<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nathalia Sunaidi &#62;&#62; Hipnotis &#38; Hipnoterapis &#187; Perkawinan</title>
	<atom:link href="http://nathaliasunaidi.com/tag/perkawinan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nathaliasunaidi.com</link>
	<description>Hipnosis&#124;Hipnoterapi&#124;NLP&#124;EFT</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 19:01:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Relationship Therapy untuk Si Otak Kanan</title>
		<link>http://nathaliasunaidi.com/relationship-therapy-untuk-si-otak-kanan/</link>
		<comments>http://nathaliasunaidi.com/relationship-therapy-untuk-si-otak-kanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 15:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Nathalia Sunaidi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnosis dan Hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[arah]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[habis]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[Hari]]></category>
		<category><![CDATA[hipnoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[hipnoterapis]]></category>
		<category><![CDATA[hpnotis]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[Jika Tidak]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Kira Kira]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Korban]]></category>
		<category><![CDATA[lagi]]></category>
		<category><![CDATA[Marah]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi]]></category>
		<category><![CDATA[Muak]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Gila]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[Otak Kiri Dan Otak Kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>
		<category><![CDATA[Suami Istri]]></category>
		<category><![CDATA[suaminya]]></category>
		<category><![CDATA[sudah]]></category>
		<category><![CDATA[Tapi]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[walah walah]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nathaliasunaidi.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Selama tiga hari berturut-berturut ini saya kedatangan klien yang menjadi korban suami yang terlalu otak kiri.
Dua hari lalu klien saya adalah seorang istri yang berusia 80 tahun. Setiap kali dia mendengar suara suaminya, dia akan terkena panik. Jantungnya berdetak kencang dan langsung sakit maag. Dia sangat tertekan sampai-sampai di malam hari sering muncul pikiran untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama tiga hari berturut-berturut ini saya kedatangan klien yang menjadi korban suami yang terlalu otak kiri.</p>
<p>Dua hari lalu klien saya adalah seorang istri yang berusia 80 tahun. Setiap kali dia mendengar suara suaminya, dia akan terkena panik. Jantungnya berdetak kencang dan langsung sakit maag. Dia sangat tertekan sampai-sampai di malam hari sering muncul pikiran untuk keluar dari rumahnya dengan membawa tas. Katanya kalau dia tidak ingat Tuhan, dia sudah mengikuti pikiran itu. Dan bisa-bisa dia menjadi orang gila yang berjalan tanpa arah di jalanan.</p>
<p>Kemarin, klien saya adalah seorang istri yang berusia 50 tahun. Dia tidak bisa lagi disentuh oleh suaminya. Dia merasa muak dan mau marah setiap kali suaminya menyentuhnya. Hal itu membuat suaminya marah besar karena si istri tidak mau lagi diajak berhubungan suami istri.</p>
<p>Hari ini, klien saya adalah seorang istri yang kira-kira berusia 30 tahun. Alasan dia datang ke sesi hipnoterapi saya karena dia merasa tidak bahagia dalam perkawinannya. Dia merasa hambar dan bosan hidup. Walah… walah… setelah saya terapi dengan Wisdom Therapy®, ternyata dia menjadi menderita karena suaminya yang sangat otak kiri.</p>
<p>Pembaca, mungkin Anda bertanya-tanya ada apa dengan si otak kiri dan otak kanan dalam hubungan perkawinan. Jawabannya, bisa menjadi bencana yang meretakkan rumah tangga bila tidak tahu cara komunikasi di antara mereka. Banyak pasangan suami istri yang datang ke sesi hipnoterapi saya untuk bercerai. Ya, mereka bilang mereka jadi bercerai atau tidak tergantung dari sesi tersebut. Wah, saya jadi sport jantung! Tapi, setelah dibicarakan ternyata masalah mereka hanya karena yang satu otak kiri habis dan yang satunya otak kanan habis.</p>
<p>Pembaca, jika Anda sedang melakukan terapi dengan pasangan suami istri yang sedang bertengkar maka Anda perlu memisahkan mereka. Jika tidak, ruangan terapi Anda akan menjadi seperti konser musik rock – penuh teriakan. Karena itu saya meminta si istri duluan yang masuk ke ruang terapi. Saya menuliskan pembicaraan ini supaya Anda bisa paham tentang si otak kiri dan otak kanan. Si istri bercerita kalau suaminya sudah cinta lagi kepadanya. “Dia sudah tidak pernah lagi bilang ‘I love you’ ke saya. Sudah jarang memegang tangan dan memeluk mesra. Puncaknya, di ulang tahun perkawinan kami, dia memberi saya hadiah dengan melemparnya ke meja makan. Kemudian dia langsung tidur. Perkawinan kami sudah hambar. Saya mau cerai.” Lalu saya minta suaminya yang gantian masuk. Si suami bercerita kalau istrinya sudah tidak menghargainya lagi. “Dia selalu bilang saya tidak lagi mencintainya. Saya masih mencintainya, buktinya saya masih menikahinya. Jika tidak cinta, kan saya sudah ceraikan. Saya berminggu-minggu lembur supaya bisa membelikan dia cincin berlian. Tapi ketika saya kasih, dia malah menangis dan minta cerai. Saya pusing.”</p>
<p>Kemudian, suami istri itu saya jelaskan tentang komunikasi otak kiri dan kanan. Jelas sekali si suami adalah otak kiri habis dan si istri adalah otak kanan habis. Pembaca, si otak kanan membutuhkan pasangannya mengatakan ‘I love you’ secara berkala. Dia butuh disentuh, dibelai dan dipeluk mesra. Jika tidak, maka dia akan merasakan hambar. Si istri klien saya mengatakan kepada suaminya, “Saya lebih memilih kamu membelikan saya bunga mawar yang harganya lima ribu perak tapi kamu memberinya dengan kata-kata indah dan pelukan. Dibandingkan kamu berikan saya cincin berlian tapi kamu lemparkan ke meja makan.” Si suami menjawab, “Kamu tidak menghargai usaha saya. Saya memberikan hidup saya untuk bekerja keras menafkahi kamu. Saya lembur untuk beli cincin berlian. Tapi kamu lebih mau bunga seharga lima ribu perak.” Keduanya saling mencitai tapi terus saling menyakiti hanya karena perbedaan komunikasi otak kiri dan otak kanan.</p>
<p><strong style="font-weight: bold;">Pembaca, inilah ciri khas si otak kiri:</strong></p>
<ul>
<li>Katanya-katanya tanpa basa basi sehingga cenderung terdengar kasar. Itu terjadi karena dia tidak begitu memakai hati. Tapi cenderung memakai logika. Contoh, “Kamu terlihat gendut memakai baju itu. Cepat ganti!” </li>
<li>Menunjukkan cinta dengan kerja keras atau melakukan kewajiban dengan baik. Bukan dengan kata-kata mesra. </li>
<li>Kurang bisa romantis tapi cenderung praktis. Contoh: Tidak membelikan bungan mawar tapi malah membelikan mesin cuci sebagai hadiah karena dianggap itu lebih dibutuhkan. </li>
<li>Tidak tahan mendengarkan curhat. Malah cenderung memarahi orang yang sedang curhat karena dianggap salah.</li>
<li>Menjadi galak terutama jika karier atau kondisi finansialnya sedang bermasalah. </li>
<li>Disiplin dan memegang teguh komitmen. </li>
</ul>
<p><strong style="font-weight: bold;">Ciri khas si otak kanan:</strong></p>
<ul>
<li>Selalu ingin disayang, dibelai, dipeluk atau diperhatikan. </li>
<li>Membutuhkan pasangannya mengatakan ‘I love you’ secara berkala. </li>
<li>Hatinya sensitif sehingga mudah terluka oleh kata-kata kasar .</li>
<li>Selalu ingin curhat panjang lebar kepada pasangannya. Kurang disiplin dan kurang bisa komitmen.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Dalam hal ini otak kiri bukanlah selalu pria, banyak wanita juga dominan otak kiri. Jadi otak kiri atau otak kanan tidak mengenal jenis kelamin tertentu.</p>
<p>Pasangan yang dominan otak kanan akan mengalami banyak sekali luka di hati jika pasangan yang satunya adalah si otak kiri. Kata-kata yang kasar, perlakuan yang dingin, seringkali si otak kiri menjadi galak dan emosional jika kondisi finansial sedang bermasalah – semua itu membuat luka batin bagi si otak kanan. Jika otak kanan sudah terluka hatinya maka munculnya berbagai masalah seperti yang terjadi dengan ketiga klien saya di atas. Karena itu, sangat penting bagi si otak kanan untuk melakukan relationship therapy untuk melepaskan semua luka batinnya. Tujuannya, supaya si otak kanan ceria dan bahagia kembali.</p>
<p>Ketiga klien saya di atas menangis dengan begitu pilu melepaskan luka batinnya. Ada yang pernah dibentak sangat kasar oleh si otak kiri. Ada yang selalu dipotong ketika sedang bicara oleh si otak kiri, “Stop. Tahu apa kamu tentang bisnis? Kamu tidak mengerti apa-apa.” Ada yang selalu dikritik dengan pedas. Dan masih banyak lag. Hal-hal kecil yang menyakitkan itu membuat hati otak kanan carut marut dengan luka. Mereka perlu melepaskan semua beban itu dan menyembuhkan hatinya. Setelah saya lakukan Wisdom Therapy®, ketiganya terasa lega dan bisa mencintai pasangannya dengan mesra lagi.</p>
<p><strong style="font-weight: bold;">Tips melindungi hati bagi si otak kanan:</strong></p>
<ul>
<li>Semua perkataan otak kiri yang terdengar kasar, jangan dimasukkan ke hati. Karena si otak kiri sama sekali tidak berniat menyakiti hati. Dia hanya menyampaikan isi pikirannya secara logika. </li>
<li>Jangan berkeinginan mengubah si otak kiri menjadi sangat romantis. Tapi pahamilah, dia sangat mencintai Anda dengan bekerja keras dan memenuhi kewajibannya. </li>
<li>Cara mencintai si otak kiri adalah dengan perbuatan bukan melalui kata-kata indah. </li>
<li>Jangan curhat ke otak kiri karena dia akan merasa penat. Jika orang curhat kepadanya, otak analisanya akan bekerja untuk mencari solusi. Dia akan memberikan Anda solusi dan menasehati Anda. </li>
<li>Jika otak kiri menjadi galak, periksalah kondisi keuangan atau kariernya. Dia galak kepada Anda bukan karena dia benci Anda tapi biasanya dia sedang bermasalah. </li>
<li>Jika hati Anda sudah terlalu terluka, maka cara yang terbaik adalah dengan datang ke sesi terapi.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nathaliasunaidi.com/relationship-therapy-untuk-si-otak-kanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
