berdoa. Seketika itu keluarganya menangis pilu. Dan saya tebawa hanyut dalam suasana pilu. Tak terasa air mata turut mengalir dari sudut mata saya. Saat itu saya telah mendepositkan ke rumah sakit Rp. 30 juta.</p>
<p>Keesok harinya , keluarganya mendatangi saya, menyampaikan tekad keluarga tetap akan memperjuangkan nyawa adiknya. Mereka berencana membawanya berobat ke Penang, Malaysia untuk berobat disana. Rencananya mereka akan berangkat besok pagi. Mereka meminta batuan saya lagi.</p>
<p>Saya bukan orang kaya. Semua usaha saya yang ada saat itu juga bantuan orang lain. Saya deberi kesempatan membuka cabang baru di kota medan, dimodali dan diberi saham kosong untuk memulai usaha ini. Saya mengambil kesempatan ini dengan meninggalkan profesi saya sebagai dokter tamatan Universitas Sumatera Utara. Saat kejadian kecelakaan tersebut, saya sudah membuka usaha lebih kurang 5 tahun. Lumayan perkembangan usaha saya. Dan pada saat kecelekaan itu saya baru terima pembagian laba saham kosong saya untuk pertama kali, sebanyak Rp.80 juta. dan Rp. 30 juta sudah saya pakai untuk bayar deposit rumah sakit.</p>
<p>Tekad keluarga sudah bulat. Dengan atau tanpa saya membantu mereka tetap akan berangkat besok pagi. Mereka telah meminta batuan sama famili dan kawan dekatnya. dengan dana yg belum tentu mencukupi mereka bertekad tetap untuk berangkat. Kekurangan akan diusahakan kemudian.</p>
<p>Pada titik krisis ini. Satu sisi saya mendengarkan sendiri dokter terkenal yg merawatnya menyerah dan meminta keluarganya banyak berdoa. Disisi lain &#8216;cinta&#8217; keluaraga yang luar biasa telah membulatkan tekad mereka untuk tetap memperjuangkan nyawanya. Timbul konflik dalam diri saya.Pikiran logika mulai menguasai hati saya. &#8220;Dokter terkenal saja telah menyerah, jika saya bantu kemudian nyawanya tak tertolong maka sia-sia uang saya. Apa lagi itu uang pembagian laba pertama saya, saya sendiri belum menikmati.&#8221;</p>
<p>Salah satu teman terbaik saya menawarkan diri untuk membantu. Ia megusulkan agar memanggil temannya yang mempunyai kemampuan paranormal untuk melihat peluang sembuhnya. Dalam kondisi kacau ini saya menyetujuinya. Maka datanglah teman paranormal ini. Kita undang dia ke rumah sakit langsung melihat korbannya. Setelah melihat ke rumah sakit. ia meminta mengunjungi rumah tempat tingggalnya. Pada saat itu sudah jam 11 malam. Keluar dari rumah ia mengajak kami melihat keatas rumahnya.. ia menunjuk keatas sambil menjelaskan. &#8221; Itu burung gagak hitam sudah berkeliling diatas rumahnya&#8230; arwahnya sudah menyeberang ke sana. peluangnya sudah tidak ada !&#8221; merinding juga bulu tubuhku melihat burung gagak hitam terbang mengelilingi rumah korban sambil mengeluarkan suara <br />
kuak..kuak..kuak&#8230;</p>
<p>Lengkap sudah usaha saya untuk memperkuat logika bermaksud tidak membantu lagi. Keterangan dokter dan ditambah fenomena yang ditunjukan paranormal cukup sudah memberi makan pikiran saya; membantu akan mensia-sia-kan uang yang saya butuhkan juga. Terjadinya kecelekaan juga di luar jam tugas, seharusnya saya tidak ikut bertangung jawab.Tetapi dari lubuk hati paling dalam tersentuh juga dengan &#8216;cinta&#8217; keluarganya yang luar biasa. Mereka bersedia mengkorbankan semua harta yang mereka miliki untuk memperjuangkan adiknya bahkan dengan berhutang !</p>
<p>Malam itu perang bathin yang luar biasa terjadi dalam diri saya. Saya tak bisa tidur. Saya mencoba duduk bersila diatas tempat tidur untuk menenangkan pikiran. Bebrerapa menit kemudian tiba-tiba terjadi dialaog internal yang luar biasa.</p>
<p>&#8220;perhatikan kawan ! Ambillah secarik kertas putih. Taruhlah sebuah magnet kecil dibawah kertas tersebut. Kemudian taburlah serbuk besi diatas kertas putih. Perhatikan..hanya sedikit serbuk besi yang melengket susuai daya magnet yang kecil. Sisanya tidak lengket dan pada jatuh&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Demikianlah dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita melihat masih banyak yang hidup dengan bekerja keras tetapi kadang mereka tetap miskin dan tidak kaya. Malah jika suatu kesempatan mereka mendapat uang yang banyak ia tidak akan dapat mengelolanya&#8230;alias tidak lengket ke tubuhnya karena magnet dirinya kecil. malah uang yang datang tiba-tiba dapat mencelakan dirinya.Dengan uang rezeki nomplok mereka berfoya-foya. Istri satu belum terurus kepingin tambah lagi.Akhirnya kehidupannya berantakan, jatuh lebih parah dari sebelumnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan sekarang ambillah magnet besar dan taburkan serbuk besi diatas kertas. Lihatlah serbuk besi yang lengket sungguh banyak. Ibarat magnet besar tersebut adalah kamu. Sekarang ada orang lain yang mengambil serbuk besi yang lengket di magnet besar tersebut. Apakah kamu kehilangan serbuk besinya ?. Saya menjawab ; ya, saya kehilangan serbuk besi tersebut !&#8217; Setelah kehilangan serbuk besi tersebut sekarang kamu goyangkan ke sekililing dan magnet kamu penuh lagi dengan serbuk besi !&#8221;</p>
<p>&#8221; Kamu sekarang hadir didunia ini telah dikarunia &#8220;magnet diri&#8221; yang besar karena karmamu. Kamu telah memiliki &#8216;magnet diri&#8217; yang besar untuk menarik &#8216;materi &#8216;, lengket ke tubuhmu. Apa yang kamu takutkan lagi ? Demikianlah magnet besar yang kehilangan serbuk besi. Ia kehilangan serbuk besi yang merupakan dimensi &#8216;materi&#8221; tetapi daya magnet berupa dimensi energi magnetnya tidak pernah hilang atau terambil oleh orang lain. Maka kamu yang dengan&#8217; Magnet diri&#8217; yang besar, dimensi materi (uang) yang terambil tidak menyebabkan dimensi energi magnet dirimu hilang !, Ia milikmu seutuhnya. Dengan niat dan kehendakmu yang tulus, alam berkewajiban mengisi kembali daya magnetmu. Karena itu milikmu, hasil tabungan perbuatanmu !. Dengan mengunakan &#8216;materi&#8217; untuk perbuatan baik dengan membantu orang lain justru akan membuat &#8216;magnet diri&#8217; makin besar&#8221; </p>
<p>&#8220;Demikian mereka yang &#8216;magnet dirinya&#8217; besar, terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang mereka lakukan selalu membawa rejeki. Sehingga timbul kesan mereka di kejar-kejar uang. Sungguh disayangkan bagi mereka yang &#8216;magnet dirinya&#8217; telah besar,dalam kehidupan sekarang mensia-siakan semua anugrah yang ia dapat, mengunakan hanya untuk kesenangan dunia. Tidak memanfaatkan bekal ini untuk mencari kesempurnaan dirinya. Malah diantara mereka yang bermagnet besar tersesat dalam dunia materi, menghalalkan segara cara untuk mengisi daya magnetnya yang besar.dan ini secara awam nampak seolah perbuatan yang tidak benar tetapi bisa mendapatkan kekayaan. Dan memang demikian keadilan alam bekerja! Mereka yang telah memiliki daya magnet besar, sebagai tabungan karma sebelumnya. walaupun perbuatan sekarang tidak benar alam tetap akan mengisi daya magnetnya untuk memenuhi kepastian hukum karma sendiri. Tetapi sungguh magnet yang telah ada akan tergerus, suatu ketika setelah magnet dirinya mengecil ia akan jatuh miskin . sia-sialah hidupnya yang sekarang yang bermagnet besar.&#8221;</p>
<p>Luar biasa ! &#8220;Keberadaan&#8221; malam itu kembali membimbing saya, Ia yang bersemayam di dalam telah menuntun saya memahami kemuliaan diri saya. Apa yang saya takutkan lagi. Ah.. &#8220;materi&#8221; telah terlampaui sudah! Rasa takut kehilangan juga telah terlampaui.. terasa terbebaskan dari beban berat.. Ini lah pencerahan ! </p>
<p>Esoknya, pagi-pagi sekali saya buru-buru mengantarkan sisa Rp.50 juta dari laba pertama saya kepada keluarganya.</p>
<p>3 hari di Penang, Malaysia. Saya mendapat kabar setelah mereka mengoperasi dan membersihkan luka-lukanya. dokter sana juga menganjurkan keluarganya membawa pulang. keluarga dan saya saat itu menafsirkan ini suatu petanda tidak baik. Karena sampai seminggu kemudian ia belum juga bangun dari komanya. Akhirnya keluarganya pasrah menbawanya dan dirawat di rumah dalam kondisi masih koma.</p>
<p>Sungguh Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Setelah di rawat di rumah secara perlahan terjadi kemajuan yang luar biasa. Akhirnya ia bangun dari komanya dan berangsur-angsur sembuh walaupun lambat. Dan sekarang ia telah kembali bekerja kembali dengan saya walaupun masih ada sisa-sisa berupa cacat beberapa fungsi tubuh. Tetapi ia telah hidup mandiri.</p>
<p>Inilah &#8220;pasangan Kejadian&#8221;. Melalui kejadian cobaan ini, keluarganya mendapat kesempatan mengalami pelajaran tentang &#8220;Kasih&#8221; dan &#8220;cinta&#8221; dan keterkaitan dengan saya.. melalui cobaan ini saya di uji dan hasilnya adalah pencerahan.. terlampaui &#8220;materi&#8221; dan rasa takut. Sungguh RP.80 juta uang sekolah yang tidak begitu mahal&#8230; Sekarang rezeki yang telah terima telah berlipat ganda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/magnet-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aceh oh Aceh (Hypnotherapy Trauma Healing di negeri serambi Mekkah)</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/aceh-oh-aceh-hypnotherapy-trauma-healing-di-negeri-serambi-mekkah/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/aceh-oh-aceh-hypnotherapy-trauma-healing-di-negeri-serambi-mekkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 17:53:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[Betty]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dasyat]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dua]]></category>
		<category><![CDATA[habis]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kadang]]></category>
		<category><![CDATA[kail]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[katakan]]></category>
		<category><![CDATA[kepedihan]]></category>
		<category><![CDATA[lantai]]></category>
		<category><![CDATA[lsm]]></category>
		<category><![CDATA[maha]]></category>
		<category><![CDATA[Mekkah]]></category>
		<category><![CDATA[mereka]]></category>
		<category><![CDATA[pagi]]></category>
		<category><![CDATA[pasrah]]></category>
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>
		<category><![CDATA[ruangan]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[selama]]></category>
		<category><![CDATA[semua]]></category>
		<category><![CDATA[Serambi]]></category>
		<category><![CDATA[sesi]]></category>
		<category><![CDATA[terasa]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>
		<category><![CDATA[training]]></category>
		<category><![CDATA[Trauma]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>
		<category><![CDATA[ypb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Kepergian saya ke Aceh karena diminta oleh LSM Kail dan YPB untuk trauma healing di training leadership masyarakat Aceh. Selama dua hari di Aceh saya mengalami banyak sekali pembelajaran kehidupan. Pembaca, kadang kehidupan bisa memberikan kepedihan yang sangat dasyat. Tujuannya supaya kita dibersihkan dan mengambil hikmah yang merupakan hadiah terbesar dari sebuah perjalanan kehidupan. 
 
 Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;">Kepergian saya ke Aceh karena diminta oleh LSM Kail dan YPB untuk trauma healing di training leadership masyarakat Aceh. Selama dua hari di Aceh saya mengalami banyak sekali pembelajaran kehidupan. Pembaca, kadang kehidupan bisa memberikan kepedihan yang sangat dasyat. Tujuannya supaya kita dibersihkan dan mengambil hikmah yang merupakan hadiah terbesar dari sebuah perjalanan kehidupan. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Dalam dua hari sesi saya kepada peserta training di Aceh, saya habis-habisan membimbing mereka untuk melepaskan semua beban dan kepedihan hidup mereka yang teramat dasyat. Hampir dari semua peserta merupakan korban tsunami. Keluarga dekat mereka – istri, anak, orang tua, keluarga dan teman – ada yang meninggal dalam tragedi yang maha dasyat itu. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;">Pagi harinya, di airport Jakarta, ada seorang ibu yang menanyakan tujuan saya pergi ke Aceh. Saya katakan kepadanya saya mau trauma healing masyarakat Aceh. Dia bertanya, “Sudah bertahun-tahun berlalu, apa orang Aceh masih trauma?” Pembaca, jawabannya”Ya, mereka masih trauma – bahkan sangat mendalam.”</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;">Dalam sesi hari pertama, saya lakukan Affect Bridging khusus untuk pelepasan trauma. Dasyat! Teriakan dan rintihan tangis kepedihan memenuhi seluruh ruangan training. Seluruh peserta menumpahkan semua trauma yang maha dasyat yang selama ini terpendam di relung hati yang sangat dalam. Ada yang bersimpuh, memukul lantai dan tubuhnya bergetar dasyat menunjukkan ketakutan dan kepedihan yang sangat traumatis. Hampir dua jam mereka menumpahkan semua emosi itu. Setelah semua tangisan mereda – ketika ruangan menjadi hening – lemas dan pasrah memenuhi nuansa seisi ruangan. Kemudian saya lanjutkan dengan Superconcious Mind Tapping – ya, waktunya mereka berdialog dengan Tuhan dalam kepasrahan yang terasa sangat tepat ini. Seketika terdengar lantunan orang-orang mengaji memuliakan nama Tuhan. Begitu indah&#8230; Terdengar bisikan, “Ya, Allah. Saya mengerti. Ya, Allah. Saya paham.” Para peserta training berdialog secara pribadi dengan Allah, Sang Pencipta. Hikmah sedang diberikan dalam kepasrahan batin. Air mata saya pun mengalir – terharu bahagia. Setiap kali saya membimbing orang-orang ke Superconsciuos Mind – terasa sekali nuansa spiritual yang mengharukan nan indah dan saya pun kerap kali menitikkan air mata.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Hari kedua pun berlanjut. Luar biasa perubahan yang terjadi dengan para peserta. Mereka menjadi berani berbicara dengan percaya diri. Satu hari sebelumnya, mereka bergetar ketika diminta memperkenalkan diri di depan ruangan. Setelah pelepasan trauma, percaya diri mereka meroket. Mereka bisa memimpin games, menyanyi dan menari di depan ruangan. “Hati menjadi lega, bu. Jadi merasa bebas dan berani berekspresi.” ungkap salah seorang pemudi Aceh peserta training.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;">Namun, perjalanan sesi hypnotherapy masih berlanjut. Di hari kedua ini saya lanjutkan dengan sesi hypnotherapy untuk menyempurnakan Stages of Development di alam bawah sadar mereka. Tubuh mereka bergerak mengikuti bimbingan saya. Tangisan mulai kembali mengisi ruangan. Kepedihan dan peristiwa traumatis si janin, bayi, si kecil dan si dewasa di alam bawah sadar mereka sedang dilepaskan. Dalam kepiluan tangis yang mendalam – dua orang tumbang pingsan. Ibu Betty, seorang psikolog dan juga pendiri Kapeta Foundation – sebuah komunitas pencegah HIV/AIDS, yang juga sebagai salah satu instruktur dalam training di Aceh ini mengatakan, “Kepiluan dan beban yang terlalu berat bisa membuat seseorang hysteria. Dan pingsan adalah salah satu jenis hysteria yang mendalam.” Betapa kekecewaan hidup yang tidak dilepaskan bisa membuat seseorang sangat menderita! </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Dua hari sesi trauma healing telah selesai. Luar biasa efek kelegaan yang dirasakan oleh para peserta. Wajah mereka ceria dan penuh senyum. Canda dan tawa mengisi seisi ruangan. Bahkan ada seorang peserta yang sudah mulai berani untuk mengungkapkan isi hatinya kepada saya. “Bu, saya suka menulis. Saya mau bisa menjadi penulis seperti ibu.” Terasa sekali mereka tidak lagi terkungkung oleh masa lalu dan mulai bisa menatap masa depan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;">Pembaca, luar biasa pengalaman dua hari saya di Aceh. Dari pengalaman tersebut saya langsung merenungkan betapa luar biasanya sumbangsih teman-teman anggota LSM. Jika bukan mereka yang mau turun langsung ke desa-desa untuk mendidik langsung masyarakat Indonesia, siapa lagi yang sanggup melakukannya? Tak dipungkiri, sebagian besar dari kita sepanjang saat berkutat menggapai kesuksesan hidup yang rasanya tidak pernah berujung. Sehingga kadang sampai tidak sempat untuk menengok ke kiri dan kanan untuk membantu saudara-saudara kita yang berada nun jauh di desa-desa Indonesia. Jadi, rasanya sangat pantas kita ucapkan “Salut!” untuk teman-teman anggota LSM di seluruh Indonesia. Teruslah berkarya untuk sesama! </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>By the way, next project LSM Kail adalah membimbing masyarakat pedalaman Papua. Jadi tunggu reportase saya berikutnya dari Papua!</p>
<div><span style="font-family: Arial; line-height: normal;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/aceh-oh-aceh-hypnotherapy-trauma-healing-di-negeri-serambi-mekkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Mengirim Naskah ke Endorser</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 07:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Hirata]]></category>
		<category><![CDATA[bagi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita komedi]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dika]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[endorsement]]></category>
		<category><![CDATA[Endorser]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kali]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Karina]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[kening]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[membuat]]></category>
		<category><![CDATA[namun]]></category>
		<category><![CDATA[napas]]></category>
		<category><![CDATA[naskah]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[oleh]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[plis]]></category>
		<category><![CDATA[saking]]></category>
		<category><![CDATA[sambil]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[Serta]]></category>
		<category><![CDATA[siapa]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[Teenlit]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[tiga]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Semua penulis yang sudah menerbitkan buku –atau bercita-cita menerbitkan buku— pasti tidak asing dengan kata ‘endorsement’, kecuali dia tinggal di ujung dunia. Beberapa tahun lalu, sebelum kata ini sering digunakan, istilah yang familiar di telinga kita adalah ‘paperback comment’.
Selain memberi nilai tambah bagi sebuah karya, endorsement dari seseorang yang ‘sudah punya nama’ –apalagi yang termasuk kategori ‘Penulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua penulis yang sudah menerbitkan buku –atau bercita-cita menerbitkan buku— pasti tidak asing dengan kata ‘<a style="font-style: italic; color: #000000;" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Endorsement_%28advertising%29">endorsement</a>’, kecuali dia tinggal di ujung dunia. Beberapa tahun lalu, sebelum kata ini sering digunakan, istilah yang familiar di telinga kita adalah ‘<span style="font-style: italic;">paperback comment</span>’.</p>
<p>Selain memberi nilai tambah bagi sebuah karya, <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari seseorang yang ‘sudah punya nama’ –apalagi yang termasuk kategori ‘Penulis Dewa’— sanggup membuat orang tergoda membeli, atau minimal, mengundang rasa penasaran terhadap buku yang bersangkutan. Siapa yang tidak tertarik mengambil buku yang sampul depannya memuat <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Andrea_Hirata">Andrea Hirata</a> atau <a style="color: #000000;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Lestari">Dewi Lestari</a>? Siapa penikmat novel remaja yang tidak terpancing mengambil <span style="font-style: italic;">teenlit</span> yang memajang <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://www.sittakarina.com/">Sitta Karina</a>? Siapa penyuka cerita komedi yang tidak tertarik dengan buku yang di-<span style="font-style: italic;">endorse</span> oleh <a style="color: #000000;" href="http://radityadika.com/">Raditya Dika</a>?</p>
<p>Sebagai orang yang sudah menerbitkan buku, saya tahu rasanya mengirim naskah kepada penulis-penulis senior; memohon kesediaan mereka untuk memberi sepatah-dua patah kata bagi ‘calon anak’ saya, berharap-harap cemas menanti hasilnya, dan sebagainya. Di sisi lain, sebagai orang yang pernah menjadi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk beberapa buku –serta menjadi ‘perantara’ bagi mereka yang ingin mendapatkan<span style="font-style: italic;">endorsement</span> dari <a style="color: #000000;" href="http://www.dee-idea.blogspot.com/">Ibu ini</a>— saya juga berkesempatan membaca berbagai naskah dengan genre dan penulisan yang sangat bervariasi.</p>
<p>Menerima dan membaca naskah merupakan kegiatan yang menarik, namun tak selalu menyenangkan. Ada kalanya saya mendapatkan ‘naskah emas’ yang memikat perhatian. Saya sanggup <span style="font-style: italic;">begadang</span> semalam suntuk dan melewatkan jam makan hanya untuk menamatkan naskah tersebut. Saya pernah membaca naskah yang sama sebanyak tiga kali dalam sebulan karena jatuh cinta dengan isi dan cara penulisannya. Namun tidak jarang pula saya menerima naskah yang membuat kening berkerut-kerut saking standarnya, saking mentahnya, atau saking <span style="font-style: italic;">absurd</span>-nya. Jenis naskah yang terakhir ini biasanya membuat saya menarik napas panjang sambil membatin, “<span style="font-style: italic;">Duh bo&#8230; plis deh</span>,” sebelum menutupnya tanpa menamatkan bab pertama.</p>
<p>Kedengaran belagu? Mungkin, tapi memang itu yang terjadi.</p>
<p>Selain konten, ada hal-hal lain yang memicu keengganan saya untuk membaca sebuah naskah sampai tamat (boro-boro mengomentari, kalau membaca aja nggak selesai). Kemalasan adalah salah satunya. Sisanya adalah beberapa faktor eksternal yang akan saya uraikan di bawah ini.<br />
Apa yang saya tuliskan di sini adalah hasil dari pengamatan pribadi dan bertukar pikiran dengan sesama rekan penulis –maupun figur publik— yang pernah menjadi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk sebuah buku. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tips pertama: pastikan naskah yang kamu kirim ke <span style="font-style: italic;">endorser</span> sudah diterima terlebih dahulu oleh penerbit. Menggunakan <span style="font-style: italic;">endorsement</span>untuk ‘menjual’ naskah ke penerbit memang bukan sesuatu yang salah, namun ini bisa jadi sesuatu yang menyebalkan bagi <span style="font-style: italic;">endorser</span>. Pertama, karena tidak adanya kepastian terbit. Kedua, ada waktu dan energi yang harus diluangkan oleh <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk membaca dan mengomentari karya kamu. Ketidakpastian tersebut akan membuat usaha yang dilakukan <span style="font-style: italic;">endorser</span> tampak sia-sia.</p>
<p>Kedua, yakinlah bahwa ketika karya kamu diterima oleh penerbit, karya tersebut memiliki ‘kekuatan’ dan nilai plus yang menjadikannya layak terbit. Pahami juga bahwa setiap penulis mempunyai ciri khas dan kelebihan masing-masing. Karena itu, miliki rasa percaya diri dan hindari mencantumkan kalimat-kalimat berikut dalam permohonan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> kamu: “Saya tahu tulisan saya tidak sebagus Mbak…”, “Memang tulisan ini tidak sebanding dengan karya Mbak…”, dan sebagainya. Saya tidak tahu dengan penulis lain, namun permohonan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> semacam ini membuat saya kehilangan minat untuk membaca naskah. Jika<span style="font-style: italic;"> endorser</span> yang bersangkutan merasa cocok dengan karyamu, ia akan memberikan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> dengan senang hati. Tanpa kamu perlu ‘merendah’.</p>
<p>Ketiga, jangan mengirimkan naskah dengan tenggat waktu yang terlalu sempit. Dua minggu sampai satu bulan adalah tenggat yang cukup ideal bagi <span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk membaca dan mengomentari calon bukumu, apalagi jika kamu mengirim naskah kepada ‘Penulis Dewa’ yang punya segudang kesibukan. Sadari bahwa mereka memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada membaca naskahmu. <span style="font-style: italic;">And for the love of God</span>, jangan donder. Saya pernah menerima <span style="font-style: italic;">draft</span> dari seseorang yang mengirimkan <span style="font-style: italic;">e-mail</span> dua hari sekali untuk menanyakan apakah <span style="font-style: italic;">draft</span> tersebut sudah dibaca. Kali ketiga ia mengirim<span style="font-style: italic;"> e-mail</span>, saya tidak lagi membalasnya. <span style="font-style: italic;">It’s just annoying</span>. Saya hanya tersenyum masam mendengar alasan yang diajukannya: “Minggu depan sudah mau naik cetak, Mbak.” Sebagai orang yang pernah menerbitkan buku, saya tahu ada tenggat waktu yang cukup panjang dari diterimanya naskah oleh penerbit, proses produksi (<span style="font-style: italic;">editing, lay-outing</span>, desain <span style="font-style: italic;">cover</span>, dsb), sampai naik cetak. Keseluruhan proses tersebut bisa makan waktu 3 sampai 5 bulan. <span style="font-style: italic;">Kemane aje lo, baru ngirim </span>draft<span style="font-style: italic;"> seminggu terakhir</span>?</p>
<p>Keempat, kirimlah naskah yang sudah ‘matang’, dalam arti sudah melalui proses <span style="font-style: italic;">editing</span> setidaknya satu kali. Selain memudahkan<span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk menilai naskah tersebut secara keseluruhan, tindakan ini menunjukkan bahwa kamu menghargai <span style="font-style: italic;">endorser</span>. Kesalahan ketik dan kesalahan tata bahasa adalah sesuatu yang sangat lazim terjadi, dan saya rasa <span style="font-style: italic;">endorser</span> tidak akan mempermasalahkan hal ini. Namun isi naskah yang masih ‘mentah’ dan kasar akan sangat mengganggu untuk dibaca. Tunjukkan bahwa kamu menghargai <span style="font-style: italic;">endorser</span>yang sudah bersedia meluangkan waktu dan energi untuk membaca naskahmu.</p>
<p>Kelima, gunakan <span style="font-style: italic;">font</span> yang nyaman dibaca dan spasi yang tidak melelahkan mata. Hal ini juga bisa diterapkan untuk mengirim naskah ke penerbit. Saya pernah menerima naskah yang ditulis dengan <span style="font-style: italic;">font</span> Arial Narrow dan spasi <span style="font-style: italic;">single</span> yang panjangnya lebih dari 400 halaman. Saya berusaha membacanya sebanyak tiga kali dan akhirnya menyerah sebelum menyelesaikan bab pertama.</p>
<p>Keenam, kirimkan naskahmu kepada orang yang tepat. Jangan mengirimkan naskah novel pop kepada penulis cerita komedi. Jangan mengirimkan naskah kumpulan blog remaja kepada penulis fiksi ilmiah. Dan demi Tuhan, jangan mengirimkan naskah cerita horor murahan atau drama-komedi berbau seks kepada siapa pun. Kasihanilah kami.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Last but not least</span>, berbesar hatilah jika naskahmu ditolak oleh calon<span style="font-style: italic;"> endorser</span>. Tidak usah <span style="font-style: italic;">ngambek</span>. Tidak perlu membujuk calon<span style="font-style: italic;">endorser</span> untuk mempertimbangkan ulang keputusannya dengan berkali-kali menghubunginya. Mereka tentu memiliki pertimbangan tersendiri untuk memberikan (atau tidak memberikan) <span style="font-style: italic;">endorsement</span>. <span style="font-style: italic;">It’s nothing personal</span>. Naskah saya pernah ditolak oleh beberapa penulis. Saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang mereka berikan untuk membaca dan membalas <span style="font-style: italic;">e-mail</span> saya, lalu mencari penulis lain yang bersedia meng-<span style="font-style: italic;">endorse</span> buku saya. Sesederhana itu.</p>
<p>Sekarang, izinkan saya menghancurkan secercah harapan yang kamu miliki. Tips-tips di atas tidak menjamin kamu akan memperoleh<span style="font-style: italic;">endorsement</span> sesuai harapan, bahkan tidak menjamin naskahmu akan dibaca oleh calon <span style="font-style: italic;">endorser</span>.</p>
<p>Tips-tips tersebut hanya bentuk lain dari<span style="font-style: italic;"> uneg-uneg</span> yang saya (dan beberapa rekan penulis) miliki dari pengalaman menerima dan membaca naskah yang dikirimkan kepada kami. Sama seperti perjuangan untuk menerbitkan buku, ada banyak hal yang menentukan keberhasilan seseorang dalam mendapatkan <span style="font-style: italic;">endorsement</span> – salah satunya keberuntungan. Saran yang bisa saya berikan adalah: lakukan yang terbaik yang kamu bisa, silangkan jari-jarimu, dan berharaplah keberuntungan ada di pihakmu. Kalaupun tidak, <span style="font-style: italic;">well</span>, akan selalu ada kesempatan lain, selama kamu terus menulis. <img src='http://nathaliasunaidi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selamat berburu <span style="font-style: italic;">endorsement</span>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/tips-mengirim-naskah-ke-endorser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STOP Child Abuse NOW!</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 07:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[abuse]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[celana]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[elegan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hypnotherapy]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[jejak]]></category>
		<category><![CDATA[jelas]]></category>
		<category><![CDATA[juang]]></category>
		<category><![CDATA[kaca]]></category>
		<category><![CDATA[Kata]]></category>
		<category><![CDATA[kesedihan]]></category>
		<category><![CDATA[ketat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah menarik]]></category>
		<category><![CDATA[klien]]></category>
		<category><![CDATA[Mama]]></category>
		<category><![CDATA[Melati]]></category>
		<category><![CDATA[memiliki]]></category>
		<category><![CDATA[mencari]]></category>
		<category><![CDATA[nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[penampilan wanita]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan]]></category>
		<category><![CDATA[problem]]></category>
		<category><![CDATA[Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<category><![CDATA[sesi]]></category>
		<category><![CDATA[setiap hari]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang bisa menjadi penderitaan terberat dalam hidup ini? Pertanyaan ini seolah menggantung di kepala saya setelah sekian tahun melakukan hypnotherapy. Selama itu juga ribuan klien telah saya antarkan ke subconscious mind—tempat mengendonnya berbagai akar problem kehidupan. Setiap dari mereka datang dengan membawa beragam penderitaan hidup dan semuanya mengklaim bahwa problem merekalah yang terberat.
 Pagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><a rel="attachment wp-att-80" href="http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/stop_child_abuse_by_ronalhene-1-366x300/"></a>Apa yang bisa menjadi penderitaan terberat dalam hidup ini? Pertanyaan ini seolah menggantung di kepala saya setelah sekian tahun melakukan hypnotherapy. Selama itu juga ribuan klien telah saya antarkan ke subconscious mind—tempat mengendonnya berbagai akar problem kehidupan. Setiap dari mereka datang dengan membawa beragam penderitaan hidup dan semuanya mengklaim bahwa problem merekalah yang terberat.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Pagi itu Melati masuk ke ruang praktek saya setelah temannya selesai sesi dengan saya. Problem dua wanita cantik ini tergurat jelas dari tatapan mata mereka yang berkaca-kaca sebagai bukti guratan child abuse yang mereka alami. Jika Anda telah menemui ribuan orang dengan problem kehidupan— seperti para klien yang selalu saya temui setiap hari—Anda akan menemukan betapa kesedihan yang mendalam akan meninggalkan jejak air mata abadi di pancaran mata walaupun mereka tidak sedang menangis.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Melati, seorang ibu cantik di usia empat puluhan. Dia datang dengan memakai kemeja dan celana bahan yang sepertinya sangat nyaman karena tidak terlalu ketat tapi bisa membuat lekuk tubuh terlihat jelas. Pakaian tipe itu selalu menjadi favorit saya karena menggambarkan penampilan wanita menengah atas yang elegan. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Dia datang ke sesi hypnotherapy dengan problem awal yang terdengarnya cukup ringan—hanya ingin mengatasi rasa tidak percaya diri dan meningkatkan semangat dalam mencari uang. Walaupun saya tahu, jika menyangkut tentang rasa tidak percaya diri maka akan ada kisah menarik dibelakangnya. Ya, berdasarkan pengalaman saya, problem tidak percaya diri biasanya mengakar pada pengalaman masa lalu yang tidak mengenakkan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Melati mengatakan dia tidak memiliki semangat dalam mencari uang bahkan dia tidak pernah memiliki semangat di hidupnya. Hidupnya seperti mengalir begitu saja. “Saya hanya mengalir. Tidak ada rasa exciting atau apa pun. Terasa datar saja hidup saya. Saya ingin memiliki semangat dan daya juang dalam hidup.”</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>“Well, ayo kita mulai saja sesi hypnotherapy.” Kata saya kepada Melati. Pikir saya, paling sesi ini akan menjadi sesi sugesti yang singkat karena problem yang ditangani ringan.  Tapi seperti biasa, setiap sesi hypnotherapy akan menghadirkan kejutan yang kadang membuat saya mengatakan “Here we go! Waktunya naik roller coaster.”—tentunya saya mengatakannya di dalam hati saya. Alam hualam, Melati memasuki momen child abuse yang penuh teror.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>“Mama, saya ingin main. Jangan disuruh cari uang terus. Tolong, jangan dipukul lagi. Ini kulit dan daging bukan batu. Kulit saya memar dan berdarah. Sakit. Kuping saya biru dan bengkak karena dijewer.” Melati memasuki usia lima tahun. Ayahnya yang sakit keras memaksa ibunya untuk mengambil alih keuangan keluarga. Melati kecil diharuskan menjaga toko—mencari uang—sepanjang hari. “Saya benci mencari uang. Saya ingin main. Ma, tolong jangan ikat saya. Jangan kurung saya.” Melati terus menangis histeris menandakan kesedihan yang tertanam begitu mendalam. Dari momen ini tidak heran Melati tidak memiliki semangat mencari uang. Malah dia benci mencari uang. “Ma, kamu pukul saya terus, apa kamu tidak sayang saya? Kamu pukul saya, saya tidak berdaya. Kamu bunuh saya pun, saya tidak berdaya. Buat apa berjuang? Saya menangis sampai berjam-jam pun, kamu tidak akan memenuhi permintaan saya untuk disayangi. Semuanya sia-sia. Saya hanya bisa pasrah. Buat apa berjuang?” Inilah akar Melati tidak memiliki daya juang. Tidakkah kalian menemukan polanya? Melati kecil merasakan tidak ada gunanya berjuang karena tidak akan berhasil. Di sinilah awal program Melati tidak memiliki daya juang. Dia melepaskan semangat juangnya di usia lima tahun.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Melati masih lebih beruntung dibanding temannya. Dia hanya kehilangan daya juang—hasrat untuk hidup dan cita-cita akibat child abuse ini. Tapi temannya hidup dalam ketakutan selama puluhan tahun dan mengkonsumsi obat penenang selama bertahun-tahun. Setiap hari hidupnya dipenuhi rasa ketakutan yang menterornya. Dia tidak bisa keluar rumah sendirian bahkan tidak bisa berada sendirian. Setiap menitnya, perasaan hatinya gelisah dalam ketakutan tanpa tahu penyebabnya. Bisakah kalian bayangkan hidup seperti itu selama puluhan tahun? Inilah tipikal symptom akibat child abuse. Momen abuse itu menorehkan teror yang mendalam sehingga teror itu menjadi membekas dan menjadi program hidup.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Jenis-jenis child abuse:</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Sexual Abuse</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">o<span style="white-space: pre;"> </span>Ringan, seperti menyentuh dada dan  paha. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">o<span style="white-space: pre;"> </span>Ekstrim, yaitu ketika anak diperkosa secara anal, vaginal atau oral. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">o<span style="white-space: pre;"> </span>Penyiksaan sexual, yaitu ketika anak dipegangi atau diikat dan dimasukkan benda asing ke mulutnya atau ke kemaluannya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Physical Abuse</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Jewer telinga dan cubit.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Mengangkat anak dan digoyang keras sampai anak itu merasa pusing, tidak sadarkan diri, mengalami kerusakan otak atau meninggal.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Memukuli dengan ikat pinggang, papan, dompet, tali, dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Melempar anak ke tempat tidur, tembok, tangga, dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Mengikat tangan dan kaki anak ke tempat tidur, toilet, pohon, dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Menyundut dengan rokok.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Mencekik.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Diabaikan</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Seorang anak diabaikan dengan dibiarkan sendirian di boxnya/tempat tidurnya atau ditinggal  sendirian selama berhari-hari dengan sedikit atau tanpa makanan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Emotional Abuse</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Emotional abuse memang tidak meninggalkan bekas luka fisik tapi meninggalkan bekas luka yang sangat dalam secara psikologis seorang anak.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 35.5px; text-indent: 0.5px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Kata-kata kasar yang sering diucapkan seorang dewasa kepada seorang anak dianggap sebagai emotional abuse, seperti: “Apakah kamu bodoh?”, “Lihat diri kamu. Jorok!”, “Anak pungut.”, &#8220;Anak setan&#8221;, &#8220;Tidak punya otak, ya!&#8221;, dsb.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Percayalah, setiap abuse yang Anda lakukan terhadap anak Anda akan menorehkan goresan luka. Luka itu akan terus terasa sakit bahkan sampai si anak tumbuh dewasa. Hentikan child abuse walaupun itu hanya jeweran telinga atau memasukkan si anak ke ruangan gelap. Pola pendidikan tanpa kasih sayang hanya akan menciptakan anak-anak yang penuh luka batin.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Saat ini Melati sedang memulai usaha barunya di bidang tata boga. Dia telah memaafkan sang mama dan mulai merasakan kembali semangat hidupnya. Sedangkan temannya masih membutuhkan sesi hypnotherapy lanjutan untuk melepaskan kesedihan masa kecilnya yang mendalam.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"> “Sayangi saya. Peluk saya. Belai saya.” Itulah tangis Melati kecil yang juga merupakan suara hati setiap anak-anak. Maka tataplah mata anak-anak Anda dan bertanyalah di dalam diri—“Sudahkah saya mencintai mereka atau malah saya telah menorehkan teror terbesar di masa kecil mereka?” Saya harap jawabannya adalah Anda telah mengasihi mereka dan bukannya gumpalan penyesalan di dada Anda karena telah meng-abuse mereka. Anak-anak membutuhkan kasih sayang untuk bisa bertumbuh sebagai pribadi penuh cita-cita dan semangat hidup.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Dari kasus Melati saya menemukan jawaban dari pertanyaan saya. Penderitaan terberat dalam hidup ini adalah ketika tidak ada cinta untuk diberikan, tidak ada pelukan kasih sayang dan kata-kata untuk dijelaskan. </p>
<div style="text-indent: 36px;"><span style="font-family: Arial; line-height: normal;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
