<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nathalia Sunaidi &#62;&#62; Hipnotis &#38; Hipnoterapis &#187; hidup</title>
	<atom:link href="http://nathaliasunaidi.com/tag/hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nathaliasunaidi.com</link>
	<description>Hipnosis&#124;Hipnoterapi&#124;NLP&#124;EFT</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sebuah Pohon yang Bernama Visi Hidup</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:23:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Tetap]]></category>
		<category><![CDATA[Abraham Lincoln]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[anak pintar]]></category>
		<category><![CDATA[Banyak]]></category>
		<category><![CDATA[bernama]]></category>
		<category><![CDATA[bobot]]></category>
		<category><![CDATA[butuh]]></category>
		<category><![CDATA[cara cara]]></category>
		<category><![CDATA[citra diri]]></category>
		<category><![CDATA[coachville]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Hanh]]></category>
		<category><![CDATA[hasrat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan membaca]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[masalah emosi]]></category>
		<category><![CDATA[membaca buku]]></category>
		<category><![CDATA[membuat]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[Nelson Mandela]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[potensi diri]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sebuah]]></category>
		<category><![CDATA[semata]]></category>
		<category><![CDATA[Theresa]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas J. Leonard]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<category><![CDATA[visi]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;pengejaran kesuksesan, dengan cara-cara
model lama, bisa sangat membuat stres.”
(Thomas J. Leonard, Pendiri Coachville)
 
Saya pernah diberitahu seorang psikolog yang juga masih kerabat dekat keluarga saya. Waktu itu dia bercerita bahwa anak pintar itu butuh penyeimbang dalam hal kecerdasan emosinya. Karena itu ada sekolah khusus untuk anak-anak pintar, yang bertujuan selain memberikan pelajaran dengan bobot yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><em>“&#8230;pengejaran kesuksesan, dengan cara-cara</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><em>model lama, bisa sangat membuat stres.”</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><strong>(Thomas J. Leonard, Pendiri Coachville)</strong></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times; min-height: 14.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Saya pernah diberitahu seorang psikolog yang juga masih kerabat dekat keluarga saya. Waktu itu dia bercerita bahwa anak pintar itu butuh penyeimbang dalam hal kecerdasan emosinya. Karena itu ada sekolah khusus untuk anak-anak pintar, yang bertujuan selain memberikan pelajaran dengan bobot yang lebih daripada yang lain, juga untuk memperhatikan kecerdasan emosinya. Orang yang pandai justru sering terjebak oleh emosinya sendiri. Penjelasan ini membuat saya dan istri berhati-hati dalam mendidik anak semata wayang kami. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"><span style="white-space: pre;"> </span>Belakangan saya menyadari bahwa bukan anak saya saja yang butuh pembelajaran emosi. Saya sendiripun masih butuh berbenah diri dalam masalah emosi ini.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jika di runtut dari pengalaman, sejak kuliah, saya memiliki kebiasaan membaca buku, dari banyak disiplin ilmu seperti: filsafat, psikologi, politik, sosial, bahkan sastra, walaupun kuliah yang saya jalani adalah teknik informatika. Pada waktu itu, saya merasa tertantang untuk mempelajari semua dasar filosofi mengingat saya juga aktif dalam organisasi sosial keagamaan sebagai tempat bereksperimen dalam mengasah potensi diri. Saya merasa pengetahuan dan pengalaman ini akan membuat saya sukses di dunia kerja nantinya. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Namun ketika memasuki dunia kerja selama lima tahun pertama, saya justru mengalami kebuntuan. Kepandaian selalu menimbulkan hasrat untuk mengatur keadaan, akibatnya saya justru merasakan kerepotan dengan pengetahuan yang telah saya kumpulkan sebelumnya itu. Saya merasa menderita dan tidak mencapai kesuksesan pada waktu yang pernah saya rencanakan sebelumnya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Penderitaan yang saya alami ini membuat saya belajar bahwa banyak pengetahuan cenderung membuat saya banyak keinginan. Keinginan dan citra diri yang berlebihan (<em>self important</em>) adalah akar dari ketidakbahagiaan dalam hidup. Setelah menyadari hal ini, selama beberapa tahun saya banyak berdiam diri dan tidak melakukan hal-hal menantang lagi. Saya hanya bertahan dan mengikuti rutinitas kerja begitu saja.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Hingga pada satu titik, saya bertanya pada diri sendiri. Apakah ada cara hidup bahagia tapi dengan tetap melibatkan aktivitas yang aktif? Jika dulu saya sering terjebak pada visi yang saya buat sendiri, yang berakhir dalam penderitaan. Lalu, apakah bisa seseorang berjuang demi sebuah visi tapi tetap bahagia?</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Sambil meraba-raba dan seiringan dengan waktu semakin jelas bahwa kemungkinan visi yang membahagiakan itu ada. Pada tahun 2006, saya memberanikan diri untuk memiliki visi hidup kembali, setelah banyak mengikuti retret-retret meditasi. Visi yang membahagiakan tidak lain adalah sebuah visi yang altruistik. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Apakah altruistik itu?</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Altruistik berasal dari sebuah kata ‘’<em>altrui </em>” dalam bahasa Perancis, yang berarti ‘’bagi atau untuk orang lain”. Pertama kali kata ini digunakan oleh Auguste Comte, filosof Perancis abad ke-19. Secara teoritis, etika altruisme adalah lawan dari egoisme &#8211;yang adalah segala pemikiran yang berpusat pada kepentingan diri. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 12.0px Times;">Sehubungan dengan visi hidup, saya mengartikan altruistik sebagai ketulusan dalam beraktivitas baik pada waktu proses maupun setelah mencapai visi tersebut. Ketulusan ini akan ada dengan sendirinya jika kita tidak lagi banyak berkutat pada kepentingan diri. Altrustik adalah sebuah cara pandang yang melampaui kepentingan diri, yang tidak tergantung apakah tujuan hidup itu tercapai atau tidak. Jika kita mengamati biografi orang-orang besar &#8211;seperti: Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, Dalai Lama, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Romo Mangunwijaya, dll&#8211;, mereka semua memiliki sifat altrustik. Karena itu mereka selalu tampak tenang dan bahagia, dan bukan hanya itu, mereka bermanfaat bagi orang lain. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Upaya mencapai kesuksesan perlu dipahami dalam konteks visi hidup yang saya jelaskan ini. Ibarat kita menanam sebuah pohon. Tanggungjawab kita hanyalah menggali lubang untuk menaruh benih, menanaminya dengan benar, menyiraminya, memberi pupuk dan menjaganya dari serangan hama dan serangga. Apakah pohon itu tumbuh atau tidak, itu terserah padanya. Itu bukanlah urusan kita. Bahkan upaya untuk menarik-nariknya, meregangkannya dengan membuatnya mampu tumbuh lebih cepat adalah sama sekali tidak berguna. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jika kita bandingkan dengan apa yang kita alami, seringkali penderitaan muncul karena keinginan sesaat untuk menggapai visi setelah sebuah visi belum lama ditentukan.  Kita harus menyadari bahwa tumbuh kembangnya sebuah benih menjadi sebuah pohon adalah proses yang alami dan butuh waktu. Thich Nhat Hanh, seorang guru meditasi Zen, pernah memberi sebuah ilustrasi. Ketika mencuci piring, janganlah berpikir piring itu akan bersih. Mengapa? Karena dengan mencuci piring dengan baik dan benar, maka dengan sendirinya piring itu akan bersih. Intinya, keinginan yang terlalu menggebu-gebu membuat kita lupa pada proses pencapaiannya. Kita mesti belajar untuk selalu tulus dan bahagia dalam merawat visi, dari pada banyak berkutat pada nafsu tercapainya sebuah visi. Jika waktunya telah tiba, visi itu akan terwujud dengan sendirinya tanpa “paksaan” dari pihak kita.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;">Jadi, jika Anda terus merasa menderita dalam hidup, entah itu mengenai pekerjaan, maupun upaya menggapai cita-cita, semua itu hanya ada satu penyebab. Itu tidak lain adalah minimnya ketulusan dalam menanam sebuah pohon yang bernama visi hidup. Sebodoh-bodohnya orang dalam berusaha,  sepanjang mampu bertahan dalam fase “<em>trial and error</em>”, suatu saat dia akan mencapai buah kesuksesannya. Hanya saja, setiap orang mencapainya dalam jangka waktu yang berbeda, tergantung dari situasi dan kondisinya. Saya selalu berpendapat bahwa kebahagiaan adalah salah satu faktor efektivitas penting yang paling sering dilupakan.  Bahagia akan membuat energi lebih tercurahkan pada visi hidup, sebagai hasilnya Anda bisa menikmati hidup jauh sebelum visi itu tercapai. Kenyataannya, dengan hidup bahagia, Anda dapat belajar banyak hal dengan lebih baik pula. Karena itu, tunggu apalagi. Berbahagialah! </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; text-indent: 36.0px; line-height: 23.0px; font: 12.0px Times;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 14.0px Times;">Victor Alexander Liem, </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: center; font: 14.0px Times;">Penulis buku <em>USING NO WAY AS WAY!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/sebuah-pohon-yang-bernama-visi-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STOP Child Abuse NOW!</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 07:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[abuse]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[celana]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[elegan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hypnotherapy]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[jejak]]></category>
		<category><![CDATA[jelas]]></category>
		<category><![CDATA[juang]]></category>
		<category><![CDATA[kaca]]></category>
		<category><![CDATA[Kata]]></category>
		<category><![CDATA[kesedihan]]></category>
		<category><![CDATA[ketat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah menarik]]></category>
		<category><![CDATA[klien]]></category>
		<category><![CDATA[Mama]]></category>
		<category><![CDATA[Melati]]></category>
		<category><![CDATA[memiliki]]></category>
		<category><![CDATA[mencari]]></category>
		<category><![CDATA[nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[penampilan wanita]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan]]></category>
		<category><![CDATA[problem]]></category>
		<category><![CDATA[Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<category><![CDATA[sesi]]></category>
		<category><![CDATA[setiap hari]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang bisa menjadi penderitaan terberat dalam hidup ini? Pertanyaan ini seolah menggantung di kepala saya setelah sekian tahun melakukan hypnotherapy. Selama itu juga ribuan klien telah saya antarkan ke subconscious mind—tempat mengendonnya berbagai akar problem kehidupan. Setiap dari mereka datang dengan membawa beragam penderitaan hidup dan semuanya mengklaim bahwa problem merekalah yang terberat.
 Pagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><a rel="attachment wp-att-80" href="http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/stop_child_abuse_by_ronalhene-1-366x300/"></a>Apa yang bisa menjadi penderitaan terberat dalam hidup ini? Pertanyaan ini seolah menggantung di kepala saya setelah sekian tahun melakukan hypnotherapy. Selama itu juga ribuan klien telah saya antarkan ke subconscious mind—tempat mengendonnya berbagai akar problem kehidupan. Setiap dari mereka datang dengan membawa beragam penderitaan hidup dan semuanya mengklaim bahwa problem merekalah yang terberat.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Pagi itu Melati masuk ke ruang praktek saya setelah temannya selesai sesi dengan saya. Problem dua wanita cantik ini tergurat jelas dari tatapan mata mereka yang berkaca-kaca sebagai bukti guratan child abuse yang mereka alami. Jika Anda telah menemui ribuan orang dengan problem kehidupan— seperti para klien yang selalu saya temui setiap hari—Anda akan menemukan betapa kesedihan yang mendalam akan meninggalkan jejak air mata abadi di pancaran mata walaupun mereka tidak sedang menangis.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Melati, seorang ibu cantik di usia empat puluhan. Dia datang dengan memakai kemeja dan celana bahan yang sepertinya sangat nyaman karena tidak terlalu ketat tapi bisa membuat lekuk tubuh terlihat jelas. Pakaian tipe itu selalu menjadi favorit saya karena menggambarkan penampilan wanita menengah atas yang elegan. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Dia datang ke sesi hypnotherapy dengan problem awal yang terdengarnya cukup ringan—hanya ingin mengatasi rasa tidak percaya diri dan meningkatkan semangat dalam mencari uang. Walaupun saya tahu, jika menyangkut tentang rasa tidak percaya diri maka akan ada kisah menarik dibelakangnya. Ya, berdasarkan pengalaman saya, problem tidak percaya diri biasanya mengakar pada pengalaman masa lalu yang tidak mengenakkan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>Melati mengatakan dia tidak memiliki semangat dalam mencari uang bahkan dia tidak pernah memiliki semangat di hidupnya. Hidupnya seperti mengalir begitu saja. “Saya hanya mengalir. Tidak ada rasa exciting atau apa pun. Terasa datar saja hidup saya. Saya ingin memiliki semangat dan daya juang dalam hidup.”</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>“Well, ayo kita mulai saja sesi hypnotherapy.” Kata saya kepada Melati. Pikir saya, paling sesi ini akan menjadi sesi sugesti yang singkat karena problem yang ditangani ringan.  Tapi seperti biasa, setiap sesi hypnotherapy akan menghadirkan kejutan yang kadang membuat saya mengatakan “Here we go! Waktunya naik roller coaster.”—tentunya saya mengatakannya di dalam hati saya. Alam hualam, Melati memasuki momen child abuse yang penuh teror.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"><span style="white-space: pre;"> </span>“Mama, saya ingin main. Jangan disuruh cari uang terus. Tolong, jangan dipukul lagi. Ini kulit dan daging bukan batu. Kulit saya memar dan berdarah. Sakit. Kuping saya biru dan bengkak karena dijewer.” Melati memasuki usia lima tahun. Ayahnya yang sakit keras memaksa ibunya untuk mengambil alih keuangan keluarga. Melati kecil diharuskan menjaga toko—mencari uang—sepanjang hari. “Saya benci mencari uang. Saya ingin main. Ma, tolong jangan ikat saya. Jangan kurung saya.” Melati terus menangis histeris menandakan kesedihan yang tertanam begitu mendalam. Dari momen ini tidak heran Melati tidak memiliki semangat mencari uang. Malah dia benci mencari uang. “Ma, kamu pukul saya terus, apa kamu tidak sayang saya? Kamu pukul saya, saya tidak berdaya. Kamu bunuh saya pun, saya tidak berdaya. Buat apa berjuang? Saya menangis sampai berjam-jam pun, kamu tidak akan memenuhi permintaan saya untuk disayangi. Semuanya sia-sia. Saya hanya bisa pasrah. Buat apa berjuang?” Inilah akar Melati tidak memiliki daya juang. Tidakkah kalian menemukan polanya? Melati kecil merasakan tidak ada gunanya berjuang karena tidak akan berhasil. Di sinilah awal program Melati tidak memiliki daya juang. Dia melepaskan semangat juangnya di usia lima tahun.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Melati masih lebih beruntung dibanding temannya. Dia hanya kehilangan daya juang—hasrat untuk hidup dan cita-cita akibat child abuse ini. Tapi temannya hidup dalam ketakutan selama puluhan tahun dan mengkonsumsi obat penenang selama bertahun-tahun. Setiap hari hidupnya dipenuhi rasa ketakutan yang menterornya. Dia tidak bisa keluar rumah sendirian bahkan tidak bisa berada sendirian. Setiap menitnya, perasaan hatinya gelisah dalam ketakutan tanpa tahu penyebabnya. Bisakah kalian bayangkan hidup seperti itu selama puluhan tahun? Inilah tipikal symptom akibat child abuse. Momen abuse itu menorehkan teror yang mendalam sehingga teror itu menjadi membekas dan menjadi program hidup.  </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Jenis-jenis child abuse:</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Sexual Abuse</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">o<span style="white-space: pre;"> </span>Ringan, seperti menyentuh dada dan  paha. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">o<span style="white-space: pre;"> </span>Ekstrim, yaitu ketika anak diperkosa secara anal, vaginal atau oral. </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">o<span style="white-space: pre;"> </span>Penyiksaan sexual, yaitu ketika anak dipegangi atau diikat dan dimasukkan benda asing ke mulutnya atau ke kemaluannya.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; text-indent: -18.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Physical Abuse</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Jewer telinga dan cubit.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Mengangkat anak dan digoyang keras sampai anak itu merasa pusing, tidak sadarkan diri, mengalami kerusakan otak atau meninggal.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Memukuli dengan ikat pinggang, papan, dompet, tali, dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Melempar anak ke tempat tidur, tembok, tangga, dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Mengikat tangan dan kaki anak ke tempat tidur, toilet, pohon, dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Menyundut dengan rokok.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Mencekik.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Dll.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 72.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Diabaikan</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Seorang anak diabaikan dengan dibiarkan sendirian di boxnya/tempat tidurnya atau ditinggal  sendirian selama berhari-hari dengan sedikit atau tanpa makanan.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Emotional Abuse</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Emotional abuse memang tidak meninggalkan bekas luka fisik tapi meninggalkan bekas luka yang sangat dalam secara psikologis seorang anak.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 35.5px; text-indent: 0.5px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Kata-kata kasar yang sering diucapkan seorang dewasa kepada seorang anak dianggap sebagai emotional abuse, seperti: “Apakah kamu bodoh?”, “Lihat diri kamu. Jorok!”, “Anak pungut.”, &#8220;Anak setan&#8221;, &#8220;Tidak punya otak, ya!&#8221;, dsb.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial; min-height: 12.0px;"> </p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Percayalah, setiap abuse yang Anda lakukan terhadap anak Anda akan menorehkan goresan luka. Luka itu akan terus terasa sakit bahkan sampai si anak tumbuh dewasa. Hentikan child abuse walaupun itu hanya jeweran telinga atau memasukkan si anak ke ruangan gelap. Pola pendidikan tanpa kasih sayang hanya akan menciptakan anak-anak yang penuh luka batin.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Saat ini Melati sedang memulai usaha barunya di bidang tata boga. Dia telah memaafkan sang mama dan mulai merasakan kembali semangat hidupnya. Sedangkan temannya masih membutuhkan sesi hypnotherapy lanjutan untuk melepaskan kesedihan masa kecilnya yang mendalam.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;"> “Sayangi saya. Peluk saya. Belai saya.” Itulah tangis Melati kecil yang juga merupakan suara hati setiap anak-anak. Maka tataplah mata anak-anak Anda dan bertanyalah di dalam diri—“Sudahkah saya mencintai mereka atau malah saya telah menorehkan teror terbesar di masa kecil mereka?” Saya harap jawabannya adalah Anda telah mengasihi mereka dan bukannya gumpalan penyesalan di dada Anda karena telah meng-abuse mereka. Anak-anak membutuhkan kasih sayang untuk bisa bertumbuh sebagai pribadi penuh cita-cita dan semangat hidup.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; text-indent: 36.0px; line-height: 17.0px; font: 11.0px Arial;">Dari kasus Melati saya menemukan jawaban dari pertanyaan saya. Penderitaan terberat dalam hidup ini adalah ketika tidak ada cinta untuk diberikan, tidak ada pelukan kasih sayang dan kata-kata untuk dijelaskan. </p>
<div style="text-indent: 36px;"><span style="font-family: Arial; line-height: normal;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/stop-child-abuse-now/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
